• Tidak ada hasil yang ditemukan

Doa Pembuka P: Marilah berdoa

Dalam dokumen MENGENAL EKSORSISME DALAM GEREJA KATOLIK (Halaman 82-97)

DAN MENGGEREJA

4. Doa Pembuka P: Marilah berdoa

Allah Bapa yang Mahakuasa dan Kekal, semua yang dekat dengan Dikau, menyatakan bahwa Engkau kudus, dan bahwa alam semesta ini penuh dengan kemuliaan-Mu.

Engkau memanggil kami

untuk percaya kepada-Mu sepenuhnya.

Tetapi sering kami menjauhkan diri dari pada-Mu.

Patahkanlah ketegaran hati kami, jauhkanlah kami dari setiap kejahatan.

Semangatilah kami dengan kehadiran-Mu, sehingga kami selalu mengarah kepada-Mu dan melaksanakan sabda-Mu

yang merupakan sumber iman dan kekuatan bagi kami dalam melawan iblis yang hadir

dalam diri kami masing-masing,

dalam keluarga, sosial dan kehidupan menggereja.

Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

U: Amin.

5. Sabda Allah

Pemandu meminta seorang anggota katekese yang untuk membacakan teks Kitab Suci berikut dan anggota yang lain mendengarkan degan khidmat

P: Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut Markus (9: 14-29)

14 Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak

mengerumuni mrid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat

sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.

15 Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua

dan bergegas menyambut Dia.

16 Lalu Yesus bertanya kepada mereka:

“Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?”

17 Kata seorang dari orang banyak itu:

“Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu,

karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.

18 Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah;

lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang.

Aku sudah minta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu,

tetapi mereka tidak dapat”.

19 Maka kata Yesus kepada mereka:

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya,

berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?

Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?

Bawalah anak itu ke mari!”

20 Lalu mereka membawanya kepada-Nya.

Waktu roh itu melihat Yesus,

anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah

dan terguling-guling, sedang multnya berbusa.

21 Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu:

“Sudah berapa lama ia mengalami ini?”

Jawabnya: “ Sejak masa kecilnya.

22 Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya.

Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.”

23 Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat?

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

24 Segera ayah anak itu berteriak:

“Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

25 Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun,

Ia menegur roh jahat itu dengan keras, kata-Nya:

“Hai kau roh yang menyebabkan orang

menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini

dan jangan memasukinya lagi!”

26 Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak

dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya.

Anak itu kelihatannya seperti orang mati,

sehingga banyak orang yang berkata: “Ia sudah mati.”

27 Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

28 Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka:

“Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”

29 Jawab-Nya kepada mereka:

“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”

P: Demikianlah Sabda Tuhan.

U: Terpujilah Kristus 6. Dokumen Gereja

Di bawah ini telah disiapkan beberapa dokumen Gereja yang menggarisbawahi pokok pikiran tentang tema yang dibahas. Pemandu dapat menyampaikan setiap pokok bahasan secara sederhana, singkat, dan jelas.

• Seruan Apostolik Paus Fransiskus dalam Ensikliknya Gaudete Et Exsultate, pada 19 Maret 2018.

Bapa Paus menegaskan demikian: “Hidup Kristiani merupakan suatu pergumulan terus-menerus. Kekuatan jahat sungguh hadir di tengah-tengah kita. Kita jangan berpikir bahwa iblis hanya sebagai sebuah mitos, suatu gambaran, sebuah simbol, suatu sosok, atau sebuah ide. Kesalahan ini dapat membuat kita mengendorkan kewaspadaan, mengabaikan dan akibatnya menjadi lebih rentan. Iblis meracuni kita dengan kebencian, kesedihan, kedengkian dan kebiasaan buruk. Kalau kita mengendorkan pertahanan kita, dia akan mengambil keuntungan untuk menghancurkan hidup, keluarga

dan komunitas kita. “Iblis, berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum-aum, dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Ptr 5: 8). Lebih lanjut, bapa Paus menegaskan memang benar, bahwa penulis Kitab Suci memiliki perbendaharaan konseptual yang terbatas dalam mengungkapkan kenyataan tertentu dan bahwa pada zaman Yesus, seseorang dapat mencampuradukkan, misalnya, epilepsi dengan kerasukan setan. Namun, hal ini hendaknya tidak membuat kita terlalu menyederhanakan kenyataan dengan menyatakan bahwa semua persoalan yang dikisahkan dalam Injil adalah penyakit psikologis dan karenanya iblis sama sekali tidak ada atau tidak bekerja.

Kehadirannya sudah ada di halaman pertama Kitab Suci, yang berakhir dengan kemenangan Allah atas iblis. Memang, dengan mewariskan kepada kita doa

“Bapa Kami”, Yesus menghendaki kita memohon kepada Bapa agar membebaskan kita dari si Jahat. Ini menunjukkan sosok pribadi yang mengganggu kita.

Yesus mengajari kita untuk memohon pembebasan ini setiap hari supaya kekatan setan tidak menguasai kita”.

• Seruan Paulus VI, sebuah Katekese dalam audiensi umum 15 November 1972, menegaskan demikian:

“Salah satu kebutuhan terbesar dewasa ini adalah perlawanan terhadap kejahatan yang kita sebut iblis.

Kejahatan bukanlah sekadar cacat, namun makhluk rohani yang hidup dan berdaya kuat, yang sesat dan

menyesatkan. Suatu kenyataan yang mengerikan, misterius dan menakutkan. Mereka tidak lagi tinggal dalam kerangkeng ajaran iblis dan gerejawi yang menolak mengakui keberadaannya atau menempatkannya sebagai suatu prinsip terpisah yang tidak lagi, sebagaimana ciptaan, berasal dari Allah, atau menerangkannya sebagai suatu realitas-semu, perwujudan konseptual dan imajinatif akan penyebab-penyebab tersembunyi dari ketidakberuntungan kita”

7. Pendalaman Tema

Dalam pendalaman tema ini, kita akan melihat tiga pokok penting untuk membantu dan membuka pikiran kita, berkaitan dengan keberadaan roh jahat dan pengaruhnya dalam kehidupan kita, yakni: Pengaruh Roh jahat dalam Kehidupan Sosial; Pengaruh Roh Jahat dalam Kehidupan Menggereja; dan juga berkaitan dengan Membuka dan Menutup Pintu terhadap Roh Jahat.

a) Pengaruh Roh Jahat dalam Kehidupan Sosial

Manusia adalah makhluk sosial. Berbicara tentang kehidupan sosial berarti berbicara tentang pola hidup bersama dalam masyarakat, yaitu tentang relasi antar sesama, baik dalam tindakan maupun dalam tutur kata. Dalam hidup dan relasi itu, tentu ada banyak pengaruh-pengaruh atau tantangan-tantangan yang dialami oleh manusia. Berkaitan dengan itu, hal yang

kerap terjadi adalah seperti pengaruh roh jahat dan lain sebagainya.

Setan atau roh jahat ini, tentu saja banyak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan

“ada” dan “tidak ada” keberadaan setan itu. Dalam kehidupan sosial, memang sangatlah sulit untuk melihat dan menemukan keberadaan setan secara fisik. Namun demikian, banyak kisah atau peristiwa yang terjadi, yang dialami oleh sekalian orang dalam kehidupan sosial. Ini berarti setan atau roh jahat itu sungguh-sungguh ada dan mempengaruhi kehidupan manusia, secara khusus dalam lingkungan sosial. Maka dari itu, ada tiga tingkat pengaruh setan pada manusia dalam kehidupan sosial:

Pertama, Godaan; Siapa pun sebagai manusia lemah, tentu tidak terlepas dari segala macam tawaran dan godaan. Tuhan Yesus sendiri pun pernah mengalami godaan tatkala Dia berpuasa. Yesus ditawarkan oleh iblis seluruh kekayaan duniawi, menyuruh Yesus untuk mengubah batu menjadi roti dan bahkan menyuruh Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya dari atas ketinggian, sambil meyakinkan Yesus bahwa malaikat-malaikat akan menangkap Yesus (bdk. Luk 4: 3-1). Ini berarti bahwa setan menggoda kita dengan cara mengobarkan nafsu diri yang menginginkan ilah-ilah palsu, dengan menempatkan imajinasi kita pada gambaran kebahagiaan yang salah, yang dapat kita peroleh dengan menyembah dan melayani diri sendiri atau yang kurang dari diri kita, sesuatu di dunia lain. Itulah

sebabnya sehingga tidak heran, dalam lingkup sosial masyarakat kita, kuasa setan itu nyata dalam aksi-aksi kejahatan: membunuh, mencuri, merampok, mencopet, menganiaya, memperkosa, menjarah, segala bentuk okultisme (paham yang menganut dana mempraktikkan kuasa dan kekuatan dari dunia kegelapan atau dunia roh-roh jahat), dan semangat serta gaya hidup pecandu narkoba ataupun tindakan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan demi kepentingan pribadi.

Maka dapat dikatakan bahwa godaan yang mendasar ialah tidak taat kepada perintah yang pertama dan terbesar, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati.

Kedua, Tekanan; tekanan dalam bentuk kedukaan yang sedemikian rupa atau tragedi yang datang dari luar, dialami banyak orang. Ketiga, Kerasukan; kerasukan itu jarang terjadi dan hanya dialami oleh orang yang mencari kesulitan dengan melanggar aturan Allah misalnya seperti: “Di antaramu janganlah didapati seorang pun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang-orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi Tuhan” (Ul 18: 10-12).

Selain dari tiga tingkat pengaruh setan ini, hal lain yang dapat ditemukan, yaitu menimbulkan adanya

konflik antar manusia. Hal ini karena pekerjaan setan itu adalah bukan untuk mempesatukan tetapi mencerai beraikan. Ada banyak kasus yang kita temukan dalam kehidupan kita setiap hari. Orang-orang yang sakit, misalnya, bukannya diperiksa oleh tim medis (para dokter dan perawat), tetapi berobat ke dukun. Dukun-dukun inilah yang kerap menciptakan tuduhan-tuduhan palsu kepada orang lain, yang dilihatnya sebagai penyebab utama orang ini atau orang itu menjadi sakit dan lain sebagainya. Tuduhan seperti ini, tentu saja membangkitkan amarah dari pihak korban dan pada akhirnya menimbulkan rasa sakit hati dan membenci orang yang dituduh oleh dukun itu sebagai pelakunya.

Itulah sebabnya sehingga seringkali terjadinya konflik-konflik dalam kehidupan sosial.

b) Pengaruh Setan dalam Kehidupan Menggereja

Sebelum melihat pengaruh setan dalam kehidupan menggereja, kita mesti memahami tentang apa itu kehidupan menggereja. Hidup menggereja bukan sekadar pergi ke Gereja. Artinya, menjadi orang Katolik tidak hanya berhenti pada ibadat dan berdoa, tapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Dari sini kita membedakan apa yang disebut dengan pengungkapan iman dan perwujudan iman. Meski berbeda, keduanya tak dapat dipisahkan. Iman mesti diungkapkan dalam doa juga mesti diwujudkan dalam hidup sehari-hari kita. Apalah artinya ‘doa’ tanpa ‘buah

kebaikan’. Demikian pula sebaliknya, apalah artinya

‘buah kebaikan’ tanpa ‘doa’. Dalam Kisah Para Rasul 2:41-47, kita dapat melihat, bahwa jemaat perdana tak hanya berhimpun untuk memecah-mecahkan roti dan memuji Allah (Liturgi); tetapi juga bertekun di dalam pengajaran (Kerygma/ pewartaan). Mereka bertekun dalam suatu persekutuan (Komunio/ persekutuan).

Mereka menjual harta miliknya dan membagikannya pada semua orang sesuai dengan kebutuhan (diakonia/

pelayanan). Dampaknya, mereka disukai oleh banyak orang (Martiria/kesaksian). Kelima aspek inilah yang dikenal Gereja Katolik sebagai Panca Tugas Gereja yang sesungguhnya merupakan bentuk ungkapan dan WUJUD iman.

Namun demikian, pertanyaannya adalah apakah ungkapan dan wujud iman bagi kita sekarang ini sudah sungguh kita hayati dalam kehidupan menggereja kita? Bila kita melihat kenyataan kehidupan umat saat ini, masih banyak umat yang tidak melibatkan diri dalam setiap kegiatan-kegiatan lingkungan dan paroki.

Ketidak-aktifan dalam kehidupan menggereja, justru menjadi celah bagi iblis untuk menghasut dan menilai orang lain secara negatif.

Maka dari itu, usaha melawan kuasa jahat bukan saja terbatas pada ada yang kerasukan atau tidak, tetapi bagaimana setiap umat beriman berusaha hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Orang-orang yang merasa dirinya aktif dalam hidup menggereja, tetapi sikap dan

perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus, hati dan pikirannya masih dikuasai oleh roh jahat. Oleh karena itu, penting bahwa dalam kehidupan menggereja, sikap saling menguatkan dalam doa bersama dan saling berbagi, dijadikan salah satu cara agar kuasa jahat tidak mudah merasuki hati dan pikiran kita.

c) Membuka dan Menutup Pintu terhadap Roh Jahat

Pada poin ini, kita akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan orang yang membuka pintu masuk terhadap roh jahat dan juga bagaimana perbuatan atau sikap orang yang menutup pintu terhadap roh jahat:

 Pintu Masuk Setan.

Sikap atau perbuatan orang yang membuka pintu masuk bagi roh jahat adalah orang yang jauh dari Allah. Kenyataannya, orang yang jauh dari Allah menjadi lahan subur bagi Setan untuk menaburkan benih-benih kejahatan yang membawa orang tersebut ke dalam api neraka (Why 9: 11). Banyak orang tidak menyadari bahwa Setan sebenarnya bekerja dalam dosa-dosa yang kita perbuat. Setan selalu mencari kesempatan agar kita mau menjadi pengikutnya dan akhirnya menguasai kita. Kadang saat jatuh dalam perangkap setan, kita menjadi tidak percaya pada kuasa Allah dan bahkan menyalahkan Allah. Sebenarnya tidak tepat bila kita menyalahkan Allah saat kita terjerumus dalam siksaan setan, karena setan sekadar mengganggu

dan menawarkan: bila kita menjawab “ya” pada tawaran itu, kita dengan sadar, tahu dan mau membiarkan diri terjerumus ke dalam lingkaran setan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa setan dapat merasuki kita hanya jika kita memilih untuk mengundang setan masuk.

Pintu masuk setan, dapat juga melalui orang-orang yang mengalami luka batin. Memang, setiap orang tidak luput dari luka batin. Namun, yang satu ringan dan yang lainnya lebih berat. Terhadap sesama yang mengalami luka batin, kita dapat membantu dengan mendoakan doa penyembuhan atau pelepasan luka batin, atau bahkan keduanya. Akan tetapi, baik dimulai dengan doa penyembuhan batin, karena dengan sembuhnya luka batin dalam diri seseorang, tempat untuk berpijak bagi roh jahat juga hilang.

Selain itu, pintu masuk setan yang kerap kita tidak sadari adalah sikap malas-malasan. Malas dalam kehidupan menggereja: malas latihan koor bersama, malas doa rosario bersama, malas pertemuan OMK, dan lain sebagainya. Sikap malas ini menjadi peluang atau menjadi sasaran empuk bagi setan..

Terdapat ber macam-macam contoh kecenderungan yang dapat memberikan kesempatan bagi setan untuk mencengkram hidup manusia.

Kitab Suci Perjanjian Baru menyebutkan beberapa di antaranya:

• Segala sesuatu yang menyesatkan dan bertekun dalam kejahatan (Mat 13:41)

• Apa yang keluar dari hati kita, yaitu pikiran jahat, percabulan, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mrk 7: 21-22) karena hati kita bisa pahit seperti empedu dan makin terjerat dalam kegelapan.

• Pikiran-pikiran terkutuk: kelaliman, kejahatan, keserakahan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan, sehingga menjadi pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan (Rm 1:29-31)

• Mendukakan Roh Kudus dengan segala kepahitan dan perkataan kotor, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah (Ef 4: 29-31; Kol 3:8)

• Menjadi hamba pelbagai nafsu dan keinginan (Tit 3:3) dan terlalu cinta uang (1 Tim 6:10) padahal di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada (Mat 6: 21; Luk 12: 34).

• Perbuatan-perbuatan daging (lih. Gal 5: 19-21).

 Menutup Pintu Terhadap Roh Jahat:

Sikap atau perbuatan orang yang menutup pintu terhadap roh jahat agar tidak dirasuki setan adalah takut akan Tuhan dan senantiasa hidup bertekun dalam doa dan mengikuti Sabda-Nya. Kita tahu bahwa dalam seluruh kehidupan Yesus, Dia selalu mengambil waktu pribadi dengan menyingkir ke tempat yang sunyi untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Itulah sebabnya, Yesus dalam karya pewartaan-Nya senantiasa dipenuhi dengan kekuatan Roh Kudus yang kuat dan penuh kuasa. Tuhan Yesus sendiri juga telah menasihati bahwa janganlah takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Yang harus ditakuti adalah Tuhan Allah yang mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka (bdk. Luk 12: 4-5). Dengan demikian jelas bahwa apa pun kekuatan jahat yang menghantui, sekali-kali jangan pernah kita merasa takut. Yang paling penting adalah bagaimana kita mentaati perintah Tuhan dan takut akan Tuhan.

Salah satu cara menutup pintu masuk setan adalah dengan tidak melakukan dosa. Perjuangan untuk tidak melakukan dosa merupakan perjuangan hidup hidup kita sehari-hari. Beberapa hal sederhana namun yang kadang sulit kita lakukan bisa diusahakan sedikit demi sedikit sejak saat ini. Caranya: bila kita merasa bersalah dan berdosa lalu membutuhkan pengakuan dosa, ya segera mengaku dosa. Bila kita merasa perlu

minta maaf atas ya segera minta maaf secara tulus dan rendah hati. Banyak bentuk-bentuk pertobatan yang baik untuk segera kita laksanakan. Janganlah kita menunda-nunda niat tobat kita itu kerena Setan siap menghampiri kita.

Berikut beberapa contoh ungkapan yang dapat kita hidupi untuk menutup pintu setan atau yang membuat kita tidak dapat diserang Setan:

• menghayati sabda bahagia (Mat 5: 1-12; Luk 6: 20-23;

• menjadi garam dan terang dunia (5: 13-16);

• membangun keadilan (bdk. 5:17-48; 7:1-5; Luk 6:27-36; 6:37-38, 41-42);

• hidup yang benar dalam memberi sedekah, berdoa, berpuasa (Mat 6: 1-18);

• menghindari ajaran sesat (7:15-23);

• hati-hati terhadap perceraian (19:1-6; Mrk 10:1-2);

karena apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (19:6; Merk 10:9);

• melepas apa yang paling berharga dalam hati yang mengesampingkan Allah (19:16-26; Mrk 10:17-27;

Luk 18:18-27);

• menghindari hal-hal yang munafik (23:1-36; Mrk 12:38-40; Luk 11:37-54; 20:45-47);

• hidup dalam buah-buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22);

• hidup dalam cinta kasih terhadap Tuhan dan sesama (Mrk 12:30-31)

8. Pokok Diskusi dan Kesimpulan

Dalam dokumen MENGENAL EKSORSISME DALAM GEREJA KATOLIK (Halaman 82-97)

Dokumen terkait