• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terhadap dua hal tersebut DPR RI menyampaikan keterangan sebagai berikut:

1. Bahwa penegakan hukum untuk memberantas tindak pidana korupsi yang dilakukan secara konvensional selama ini terbukti mengalami berbagai hambatan. Untuk itu diperlukan metode penegakan hukum secara luar biasa melalui pembentukan suatu badan khusus yang mempunyai kewenangan luas, independen serta babas dari kekuatan manapun dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, yang pelaksanaannya dilakukan secara optimal, intensif, efektif, profesional, serta berkesinambungan.

2. Bahwa sebelum dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

pemberantasan tindak pidana korupsi sudah dilaksanakan oleh berbagai instansi seperti kejaksaan, kepolisian, dan badan-badan lain yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, pengaturan kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam undang-undang ini dilakukan secara berhati-hati agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dengan berbagai instansi tersebut.

3. Bahwa berdasarkan ketentuan TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN serta dari ketentuan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, diperlukan adanya satu badan yang dapat melakukan penyidikan, penuntutan, dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Untuk itu, maka dibentuk Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

4. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 11 UU KPK, kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6 huruf c UU KPK meliputi tindak pidana korupsi yang:

a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;

b. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau

c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

5. Bahwa dengan kewenangan yang diatur dalam UU KPK, maka KPK:

a. dapat menyusun jaringan kerja (networking) yang kuat dan memperlakukan institusi yang telah ada sebagai "counterpatner" yang kondusif sehingga pemberantasan korupsi dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif;

b. tidak memonopoli tugas dan wewenang penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan;

c. berfungsi sebagai pemicu dan pemberdayaan institusi yang telah ada dalam pemberantasan korupsi (trigger mechanism);

d. berfungsi untuk melakukan supervisi dan memantau institusi yang telah ada, dan dalam keadaan tertentu dapat mengambil alih tugas dan wewenang penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan (superbody) yang sedang dilaksanakan oleh kepolisian dan/atau kejaksaan.

6. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, disebutkan bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah lembaga yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri, untuk menyelenggarakan Pemilu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa KPU merupakan lembaga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan lembaga negara yang lain.

7. Ketentuan Pasal 6 huruf C dan Pasal 12 Ayat (1) huruf a UU KPK, yang memberikan kewenangan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi (Pasal 6 huruf c) dan melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan (Pasal 12 Ayat (1) huruf a), tidak bertentangan dengan Pasal 28D Ayat (1) UUD 1945, yang berbunyi: "Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum", karena sesuai dengan ketentuan Pasal 4 UU KPK, bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu perlu diberi kewenangan lebih atau ekstra sebagaimana diatur dalam Pasal 6 huruf c dan Pasal 12 Ayat (1) huruf a. Tindakan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan dilakukan terhadap semua pihak yang disangka melakukan tindak pidana korupsi, dengan demikian pelaksanaan ketentuan Pasal 6 huruf c tidak melanggar jaminan dan kepastian hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 28D UUD 1945 karena pelaksanaan dari kewenangan tersebut juga dilakukan pembatasan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU KPK tersebut.

8.a. Bahwa ketentuan Pasal 66 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, berbunyi: "Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi tugas melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika berwenang untuk menyadap pembicaraan melalui telepon atau alat komunikasi lain yang dilakukan oleh orang yang diduga keras membicarakan masalah yang berhubungan dengan tindak pidana narkotika."

Dengan demikian, kewenangan yang diberikan kepada KPK untuk melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan bukan merupakan hal yang baru, karena kewenangan tersebut juga diberikan sebelumnya kepada Pejabat Polisi sesuai dengan ketentuan Pasal 66 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

b. Bahwa kewenangan KPK untuk melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan juga tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 17 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang berbunyi:

(1) Tidak seorangpun boleh dijadikan sasaran campur tangan yang sewenang-wenang atau tidak sah atas kerahasiaan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya atau hubungan surat menyuratnya ataupun tidak boleh dicemari kehormatannya dan nama baiknya.

(2) Setiap orang berhak atas perlindungan hukum terhadap campur tangan atau pencemaran demikian.

Karena ketentuan tersebut menentukan penyadapan tidak boleh dilakukan jika prosedurnya tidak sah. Dalam kasus ini kewenangan KPK dalam Pasal 12 Ayat (1) huruf a untuk menyadap dan merekam pembicaraan dilakukan secara sah karena kewenangannya diberikan oleh UU KPK. Demikian juga tidak melanggar hak konstitusional Pemohon sebagaimana diatur dalam Pasal 28F UUD 1945 karena pemberlakuan Pasal 28F juga dibatasi oleh Ketentuan Pasal 28J Ayat (2) yang berbunyi: "Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang diterapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas dasar hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan

moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.

c. Hasil penyadapan dan perekaman yang dilakukan oleh KPK tersebut dapat dijadikan alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan Pasal 26 jo.

Pasal 26A Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, berbunyi Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari:

a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik atau yang serupa dengan itu; dan

b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka atau perforasi yang memiliki makna.

9. Dengan demikian, ketentuan Pasal 6 huruf c dan Pasal 12 Ayat (1) huruf a UU KPK tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D Ayat (1) dan Pasal 28F UUD 1945.

II. Keterangan Tertulis DPR RI Untuk Perkara Nomor 016/PUU-IV/2006 A. Pasal-pasal dalam UU KPK yang dimohonkan uji materiil

1. Pasal 1 Angka 3 UU KPK yang berbunyi, “Pemberantasan tindak pidana korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku."

2. Pasal 11 huruf b UU KPK berbunyi, “Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang : a. ………….; b. mendapat perhatian yang

meresahkan masyarakat; dan/atau c. ………… ";

3. Pasal 12 Ayat (1) huruf a UU KPK berbunyi, “Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:

a. melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan; b. ……….. ";

4. Pasal 40 UU KPK dinyatakan, “Komisi Pemberantasan Korupsi tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi."

5. Pasal 53 UU KPK berbunyi, "Dengan Undang-Undang ini dibentuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi."