• Tidak ada hasil yang ditemukan

Drainase Perkoataan

Dalam dokumen BAB II PROFIL SANITASI (Halaman 57-61)

TPA Bt Kapas

C. Drainase Perkoataan

1. LOKASI GENANGAN DAN PERKIRAAN LUAS GENANGAN (Sesuai definisi SPM)

Di Kabupaten Pesisir Selatan saluran drainase pada umumnya menyatu dengan sistim pembuangan air limbah rumah tangga dan industri dengan keadaannya berupa saluran terbuka dan ada yang saluran tertutup. Di Kabupaten Pesisir Selatan pada umumnya drainase masih bersifat alami dengan kondisi yang sangat buruk. Permasalahan yang timbul untuk sistim drainase alami ini bisa jadi genangan akibat penyumbatan saluran drainase oleh sampah-sampah yang bertumpukan di dalam saluran drainase tersebut.

Gambar 2.25. Diagram Sistim Sanitasi Sektor Drainase Lingkungan Kabupaten Pesisir Selatan

User Interface Penampungan Awal Pengangkutan Pengolahan Akhir

Diagram Sistem Sanitasi Sektor Drainase Lingkungan

Air Cucian Dari Dapur Air Untuk Mandi Air Cuci Pakaian Ruang Publik Air Atap Bangunan Talang Air Tanah

Pengelolaan drainase di Kabupaten Pesisir Selatan ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesisir Selatan. Jaringan drainase tersier yang digunakan terbagi menjadi drainase kota dan drainase Kecamatan dimana Wilayah cakupan skala kota yang terdapat di Kota Painan–Salido–Sago sepanjang 11.845 m, dan drainase tersier skala Kecamatan sepanjang 483 m baru terdapat di Kecamatan Bayang dan Kambang.

Drainase Skala Kecamatan yaitu drainase yang terdapat pada permukiman masyarakat pada umumnya kondisi drainase yang ada kurang berfungsi dan sistim pengaliran terputus-putus menyebabkan air limpasan hujan tidak teralirkan sesungai dan kelaut fungsi drainase tersebut hanya untuk mengalirkan air limpasan air hujan.

Sedangkan permasalahan pada saluran drainase yaitu pendangkalan sedimen tanah dan sampah sehingga air tidak mengalir sampai saluran drainase primer. Drainase tersier yang digunakan adalah drainase sistim terbuka pada permukiman masyarakat di Kecamatan, sedangkan pada drainase tersier perkotaan ada yang menggunakan drainase terbuka dan tertutup dimana pada drainase perkotaan sering di tutup dengan beton untuk mengurangi bau yang ditimbulkan dari genangan air. Untuk bangunan pelengkap drainase skala Kota dan skala Kecamatan masih belum ada karena masih menggunakan sistim drainase yang sederhana yang sifatnya hanya untuk mengalirkan air yang tergenang pada permukiman/perumahan yang berasal dari limpasan air hujan dan air limbah rumah tangga.

Jaringan drainase sekunder menggunakan sistim saluran terbuka dan tertutup, dimana panjang drainase sekunder sepanjang 3.626,95 m dengan Wilayah cakupan skala Kota Painan–Salido–Sago sepanjang 2.586,95 m (Sago–Salido 410 m) dan (Painan 2.176,95 m) serta skala Kecamatan sepanjang 1.040 m (Pasar Baru, Koto Berapak, Kapuh). Permasalahan saluran adalah kondisi kurang terawat baik drainase kota maupun drainase Kecamatan, banyak yang telah ditanami rumput, penumpukan sedimen tanah dan sampah, serta kebanyakan drainase yang ada banyak yang terputus-putus dan tidak mengalir.

Sedangkan frekuensi pemeliharaan drainase sekunder yang dilakukan pada tahun 2006 merupakan pemeliharaan drainase kota sepanjang ± 1985 m dan drainase tersier sepanjang 500 m, dan pemeliharaan drainase kota pada Tahun 2010 tersebar. jenis pemeliharaan yaitu memperbaiki saluran drainase yang rusak (pecah) dan tertutup sedimen pasir serta sampah.

Jaringan drainase primer yang menggunakan drainase terbuka dengan wilayah cakupan skala kota terdapat di Painan (belakang UHA sepanjang 20 m) dan di Sago yaitu drainase Air Beralih. Permasalahan pada saluran yang ada yaitu berupa penumpukan sampah dan tumbuhan enceng gondok serta rumput seperti terdapat di drainase Air Beralih Sago. Sedangkan di painan (belakang UHA) kendala berupa pendangkalan dan ditumbuhi rumput serta air yang mengalir tidak lancar. Panjang drainase primer adalah 335 m yang terdapat di kota Painan dan sepanjang 315 m di Sago serta di Air Beralih sepanjang 20 m.

Dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten Pesisir Selatan |Bab II - 59 Secara keseluruhan saluran drainase belum memiliki desain dan konstruksi jaringan drainase yang diperkeras, jaringan drainase masih sederhana dan bersifat konvensional, kecuali pada jalur jalan arteri sudah menggunakan perkerasan, tertutup dan dimanfaatkan untuk berjalan kaki. Sedangkan untuk drainase jalan lokal sudah terdapat jaringan yang diperkeras, tetapi masih terbuka dengan kedalaman kurang lebih 50 cm. Untuk sistem drainase yang lain masih secara alami ditumbuhi semak belukar dan terputus. Hal ini belum menunjukkan jaringan drainase secara terpadu, dimana dimensinya pun hanya merupakan pendekatan perkiraan, tidak diperhitungkan dan didesain sesuai dengan standar baku. Pada kondisi tertentu masih banyak rumah yang tidak memiliki drainase, limpahan air hujan dan limbah rumah tangga di alirkan ditanah-tanah kosong yang berada di belakang rumah.

Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum, ketinggian genangan 0,25 - 1 m dengan lama genangan 1 - 1,5 jam dengan frekuensi 3 kali/tahun. Genangan juga sering terjadi pada saat curah hujan cukup tinggi pada beberapa wilayah bisa mencapai ketinggian 1 meter, dan lamanya bisa mencapai 2 hari. Hal ini terjadi karena pendangkalan sungai sehingga wilayah hilir berpotensi terjadinya genangan dan banjir. Luas wilayah genangan di Kabupaten Pesisir Selatan bisa mencapai 118,85 Ha. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 3.22 dibawah ini.

Tabel 2.31. Lokasi Potensi Genangan Resiko Bahaya Banjir Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010

No Lokasi Genangan Total Area Genangan (Ha) Korban Mengungsi

1 Koto XI Tarusan 350 200

2 Bayang 200 300

3 IV Nagari Bayang Utara 50 150

4 IV Jurai 2 12

5 Batang Kapas 5 23

6 Sutera 5 45

7 Ranah Pesisir 3 50

8 Pancung Soal 90 132

Sumber: Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, 2010

Bahaya banjir yang terjadi pada daerah ini memiliki sebaran spasial umumnya di daerah dataran aluvial. Daerah ini pada umumnya memiliki potensi rawan banjir sedang yaitu Lunang Silaut dengan luas 640,62 km dimana tinggi genangan mencapai lebih dari 1 meter dan lama genangan 2 hari. Daerah rawan banjir rendah yaitu Kecamatan Lengayang dengan luasan 505,96 km genangan terjadi akibat

pendangkalan sungai. Genangan-genangan tersebut umumnya terjadi secara rutin setiap tahun. Rencana Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan sendiri pada tahap pertama akan melakukan upaya normalisasi sungai-sungai, serta Kecamatan lain yang memiliki potensi sedang dan rendah yang tersebar secara merata. Adapun sebaran spasial secara administrasi yang memiliki bahaya banjir dapat dilihat pada Tabel 3.23 Sebaran Spasial Secara Administrasi Tingkat Bahaya Banjir Kabupaten Pesisir Selatan.

Tabel 2.32. Sebaran Spasial Secara Administrasi Tingkat Bahaya Banjir

No Kecamatan Tingkat Bahaya Banjir Total

Rendah Sedang (Km²) Luas % Luas % 1 Koto XI Tarusan 373,46 87,74 52,17 12,26 425,63 2 Bayang 67,96 87,69 9,54 12,31 77,50 3 IV Nagari Bayu 219,88 87,69 30,86 12,31 250,74 4 IV Jurai 338,46 90,55 35,34 9,45 373,80 5 Batang Kapas 324,04 90,24 35,03 9,76 359,07 6 Sutera 343,42 77,06 102,23 22,94 445,65 7 Lengayang 505,96 85,67 84,64 14,33 590,60 8 Ranah Pesisir 493,96 87,52 70,43 12,48 564,39

9 Linggo Sari Baganti 256,15 81,21 59,26 18,79 315,41

10 Pancung Soal 413,47 55,87 326,63 44,13 740,10

11 BAB Tapan 410,76 60,63 266,74 39,37 677,50

12 Lunang Silaut 288,88 31,08 640,62 68,92 929,50

Total 4036,39 70,20 1713,50 29,80 5749,89

Sumber: Analisis Data Laporan mitigasi bencana Kabupaten Pesisir Selatan, 2014

Untuk Lahan yang berpotensi mengalami genangan, dapat dilihat pada gambar 2.23 berikut ini:

Dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten Pesisir Selatan |Bab II - 61 Gambar 2.26. Peta Potensi Genangan di Kawasan Kabupaten Peisir Selatan

2. SISTEM DAN INFRASTRUKTUR

 IDENTIFIKASI KAWASAN GENANGAN EKSISTING

Dalam dokumen BAB II PROFIL SANITASI (Halaman 57-61)

Dokumen terkait