3.3. Batas dosis penyinaran
3.3.1 Dosis Radiologi
3. Kulit, tangan, lengan, kaki 500 50
Tabel 3.3. Nilai batas dosis di Indonesia berdasarkan ICRP No. 26 tahun 1977
3.3.1 Dosis Radiologi
Dosis radiologi adalah dosis radiasi ilmu sinar tembus12
a. Roentgen (R) yaitu satuan radiasi sinar-X atau sinar tembus lain yang setara, yaitu banyaknya radiasi yang dikeluarkan pada satu cm kubik volume udara dengan tekanan tertentu.
1 R = 1.000 mR
b. Radiation absorbed dose (Rad) ialah satuan radiasi sinar tembus yang diserap oleh benda atau zat yang terkena radiasi.
1 Rad = 1.000 mRad
100 Rad = 1 Gy
1 Gy = 1 gray
c. Radiaton equivalent of men (Rem) adalah satuan radiasi sinar tembus yang diserap oleh tubuh manusia hidup atau jaringan tubuh hewan hidup.
1 Rem = 1.000 mRem 100 Rem = 1 Sv
1 Sv = 1 Sievert
Yang termasuk radiation exposure dose (R), coulomb/kg Yang termasuk absorbed dose: Rad, Gray (Gy)
36 Yang termasuk biologic dose: Rem, Sievert (Sv)
Pemeriksaan Rerata (mGy) Maksimum (mGy)
Sinar-X Konvensional Abdomen
Chest
Intra venus urogram Lumba r spine Pelvis Skull Thoracic spine 1,4 < 0,01 1,7 1,7 1,1 < 0,01 < 0,01 4,2 < 0,01 10 1,0 4 < 0,01 < 0,01 Fluoroscopi
Barium meal (UGI) Bariem enema 1,1 6,8 49 24 Computed Tomography Abdomen Chest Head Lumba r spine Pelvis 8,0 0,06 < 0.005 2,4 25 49 0,96 < 0,005 8,6 79
Tabel 3.4. Perkiraan dosis radiasi pada fetus dari prosedur umum diagnostik di Inggris
37 Prosedur, radiofarmaka dan aktivitas
pemberian Kehamilan awal (mGy) Kehamilan 9 bulan (mGy) 99m
Tc bone scan (phosphate),750 MBq
99m
Tc lung perfusion (MAA), 200 MBq
99m
Tc lung ventilation (aerososl), 40 MBq
99m
Tc thyroid scan (pertechnetate), 400 MBq
99m
Tc red blood cell, 930 MBq
99m Tc Liver colloid, 300 MBq 99m Tc renal DTPA, 750 MBq 67 Ga abcess/tumor, 190 MBq 123 I thyroid uptake, 30 MBq 123 I thyroid uptake, 0,55 MBq 131
I meta stase imaging, 40 MBq
4,6 - 4,7 0,4 - 0,6 0,1 - 0,3 3,2 - 4,4 3,6 – 6,0 0,5 – 0,6 5,9 – 9,0 14 – 18 0,4 – 0,6 0,03 – 0,04 2,0 – 2,9 1,8 0,8 0,1 3,7 2,5 1,1 3,5 25 0,3 0,15 11
Tabel 3.5. Dosis seluruh tubuh fetus dari pemeriksaan kedokteran nuklir pada periode kehamilan awal dan akhir
38 BAB IV
PEMBAHASAN
Alat-alat radiologi yang memiliki dosis yang rendah adalah15,16,17 :
a. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI adalah suatu alat kedokteran di bidang pemeriksaan diagnostik radiologi, yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh/organ manusia dengan menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064-1.5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.
Kelebihan MRI dibandingkan dengan CT-Scan adalah :
a) MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.
b) Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.
c) Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT-Scan.
d) Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa merubah posisi pasien.
e) MRI tidak menggunakan radiasi pengion.
Manfaat MRI untuk memeriksa bagian dalam tubuh sangat efektif karena memiliki kemampuan membuat citra potongan koronal, sagital, aksial tanpa banyak
39 memanipulasi tubuh pasien dan diagnosa dapat ditegakkan dengan lebih detail dan akurat. Gambaran yang dihasilkan oleh MRI tergantung pada ketepatan pemilihan parameternya. Dalam pengoperasiannya dapat terjadi kecelakaan yang bisa membahayakan pasien, petugas serta lingkungannya. Mengingat biaya pemeriksaan MRI bagi seorang pasien cukup mahal dan efek sampingnya (terutama efek latennya) yang belum diketahui maka perlu pertimbangan yang matang sebelum pasien dikirim untuk pemeriksaan MRI.
b. Ultrasonografi (USG) adalah alat diagnostik noninvasif menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi diatas 20.000 hertz (>20 kilohertz) untuk menghasilkan gambaran struktur organ di dalam tubuh.
Pemerikasaan USG lebih aman dibandingkan dengan pemeriksaan computed tomography scaning (CT-Scan) dan radiologi karena tidak menggunakan radiasi. Dengan bantuan alat ultrasonografi (USG), kita dapat memantau kesejahteraan janin yang tersembunyi dalam rahim, sehingga dapat dinilai janin mana yang beresiko dan memerlukan intervensi. Selain itu pemantauan janin dengan menggunakan alat ultrasonografi memungkinkan klinisi untuk mengetahui sesegera mungkin bahaya yang mungkin mengancam atau menimpa janin.
Indikasi utama pemeriksaan USG trimester pertama adalah untuk16 :
a. Mendiagnosa letak buah kehamilan (intra atau ekstrauterin)
40 c. Mendeteksi kehidupan janin
Banyak para ahli yang menentang pendapat bahwasanya penggunaan USG tersebut memberikan dampak negatif terhadap kehamilan. Menurut sejumlah studi eksperimental pada manusia dan hewan yang dilakukan di mancanegara, tak pernah ditemukan efek negatif akibat penggunaan USG. Sementara, dalam situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), disebutkan bahwa USG baru berakibat negatif jika telah dilakukan sebanyak 400 kali.
Berbeda dengan USG, jika ibu hamil terkena radiasai sinar-X akan mengakibatkan11 :
a. Pada wanita hamil atau kehamilan 10 hari, akan mengakibatkan keguguran
b. Pada wanita hamil 3-4 minggu sampai 12 minggu akan mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan. Hal ini terlihat berupa perubahan bentuk atau kelainan pertumbuhan pada bayi, bila dilahirkan akan mempunyai cacat bawaan
c. Bila dosis radiasi sangat besar, akan mengakibatkan kematian fetus/janin yang telah dikandung.
Pajanan radiasi pengion dapat menyebabkan efek sangat parah pada embrio dan janin. Efek radiasi pada janin dalam kandungan sangat beruntung pada umur kehamilan pada saat terpapar radiasi, dosis dan juga laju dosis yang diterima. Perkembangan janin dalam kandungan dapat dibagi atas 3 tahap. Tahap pertama yaitu preimplantasinya dan implamintasi yang dimulai sejak proses pembuahan sampai
41 menempelnya zigot pada dinding rahim yang terjadi sampai umur kehamilan 2 minggu. Tahap kedua organogenesis pada mas kehamilan 2-7 minggu. Tahap ketiga adalah tahap fetus pada usia kehamilan 8-40 minggu.13
Saat ini batasan DEST yang dipakai oleh PTBN berdasarkan SK. Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-1999 yang mengacu kepada ICRP 26. Berdasarkan rekomendasi IAEA sebenarnya sudah mulai diacu aturan DEST berdasarkan ICRP 103 sebenarnya tidak banyak perbedaannya. Perbedaan antara lain untuk dosis wanita hamil dari 2 mSv (awal kehamilan) diturunkan menjadi 1 mSv (janin).14
Wanita hamil berpotensi menerima pajanan radiasi eksternal dari sinar-X atau gamma dosis rendah selama prosedur radiodiagnostik dan juga selama tindakan radioterapi atau pada kasus kecelakaan nuklir dengan dosis relatif tinggi.13
Umumnya dosis radiasi dari prosedur radiodiagnostik secara substansional tidak memberikan risiko kematian fetus, melformasi atau kelainan perkembangan mental. Dosis pada fetus juga secara nyata dipengaruhi oleh anatomi pasien termasuk ketebalan tubuh, uterus anteverted atau retroverted, dan bahkan distensi kantung kemih.13
Jadi apabila ibu hamil ingin melakukan USG tidak akan menimbulkan efek kepada kesahatan janinnya, karena pada beberapa eksperimen menyatakan dampak negatif dari USG ini akan di rasakan jika telah dilakukan 400 kali, tapi jika ibu hamil
42 ingin melakukan foto rontgen maka dosis yang diberikan adalah 1 mSv sekali pemotretan, dan akan mengalami dampak yang merugikan jika dosis yang diberikan lebih dari 5 rad selama kehamilan.
43 BAB V
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Jika ibu hamil ingin melakukan foto roentgen maka dilakukan pembatasan dosis radiasi sesuai dengan rekomedasi dari komisi-komisi yaitu pada permukaan perut wanita hamil tidak lebih dari 1 mSv. Kondisi ini hanya bisa mencegah timbulnya efek deterministik, tetapi tidak efek stokastik.
Ada 2 macam efek yang akan diterima ibu hamil yaitu :
a. Efek derterministik, seperti retardasi mental, terdapat dosis ambang, dan semakin besar dosis semakin parah efek yang terjadi. Efek deterministik akibat pajanan radiasi selama kehamilan antara lain kematian, abnormalitas sistem syaraf pusat, katarak, retardasi pertumbuhan, malformasi, dan bahkan kelainan tingkah laku. Karena sistem syaraf fetus adalah paling sensitif dan mempunyai periode perkembangan yang paling panjang, abnormalitas yang terjadi akibat radiasi jarang terjadi pada manusia tanpa disertai neuropathology.
b. Efek stokastik seperti induksi leukemia, tidak terdapat dosis semakin besar kemungkinan timbulnya efek ini. Keparahan efek stokastik tidak bergantung pada dosis radiasi yang diterima.
44 Dan apabila wanita hamil terkena radiasi sebesar 5 rad, akan mengakibatkan kelainan berikut ini :
a. Pada wanita hamil atau kehamilan 10 hari, mengakibatkan keguguran
b. Pada wanita hamil 3-4 minggu sampai 12 minggu akan mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan. Hal ini terlihat berupa perubahan bentuk atau kelainan pertumbuhan pada bayi, bila dilahirkan akan mempunyai cacat bawaan
c. Bila dosis radiasi sangat besar, akan mengakibatkan kematian pada fetus/janin yang sedang dikandungnya.
4.2 Saran
Untuk wanita yang berusia subur dan berpotensi hamil adalah menghindari prosedur radiologi yang tidak perlu untuk perawatan medis optimal dan jika pemeriksaan dengan radiasi tetap harus dilakukan pada wanita hamil maka dosis radiasi yang diberikan diusahakan serendah mungkin untuk dapat memberi diagnostik yang diperlukan.
Jika prosedur radiologik direncanakan terhadap wanita usia subur, maka pemeriksaan terhadap abdomen dan pelvis yang tidak berhubungan dengan penyakit sebaiknya dilakukan pada 14 hari pertama siklus menstruasi pada kasus wanita yang berpotensi hamil dan tidak dilakukan terhadap wanita yang sedang hamil.
45 DAFTAR PUSTAKA
1. Alhamid A, Savitri E. Penentuan lokasi gigi impaksi secara radiografis. J of the Indonesian dental association;2006.
2. Sidipratomo P. Buku petunjuk teknis program pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan (P2KB). 2007
3. Abbott P. Continuing education. Australian dental J;2000. ``
4. Suyatno F. Aplikasi radiasi sinar-x di bidang kedokteran untuk menunjang kesehatan masyarakat. Seminar nasional IV. Yogyakarta. ISSN; 2008 agustus 25-26.
5. Priaminiarti M, Iskandar Hanna HB. Pemotretan radiografik gigi yang aman. Jurnal pdgi. 2006.
6. Hiswara E, Prasetio H, Sofyan H. Dosis pasien pada pemeriksaan sinar-x medik radiografik. Seminar nasional keselamatan kesehatan dan lingkungan VI. Jakarta; 2010 Juni 15-16.
7. Barunawaty Yunus. Efek samping terapi radiasi penderita kanker kepala dan leher pada kelenjar saliva. J Dentofasial; 2008: 7.
8. Diana D, Hasibuan S. Pengetahuan, sikap, dan prilaku wanita hamil terhadap kesehatan gigi dan mulut selama masa kehamilan. Dentika dental Journal; 2010: 7.
9. Prahastuti AD. Tempat kerja dan bahaya reproduksi. Seminar nasional JAMPERSAL. Jember ;26 November 2011. p.109-117.
10. Rasad esjahriar. Buku radiologi diagnostik. Jakarta;2005, p. 1, 25-8.
11. Sulistijaningsih N, Hartono L. Atlas teknik radiografi. Jakarta. EGC ;1992. p.11.
12. Lukman D. Dasar-dasar radiologi ilmu kedokteran gigi. Jakarta : Widya medika; 1995, p 23,37,43-73.
46 13. Alatas Zubaidah. Efek teratogenik radiasi pengion. J Ipteks ilmiah popular
;2005: 6: no 3. p.133-142.
14. Prayitno Budi, Suliyanto. Analisis dosis pembatas untuk pekerja radiasi di instalasi radiometalurgi. Seminar nasional V. Yogyakarta. ISSN 1978-0176 ;5 November 2009. p. 441-8.
15. Lyanda Apri, Antariksa Budhi, Elisna. Ultrasonografi toraks. J Respir Indo ;2011:31: 38-43.
16. Budiarti Indri. Buku ajar ultrasonografi dasar obstetric dan ginekologi. Bandung. OBGIN FK UNPAD ;2006.
17. Notosiswoyo Mulyono, Suswati Susy. Pemanfaatan magnetic resonance imaging (MRI) sebagai sarana diagnose pasien. J Media litbang kesehatan ;2004:3 : 9-13.