Dalam masalah saluran air, EHRA meminta dan menyarankan agar enumerator mengamati dengan teliti keberadaan saluran drainase di sekitar responden/rumah tangga terpilih. Saluran yang dimaksud di sini adalah yang digunakan untuk membuang air limbah penggunaan rumah tangga (grey water). Bila ada, emunerator juga diminta untuk mengamati dari dekat apakah air di saluran tersebut mengalir, apa karakteristik warna airnya, dan melihat apakah terdapat tumpukan sampah di dalam saluran air tersebut. Saluran air yang memadai ditandai dengan aliran air yang lancar, karakteristik warna air yang cenderung bening atau bersih, dan tidak adanya tumpukan sampah di dalamnya.
Pokok kedua dalam bagian ini adalah kebanjiran yang didefinisikan secara sederhana yakni datangnya air ke lingkungan atau ke dalam rumah yang disurvei. Air yang datang bisa berasal dari manapun termasuk luapan sungai, laut ataupun air hujan yang menggenang. Besarnya banjir tidak dibatasi ketinggiannya. Artinya, air bisa setinggi dada ataupun hanya sedikit genangan yang lebih rendah dari mata kaki orang dewasa.
Studi EHRA di Kota Tanjungpinang menemukan proporsi responden/rumah tangga sejumlah 88,4 % rumah tangga responden yang melaporkan bahwa mereka tidak pernah mengalami banjir. Seperti terlihat pada diagram berikut ini, proporsi terbesar yang mengalami banjir ada sekitar 33,7 % rumah tangga melaporkan mengalami banjir di Kelurahan Tanjung Unggat dan 28,1 % di Kelurahan Tanjungpinang Kota. Yang terendah atau yang dapat dikatakan tidak pernah mengalami banjir sama sekali berada di Kelurahan Penyengat dan Kelurahan Bukit Cermin. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kontur lahan yang berbukit – bukit yang ada di wilayah kelurahan yang bersangkutan.
24 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3
Dari total 11, 4 % responden/rumah tangga di Kota Tanjungpinang yang melaporkan bahwa mereka pernah mengalami banjir, terdapat 42,7 % responden yang meyakini kalau banjir yang terjadi di wilayah mereka tersebut berlangsung secara rutin dan sebanyak 57,3 % responden yang menyatakan bahwa banjir tersebut tidak secara rutin terjadi. Porsi terbesar yang menyatakan mengalami banjir secara rutin terdapat di Kelurahan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang Barat dan juga di Kelurahan Dompak.
Selain itu, ada juga kelurahan yang 100 % respondennya menyatakan bahwa mereka tidak mengalami banjir yang rutin. Adapun kelurahan – kelurahan tersebut adalah Kelurahan Penyengat, Kampung Bugis, Bukit Cermin, dan Kelurahan Kampung Bulang
Gambar 3.9 Grafik Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Banjir Rutin
Selain mempelajari tentang banjir rutin, studi EHRA juga mempelajari tentang lamanya durasi/rentang waktu yang ada dimulai dari saat banjir terjadi hingga surutnya air tersebut. Hal ini ditanyakan oleh enumerator lapangan kepada responden yang terpilih di masing – masing kelurahan.
Secara total di Kota Tanjungpinang, terdapat 47,6 % responden yang menjawab bahwa banjir yang terjadi hanya memakan waktu antara 1 – 3 jam, 22,9 % yang menyatakan bahwa banjir tersebut hanya berlangsung kurang dari 1 jam. Durasi waktu banjir yang lebih lama yaitu sekitar setengah hari (sekitar 12 jam) dinyatakan dialami oleh 13,3 % responden. Sebanyak 8,6 % responden menilai bahwa banjir yang terjadi memakan durasi selama 1 hari (sekitar 24 jam) dan sisanya 7,6 % menyatakan bahwa banjir yang terjadi di wilayah mereka memiliki durasi lebih dari 24 jam.
Terdapat 3 kelurahan dengan persentase terbesar yang memberikan jawaban bahwa banjir yang terjadi di wilayah mereka memakan waktu lebih dari 1 hari. Adapun kelurahan – kelurahan tersebut adalah Kelurahan Tanjung Ayun Sakti sebanyak 66,7 % responden, Kelurahan Senggarang sebanyak 42,9 % responden dan yang terakhir terdapat di Kelurahan Batu Sembilan sebanyak 25,0 % responden.
Grafik persentase secara lebih terperinci tentang lamanya air menggenang pada saat banjir di masing - masing kelurahan dipaparkan pada gambar 3.10 berikut ini.
25 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3
Gambar 3.10 Grafik Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir
Dari keterangan yang telah diperoleh dari sesi – sesi terdahulu, studi EHRA Kota Tanjungpinang mendapatkan gambaran bahwa genangan air yang terjadi ketika banjir melanda banyak ditemukan di lokasi sekitar halaman rumah warga masyarakat, yaitu sebanyak 57,2 % jawaban responden. Sementara itu, sebanyak 18,1 % responden menyatakan bahwa genangan air dari banjir tersebut berada di dekat dapur mereka, 13,9 % responden menyatakan genangan ada di dekat kamar mandi, dan 7,2 % responden menyatakan genangan air terjadi di dekat bak penampungan mereka.
Terdapat sejumlah kecil yakni 9,0 % jawaban responden studi EHRA di Kota Tanjungpinang yang menyatakan bahwa ketika banjir terjadi, genangan air tersebut berada di area lain sekitar rumah mereka, seperti genangan air yang timbul di ruang tamu, di ruang tidur, di garasi, di jalan lingkungan di sekitar depan rumah mereka, dan lain – lain.
26 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3
Berkaitan dengan permasalahan banjir, ada satu hal mendasar dan vital yang dapat mempengaruhi tingkat pencemaran lingkungan yang terjadi pada skala rumah tangga. Hal tersebut sering kita dengar dengan istilah SPAL atau Sarana/Saluran Pembuangan Air Limbah. SPAL memiliki definisi sebagai suatu bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan dari kamar mandi, tempat cuci, dapur dan lain-lain; tetapi bukan dari kakus/jamban.
Manfaat yang ingin diperoleh dengan adanya/terbangunnya SPAL (Sarana/Saluran Pembuangan Air Limbah) rumah tangga adalah agar :
1. Air Limbah tidak berserakan kemana – mana, sehingga tidak menimbulkan genangan air/becek, pandangan kotor, bau busuk yang dapat mengganggu kesehatan
2. Menghilangkan sarang nyamuk
3. Dengan hilangnya comberan, tanah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti tempat bermain anak – anak dan lain – lain.
Berdasarkan hasil studi EHRA, masyarakat Kota Tanjungpinang secara mayoritas telah memiliki SPAL rumah tangga (terlepas dari kriteria sesuai spesifikasi standar/layak bangun yang telah ditetapkan oleh pemerintah). Hal ini dipaparkan oleh grafik yang dibuat berikut ini, dimana terdapat 81 % responden yang menyatakan bahwa mereka telah memiliki SPAL dan hanya 19 % responden yang tidak memiliki SPAL di lingkungan rumah tangga mereka.
Gambar 3.12 Grafik Persentase Kepemilikan SPAL
Berdasarkan pengaruh SPAL terhadap adanya genangan atau tidak, studi EHRA membagi ke dalam 2 kategori akibat yang terjadi bila tidak ada fasilitas SPAL yang terbangun di lingkungan rumah tangga.
Mengacu kepada hasil studi EHRA yang dilakukan di lapangan, terdapat 21,2 % responden yang menyatakan bahwa tidak adanya SPAL yang terbangun telah mengakibatkan adanya genangan air di lingkungan rumah mereka. Akan tetapi, sebagian besar dari responden (sekitar 78,8 %) menyatakan bahwa dengan tidak adanya/tidak dibangunnya SPAL tidak memberikan dampak kepada adanya genangan air di lingkungan rumah. Gambar 3.13 berikut menunjukkan pemaparan yang telah dijelaskan.
27 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3
Gambar 3.13 Grafik Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga
Setelah diketahui masalah kepemilikan SPAL rumah tangga di Kota Tanjungpinang, selanjutnya studi EHRA juga memberikan gambaran yang terperinci tentang 1) ke-berfungsian SPAL rumah tangga yang telah dibangun, dan 2) Tingkat Pencemaran yang ditimbulkan dari SPAL tersebut. Secara umum berdasarkan hasil pengamatan enumerator lapangan, SPAL rumah tangga yang ada di Kota Tanjungpinang ada 69,1 % yang berfungsi dengan baik dan 2,9 % tidak berfungsi dengan baik. Terdapat sebesar 0,5 % tidak dapat dipakai dikarenakan oleh saluran yang kering. Selain itu, terdapat 27,5 % pengamatan enumerator yang menyatakan SPAL tidak berfungsi secara baik dikarenakan tidak memiliki saluran/jaringan lanjutan.
Gambar 3.14 Grafik Persentase SPAL yang Berfungsi
Dari hasil pengamatan enumerator studi EHRA di lapangan, dapat kita simpulkan 3 (tiga) kelurahan teratas yang banyak memiliki SPAL rumah tangga tanpa memiliki saluran/jaringan lanjutan. Ke-3 (tiga) kelurahan tersebut adalah Kelurahan Dompak dengan persentase 64,4 % hasil pengamatan, Kelurahan Penyengat dengan persentase 53,6 % hasil pengamatan dan di posisi ketiga adalah di Kelurahan Senggarang memunculkan persentase 46, 4 % hasil pengamatan enumerator yang
28 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3
menyatakan bahwa SPAL rumah tangga yang telah dibangun tidak memiliki saluran/jaringan lanjutan.
Gambar 3.15 Grafik Pencemaran SPAL
Permasalahan ke-2 (dua) yang akan dibahas adalah “Adakah pencemaran yang ditimbulkan oleh SPAL rumah tangga yang telah dibangun di masing – masing kelurahan di Tanjungpinang?” Hal ini menjadi suatu pertanyaan wajib agar dapat dinilai ketepatan sasaran pembangunan SPAL dan juga tingkat kesadaran akan pencemaran sektor drainase di Kota Tanjungpinang. Secara keseluruhan, ada pencemaran SPAL di Kota Tanjungpinang sebesar 65,0 % dan sisa 35,0 % tidak mengalami pencemaran SPAL. Kelurahan Tanjung Unggat dan Kelurahan Seijang mengalami tingkat pencemaran SPAL tertinggi dengan persentase masing – masing hasil survei menghasilkan angka 100 %. Hasil yang digambarkan di masing – masing kelurahan pada gambar 3.15 di atas dapat dijadikan suatu acuan strategis dalam arah kebijakan pembangunan sanitasi Kota Tanjungpinang yang berkaitan dengan sektor drainase.
Dan topik terakhir yang akan dibahas pada bagian ini adalah tentang “Area Berisiko Genangan Air berdasarkan Studi EHRA”. Adapun hasil yang didapat selama enumerator bekerja di lapangan memberikan suatu pandangan bahwa secara umum, Kota Tanjungpinang tidak memiliki area berisiko gengangan air yang begitu signifikan. Pernyataan ini diperkuat dengan hasil survei EHRA yang menyatakan bahwa 78,8 % Kota Tanjungpinang tidak memiliki area berisiko genangan air dan hanya 21,2 % saja yang memiliki area berisiko genangan air.
Walaupun demikian; dari 21,2 % area berisiko genangan air di Kota Tanjungpinang, terdapat beberapa kelurahan yang memunculkan hasil bahwa mereka memiliki area berisiko genangan air yang cukup besar. Dapat kita perhatikan pada tabel 3.4 berikut bahwa ada 45, 3 % responden di Kelurahan Tanjungpinang Timur menyatakan di wilayah mereka terdapat area berisiko genangan air. Disusul kemudian secara berurutan oleh Kelurahan Kampung Baru (38,1 %), Kelurahan Tanjungpinang Barat (34,5 %), Kelurahan Tanjungpinang Kota (31,5 %, Kelurahan Kamboja (31,0 %) dan Kelurahan Melayu Kota Piring (31,0 %). Bisa disimpulkan bahwa selain kontur wilayah yang mempengaruhi area berisiko genangan air, arah kebijakan pembangunan sektor drainase juga sangat berpengaruh kepada hasil – hasil yang telah dipaparkan pada studi EHRA Kota Tanjungpinang ini.
29 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3
Tabel 3.4 Area Berisiko Genangan Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA
variabel kategori
Kode Kelurahan/Desa Total
TPI
KOTA PENYE NGAT BUGIS KP. GARANG SENG BARAT TPI BOJA KAM BARU KP. BUCER MKP BULANG KP. BT.9 RAJA AIR KENCANA PINANG TIMUR TPI UNGGAT TG. JANG SEI TAS DOMPAK 37 38 n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % n % 4.1 Adanya genangan air Ada genangan air (banjir) 2 8 31,5 1 1,2 6 7,3 17 20,2 29 34,5 6 2 31,0 32 38,1 8 9,5 25 30,1 9 10,7 12 14,8 10 11,6 10 11,5 39 45,3 24 27,6 14 16,1 16 18,4 18 20,7 324 21,2 Tidak ada genangan air 6 1 68,5 83 98,8 6 7 92,7 67 79,8 55 65,5 58 69,0 52 61,9 76 90,5 58 69,9 75 89,3 69 85,2 76 88,4 77 88,5 47 54,7 63 72,4 73 83,9 71 81,6 69 79,3 1206 78,8
30 | L a p o r a n S t u d i E H R A K o t a T a n j u n g p i n a n g - 2 0 1 3