• Tidak ada hasil yang ditemukan

Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir

HASIL STUDI EHRA

3.4. Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir

3.4.1.Presentasi Rumah Tangga Yang Pernah Mengalami Banjir

Dari grafik 3.4.1. diatas, pada strata 0 dan strata 1 sebagian besar yaitu 84,6% dan 70,4 % rumah tangga responden tidak pernah mengalami banjir dan hanya 15,4% dan 17,3% mengalami banjir satu kali dalam setahun dan hanya

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 46 7,4% yang mengalami banjir beberapa kali dalam setahun. Hal ini disebabkan karena rumah tangga pada strata 0 dan strata 1 berada di daerah dataran tinggi dengan kriteria tidak miskin, tidak di daerah DAS dan tidak terjadi genangan air. Sedangkan rumah tangga responden yang mengalami banjir setiap kali dalam setahun terbesar pada strata 2 (97,5%) dan strata 4 (43,1%). Dan rumah tangga responden yang mengalami banjir beberapa kali dalam setahun paling besar ada pada strata 3 yaitu 43,1%.

Dan secara keseluruhan untuk tingkat kabupaten Barito Selatan, rumah tangga yang mengalami banjir beberapa kali dalam setahun sebanyak 37,3%, rmah tangga yang mengalami banjir sekali dalam setahun sebanyak 31,1 %, dan rumah tangga yang tidak pernah mengalami banjir sebanyak 26,1% .

3.4.2. Rumah Tangga Yang Mengalami Banjir Rutin

Rumah tangga yang mengalami banjir rutin di kabupate Barito Selatan dapat digambarkan pada grafik.3.4.2 berikut :

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 47 Pada grafik 3.4.2 diatas menunjukkan bahwa yang sebagian besar rumah tangga responden tidak mengalami banjir pada strata 0 (100%) dan pada strata 1 (87,5%), hal ini dkarenakan lingkungan strata 0 dan strata 1 berada di daerah dataran tinggi. Sedangkan rumah tangga responden yang rutin mengalami banjir ada pada strata 2 (94,3%), strata 3 (61,7%) dan strata 4 (51,3%), hal ini disebabkan karena rumah tangga pada strata 2, strata 3 dan strata 4 berada di lingkungan daerah sepanjang aliran sungai Barito dan sungai Ayuh.

Dan secara keseluruhan pada tingkat kabupaten Barito Selatan bahwa sebanyak 57,2% rumah tangga mengalami banjir secara rutin setiap tahunnya dan hanya 42,8% rumah tangga yang tidak mengalami banjir.

3.4.3. Lama Air Menggenang Jika Banjir

Lama air menggenang jika banjir di kabupaten Barito Selatan dapat ditunjukan pada grafik.3.4.3 berikut ini :

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 48 Pada tingkat Kabupaten Barito Selatan, sebagian besar rumah tangga yang mengalami banjir digenangi air lebih dari 1 hari (82,1%) dan hanya 10,7% digenangi air hanya 1 hari. Hal ini disebabkan selain karena rumah tangga di wilayah kabupaten Barito Selatan sebagian besar berada disepanjang Daerah aliran Barito dan Sungai Ayuh juga di karena sistem Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) nya sebagian besar belum ada.

Untuk strata 0, strata 1 dan strata 2 jika terjadi banjir juga digenangi air selama lebih dari 1 hari dengan presentasi sebanyak 100%, meskipun wilayah strata 0,1 dan 2 berada pada daerah dataran tinggi tetapi karena tidak ada saluran pembuangan air limbah (SPAL) atau drainase yang baik menyebabkan setiap kali terjadi banjir, airnya selalu tergenang lama lebih dari satu hari. Sedangkan rumah tangga pada strata 3 dan strata 4 jika terjadi banjir digenangi air selama lebih dari satu hari hanya sebesar 81,5% (pada strata 3) dan 73,7% (pada strata 4).

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 49 Presentasenya lebih kecil dari strata 0, strata 1 dan strata 2 sebesar 100 % dikarenakan rumah tangga di wilayah strata 3 dan strata 4 berada di sepanjang hilir DAS Barito yang mendapat aliran banjir dari daerah Hulu DAS Barito ( Kabupaten Murung Raya ) tetapi tidak lama tergenang karena tergantung aliran sungai cepat dan lambatnya ke hiir menuju muara jadi bukan dikarenakan Sistem pembuangan air limbahnya yang lebih baik dari wilayah strata 0, strata 1 dan strata 2.

3.4.4. Lokasi Genangan Di Sekitar Rumah

Lokasi genangan air di sekitar rumah tangga responden kabupaten Barito Selatan berdasarkan studi EHRA diketahui bahwa sebanyak 84,3 % di dekat dapur, sebanyak 50,3 % di halaman rumah, sebanyak 49,7% didekat kamar mandi, dan hanya sebanyak 4,9% di dekat bak penampungan dan sebanyak 4,3% di tempat lainnya. Tingginya presentasi genangan air di sekitar rumah disebabkan karena tidak adanya saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga, atau mempunyai SPAL tetapi tidak berfungsi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik.3.4.4a berikut :

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 50 Dan untuk gambaran genangan air di sekitar rumah pada setiap strata nya dapat dilihat pada grafik 3.4.4b berikut ini :

Baik pada strata 0, strata 1, strata 2, strata 3 dan strata 4 lokasi genangan air yang paling besar adalah di dekat dapur (25%; 87,5%; 88,3% dan 86%) kemudian di halaman rumah sekitar 25%; 37,5%; 61,7% dan 48,4% dan terakhir di dekat

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 51 kamar mandi sekitar 25%; 45,8%; 43,3% dan 57%. Hal tersebut diatas menggambarkan bahwa rumah tangga pada semua strata belum mepunyai saluran pembuanga air limbah (SPAL) rumah tangga, atau mempunyai tetapi tidak berfungsi dengan baik.

3.4.5. Kepemilikan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Kepemilikan saluran pembuangan air limbah (SPAL) di rumah tangga pada tingkat kabupaten dapat digambarkan pada grafik 3.4.5 berikut ini :

Sebagian besar rumah tangga responden di kabupaten Barito Selatan tidak mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL) yaitu sekitar 81 % dan hanya sekitar 19% rumah tangga yang mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL) walaupun sifatnya sederhana dan belum tertata dengan baik seperti got atau saluran terbuka, galian tanah tetapi rata-rata saluran pembuangan akhir di buang ke sungai atau rawa-rawa, dan itupun tidak terawat dengan baik dari tumpukan sampah dan sendimentasi pasir dan tanah yang terbawa arus air.

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 52

3.4.6. Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga

Rumah tangga yang tidak mempunyai Saluran Pembuangan Air Limbah cenderung halaman/ pekarangan di sekitar rumahnya di genangi air. Untuk kondisi di kabupaten Barito Selatan memang tidakcukup signifikan dari data studi Ehra yaitu hanya sekitar 33 % tidak mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga dan rumahnya tergenang air dan sekitar 67 % rumah tangga tidak tergenang air karena secara kultur geografis wilayah strata 0 dan strata 1 di daerah dataran tinggi dan untuk strata 2, strata 3 dan strata 4 berada di pinggir DAS Barito dan pada saat survei studi EHRA kondisi air sungai Barito sedang surut. Untuk jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.4.6 berikut ini :

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 53

3.4.7. Persentase Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) Yang Berfungsi

Saluran pembuangan air limbah (SPAL) yang berfungsi di Kabupaten Barito Selatan berdasarkan survei studi EHRA dapat digambarkan pada grafik 3.4.7 berikut :

Pada tingkat kabupaten Barito Selatan, rumah tangga yang memiliki saluran pembuangan air limbah (SPAL), hanya sekitar 12,3% SPAL nya masih berfungsi dengan baik (air mengalir), 3,9% SPALnya air tidak dapat mengalir karena tersumbat sampah dan endapan pasir/tanah, 0,9% SPALnya sudah tidak dipakai (saluran kering) dan sebagian besar yaitu 82,9% rumah tangga tidak mempunyai SPAL.

Dari ke-5 strata daerah area survei studi EHRA, pada strata 0 adalah strata yang 100% rumah tangga respondennya tidak mempunyai SPAL, berikutnya

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 54 strata 4 tidak mempunyai SPAL sebesar 94,4%, strata 3 tidak mempunyai SPAL sebesar 86,3%, strata 1 tidak mempunyai SPAL sebesar 65,4% dan yang terakhir strata 2 tidak mempunyai SPAL sebesar 35 %.

3.4.8. Pencemaran Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Pencemaran saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga pada tingkat kabupaten Barito Selatan dapat digambarkan pada grafik 3.4.8 sebagai berikut :

Pencemaran saluran pembuangan air limbah (SPAL) terjadi sebagai akibat dari tidak terawatnya SPAL rumah tangga responden. Dan yang menjadi penyebab pencemaran Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah tersumbatnya aliran SPAL dari sampah dan endapan pasir/tanah, pembuatan SPAL tidak sesuai standar sehingga SPAL tidak berfungsi optimal, maupun pembuangan akhir

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 55 saluran SPAL ke sungai maupun rawa-rawa sehingga menyebabkan pencemaran sumber air minum, air tanah dan lingkungan sekitarnya.

Pada tingkat kabupaten Barito Selatan terdapat sebesar 54,6 % terjadi pencemaran air limbah dikarenakan tidak adanya saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga, dan 45,6% tidak terjadi pencemaran air limbah karena adanya SPAL pada rumah tangga dan kondisi daerahnya adalah dataran tinggi sehingga aliran limbah rumah tangga menuju ke sungai atau rawa-rawa.

Untuk strata 0 dan strata 2 presentase tidak ada pencemaran SPAL nya cukup tinggi yaitu 89,7% dan 62,5%, hal ini dikarenakan kondisi wilayah pada strata 0 dan strata 2 adalah dataran tinggi dan air limbahnya mengalir ke sungai/rawa-rawa dan pada saat survei studi Ehra dilakukan waktu musim kemarau. Sedangkan pada strata 1, strata 3 dan strata 4 presentasi pencemaran air limbahnya cukup tinggi yaitu 61,7%; 72,9%; 89,4%. Hal ini disebabkan karena rumah tangga responden pada strata tersebut sebagian besar rumah panggung dan tidak mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL).

3.4.9. Area Beresiko Genangan Air Berdasarkan Studi EHRA

Berdasarkan hasil studi EHRA, area beresiko genangan air pada tingkat kabupaten Barito Selatan adalah adanya genangan air di sekitar rumah tangga responden sebagai akibat dari berkumpulnya air hujan dan banjir serta limbah domestik ( air bekas cucian,air kamar mandi, air bekas memasak,dll) yang tidak dapat mengalir karena tidak adanya saluran pembuangan. Secara keseluruhan area beresiko genangan air pada tingkat kabupaten Barito Selatan dapat digambarkan pada tabel 3.4 berikut ini :

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2014 Page 56 TABEL.3.4 AREA BERESIKO GENANGAN AIR BERDASARKAN STUDI EHRA

Strata Desa/Kelurahan Total

0 1 2 3 4 11 12 n % n % n % n % n % n % 4.1 Adanya genangan air Ada genangan air (banjir) 6 15.4 28 34.6 39 97.5 195 81.3 152 95.0 420 75.0 Tidak ada genangan air 33 84.6 53 65.4 1 2.5 45 18.8 8 5.0 140 25.0

Secara keseluruhan untuk tingkat kabupaten Barito Selatan masih terdapat sekitar 75 % daerah / wilayah tempat tinggal responden terdapat genangan air disekitar rumah dan hanya 25 % rumah tangga responden tidak terdapat genangan air disekitar rumahnya. Sedangkan pada tingkat strata, presentasi lingkungan rumahnya terdapat genangan air yang tertinggi adalah pada strata 2 (97,5%), strata 4 (95%), strata 3 (81,3%), strata 1 (34,6) dan yang terendah strata 0 (15,4%). Hal ini disebabkan karena pada strata 2,4 dan 3 rumah responden berupa panggung dan sebagian besar berada di pinggir sungai Barito , sedangkan pada strata 0 dan strata 1 berada di daerah dataran tinggi, tetapi secara keseluruhan strata 0 s/d strata 4 hampir semua tidak mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL).

Dokumen terkait