• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pangan adalah kebutuhan pokok sekaligus menjadi esensi kehidupan manusia, karenanya hak atas pangan menjadi bagian sangat penting dari hak azasi manusia. Ketersediaan pangan yang cukup bagi rakyat dalam suatu negara, menunjukan tingkat kesejahteraan yang relatif baik dalam negera tersebut. Hak atas pangan dapat ditafsirkan sebagai rights not to be hungry, yaitu hak bagi setiap orang atau kelompok orang dalan suatu masyarakat, wilayah atau dalam satu negara untuk mendapatkan

kecukupan makanan yang dibutuhkan bagi keperluan menjalankan aktivitas hidupnya seperti bekerja dalam batas-batas yang masih memenuhi ukuran kesehatan.14

Hak atas pangan telah sejak lama dideklarasikan sebagai hak asasi manusia melalui berbagai perjanjian internasional. Sebut saja di antaranya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), pembukaan konstitusi FAO, dan Kovenan Internasional Hak-hak ekonomi Sosial dan Budaya (ekosob). Meskipun demikian, hak atas pangan terus menerus disangkal keberadaannya. Lebih parah lagi, pangan saat ini lebih dianggap sebagai komoditi perdagangan semata ketimbang sebagai sebuah unsur penopang hidup manusia.

Parahnya, saat ini komoditas memang telah menjadi barang komoditas yang dikuasai dan dikontrol oleh perusahaan-perusahaan besar internasional. Setidaknya, dalam catatan yang dihimpun oleh Khudori,15 sepuluh perusahaan mengontrol 32% dari bibit yang diperdagangkan senilai US$ 32 miliar, dan 100% dari pasar bibit transgenik. Hanya lima perusahaan yang mengontrol perdagangan biji-bijian. Tahun 1998, bisnis pestisida yang bernilai sekitar US$ 31 juta 73%-nya dikontrol oleh sepuluh perusahaan pertanian transnasional. Sudah barang tentu, kenyataan ini menyulitkan negara-negara yang tidak food self-sufficient untuk menjamin tidak terjadi kelaparan warganya.

Di negara agraris seperti Indonesia, di mana sebagaian besar penduduknya menggantungkan hidup pada usaha pertanian, kerawanan pangan masih menjadi

14

Revrisond Baswir, dkk., Pembangunan Tanpa Perasaan; Evaluasi Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Jakarta, ELSAM, 2003), cet. II, h. 52.

15Khudori, Lapar: Negeri salah Urus, (Yogyakarta: Resist Book, 2005) cet. I, h. 23

berita buruk yang terus menghantui masyarakat. Berbagai kebijakan yang ada berkaitan dengan usaha negara untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect), dan memenuhi (to fullfil) hak atas pangan bagi rakyat masih jadi kendala besar. Bahkan dalam banyak hal negara dapat dinyatakan gagal dalam menjalankan fungsinya untuk menjamin ketersediaan pangan seperti yang tertera di atas. Padahal, kewajiban ini secara legal diakui dan didukung oleh mayoritas negara-negara di dunia, sebagaimana tercermin dalam pasal 25 dari Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia 1948 dan diperkuat oleh Kovenan tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (HESB) 1966. Pasal 11 ayat 2 HESB terdapat komitmen negara-negara peserta untuk, antara lain, melakukan pembaruan sistem agraria sedemikian rupa

sehingga menjamin terwujudnya hak-hak untuk memperoleh pangan yang layak (the

right to edequate food).16

Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan yang kuat di Indonesia memberi perhatian besar terhadap persoalan tersebut. Setidaknya hal tersebut tercantum dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menekankan

pembinaan dan pemberdayaan terhadap petani.17 Perhatian Muhammadiyah terhadap

petani dan kelompok lemah lainnya merupakan tuntutan akan pemerataan dalam bidang ekonomi sebagai upaya untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Muhammadiyah menyatakan bahwa pembangunan yang lebih berorientasi untuk mengangkat martabat golongan lemah harus lebih diprioritaskan, agar proses dan

16

Khudori, Lapar: Negeri Salah Urus, h. 29 17

hasil pembangunan benar-benar memihak pada semua warga negara, sehingga keadilan ekonomi seperti dimaksud pasal 33 UUD 1945 dapat menjadi kenyataan.18

Poin penting dari sikap Muhammadiyah tentang hak atas pangan dengan tegas tercermin dalam pokok-pokok pikiran tentang kehidupan berbangsa dan bernegara tentang pertanian. yang lahir dari keputusan sidang Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta. Dalam pandangan tersebut Muhammadiyah berpendapat bahwa: “…Pembangunan pertanian hendaknya didasarkan pada pemberdayaan petani. Khususnya berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan stok pangan nasional, maka pemerintah harus secara sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan produksi dan penghasilan petani, serta memberi perlindungan dari perlakuan yang tidak adil dalam memperoleh haknya....”.19

Jika kita lihat di atas, isu ketahanan pangan menjadi perhatian penting Muhammadiyah bagi terwujudnya hak atas pangan di Indonesia. Ketahanan pangan merupakan bagian terpenting dari pemenuhan hak atas pangan sekaligus merupakan salah satu pilar utama hak azasi manusia. Ketahanan pangan juga merupakan bagian sangat penting dari ketahanan nasional. Dalam hal ini hak atas pangan seharusnya mendapat perhatian yang sama besar dengan usaha menegakkan pilar-pilar hak azasi manusia lain. Kelaparan dan kekurangan pangan merupakan bentuk terburuk dari kemiskinan yang dihadapi rakyat, dimana kelaparan itu sendiri merupakan suatu proses sebab-akibat dari kemiskinan. Oleh sebab itu usaha pengembangan ketahanan

18

Program Muhammadiyah 1995-2000, Keputusan Hasil Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh, 1995.

19

Pokok-pokok Pikiran dan Rekomendasi Muhammadiyah Tentang Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta, 2000.

pangan tidak dapat dipisahkan dari usaha penanggulangan masalah kemiskinan. Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun.20 Dalam hal inilah petani memiliki kedudukan strategis dalam ketahanan pangan: petani adalah produsen pangan dan petani adalah juga sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan. Petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Sikap Muhammadiyah yang menjadi rekomendasi keputusan Muktamar tentang hak-hak petani di atas sesungguhnya mencerminkan keprihatinan dari arus globalisasi. Dalam pandangan umum yang tertera di risalah keputusan tersebut, Muhammadiyah melihat bahwa globalisasi dalam kehidupan ekonomi akan makin memperkokoh dan memperluas ekspansi perusahaan-perusahaan multinasional, multikorporasi, dan transnasionalisme menuju terbentuknya global market (pasar dunia) yang semakin terbuka dan berada dalam jalur dunia pasar bebas yang menuntut daya kompetisi yang tinggi, yang membawa pula muatan kepentingan dan ekspansi kapitalisme global yang dapat menjadi ancaman bagi perusahaan-perusahaan nasional dan lokal.

Hal yang paling esensial dari pemikiran Muhammadiyah tentang hak atas pangan lahir dari keinginan untuk lebih menempatkan kelompok-kelompok rentan

20

Bayu Krisnamurthi, “Agenda Pemberdayaan Petani Dalam Rangka Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional,” Jurnal ekonomi Kerakyatan, Th. II - No. 7 - Oktober 2003, artikel diakses tanggal 2 April 2005 dari http://www.ekonomirakyat.org/edisi_19/artikel_3.htm

yang selama ini terpinggirkan, termasuk petani mendapatkan perlindungan yang maksimal dari negara. Bentuk perlindungan yang dimaksud dapat berupa perlindungan terhadap nasib kesejahteraan petani dan memberikan subsidi bagi usaha-usaha pertanian.

Jika kita melihat relisasi keberpihakan pemerintah/negara terhadap petani sebagai wujud dari pemenuhan hak asasi manusia atas pangan sangatlah mengecewakan. salah satu indikator untuk mengukurnya kita dapat menggunakan jumlah alokasi subsidi pertanian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahunnya. Subsidi pertanian, dalam APBN hanya dikenal dalam komponen subsidi pupuk dan pangan. Kalau kita melihat besaran alokasinya, sangat tidak pantas untuk sebuah negara agraris seperti Indonesia. Yang paling menyedihkan, total pengeluaran negara dalam APBN untuk membayar cicilan bunga dan pokok utang dalam dan luar negeri, jumlahnya jauh melebihi anggaran sosial (pendidikan, kesehatan, dan pangan).

Subsisi Pemerintah untuk Pertanian dalam APBN 2001 - 2004 (dalam trilyun) 21 Kategori Subsidi 2001 Rp 2002 Rp 2003 Rp 2004 Rp Pangan 2,435 5,3 4,8 5,4 Pupuk Na 1,2 1,3 0,95

Sumber: Nota Keuangan APBN, diolah

Permasalah menjadi semakin rumit, ketika persoalan pertanian masuk dalam kerangka negosisi dalam World Trade Organization (WTO). Ini sama artinya sektor pertanian sedang mengalami ancaman serius akibat masuknya angin liberalisasi.

Sudah barang tentu sebagai prasyarat liberalisasi, produk-produk pertanian akan dihadapkan pada persaingan dalam medan pasar bebas dengan para perusahaan-perusahaan agribisnis internasional bermodal besar. Akhirnya, para petani kecil penghuni mayoritas Republik Indonesia ini akan menyaksikan ladang-ladang kering karena tidak mampu lagi berproduksi.

BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Diskursus tentang negara dalam berbagai penelitian ilmiah