BAB II. FASAKH DAN PEMBATALAN NIKAH
A. Duduk Perkara
Pada tanggal 15 Juli 1998, Penggugat sebagai istri telah melangsungkan pernikahan dengan Tergugat sebagai suami dihadapan Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, sebagaimana tercatat didalam buku kutipan Akta Nikah Nomor: 387/76/VI/1998, pada tanggal 25 Juni 1998.
Setelah menikah Penggugat dan Tergugat telah dikaruniai dua orang anak, yang masing-masing bernama anak ke I dan anak ke II. Kemudian Penggugat dengan Tergugat membina rumah tangga terakhir bertempat tinggal bersama di Kabupaten Bogor.
Sejak semula rumah tangga Penggugat dan Tergugat berjalan rukun dan harmonis, akan tetapi sejak bulan Mei 2008, rumah tangga Penggugat dan Tergugat mulai mengalami kegoncangan yang disebabkan antara lain Tergugat telah kembali ke agamanya semula yaitu Kristen, disamping itu Tergugat sering berkata-kata kasar, sering mengancam Penggugat, dan antara Penggugat dan Tergugat sudah tidak ada kecocokan, sering berbeda pendapat dalam membina rumah tangga.
Sampai titik klimaks percekcokan tersebut pada bulan November 2008 dimana terjadi peristiwa pertengkaran yang mengakibatkan antara Penggugat dan Tergugat telah pisah ranjang yang berlangsung selama kurang lebih 1 minggu.
Seiring berjalannya waktu, Penggugat telah berusaha untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan cara bersabar dan musyawarah secara kekeluargaan agar rukun lagi membina rumah tangga akan tetapi tidak berhasil.
Sebagaimana adanya perselisihan dan pertengkaran tersebut, kerukunan rumah tangga antara Penggugat dan Tergugat tidak dapat untuk dibina dan dapat dipertahankan lagi dengan baik, sehingga tujuan dari perkawinan untuk membantu keluarga/rumah tangga yang bahagia dan sejahtera (sakinah, mawaddah warahmah) akan tetapi tidak berhasil diwujudkan.
Oleh karena antara Penggugat dengan Tergugat sering terjadi perselisihan secara terus menerus dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi, maka cukup alasan untuk diajukan gugatan perceraian ini berdasarkan Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.
Mengingat dua orang anak tersebut masih kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, maka Penggugat mohon kepada Ketua Pengadilan Agama Cibinong untuk menetapkan anak tersebut berada dibawah pemeliharaan/hadhanah Penggugat sebagai ibunya.
Berdasarkan hal-hal diatas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Agama Cibinong agar memberikan putusan sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya;
2. Menjatuhkan talak satu ba‟in sughro dari Tergugat terhadap Penggugat; 3. Menetapkan dua orang anak yang bernama anak ke I Penggugat dan
berumur 8 tahun untuk berada di bawah pemeliharaan/hadhanah Penggugat sebagai ibunya;
4. Menetapkan biaya perkara menurut hukum.
Disamping itu, apabila Pengadilan Agama berpendapat lain, Penggugat memohon putusan yang seadil-adilnya.
Selanjutnya Tergugat mengajukan eksepsi, yaitu jawaban dari gugatan penggugat dalam kompetensi absolut yang pada pokoknya atas keterangan-keterangan sebagai berikut:
Tergugat berkeberatan dengan pengajuan gugatan perceraian yang diajukan oleh Penggugat melalui Pengadilan Agama Cibinong karena, baik Penggugat maupun Tergugat tidak beragama Islam melainkan beragama Kristen.
Selanjutnya Penggugat dan Tergugat telah menikah pada tanggal 25 Juni 1988 di hadapan Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, namun demikian setelah pernikahan tersebut, Penggugat dan Tergugat telah menganut agama Kristen dan menikah kembali secara Kristiani pada tanggal 18 November 2004, dimana sebelum pernikahan secara Kristiani tersebut Penggugat telah menganut agama Kristen terhitung sejak tanggal 31 Oktober 1999. Jikalau Penggugat ternyata telah kembali memeluk agama Islam semenjak meninggalkan rumah pada bulan November 2008, maka tetap saja gugatan aquo haruslah diajukan ke Pengadilan Negeri mengingat Tergugat saat ini beragama Kristen.
Oleh karena Penggugat dan Tergugat beragama Kristen atau setidak-tidaknya Tergugat beragama Kisten, maka sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, Pengadilan Agama Cibinong tidak memiliki kewenangan untuk memeriksa perkara aquo dan seluruh perselisihan yang timbul berkaitan dengan perkawinan antara Penggugat dengan Tergugat seharusnya diselesaikan di Pengadilan Negeri.
Tergugat telah menyangkal dalil-dalil permohonan tersebut dan sebaliknya mengajukan gugatan balik (rekonvensi) yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
Hal-hal yang telah Tergugat Konvensi/Penggugat Rekonvensi sampaikan dalam bagian konvensi tersebut diatas mutatis mutandis menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan bagian dalam rekonvensi.
Disamping itu, Penggugat Rekonvensi sebenarnya masih mencintai Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi dan berpendapat tidak terdapat alasan-alasan yang dapat diajukan untuk perceraian dalam rumah tangga mereka, namun demikian jikalau Majelis Hakim Pengadilan Agama berpendapat lain dan karenanya menyetujui perceraian sebagaimana diajukan dalam gugatan konvensi, maka terhadap konsekuensinya perceraian tersebut, khususnya berkaitan dengan hak asuh/perwalian atas anak, Penggugat Rekonvensi/Tergugat Konvensi mengajukan gugatan rekonvensi aquo.
Selanjutnya Penggugat Rekonvensi berpendapat bahwa Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi tidak memiliki kapasitas untuk memperoleh hak asuh/perwalian atas anak-anak hasil perkawinan Penggugat Rekonvensi dengan Tergugat Rekonvensi.
Sejak Tergugat Rekonvensi meninggalkan rumah, Penggugat Rekonvensi telah berusaha untuk membawa kembali Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi beserta dengan anak-anaknya pulang karena kecintaan dan kepeduliannya terhadap keluarga termasuk anak-anak. Namun demikian, Penggugat Rekonvensi hanya berhasil membawa pulang salah satu anaknya yakni anak ke I Penggugat dan Tergugat tetapi Penggugat Rekonvensi tidak berhasil membawa pulang anaknya yang lain, yakni Anak ke II Penggugat dan Tergugat Rekonvensi.
Setelah kejadian tersebut, Penggugat Rekonvensi tetap berusaha untuk membawa pulang anak ke II Penggugat dan Tergugat Rekonvensi tetapi selalu gagal, namun hal tersebut membuktikan bagaimana Penggugat Rekonvensi sangat menyayangi anaknya dan ingin agar dapat selalu berkumpul bersama dengan anak-anaknya.
Namun sebaliknya, semenjak anak ke I berada bersama dengan Penggugat Rekonvensi, Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi tidak pernah sama sekali peduli dengan keadaan anaknya, baik menengok secara langsung maupun menanyakan keadaan melalui telepon.
Berdasarkan keadaan-keadaan tersebut di atas, apalagi ditambah dengan fakta sebagaimana telah Penggugat Rekonvensi sampaikan dalam jawaban bagian di atas mengenai kesalahan fatal atas nama dan umur anak-anak, menunjukkan bahwa Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi memang tidak memiliki kepedulian terhadap anaknya dan tidak mau tahu atas masalah-masalah anak-anaknya.
Oleh karena Penggugat Rekonvensi sangat menyayangi dan peduli atas masa depan anak-anak mereka, sehingga jikalau anak-anak hasil perkawinan Penggugat Rekonvensi dengan Tergugat Rekonvensi berada dalam asuhan Tergugat Rekonvensi, yang notabene tidak peduli terhadap anak-anak hasil perkawinan mereka, Penggugat Rekonvensi takut hal tersebut akan menyebabkan terganggunya psikis dan trauma terhadap anak-anak mereka.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Penggugat Rekonvensi mohon kepada Majelis Hakim untuk menetapkan hak asuh/perwalian atas anak-anak hasil perkawinan Penggugat Rekonvensi dengan Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi yang bernama anak ke I, lahir 5 Agustus 1988 dan anak ke II lahir 24 September 1999 diberikan kepada Penggugat Rekonvensi.
Bahwasanya Penggugat Konvensi yang memulai gugatan aquo, maka adalah wajar secara hukum apabila Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi menanggung biaya atas perkara aquo.
Sebagaimana hal-hal tersebut di atas Tergugat dalam Rekonvensi menuntut kepada Pengadilan Agama Cibinong supaya memberikan putusan sebagai berikut:
- Menetapkan hak asuh/perwalian atas anak- anak hasil perkawinan Penggugat Rekonvensi dengan Tergugat Rekonvensi, Penggugat Konvensi, yang bernama: anak ke I, lahir 5 Agustus 1998; dan anak ke II, lahir 24 September 1999, kepada Penggugat Rekonvensi.