• Tidak ada hasil yang ditemukan

Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir

BAB 3 HASIL STUDI EHRA

3.4 Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir

Banjir yang terjadi dimasyarakat sebenarnya tidak hanya menimbulkan kerugian materi akan tetapi juga segi kesehatan. Banyak penyakit-penyakit yang akan timbul akibat banjir yang terjadi. Hasil studi EHRA tahun 2014, menunjukan bahwa 45,9% responden mengaku bahwa lingkungan rumah mereka pernah mengalami banjir. Intensitas banjir yang dialami pun beragam mulai dari sekali dalam setahun hingga beberapa kali dalam sebulan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 3.8. Grafik Persentase Rumah Tangga Yang Pernah Mengalami Banjir di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Dari Gambar 3.8 diatas persentase rumah tangga yang tidak pernah banjir sebesar 53,3%. Rumah tangga yang pernah banjir sekali dalam setahun sebesar 21,4%, Rumah tangga yang pernah banjir beberapa kal dalam setahun sebesar 22,1% dan sebesar 2,4% rumah tangga yang pernah banjir sekali /beberapa dalam sebulan.

Berdasarkan hasil studi EHRA dan telah dilakukan analisis data diperoleh persentase rumah tangga yang pernah mengalami banjir secara rutin, Gambar 3.9 dapat dilihat sebagai berikut :

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Total 93,8 51,5 52,1 39,4 65,5 53,3 6,3 22,5 26,3 26,7 11,0 21,4 20,0 20,8 31,1 18,5 22,1 3,0 2,5 5,0 2,4 Tidak tahu

Sekali atau beberapa dalam sebulan

Beberapa kali dalam

Sekali dalam setahun

38

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Gambar 3.9. Grafik Persentase Rumah Tangga Yang Mengalami Banjir Secara Rutin di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Dari Gambar 3.9 diatas persentase rumah tangga yang pernah mengalami banjir secara rutin sebesar 48,0% dengan persentase kisaran per strata 20%-49,3%. Dan rumah tangga yang tidak pernah mengalami banjir secara rutin sebesar 52,0% dengan persentse kisaran per strata 40,0%-80%.

Berdasarkan hasil studi EHRA dan telah dilakukan analisis data diperoleh persentase lamanya air menggenang jika terjadi banjir, grafik tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 3.10. Grafik Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Total

20,0 27,8 60,0 50,9 49,3 48,0 80,0 72,2 40,0 49,1 50,7 52,0 Ya Tidak 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Total ,0 18,2 5,3 5,6 7,5 27,3 15,8 5,6 40,0 17,0 22,2 40,0 11,3 9,1 47,4 27,8 20,0 30,2 45,5 26,3 22,2 26,4 5,3 16,7 7,5 Tidak tahu Lebih dari 1 hari Satu hari Setengah hari Antara 1 - 3 jam Kurang dari 1 jam

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Dari Gambar 3.10 diatas persentase lamanya air menggenang jika banjir kurang dari 1 jam sebesar 7,5%, banjir terjadi antara 1-3 jam sebesar 17%, banjir terjadi setengah hari sebesar 11,3%, banjir terjadi satu hari sebesar 30,2%, banjir terjadi lebih dari 1 hari sebesar 26,4%, dan sebagian lagi responden yang tidak tahu lamanya air tergenang sebesar 7,5%.

Berdasarkan hasil studi EHRA dan telah dilakukan analisis data diperoleh persentase lokasi genangan, Gambar 3.11 dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 3.11. Grafik Lokasi Genangan di Sekitar Rumah di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Dari Gambar 3.11 diatas Lokasi genangan yang ada dihalaman rumah sebesar 76,1%, di dekat dapur sebesar 48,0%, di dekat kamar mandi sebesar 38,6%, dan didekat bak penampungan sebesar 20,9%.

,0% 10,0% 20,0% 30,0% 40,0% 50,0% 60,0% 70,0% 80,0% 76,1% 48,0% 38,6% 20,9% 1,3%

40

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan atau zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, saluran pembuangan air limbah (SPAL) perlu diperhatikan dengan baik.

Saluran pembuangan yang biasa digunakan masyarakat adalah pemanfaatan drainase lingkungan atau selokan sekitar rumah. Namun, masyarakat perlu memperhatikan syarat drainase/ selokan yang baik digunakan sebagai saluran pembuangan air limbah. Kondisi lingkungan atau sekitar rumah sebaiknya tidak ada genangan air. Lingkungan yang sering terdapat genangan air dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan yang dibawa oleh vektor-vektor seperti nyamuk, lalat, kecoa, bahkan tikus.

Berdasarkan hasil studi EHRA dan telah dilakukan analisis data diperoleh persentase kepemilikan SPAL di Kabupaten Kepulauan Meranti, Gambar 3.12 dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 3.12. Grafik Persentase Kepemilikan SPAL di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Berdasarkan Gambar 3.12 di atas, hasil studi EHRA memperlihatkan bahwa hanya 53,9% masyarakat sudah memiliki saluran pembuangan air limbah dan sebesar 46,1% tidak memiliki. Masih banyaknya masyarakat yang tidak memiliki saluran

53,9% 46,1%

Ya Tidak ada

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

pembuangan air limbah ini, menunjukkan masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya yang ditimbulkan dari pembuangan air limbah rumah tangga. Masyarakat masih beranggapan air limbah rumah tangga bukanlah suatu yang berbahaya, sehingga perlu adanya penjelasan yang baik kepada masyarakat dan bantuan pemerintah dalam meningkatkan pembangunan sanitasi khususnya saluran pembuangan air limbah.

Dari persentase kepemilikan SPAL di Kabupaten Kepulauan Meranti diatas dapat diketahui dampak akibat tidak memilki SPAL rumah tangga berdasarkan strata yang disajikan dalam Gambar 3.13 dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 3.13. Grafik Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Dari Gambar 3.13 diatas rumah tangga yang tidak memiliki SPAL berakibatkan terjadinya genangan sebesar 28,3% sedangkan berakibatkan tidak ada genangan 71,7%

Dari persentase kepemilikan SPAL di Kabupaten Kepulauan Meranti diatas dapat diketahui SPAL yang berfungsi berdasarkan strata yang disajikan dalam Gambar 3.14 dapat dilihat sebagai berikut :

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Total 6,3

28,5 28,8 26,9 39,0 28,3

93,8

71,5 71,3 73,1 61,0 71,7

42

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Gambar 3.14. Grafik Persentas SPAL Yang Berfungsi di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Dari Gambar 3.14 diatas SPAL yang berfungsi sebesar 65,2%, SPAL yang tidak berfungsi sebesar 9,8%, SPAL yang tidak dapat dipakai sebesar 1,3% dan SPAL yang tidak ada saluran sebesar 23,&%.

Dari persentase SPAL yang berfungsi di Kabupaten Kepulauan Meranti diatas dapat dikatahui SPAL yang tercemar yang disajikan dalam Gambar 3.15 dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 3.15. Grafik Pencemaran SPAL di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Total 68,8 68,5 72,1 64,2 54,0 65,2 5,0 13,5 2,5 10,6 15,5 9,8 1,5 2,5 1,0 1,3 26,3 16,5 25,4 22,8 29,5 23,7

Tidak ada saluran

Tidak dapat dipakai, saluran kering Tidak Ya 0% 20% 40% 60% 80% 100%

Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Total 65,0 44,5 61,7 46,1 58,0 55,1 35,0 55,5 38,3 53,9 42,0 44,9

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Dari Gambar 3.15 diatas SPAL yang tercemar sebesar 55,1% dengan rincian per strata SPAL yang tercemar paling tinggi pada Strata 0 sebesar 65,0% dan paling rendah pada Strata 1 sebesar 44,5%. Sedangkan SPAL yang tidak tercemar sebesar 44,9% dengan rincian per strata SPAL yang tidak tercemar paling tinggi pada Strata 1 sebesar 55,5% dan paling rendah pada Strata 4 sebesar 42,0%

Dari hasil analisi data EHRA di dapat area berisiko genangan air untuk masing-masing strata, persentase tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa hampir setengah dari wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami banjir hal ini dilihat dari persentase adanya genangan air (banjir) sebesar 54,4% dan tidak adanya genangan air sebesar 45,6%.

44

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Tabel 3.9. Area Berisiko Genangan Ai Berdasarkan Hasil Studi EHRA di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun 2014

Variabel

Strata Desa/Kelurahan

Total

0 1 2 3 4

n % n % n % n % n % n %

4.1 Adanya genangan air

Ada genangan air (banjir) 9 11,3 105 52,5 137 57,1 233 64,7 103 51,5 587 54,4 Tidak ada genangan air 71 88,8 95 47,5 103 42,9 127 35,3 97 48,5 493 45,6

Laporan Studi EHRA

POKJA SANITASI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

TAHUN 2014

Dokumen terkait