• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr Lailial Muhtifah Dosen STAIN Pontianak

Dalam dokumen Pemberdayaan Sosial Ekonomi sebagai Stra (Halaman 172-174)

Penelitian ini berusaha menemukan model penanganan konflik sebagai salah satu upaya yang serius dan penting. Penanganan konflik dapat dianalisis berdasarkan teori masyarakat madani, teori manajemen konflik dan teori sosial-budaya. Kasus penanganan konflik yang terjadi di Kota Pontianak Kalimantan Barat antara Pemuda dan Mahasiswa Dayak (PMD) dengan Front Pembela Islam (FPI) merupakan kasus yang khas atau spesifik. Berdasarkan hasil penelitian tentang Model Penanganan Konflik Bernuansa SARA di Pontianak Kalimantan Barat tersebut ditemukan pertama, penanganan konflik tidak bersifat militeristik dan represif, tetapi berdasarkan kerangka regulasi baru. Kedua, upaya pencegahan dan penanganan konflik pada saat terjadi cenderung memiliki persamaan dengan pasal-pasal pada Piagam Madinah serta adanya tindakan pencegahan dan menghentikan konflik secara langsung berbasis religius. Ketiga, pendekatan, strategi, dan metode penanganan konflik cenderung menggunakan pendekatan kerangka regulasi baru berdasarkan pada UU RI No. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dengan tiga strategi; pencegahan konflik, penanganan konflik, dan penanganan pascakonflik. Keempat, model alternatif pencegahan dalam penanganan konflik yakni model “ReligusKomprehensif Integratif Sinergis Angka Delapan”. Sumber utama penelitian ini yakni; data hasil wawancara mendalam dan hasil FGD, hasil observasi dan dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan teknik analisis data model Miles and Huberman.

Kata Kunci: Penanganan Konflik, Masyarakat Madani, dan Model Penanganan Konflik

This research is an effort to find conflict based on primordial solution. The handling of the conflict could be analized by using some theories such as civil society, conflict management and social-cultural approaches. The case solution of conflict between youth and students of Dayak (PMD) and Front of Islam Protector (FPI) in Pontianak is a special and specific. This study finds four models of solution. First, the conflict is overcome not on military’s

and repressive way, but it based on the new frame of regulation. Second, model of conflict solution is somewhat similar with Medinah Chapters and there are actions to stop the conflict based on religion. Third, approaches, strategy and method of conflict solution tend of using new regulation based on State Regulation no 12, 2012 on how to handl social conflict. And, fourth, alternative model for handling and preventing conflict based on `comprehensive eight religious integrative synergyc` The source of data of this research are depth interview and focus group discussion in the qualitative kind and model analysis of Miles and Huberman. Keywords: conflict solution, civil society, conflict solution model

186

ISSN 1412-663X

11 Identifikasi Potensi Rawan Konflik dalam Mewujudkan Harmonis Kehidupan Umat

Beragama di Kalimantan Tengah

Identification of Conflict Sensitives in the Forming of Religious Life Harmony

in the Central Kalimantan

Muhammad

Dosen Syari’ah STAIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah

Tindakan kekerasan yg dilakukan oleh kelompok agama tertentu terhadap kelompok lain tidak memiliki alasan dan aturan normatif yang sah pada ajaran agama manapun. Agama sebagai identitas masyarakat sejalan dengan kerangka moral agar mereka tidak melakukan tindakan kekerasan. Menyalahkan pihak lain tidak hanya berlawanan dengan agama tapi juga bertentangan dengan kesadaran kemanusiaan. Tindakan kekerasan atas nama agama, pada kenyataannya adalah melampaui batas-batas kemanusiaan yang membutuhkan penanganan serius dalam rangka mengurangi konflik dan kekerasan dalam rangka menciptakan kehidupan yg harmonis. Artikel ini bertujuan untuk memperlihatkan beberapa variabel yg penting dalam menciptakan suasana harmoni pada masyarakat yang multi agama dan multi etnis. Penelitian dilakukan secara kualitatif di tiga kabupaten (Kapuas, Kota Waringin Timur dan Lamandau) di propinsi Kalimantan Tengah. Temuan studi ini antara lain adalah adanya variabel khusus dan universal dalam rangka mengurangi konflik yang dilakukan atas nama agama, yakni menghindari eksklusifisme, salah komunikasi dan salah pengertian, serta tidak menggunakan issue agama dalam politik, syakwasangka dan mengembangkan budaya Betang.

Katakunci: agama, prejudice, intercultural communication, budaya Betang.

The Acts of violence committed against by a particular religious group to other ones do not have normative legitimacy and justification of any religious teachings as well. Religion as a social identity binds its adherents with moral frame in order they do not commit acts of violence. This condemnation is not only due to religion wich directs the behavior of its followers on the right path, but also contrary to the conscience of humanity. Acts of violence in the name of religion, so far, has exceeded the limits of humanity that requires serious handling in reducing conflict and violence to realize a harmonious life. This article aims to expose some of the variables that are important to create an atmosphere constructed a harmonious life within multi- religious and multicultural society. In achieving the targeted objectives, the study used interview and documents as the data resouces. It was done in the three districts in Central Kalimantan, the district of Kapuas, East Kota Waringin and Lamandau. The study found some universal and the particular variable in reducing conflict in the name of religion, that were avoiding rigid exclusivism, avoiding the term wich arise miscommunication and misunderstanding, avoiding the issue of religion in politics, avoiding social prejudice, and particularly, developing a spirit of Betang culture. Key words: Agama, social prejudice, dan spirit budaya Betang

lemBaraBstrak 187

12 Pemberdayaan Umat Beragama melalui Pemberdayaan Wakaf di Rumah Sakit Islam (RSI) UNISMA

Malang

Empowering Religious People by Empowerment of Religious Donation

or Wakaf Islamic Hospital, UNISMA Malang

Dalam dokumen Pemberdayaan Sosial Ekonomi sebagai Stra (Halaman 172-174)

Dokumen terkait