bumi di lokasi titik ukur. Nilai yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan. Hal itu dapat dijadikan dalam pendugaan keadaan geologi yang mungkin teramati (Zaenudinet al., 2008).
Komponen frekuensi rendah merupakan hasil kontribusi dari batuan yang dalam sedangkan komponen frekuensi yang tinggi merupakan hasil kontribusi batuan yang dangkal. Batuan dengan kandungan mineral - mineral tertentu dapat dikenal dengan baik dalam eksplorasi geomagnet, yang dimunculkan sebagai anomali. Anomali yang diperoleh merupakan hasil distorsi pada medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik dari bumi atau mungkin juga dari bagian atas mantel.
Menurut Santoso (2001) anomali magnetik diperoleh dari persamaan:
∆T = Tobs ± TIGRF ± TVH (1)
∆T adalah anomali magnetik, Tobs sebagai medan magnetik pengukuran pada stasiun tertentu, TIGRF sebagai medan magnetik teoritis berdasarkan IGRF pada stasiun Tobs, TVH sebagai koreksi medan magnetik akibat variasi harian.
Metode ini didasarkan pada pengukuran intensitas medan magnet yang dimiliki batuan. Sifat magnet ini ada karena pengaruh dari medan magnet bumi pada waktu pembentukan batuan tersebut. Kemampuan untuk termagnetisasi tergantung dari suseptibilitas magnetik masing-masing batuan. Benda-benda tersebut dapat berupa gejala struktur bawah permukaan ataupun batuan yang bersifat magnetik.
Setiap jenis material mempunyai sifat dan karakteristik tertentu dalam medan magnet. Hinze, dkk (2012) mengklasifikasikan material menjadi empat jenis berdasarkan nilai suseptibilitas magnet, yaitu diamagnet, paramagnet, ferromagnet, dan ferrimagnet.
1. Diamagnet
Diamagnet adalah bahan yang kulit elektronnya lengkap dan terisi oleh elektron yang berpasangan. Jika dipengaruhi oleh medan magnet luar, spin elektron akan menghasilkan arah momen magnet yang berlawanan dengan arah medan magnet luar sehingga akan menghasilkan resultan yang berarah negatif. Diamagnet memiliki nilai suseptibilitas k<0 dalam satuan cgs. Contohnya adalah bismuth, gypsum, marmer, kuarsa, garam, seng dan emas (Siswoyo, dkk, 2010).
20
Gambar 6. Spin Elektron Bahan Diamagnetik 2. Paramagnet
Paramagnet adalah bahan yang jumlah elektron pada kulit atomnya tidak lengkap (sebagian ada elektron yang tidak berpasangan). Tanpa pengaruh kuat medan magnet luar, momen magnet memiliki arah orientasi yang acak. Jika ada pengaruh dari medan luar, maka momen magnet akan sejajar dengan medan tersebut. Paramagnet memiliki nilai suseptibilitas 0 <k< 10-6 dalam satuan cgs. Contohnya adalah pyrite, zincblende, dan hematite (Siswoyo, dkk, 2010).
Gambar 7. Spin Elektron Bahan Paramagnetik 3. Ferromagnet
Ferromagnet adalah bahan yang sifat kemagnetannya dipengaruhi oleh temperatur, yaitu pada temperatur di atas temperatur Curie akan kehilangan sifat kemagnetannya. Jika dimasukkan ke dalam medan magnet luar, magnetisasi bahan ini akan meningkat tajam. Ferromagnet memiliki nilai suseptibilitas 1<k<106 dalam satuan cgs. Contohnya adalah besi, nikel, kobalt, dan baja (Siswoyo, dkk, 2010).
21
4. FerrimagnetFerrimagnet adalah bahan yang sifat kemagnetannya seperti ferromagnet yaitu dipengaruhi oleh temperatur. Tanpa adanya pengaruh kuat medan magnet luar, arah momen magnetnya parallel dan saling berlawanan. Ferrimagnet memiliki nilai suseptibilitas 10-6<k<1 dalam satuan cgs. Contohnya adalah magnetit, ilmenite, pirhotit, dan hematit (Siswoyo, dkk, 2010).
Gambar 9. Spin Elektron Bahan Ferrimagnetik
Pada sebuah magnet sebenarnya merupakan kumpulan jutaan magnet ukuran mikroskopik yang teratur satu dan lainnya. Kutub utara dan kutub selatan magnet posisinya teratur. Secara keseluruhan kekuatan magnetnya menjadi besar. Logam besi bisa menjadi magnet secara permanen (tetap) atau bersifat megnet sementara dengan cara induksi elektromagnetik. Tetapi ada beberapa logam yang tidak bisa menjadi magnet, misalnya tembaga dan aluminium, dan logam tersebut dinamakan diamagnetik.
Bumi merupakan magnet alam raksasa, dapat dibuktikan dengan alat yang dinamakan kompas, dimana jarum penunjuk pada kompas akan menunjukkan arah utara dan selatan bumi kita. Karena sekeliling bumi sebenarnya dilingkupi garis gaya magnet yang tidak tampak oleh mata kita tapi bisa diamati dengan kompas keberadaannya. Penyebab bumi bersifat magnetik karena faktor perputaran inti bumi yang bersifat cair. Inti cair bumi terdiri dari lelehan besi dan nikel yang bertemperatur 5000oC. Lelehan besi dan nikel ini mengandung sejumlah muatan listrik yang berputar mengelilingi sumbunya sehingga menimbulkan medan magnet yang arahnya sesuai dengan aturan tangan kanan. Hal tersebutlah yang membuat bumi menjadi sebuah magnet raksasa dengan kutub selatan magnet berada di utara dan kutub utara berada di selatan , seperti yang terlihat pada Gambar 10.
22
Gambar 10. Garis – Garis Gaya Magnetik (Isaak, 1989)
2.9 Medan Magnet Bumi
Medan magnet bumi berfungsi sebagai perisai kehidupan di bumi, medang magnet ini melindungi bumi dari bahaya radiasi kosmis oleh matahari. Radiasi kosmis sebagian direfleksikan oleh medan magnet bumi dan sebagian lagi akan terus ke daerah kutub mengakibatkan peristiwa aurora. Letak kutub magnetik bumi dapat berubah-ubah, perubahan kutub ini pada suatu titik mengakibatkan medan magnet sepenuhnya hilang dan kehidupan bumi pun akan terancam.
Bumi berlaku seperti sebuah magnet sferis yang sangat besar dengan suatu medan magnet yang mengelilinginya. Medan itu dihasilkan oleh suatu magnet yang yang terletak pada pusat bumi. Sumbu dipole ini bergeser sekitar 11° dari sumbu rotasi bumi, yang berarti kutub utara geografis bumi tidak terletak pada tempat yang sama dengan kutub selatan magnetik bumi (Sampurno, 2013).
Magnet atau magnit merupakan sebuah objek yang memiliki sebuah medan magnet. Medan magnet adalah daerah disekitar magnet yang diperangaruhi gaya magnetisnya. Salah satu metode geofisika yang didasarkan pada medan magnet bumi adalah metode geomagnetik. Dalam metode geomagnet ada yang disebut sebagai geomagnetical pole atau kutub dipole yang merupakan sudut kutub geografis dari permukaan bumi terhadap sumbu magnet batang yang diperkirakan sebagai bidang geomagnetik. Secara sederhana di dalam inti bumi terdapat sebuah batang magnet besar atau dengan kata lain dipole magnetik yang menimbulkan adanya medan magnet. Medan magnet yang ditimbulkan oleh batang magnet raksasa tidak berhimpit dengan pusat bumi. Menurut hasil perhitungan simetris diperoleh bahwa dipole magnetik memotong permukaan bumi, sehingga letak kutub utara dan kutub selatan magnetik bumi adalah 75o LU, 101o BB dan 67o LS, 143o BT. Hal ini disebabkan karena pusat sumbu dipole pada inti bumi miring ± 18o terhadap diameter kutub-kutub bumi, sehingga kutub utara geografis bumi tidak terletak