BAB II HAK CIPTA DAN HAK TERKAIT SERTA LAGU
C. Doktrin Fair Use dan Fair Dealing
Hak cipta sebagai bagian hak kekayaan intelektual merupakan suatu yang menarik dari beragamnya aktifitas di internet. Beberapa hal yang perlu dilindungi berkaitan dengan hak cipta di internet meliputi semua bentuk
102 Gabrielle Marceu, The WTO Dispute Settelement Procedure, (Geneva: World Trade
Organization, 1995). Hal.23. dikutip dari Ibid, hlm 45.
103 Ibid, hlm 46. 104 Ibid.
67 informasi yang tersedia secara online. Jenis-jenis yang harus dilindungi itu, diantaranya105;
1. Literary work, yaitu semua bentuk pekerjaan yang didasarkan pada teks-teks yang bentuknya mendapatkan hak cipta. Literary work di sini, melingkupi, puisi (poems), buku, artikel, dan hal-hal lainnya yang diekspresikan dalam sejumlah kata dan simbol-simbol lain.
2. Database, yaitu kumpulan data, secara normal adalah dapat hak cipta sebagai kumpulan.
3. Character, yaitu karakter-karakter fiksi dalam bentuk visual, seperti tokoh Mickey Mouse dan Superman, dalam bentuk Literatur, seperti Sherlock Holmes, Herdi Boys, atau James Bond.
4. Musical work, yaitu karya musik yang dapat hak cipta. Perlindungan hak cipta untuk karya musik adalah menjangkau dua hal; kata-kata dan musiknya.
5. Sound Recording, adalah rekaman suara yang dihasilkan dari rekaman, seperti musik-musik seri, perbincangan, dan suara lainnya.
6. Photograps dan Still Images, yakni gambar-gambar dan karya grafik yang dapat hak cipta. Meliputi; komik, strips, periklanan, gambar teknik, diagram yang dapat hak cipta.
7. Motion Pictures and Other Audiovisual works, yakni gambar-gambar hidup, video, dan karya-karya audiovisual yang dapat hak cipta.
8. Software di dunia maya dikualifikasikan sebagai karya yang dapat hak cipta.
68 9. Compliation and Derivative works, adalah karya umum yang menggabungkan satu atau dua kategori yang ada ke dalam medium tunggal. 10. Multimedia works, yakni multimedia adalah karya umum yang menggabungkan satu atau dua kategori yang ada ke dalam medium tunggal. 11. Kalau mengikuti perkembangan yang ada, pelanggaran-pelanggaran hak cipta di internet sudah mulai bermunculan. Tindakan ini terjadi didasarkan pada pendapat ekstrim yang berpendapat bahwa di dunia cyberspace tidak dikenal hukum. Pertanyannya sekarang, kalau di dunia hukum tidak dikenal hukum lalu, apakah pelanggaran terhadap hak cipta itu dibiarkan begitu saja, padahal jelas-jelas tindakan tersebut sangat merugikan, baik bagi individu maupun masyarakat cyber sendiri.106
Konsep fair use dalam konteks hukum hak cipta di Indonesia adalah apabila ada seseorang mengambil karya milik orang lain dalam kerangka kepentingan pendidikan, penelitian, dan karya ilmiah asalkan tidak untuk kepentingan komersial dan juga etikanya. Mencantumkan sumber karya tersebut, maka hal ini dianggap bukan sebagai pelanggaran terhadap hak cipta.107
Oleh karena itu, dalam konteks hak cipta dalam internet, seandainya users ingin terhindar dari sanksi moral atau hukum, tetapi di sisi lain dia membutuhkan data dari internet tersebut untuk keperluan pendidikan,
106 Ibid., hlm 145. 107 Ibid.
69 penelitian, dan karya ilmiah, maka penerapan doktrin fair use, akan dapat menghindarkan si users dari tuntutan moral atau hukum.108
Hal ini akan terasa lain pabila dikatakan dengan users yang tidak memperhatikan doktrin fair use. Artinya users itu memanfaatkan karya cipta yang ada di internet dengan maksud komersial dan tidak menegakan etikanya, maka jelas ini merupakan pelanggaran terhadap hak cipta. Karya cipta dalam media website memungkinkan seluruh karya seseorang dipublikasikan dengan salinan yang dapat didistribusikan kepada penggunananya. Masalahnya, salinan ini tidak sesederhana salinan kertas. Salinan elektronika ini dapat dengan mudah didistribusikan oleh pengakses. Kalau materi yang disalin ada pada domain umum dipastikan tidak akan ada persoalan. Namun, masalah akan muncul jika pengakses adalah perusahaan media cetak yang akan mendistribusikan salinanitu ke pembacanya dengan merubah status penulisnya.109
Hak pemilik atas karya cipta tidak serta merta menjadikan seseorang untuk monopoli dan memeperkaya diri sendiri atas hak ekonomi yang sudah diperolehnya. Untuk menyeimbangkan hak pemilik dengan kepentingan masyarakat, maka UU No. 28 Tahun 2014 mengizinkan penggunaan ciptaan-ciptaan tertentu tanpa perlu izin pencipta, pengaturan ini terdapat dalam Pasal 43-51 UU No. 28 Tahun 2014. Hal tersebut juga terkait dengan Pasal 26 UU
108 Ibid.
109 Harian Republika, 14 November 2001. Lihat juga Nandang Sutrisno.”Cyber Law :Problem dan Pengaturan Prospek Pengaturan Aktivitas Internet,” Jurnal Hukum No.16 Vol.8, Maret 2001, hlm 34. Dikutip dari Ibid hlm 148.
70 No. 28 Tahun 2014 tentang pembatasan perlindungan hak ekonomi yang menjelaskan bahwa hak ekonomi tidak diberlakukan apabila:110
1. Menggunakan kutipan singkat untuk pelaporan peristiwa actual guna kebutuhan penyediaan informasi.
2. Menggandakan ciptaan guna kepentingan penelitian ilmu pengetahuan. 3. Menggandakan ciptaan guna kebutuhan pengajaran, kecuali pertunjukan
dan fonogram yang sudah dipublish sebagai bahan ilmu pengetahuan. Adanya fenomena publikasi hasil ciptaan melalui elektronik/online telah
menjadikan hasil cipta seseorang dengan mudah digunakan atau diunduh oleh semua orang tanpa seizin pencipta. Pada tahun 2001 telah lahir sebuah organisasi nirlaba (nonprofit oriental) di Amerika Serikat yang fokus memberikan lisensi kepada masyarakat pengguna jasa elektronik/online untuk dapat menggunakan, mendistribusikan karya kreatif tanpa mengurangi substansi hak cipta seseorang secara gratis. Organisasi tersebut bernama “Creative Commons”. Organisasi ini akan memberikan standar kepada pemegang hak cipta, sehingga pencipta dapat memberikan izin kepada pihak lain yang ingin menggunakan hasil ciptaannya (hasil karya). Melalui lisensi yang dibuat oleh “Creative Commons”, maka diharapkan penggunaan hak cipta seseorang dapat bermanfaat bagi banyak orang dan digunakan secara legal (tidak melanggar hukum).111
110 Khoirul Hidayah, Op.Cit., hlm 37. 111 Ibid, hlm 38.
71 “Creative Commons” ingin membuat sebuah free cultural works atau “budaya berbagi”karya cipta/ide kreatif yang dibuat oleh pencipta sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain. Pada saat ini lisensi “Creative Commons” telah digunakan oleh para webmaster, blogger, dan jurnalis secara gratis (termasuk publikasi jurnal ilmiah). Creative Commons memberikan lisensi tak berbayar dan menyediakan banyak bentuk karya cipta yaitu melalui teks, gambar (ilustrasi, desain, foto), audio, audio-visual, software dan jenis konten yang lainnya (https://creativecommons.org/).112
”Creative Commons” berbeda dengan lembaga manajemen kolektif yang diatur dalam UU No. 28 Tahun 2014. Meskipun keduanya sama-sama lembaga nirlaba, namun tujuannya berbeda. Lembaga manajemen kolektif yang ada di Indoensia berfungsi menghimpun dan mendistribusikan royalty (khususnya untuk karya lagu), namun “Creative Commons” berfungsi sebagai lembaga yang ingin membatu mendistribusikan karya cipta seseorang kepada masyarakat melalui izin pencipta, tanpa ,menghilangkan hak moral dan hak ekonomis pencipta (khusus media online). “Creative Commons” tidak mengelola hak ekonomi pencipta dan tidak menghimpun royalti.113
Lembaga manajemen kolektif (LMK) merupakan institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh Pencipta, Pemegang hak cipta, dan/atau pemilik hak terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti. Lembaga tersebut di dalam
112 Ibid, hlm 38-39. 113 Ibid
72 praktiknya di Indonesia dilakukan terhadap pengelolaan hak ekonomi dan menghimpun royalti hak cipta atas lagu atau musik, contohnya adalah Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) dan Wahana Musik Indonesia (WAMI). LMK harus berbadan hukum dan harus mendapatkan izin operasional dari Kemenkumham.114