• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Drug Related Problem (DRP) dan Dampak Terapi

1. Drug related problem (DRP)

Proses evaluasi kerasionalan terapi pada kasus di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang menerima resep racikan dilakukan dengan mengidentifikasi drug related problem (DRP) yang terjadi berdasarkan hasil penelusuran pustaka. Pada penelitian ini hanya mengkaji DRP yang terjadi pada kasus dengan diagnosis utama gangguan sistem saluran cerna. Dari data didapatkan ada 32 kasus dengan diagnosis utama gangguan sistem saluran cerna, antara lain diare akut sebanyak 20 kasus, diare disentriform sebanyak 9 kasus, stomatitis sebanyak 1 kasus, kejang demam dan gastroenteritis akut (GEA) sebanyak 1 kasus, serta sefalgia dan GEA sebanyak 1 kasus.

Dari 32 kasus pediatri dengan diagnosis gangguan sistem saluran cerna ada yang hanya mengalami satu jenis DRP, namun ada juga yang mengalami lebih dari satu jenis DRP. Hasil identifikasi DRP yang terjadi meliputi interaksi obat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

sebanyak 24 kasus, obat tanpa indikasi sebanyak 31 kasus, dosis terlalu tinggi sebanyak 2 kasus, dan dosis terlalu rendah sebanyak 11 kasus.

Tabel XIX. Kelompok Kasus DRP Dosis Terlalu Rendah pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan

dengan Diagnosis Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007

Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi

3, 15, 21, 25, 28, 29, 31, 32

Parasetamol Penggunaan parasetamol pada pasien tidak tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan, yaitu 10-15 mg/kgBB. Kasus 25 menerima dosis 8 mg/kgBB. Kasus 15 dan 31 menerima dosis 8,5-9 mg/kgBB. Kasus 3, 21, 28, 29, 31, 32 menerima dosis 9-9,5 mg/kgBB. Dosis parasetamol dinaikkan sesuai dengan dosis yang seharusnya diberikan pada kasus.

17, 20 Kanamisin Penggunaan kanamisin tidak tepat karena dosis oral yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan, yaitu 50 mg/kgBB/hari. Kasus 17 menerima dosis 35 mg/kgBB/hari, sedangkan kasus 20 hanya menerima dosis 30,6 mg/kgBB/hari.

Dosis kanamisin dinaikkan sesuai dengan dosis yang seharusnya diberikan pada kasus.

25 Kotrimoksazol Penggunaan kotrimoksazol tidak tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan, yaitu 8-12 mg/kgBB/hari. Kasus hanya menerima dosis 3 mg/kgBB/hari.

Dosis kotrimoksazol dinaikkan sesuai dengan dosis yang seharusnya diberikan pada kasus.

Jenis obat yang menjadi penyebab DRP dosis terlalu rendah ialah kotrimoksazol, kanamisin, dan parasetamol. Dosis obat yang terlalu rendah dapat mengakibatkan konsentrasi obat dalam darah berkurang sehingga menyebabkan obat tidak dapat mencapai efek terapi yang diharapkan. Pada antibiotika kotrimoksazol mengakibatkan obat tidak dapat membunuh bakteri penyebab infeksi sehingga memiliki resiko terjadinya resistensi. Pemberian kanamisin secara per oral dengan tujuan untuk mendapatkan efek lokal di saluran pencernaan.

46

Tabel XX. Kelompok Kasus DRP Obat Tanpa Indikasi pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan

dengan Diagnosis Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007

Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi

1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32

Fenobarbital Pemberian fenobarbital tidak tepat karena pada kondisi klinis kasus tidak terjadi kejang sehingga tidak membutuhkan obat tersebut.

Fenobarbital tidak perlu digunakan karena pasien tidak membutuhkannya.

2, 21, 22 Karbazokrom-Na-sulfonat dan Vitamin K

Pemberian kedua obat tersebut tidak tepat karena kondisi kasus tidak mengalami perdarahan sehingga tidak membutuhkan obat tersebut.

Karbazokrom-Na-sulfonat dan Vitamin K tidak perlu digunakan.

3, 10, 30 Siproheptadin Pemberian obat tersebut tidak tepat karena kondisi kasus tidak membutuhkan obat tersebut.

Siproheptadin tidak perlu digunakan.

9 Setirizin Pemberian setirizin tidak tepat karena kondisi kasus tidak membutuhkan obat tersebut.

Setirizin tidak perlu digunakan.

16 Rhinofed®

Pemberian obat Rhinofed®

tidak tepat karena kondisi kasus tidak mengalami keluhan pilek yang membutuhkan obat tersebut.

Rhinofed®

tidak perlu digunakan.

20 Klorpromasin Pemberian obat tersebut tidak tepat karena kondisi kasus tidak membutuhkan obat tersebut.

Klorpromasin tidak perlu digunakan.

24 Ketotifen, Siproheptadin, dan Setirizin

Pemberian racikan obat tersebut tidak tepat karena kondisi pasien tidak membutuhkan obat tersebut.

Ketotifen, siproheptadin, dan setirizin tidak perlu digunakan.

30 Noscapin Pemberian obat noscapin tidak tepat karena kondisi kasus tidak mengalami batuk berdahak yang membutuhkan obat tersebut.

Noscapin tidak perlu digunakan.

31 Kotrimoksazol, Polimiksin, dan

Sefotaksim

Pemberian obat antibiotika kotrimoksazol, polimiksin, dan sefotaksim tidak tepat karena ada penggunaan jumlah antibiotika yang berlebihan.

Hanya perlu diberikan satu jenis antibiotika saja yang dipilih dari ketiga antibiotika tersebut, atau dilakukan pemeriksaan kultur untuk mengetahui antibiotika yang sesuai sehingga tidak terjadi pemberian antibiotika yang berlebihan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Kelompok kasus DRP obat tanpa indikasi ialah penggunaan obat yang tidak sesuai dengan kondisi pasien sehingga pasien tidak membutuhkan obat tersebut. Jenis obat yang termasuk kasus DRP obat tanpa indikasi ialah fenobarbital, noscapin, Rhinofed®, karbazokrom-Na-sulfonat dan vitamin K, serta siproheptadin, ketotifen, dan setirizin. Pemberian jumlah antibiotika berlebihan yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi mikroorganisme terhadap antibiotika tersebut juga merupakan kasus DRP obat tanpa indikasi.

Kasus DRP interaksi obat merupakan DRP yang bersifat potensial, artinya DRP tersebut berpotensi terjadi, namun belum terjadi pada kasus. Obat yang menjadi penyebab DRP interaksi obat ialah parasetamol dan fenobarbital. Interaksi antara parasetamol dan fenobarbital memiliki tingkat signifikansi 4 dengan onset lambat, artinya interaksi kedua obat tersebut terjadi setelah beberapa hari atau bulan dengan tingkat keparahan yang sedang (moderate). Efek dari interaksi kedua obat tersebut ialah peningkatan efek hepatotoksik dan penurunan efek terapi parasetamol akibat adanya terapi fenobarbital secara bersamaan. Sebagian besar kasus yang dirawat di Bangsal Anak RS Bethesda menerima jenis racikan parasetamol dan fenobarbital, karena itu perlu diperhatikan penggunaan jenis racikan tersebut.

Obat lain yang akan terjadi interaksi jika diberikan bersamaan ialah deksametason dan golongan obat antasida dengan tingkat signifikansi 5 dan onset lambat serta tingkat keparahan kecil (minor). Efek dari interaksi kedua obat tersebut akan menurunkan efek terapi deksametason, namun mekanismenya belum diketahui.

48

Tabel XXI. Kelompok Kasus DRP Interaksi Obat pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan

Diagnosis Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007

Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi

1, 3, 4, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32 Parasetamol dan Fenobarbital

Parasetamol berinteraksi dengan fenobarbital dengan tingkat signifikansi 4. Fenobarbital akan meningkatkan sifat hepatotoksik parasetamol. Efek terapi parasetamol juga akan berkurang dengan adanya fenobarbital.

Jenis racikan parasetamol dan fenobarbital sebaiknya tidak diberikan karena keduanya mengalami interaksi. Pada kasus yang mengalami demam cukup diberikan parasetamol saja. 2 Deksametason

dan antasida

Deksametason akan berinteraksi dengan antasida mengakibatkan menurunnya efek farmakologi deksametason dengan tingkat signifikansi 5.

Deksametason masih dapat diberikan bersama antasida dengan cara mengatur selang waktu pemberian dari kedua obat tersebut karena tingkat signifikansi rendah, yaitu 5.

13 Polimiksin dan

amikasin sulfat

Polimiksin dan amikasin sulfat jika diberikan bersama dapat terjadi interaksi dengan tingkat signifikansi 4. Interaksi dapat meningkatkan resiko terjadinya paralisis saluran nafas dan gangguan ginjal.

Dilakukan monitoring pada saluran nafas dan pemeriksaan fungsi ginjal, namun sebaiknya antibiotika polimiksin dan amikasin sulfat tidak diberikan bersamaan.

15 Fenitoin dan

Fenobarbital

Pemberian obat fenitoin akan meningkatkan konsentrasi plasma fenobarbital sehingga dapat menimbulkan peningkatan resiko terjadinya efek samping. Interaksi kedua obat tersebut terjadi dengan tingkat signifikansi 4.

Dilakukan monitoring terhadap konsentrasi plasma fenobarbital. Sebaiknya digunakan salah satu di antara fenobarbital atau fenitoin sebagai antikejang.

15 Parasetamol dan

Fenitoin

Pemberian parasetamol dan fenitoin secara bersamaan akan meningkatkan potensi terjadinya hepatotoksik dan menurunkan efek terapetik parasetamol. Interaksi ini terjadi dengan tingkat signifikansi 2.

Parasetamol tidak diberikan bersamaan dengan fenitoin.

27 Fenobarbital dan

Asam valproat

Interaksi antara asam valproat dan fenobarbital memiliki tingkat signifikansi 2. Asam valproat akan menurunkan metabolisme hepatik fenobarbital sehingga konsentrasi plasma fenobarbital akan meningkat hal ini mengakibatkan efek farmakologi dan efek sampingnya juga meningkat.

Fenobarbital tidak diberikan bersamaan dengan asam valproat.

Fenobarbital dan asam valproat jika diberikan bersamaan akan terjadi interaksi dengan tingkat signifikansi 2 dan onset lambat serta tingkat keparahan sedang (moderate). Interaksi kedua obat tersebut mengakibatkan peningkatan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kadar plasma fenobarbital sehingga dapat meningkatkan efek farmakologi dan efek samping fenobarbital.

Obat lain yang mengalami interaksi jika digunakan bersama ialah parasetamol dan fenitoin dengan tingkat signifikansi 2 dan onset lambat serta tingkat keparahan sedang (moderate). Efek dari interaksinya adalah peningkatan potensi hepatotoksik dan penurunan efek terapi dari parasetamol akibat adanya pemberian fenitoin.

Pemberian antibiotika polimiksin dan amikasin sulfat yang bersamaan dapat menyebabkan interaksi obat dengan tingkat signifikansi 4 dan onset cepat serta tingkat keparahan tinggi (major). Interaksi antara kedua obat tersebut menimbulkan peningkatan resiko terjadinya paralisis saluran nafas dan gangguan fungsi ginjal.

Interaksi antara fenitoin dan fenobarbital memiliki tingkat signifikansi 4 dan onset lambat serta tingkat keparahan sedang (moderate). Efek yang ditimbulkan dari interaksi kedua obat tersebut ialah peningkatan kadar serum fenoarbital dengan adanya terapi fenitoin.

Tabel XXII. Kelompok Kasus DRP Dosis Terlalu Tinggi pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan

dengan Diagnosis Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007

Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi

6, 26 Parasetamol Penggunaan parasetamol pada pasien tidak tepat dosis karena dosis yang diberikan melebihi dosis yang seharusnya diberikan, yaitu 10-15 mg/kgBB. Kasus 6 mendapat dosis 36 mg/kgBB, sedangkan kasus 26 mendapat dosis 16,7 mg/kgBB.

Menurunkan dosis parasetamol sesuai dengan dosis yang seharusnya diberikan pada pasien.

50

Pemberian obat dengan dosis yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kadar obat dalam darah meningkat sehingga dapat terjadi efek samping yang tidak diinginkan atau dapat menimbulkan ketoksikan. Parasetamol dosis tinggi dapat menyebabkan efek toksik pada hepar (hepatotoksik).

Tabel XXIII. Contoh Kasus DRP pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis

Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 30*

Subyektif

An. HM, nomor RM 01902995, berat badan 10 kg; umur 1 tahun 4 bulan 18 hari dirawat di RS selama 4 hari karena keluhan mencret.

Diagnosis utama : diare cair akut Obyektif Tanggal periksa Parameter 31/07/07 Nilai normal Hb (gr%) 13,20 12,00-18,00 Hct (%) 43,0 36,0-49,0 AL (ribu/mmk) 11,03 4,10-13,00 AT (ribu/mmk) 185,0 140,0-440,0 Basofil (%) 0,9 0,0-0,1 Monosit (%) 12,2 0,0-9,0 Eosinofil (%) 2,5 0,0-8,0 Suhu (oC) Berkisar antara 36-36,5 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 120-124 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 22-24 Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan siproheptadin ¼ tab + ko-enzim vitamin B12 ½ tab 1x1 (oral); Lacto B® 2x1 (oral); Imboost force® 2x1 cth (oral); noscapin drop 2x1cth (oral); sefotaksim 3x150 mg (i.v); infus KAEN 3A

Penilaian

Pemberian obat siproheptadin dan noscapin pada pasien kurang tepat karena kondisi pasien tidak membutuhkan obat tersebut. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: obat tanpa indikasi.

Rekomendasi

Siproheptadin dan noscapin tidak perlu diberikan pada pasien.

*DRP yang sama terjadi pada kasus 5, 9, 10, 21, 22

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel XXIV. Contoh Kasus DRP pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis

Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 1*

Subyektif

An. DH, nomor RM 00806793, berat badan 6,9 kg; umur 4 bulan dirawat di RS selama 5 hari karena keluhan sejak 4 hari mencret, badan lemas, muntah.

Diagnosis utama : GEA (gastroenteritis akut)

Obyektif Tanggal periksa Parameter 01/07/2007 Nilai normal Hb (gr%) 12,5 14,50-22,50 Hct (%) 38,7 45,0-67,0 AL (ribu/mmk) 6,85 13,00-38,00 AT (ribu/mmk) 333 100,0-400,0 Basofil (%) 1,0 0,0-4,0 Monosit (%) 6,0 3,0-16,0 Eosinofil (%) 1,2 0,0-3,0 Suhu (oC) Berkisar antara 36,2-37,7 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 124-130 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 20-24

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan parasetamol 75 mg + fenobarbital 10 mg 3x1 (oral); Lacto B® 2x1 (oral); kotrimoksazol 2x1/2cth (oral); dan infus KAEN 3B

Penilaian

a. Jenis racikan parasetamol dan fenobarbital menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut dengan tingkat signifikansi 4. Fenobarbital akan meningkatkan sifat hepatotoksik parasetamol. Efek terapi parasetamol juga akan berkurang dengan adanya fenobarbital. DRP yang terjadi bersifat potensial, yaitu: interaksi obat. b. Pemberian obat fenobarbital tidak tepat karena kondisi pasien tidak membutuhkan

obat tersebut. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: obat tanpa indikasi.

Rekomendasi

Fenobarbital tidak perlu diberikan, cukup digunakan parasetamol saja.

52

Tabel XXV. Contoh Kasus DRP pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis Utama

Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 16

Subyektif

An. OS, nomor RM 01903004, berat badan 8,7 kg; umur 11 bulan 9 hari dirawat di RS selama 4 hari karena keluhan panas, mencret, muntah, badan lemas.

Diagnosis utama : gastroenteritis akut (GEA) dengan dehidrasi Obyektif Tanggal periksa Parameter 16/07/2007 Nilai normal Hb (gr%) 12,90 12,00-18,00 Hct (%) 40,5 36,0-49,0 AL (ribu/mmk) 7,11 4,10-13,00 AT (ribu/mmk) 315,0 140,0-440,0 Basofil (%) 6,0 0,0-0,1 Monosit (%) 10,5 0,0-9,0 Eosinofil (%) 5,5 0,0-8,0 Suhu (oC) Berkisar antara 36,4-37,4 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 112-128 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 20-22

Hasil pemeriksaan kultur: 19/07/07

Biakan: Cedecea netteri

Antibiotika yang sensitif: kloramfenikol, streptomisin, asam nalidiksat, tetrasiklin, amikasin, sefepim, meropenem, dan sulperason

Antibiotika yang resisten: kotrimoksazol, ampisilin, gentamisin, penisillin G, eritromisin, kanamisin, sefotiam, seftriakson, cefoperazon, dan ofloksasin.

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan parasetamol 100 mg + fenobarbital 10 mg 3x1 (oral); kotrimoksazol 2x1/2 cth (oral); Lacto B® 2x1 (oral); KCl 3x125 mg (oral); Glostrum® 2x1cth (oral); Rhinofed® 3x1/2 cth (oral); mikonazol (oles mulut); infus KAEN 3B Penilaian

a. Jenis racikan parasetamol dan fenobarbital menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut dengan tingkat signifikansi 4. Fenobarbital akan meningkatkan sifat hepatotoksik parasetamol. Efek terapi parasetamol juga akan berkurang dengan adanya fenobarbital. DRP yang terjadi bersifat potensial, yaitu: interaksi obat. b. Pemberian obat fenobarbital dan Rhinofed® pada pasien kurang tepat karena kondisi

pasien tidak membutuhkan obat tersebut. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: obat tanpa indikasi.

c. Pemberian antibiotika kotrimoksazol tidak sesuai dengan hasil kultur. Kotrimoksazol termasuk antibiotika yang resisten untuk jenis bakteri Cedecea netteri, namun pada kasus ini antibiotika kotrimoksazol tepat diberikan pada pasien karena merupakan salah satu antibiotika pilihan untuk kasus GEA. Bakteri Cedecea netteri tersebut kemungkinan merupakan kontaminan di laboratorium mikrobiologi tempat pemeriksaan kultur dilakukan.

Rekomendasi

a. Fenobarbital tidak perlu diberikan, cukup digunakan parasetamol saja. b. Obat Rhinofed®tidak perlu diberikan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel XXVI. Contoh Kasus DRP Pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis

Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 25*

Subyektif

An. DAP, nomor RM 01903363, berat badan 19 kg; umur 4 tahun 4 bulan 15 hari dirawat di RS selama 3 hari karena keluhan panas, mencret, muntah, dan batuk

Diagnosis utama : GEA dehidrasi Obyektif

Tanggal periksa Nilai normal Parameter 25/07/07 26/07/07 27/07/07 Hb (gr%) 9,90 10,30 12,00-18,00 Hct (%) 30,0 31,9 36,0 36,0-49,0 AL (ribu/mmk) 5,34 4,10-13,00 AT (ribu/mmk) 182,0 167,0 250,0 140,0-440,0 Basofil (%) 0,4 0,0-0,1 Monosit (%) 5,4 0,0-9,0 Eosinofil (%) 0,4 0,0-8,0

Antidengue Ig G negatif negatif Antidengue Ig M negatif negatif Suhu (oC) Berkisar antara 36-38,5

Nadi (kali/menit) Berkisar antara 120-128 Nafas (kali/menit) 24

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan parasetamol 150 mg + fenobarbital 15 mg 3x1 (oral); kotrimoksazol 2x1½ cth (oral); deksametason 3x0,5cc (inj); infus KAEN 3B

Penilaian

a. Jenis racikan parasetamol dan fenobarbital menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut dengan tingkat signifikansi 4. Fenobarbital akan meningkatkan sifat hepatotoksik parasetamol. Efek terapi parasetamol juga akan berkurang dengan adanya fenobarbital. DRP yang terjadi bersifat potensial, yaitu: interaksi obat. b. Pemberian obat fenobarbital tidak tepat karena kondisi pasien tidak membutuhkan

obat tersebut. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: obat tanpa indikasi.

c. Pemberian obat parasetamol dan antibiotika kotrimoksazol tidak tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan pada pasien. Dosis parasetamol seharusnya 10-15 mg/kgBB, yaitu 190-285 mg; sedangkan dosis kotrimoksazol seharusnya 8-12 mg/kgBB/hari, yaitu 152-228 mg/hari. Pasien mendapat dosis parasetamol 150 mg, sedangkan dosis kotrimoksazol 120 mg/hari. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: dosis terlalu rendah.

Rekomendasi

a. Fenobarbital tidak perlu diberikan, cukup digunakan parasetamol saja.

b. Menaikkan dosis obat parasetamol menjadi 190-285 mg dan antibiotika kotrimoksazol menjadi 152-228 mg.

54

Tabel XXVII. Contoh Kasus DRP pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis Utama Gangguan

Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 26*

Subyektif

An. JA, nomor RM 01903349, berat badan 9 kg; umur 1 tahun 0 bulan 22 hari dirawat di RS selama 5 hari karena keluhan muntah dan diare.

Diagnosis utama : diare cair akut Obyektif Tanggal periksa Parameter 26/07/07 Nilai normal Hb (gr%) 12,80 12,00-18,00 Hct (%) 41,1 36,0-49,0 AL (ribu/mmk) 8,12 4,10-13,00 AT (ribu/mmk) 386,0 140,0-440,0 Basofil (%) 0,5 0,0-0,1 Monosit (%) 13,4 0,0-9,0 Eosinofil (%) 0,0 0,0-8,0 Suhu (oC) Berkisar antara 36,4-37 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 118-124 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 20-24

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan parasetamol 150 mg + fenobarbital 15 mg 3x1 (oral); Lacto B® 2x1 (oral); domperidon 3x1cth (oral); infus KAEN 3B

Penilaian

a. Jenis racikan parasetamol dan fenobarbital menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut dengan tingkat signifikansi 4. Fenobarbital akan meningkatkan sifat hepatotoksik parasetamol. Efek terapi parasetamol juga akan berkurang dengan adanya fenobarbital. DRP yang terjadi bersifat potensial, yaitu: interaksi obat. b. Pemberian obat fenobarbital tidak tepat karena kondisi pasien tidak membutuhkan

obat tersebut. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: obat tanpa indikasi.

c. Dosis parasetamol terlalu tinggi, seharusnya dosis yang diberikan 10-15 mg/kgBB, yaitu 90-135 mg. Pada kasus mendapat dosis 150 mg. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: dosis terlalu tinggi.

Rekomendasi

a. Fenobarbital tidak perlu diberikan, cukup digunakan parasetamol saja. b. Dosis parasetamol diturunkan menjadi 90-135 mg.

*DRP yang sama terjadi pada kasus 6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel XXVIII. Contoh Kasus DRP pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis

Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 17

Subyektif

An. RF, nomor RM 00406568, berat badan 6,4 kg; umur 2 bulan 23 hari dirawat di RS selama 6 hari karena keluhan mencret.

Diagnosis utama : diare akut-dehidrasi

Obyektif Tanggal periksa Parameter 18/07/2007 Nilai normal Hb (gr%) 10,20 14,50-22,50 Hct (%) 31,4 45,0-67,0 AL (ribu/mmk) 8,03 13,00-38,00 AT (ribu/mmk) 310,0 100,0-400,0 Basofil (%) 0,4 0,0-4,0 Monosit (%) 7,5 3,0-16,0 Eosinofil (%) 1,7 0,0-3,0 Suhu (oC) Berkisar antara 36,8-37,2 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 120-128 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 20-24

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan metronidazol + kotrimoksazol 3x1 (oral); Tanalbin® 3x1 (oral); kanamisin 3x75 mg (oral); amikasin 2x50 mg (inj); infus KAEN 3A

Penilaian

Pemberian antibiotika kanamisin tidak tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan pada pasien. Dosis kanamisin secara per oral seharusnya 50 mg/kgBB/hari, yaitu 320 mg/hari. Pasien mendapat dosis kanamisin 225 mg/hari. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: dosis terlalu rendah.

Rekomendasi

56

Tabel XXIX. Contoh Kasus DRP pada Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dengan Diagnosis

Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna Periode Juli 2007 Kasus 20

Subyektif

An. GL, nomor RM 00806464, berat badan 9,8 kg; umur 1 tahun 2 bulan 18 hari dirawat di RS selama 4 hari karena keluhan mencret, muntah dan panas.

Diagnosis utama : diare akut-dehidrasi

Obyektif Tanggal periksa Parameter 21/07/2007 Nilai normal Hb (gr%) 12,70 12,00-18,,00 Hct (%) 39,9 36,0-49,0 AL (ribu/mmk) 10,96 4,10-13,00 AT (ribu/mmk) 20,30 140,0-440,0 Basofil (%) 2,3 0,0-0,1 Monosit (%) 13,0 0,0-9,0 Eosinofil (%) 0,3 0,0-8,0 Suhu (oC) Berkisar antara 36,2-37 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 120-124 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 20-28

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat racikan kanamisin 100 mg + Tanalbin® 150 mg 3x1 (oral); Lacto B® 2x1 (oral); domperidon 2x1cth (oral); KCl 2x10cc mg (dalam infus); klorpromasin 5 mg (inj); amikasin 2x75 mg (inj); infus KAEN 3A

Penilaian

a. Pemberian antibiotika kanamisin tidak tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan pada pasien. Dosis kanamisin secara per oral seharusnya 50 mg/kgBB/hari, yaitu 490 mg/hari. Pasien mendapat dosis kanamisin 300 mg/hari. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: dosis terlalu rendah.

b. Pemberian obat klorpromasin pada pasien kurang tepat karena kondisi pasien tidak membutuhkan obat tersebut. DRP yang terjadi bersifat aktual, yaitu: obat tanpa indikasi.

Rekomendasi

a. Menaikkan dosis kanamisin menjadi 490 mg/hari. b. Obat klorpromasin tidak perlu diberikan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Jumlah DRP pada Kasus Pediatri dengan Diagnosis Utama Gangguan Sistem Saluran Cerna

31

Dokumen terkait