• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dongeng tentang Terorisme di Bumi Indonesia Pendahuluan

Dalam dokumen Intel oh Intel Jilid Dua (Halaman 103-109)

Turut menyampaikan selamat atas semakin terungkapnya skenario cerita terorisme di bumi Nusantara....Indonesia Raya.

Intelijen lemah, Polisi kebobolan, TNI melempem, bom meledak di mana- mana. Kurang lebih begitulah cerita awal terorisme di bumi tercinta ini, sekitar 6-7 tahun silam.

Pasca reformasi TNI kebingungan bagaimana menghadapi desakan reformasi militer dibawah kendali pemerintahan sipil. Kebingungan mempertahankan atau memperbaiki citra sebagai pelanggar HAM dan pembunuh rakyat sendiri. Gamang...kesal/marah...maju-mundur dalam melangkah.

Pasca reformasi, elit-elit polisi berhasil melakukan revitalisasi dengan segala cara termasuk suap miliaran rupiah kepada DPR-RI untuk memuluskan langkah penguasaan seluruh perikehidupan keamanan masyarakat melalui Undang-Undang. Super Cop Pro-Justisia.

Pasca reformasi, intelijen melakukan beberapa kali reorganisasi, membesar-mengecil di masing-masing wilayah. Semua berusaha mengadaptasikan diri terhadap perkembangan ancaman.

Alkisah

Dalam situasi politik-ekonomi yang morat-marit, rusaknya beberapa sendi koordinasi keamanan nasional mendorong petualang separatisme dan komunitas Darul Islam menggeliat kembali.

Alih-alih perang melawan teror, CIA mengirimkan ratusan inflitrasi (inilah yang pernah digembar-gemborkan oleh mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu juga AC. Manullang, namun pernah dicounter oleh Blog I-I sebagai upaya mengurangi kecurigaan CIA bahwa Intelijen Indonesia sudah paham sepenuhnya permainan CIA di Indonesia) dari berbagai arah ke nusantara untuk mendukung terciptanya suasana perang global melawan teror, khususnya untuk membungkus perang pembebasan Irak 2003 yang akhirnya berpuncak pada penguasaan kekayaan minyak Irak. Rencana pembebasan Irak telah dilakukan sejak 1990-1991, ketika Perang Teluk dinyatakan selesai, project the war on teror sudah dimulai. Indonesia menjadi penting sebagai bagian penting dari cerita global, karena keterlibatan pejuang Indonesia dalam perang Afghanistan sejak tahun 1980-an khususnya di tahun 1984 cukup signifikan. Dari catatan Blog I-I ada ribuan pejuang asal Indonesia. Meski banyak pejuang Indonesia yang tidak benar-benar terjun dalam peperangan mengusir Rusia, namun mereka sudah mempelajari banyak hal dari pelatihan perang dan pengenalan senjata yang sangat baik.

Kelemahan utama para pejuang asal Indonesia yang terus mengalir dalam sejumlah konflik di Timur Tengah adalah pemahaman politik global dan permainan intelijen internasional yang merancang perencanaan dalam skala global dengan tujuan yang tidak dipahami oleh kebanyakan Mujahid.

Lalu mengapa baru sekarang Blog I-I menuliskannya, hal ini terkait dengan babak lanjutan perang melawan teror yang sedang mengalami metamorfosa. Blog I-I sudah berusaha memberikan peringatan beberapa kali kepada para Mujahid dan mantan Mujahid untuk melakukan introspeksi serta pembukaan wawasan yang lebih luas. Namun ternyata inflitrasi ke dalam organisasi para Mujahid sudah sedemikian dalam yang kemudian melahirkan semacam deklarasi jihad yang dirangkai sedemikian rupa mencakup kawasan di Asia Tenggara. Tidaklah mengherankan bila justru para ahli politik internasional asal AS (Think Tank di AS) yang kemudian mengklaim diri sebagai ahli atau pengamat terorisme mampu melakukan pemetaan gerakan terorisme Asia Tenggara (sebagai front kedua). Sementara benarkah Indonesia menerima begitu saja dan mencaplok opotuniti memperoleh uang, asistansi dan teknologi.

Jihad di Asia Tenggara terinspirasi oleh kondisi labil beberapa negara pasca krisis ekonomi. Tadinya ada high expectation bahwa Indonesia akan benar-benar hancur dengan skenario Bosnia melalui perang antar etnis dan agama yang pernah dihembuskan puluhan kali di berbagai wilayah dengan potensi konflik yang tinggi. Permainan bisa berlangsung berkat operator yang telah masuk ke dalam unit-unit yang diperlukan untuk

provokasi. Tubuh TNI sudah cukup kronis dengan infiltrasi, tubuh Polisi juga, dan yang menyedihkan demikian juga dalam intelijen. Apa yang pernah dibahas dalam tulisan Cambridge Circus adalah sungguh-sungguh serius.

Babak Pertengahan

Setelah stelan gerakan terorisme Indonesia melalui labelling Jemaah Islamiyah semakin mantap dan terus bergulir pasca Bom Bali I. Mulailah CIA menanam budi dengan berbagai informasi "penting" serta "kerjasama" yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh kalangan aparat keamanan Indonesia.

Australia bahkan termakan atau membiarkan diri ikut meramaikan karena memang sangat medambakan masuk dalam wilayah operasi Indonesia dengan alasan ikut serta dalam permainan global AS. Asutralia dengan sukarela menggelontorkan dana dan proyek kerjasama dengan hampir seluruh instansi keamanan di Indonesia.

Mulailah satu per satu cerita prestasi penangkapan dan pembunuhan teroris dilakukan oleh aparat keamanan. Baik Polisi maupun intelijen melakukan operasi-operasi yang menjanjikan prestasi dan kenaikan pangkat elit pimpinan yang signifikan. Sementara pelaksana operasi baik intelijen maupun anggota Densus 88 (prajurit wong cilik) harus menanggung resiko tinggi dengan imbalan ala kadarnya. Tahukah anda bahwa kesejahteraan anggota Densus 88 tidak sehebat yang difitnahkan banyak pihak dengan mega proyeknya. Yang semakin kaya tentu saja

Sebuah cerita lama sejak masa Orde Baru dimana kekayaan para Jenderal TNI maupun Polisi begitu luar biasa, kembali berulang. Apabila dulu loncatan prestasi memanfaatkan konflik di Aceh, Timor Timur dan Papua, maka sekarang terorisme adalah makanan yang sangat empuk. Karena tinggal mencokok dan memilih waktu yang enak untuk memperlihatkan prestasinya.

Itulah sebabnya di Indonesia hampir sama kondisinya dengan kebanyakan Failed State, terlalu banyak Jenderal Kancil, yaitu Jenderal culas yang mencari kekayaan dari eksploitasi kemiskinan rakyat Indonesia.

Babak Akhir

Saat ini ketidakpastian masa depan Indonesia semakin mengerikan karena tidak ada satupun elemen bangsa yang kuat yang mampu mengawal langkah Indonesia Raya menjadi negara berdaulat yang tidak bisa dilecehkan.

Sebagai contoh; soal DCA RI-Singapura, Blog I-I menarik semua pandangan positif karena setelah melakukan konfirmasi dengan berbagai pihak terkait terungkap jelas bahwa : betapa baiknya DCA disusun, tidak melibatkan instansi terkait secara terbuka adalah sebuah kekeliruan. Intelijen ternyata kembali diabaikan dalam penyusunan DCA, Departemen Pertahanan hanya diwakili oleh Direktorat Strahan, sementara Angkatan Laut, Angkatan Udara, intelijen TNI, sekarang bisa menolak kesepakatan itu karena tidak tahu menahu. Meskipun Menhan menghimbau kesabaran, namun Menhan juga sudah tahu bagaimana proses penyusunan DCA tersebut.

Reformasi Militer mandeg, bila dipaksakan malahan akan berbalik. Reformasi sistem keamanan nasional menjadi sia-sia tanpa reformasi militer. Sementara permintaan militer untuk mengurangi Superioritas Polri ditolak mentah-mentah dengan menenggelamkan konsep Polri di bawah Departemen. Sebuah Bom Waktu.

Pada saat yang bersamaan, semua aparat keamananan mengalihkan konflik internal antar instansi tersebut dalam proyek perang melawan teror. Lucunya lagi tuan dari perang melawan teror itu adalah pimpinan di negara Asing. Saat AD tertangkap maka AD di negeri Kanguru dengan lantang mengkonfirmasi dengan dasar informasi dari pejabat Polisi setingkat Menteri, sangat keterlaluan bukan!!! Bagaimana nanti kalau sudah menjadi Presiden menggantikan [deleted].

Blog I-I sangat marah hari ini, karena begitu banyak kerusakan dalam sistem keamanan nasional. Namun Blog I-I juga mendengar kabar baik bahwa musuh-musuh Blog I-I berpangkat Jenderal akan segera tersingkir dari permainan dalam waktu dekat.

Kebenaran adalah tetap kebenaran, walaupun di dunia ini hanya ada kebernaran relatif, namun jagalah hati dan pikiran intelejen kita untuk kemakmuran dan keamanan rakyat Indonesia.

Salam Indonesia Raya Senopati Wirang

Baca selengkapnya

Dalam dokumen Intel oh Intel Jilid Dua (Halaman 103-109)