• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya 1. Sumber Daya Manusia

PELAKSANAAN KEGIATAN UTAMA

F. Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya 1. Sumber Daya Manusia

a. Jumlah Pegawai

Jumlah pegawai Direktorat Jenderal Tanaman Pangan sampai Desember 2013 sebanyak 792 orang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) unit kerja eselon II dipusat sebanyak 494 orang, 3 UPT sebanyak 180 orang dan PNS yang ditugaskan/diperbantukan di daerah/instansi lain sebanyak 118 orang. Sampai dengan tahun 2013 PNS yang ditugaskan di daerah tersebar di 14 provinsi dengan jumlah 115 orang, sedangkan yang diperbantukan di instansi lain 3 orang.

Tabel 39. Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan (Orang)

Tabel 40. Jumlah Pegawai Berdasarkan Golongan (Orang)

Tabel 41. Jumlah Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin (Orang) S3 S2 S1/D4 SM/D3 SLTA SLTP SD 1 Sekretariat Direktorat Jenderal TP - 22 69 8 62 6 8 175 2 Direktorat Perbenihan TP 1 15 27 3 16 1 1 64 3 Direktorat Budidaya Serealia - 12 31 4 16 3 2 68 4 Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi 1 12 26 5 12 1 2 59 5 Direktorat Perlindungan TP - 9 38 2 17 1 - 67 6 Direktorat Pascapanen TP - 11 31 5 16 - 1 64 7 BBPPMBTPH Cimanggis - 7 29 1 19 - - 56 8 BBPOPT Jatisari - 2 35 7 44 - 2 90 9 BPMPT - 2 23 3 6 - - 34 10 Pegawai yang ditugaskan di daerah - 1 37 3 66 5 3 115

2

93 346 41 274 17 19 792

No. Unit Kerja Tingkat Pendidikan Jumlah

Jumlah

I II III IV

1 Sekretariat Direktorat Jenderal TP 5 43 115 12 175 2 Direktorat Perbenihan TP 2 8 42 12 64 3 Direktorat Budidaya Serealia 2 15 41 10 68 4 Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi 3 11 38 7 59 5 Direktorat Perlindungan TP - 12 49 6 67 6 Direktorat Pascapanen TP - 17 40 7 64 7 BBPPMBTPH Cimanggis - 11 40 5 56 8 BBPOPT Jatisari 1 32 54 3 90 9 BPMPT - 6 26 2 34 10 Pegawai yang ditugaskan di daerah 8 69 37 1 115

21

224 482 65 792

Unit Kerja Golongan

Jumlah

No. Jumlah

Laki-laki Perempuan

1 Sekretariat Direktorat Jenderal TP 114 61 175 2 Direktorat Perbenihan TP 35 29 64 3 Direktorat Budidaya Serealia 46 22 68 4 Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi 27 32 59 5 Direktorat Perlindungan TP 31 36 67 6 Direktorat Pascapanen TP 32 32 64 7 BBPPMBTPH Cimanggis 22 34 56 8 BBPOPT Jatisari 65 25 90 9 BPMPT 9 25 34 10 Pegawai yang ditugaskan di daerah 76 39 115 SUB TOTAL 457 335 792

b. Pengangkatan CPNS dan PNS Masuk ke Ditjen Tanaman Pangan Pada tahun 2013 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memperoleh tambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebanyak 3 orang dan semua CPNS tersebut ditugaskan di daerah. CPNS tersebut merupakan tenaga honorer yang kececer dan masuk dalam K-1, selain itu masih ada beberapa orang honorer yang masuk K-2 sebanyak 6 orang. Pada tahun 2013 ini mereka mengikuti test CPNS K-2 yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Negara dan sampai sekarang belum diumumkan kelulusannya. Selain penambahan pegawai dari CPNS tenaga honorer K-1 juga ada pegawai yang mutasi masuk ke Ditjen Tanaman Pangan sebanyak 2 orang, salah satu nya masuk sebagai pejabat struktural Eselon II.

c. Mutasi dan Pensiun

Mutasi pegawai intern Direktorat Jenderal Tanaman Pangan pada tahun 2013 sebanyak 6 orang, sedangkan yang pindah ke Eselon I lain lingkup Kementerian Pertanian 5 orang. Terkait pelimpahan pegawai yang ditugaskan di daerah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan telah menyurati Gubernur Provinsi se-Indonesia melalui surat Nomor: 301/KP.330/C/05/2013 tanggal 6 Mei 2013 perihal Pindah Tugas PNS Pusat menjadi PNS Daerah,namun terdapat 13 provinsi yang belum bersedia menerima pelimpahan pegawai dari Ditjen Tanaman Pangan yang di tugaskan didaerah dengan alasan belum tersedianya formasi dan anggaran. Pegawai Ditjen Tanaman Pangan yang ditugaskan didaerah yang telah dilimpahkan sebanyak 45 orang, sehingga masih tersisa 115 orang.

Pada tahun 2013 jumlah pegawai Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang memasuki masa purna bakti sebanyak 26 Orang terdiri dari 23 orang memasuki batas usia pensiun, dua orang meninggal dunia, selain itu terdapat dua orang yang keluar sebagai PNS.

2. Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB)

Hasil penilaian PMPRB tahun 2013 diharapkan dapat meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2012. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan hasil penilaian PMPRB Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, antara lain sebagai berikut: a. Rapat Panel III PMPRB lingkup Kementerian Pertanian yang

diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal Kementan, dengan hasil bahwa nilai akhir PMPRB Kementerian Pertanian dan perbandingan hasil verifikasi lapangan Kementerian PAN pada 9 Program Mikro RB Kementrian Pertanian dan mengajukan kenaikan tunjangan kinerja nantinya diharapkan nilai PMPRB sudah berada pada level 4, yaitu nilai rata-rata minimal 80.Hasil survei internal yang sudah dilakukan nilainya tidak jauh berbeda dari nilai komponen pengungkit dalam PMPRB, ini berarti penilaian komponen pengungkit dapat dikatakan benar adanya/sesuai dengan kenyataan; dan pembobotan dan unsur penilaian PMPRB. Selanjutnya hasil penilaian PMPRB yang telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian secara resmi telah disampaikan kepada Kementerian PAN (Panel III) dan akan dijadikan sebagai bahan penilaian untuk Tim Komisi Penilaian Reformasi Birokrasi Nasional (KPRBN).

b. Mengumpulkan kelengkapan bukti dukung setiap kegiatan yang ada di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan seperti undangan rapat atau jadwal kegiatan, daftar hadir peserta dan narasumber (jika ada), serta notulen rapat atau laporan kegiatan, sebagai kelengkapan bukti dukung/evidence dalam pengisian PMPRB online Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

c. Mengedarkan kuesioner survei eksternal yang bertujuan melihat hasil dan dampak pelayanan yang telah dilaksanakan oleh unit kerja teknis/pemberi layanan yang ada pada Ditjen Tanaman Pangan. Obyekpengukuransurvei eksternal terhadap stakeholder pada DirektoratJenderalTanaman Pangan adalahmutu pelayanan pada

Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Responden adalah pengguna Jasa Unit Pelayananan Teknis Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH), dan Balai Pengujian Mutu Produk Tanaman baik itu berupa perorangan maupun perusahaan, dengan jumlah 87 responden.

d. Rapat persiapan PMPRB lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2013 yang memperoleh daftar bukti dukung yang harus disiapkan masing-masing unit kerja sebagai pendukung dalam PMPRB, disamping itu melakukan evaluasi kertas kerja PMPRB tahun 2012.

e. Evaluasi catatan harian/log book pegawai yang telah disusun selama tahun 2013 sebagai dasar pertimbangan pemberian tunjangan kinerja (terkait dengan besaran dan penundaan).

3. Penghargaan Kelompok Tani, Mantri Tani, Petugas dan Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Benih Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 Dasar pemberian penghargaan kelompok tani dan mantri tani tahun

2013 adalah Keputusan Menteri Pertanian Nomor

4908/Kpts/KP.450/11/2013 tanggal 21 November 2013 tentang Penetapan Penerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Nomor 56/HK.310/C/11/2013 tanggal 18 November 2013 tentang Penghargaan Kepada Petani/Kelompk Tani, petugas dan Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Benih Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013.

Pada tahun 2013 ini ada dua jenis penghargaan yaitu Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) dan Penghargaan Direktur Jenderal Tanaman Pangan.Panitia Penghargaan APN penangung jawab utama dalah Badan Ketahanan Pangan dan Ditjen Tanaman Pangan mengirimkan usulan pemenang kelompok tani juara I untuk menerima penghargaan APN. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil

Presiden Republik Indonesia berupa thropy bagi penerima penghargaan pada hari Jumat tanggal 29 November 2013 di Istana Wakil Presiden.

Selanjutnya dilaksanakan temu wicara dengan Menteri Pertanian di Hotel Grand Sahid Jakarta Pusat serta pada kesempatan tersebut

Menteri Pertanian menyerahkan piagam pada pemenang

penghargaan APN. Secara keseluruhan penerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara tahun 2013 berjumlah 90 orang terbagi dalam 5 kategori, yang terdiri dari: Pelopor Ketahanan Pangan,Pemangku Ketahanan Pangan, Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan (kegiatan produksi pangan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan industri pangan olahan atau perakitan teknologi pangan), Pelayanan Ketahanan Pangan (penyuluh, penelitian/pengembangan, pengawasan/pengendalian) dan Pembina Ketahanan Pangan bagi Gubernur, Bupati/Walikota dan Kepala Desa/Lurah 25 penghargaan.

Disamping itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan juga memberikan penghargaan kepada Petugas Pengawas Benih Tanaman Lapangan, Petugas Analis Benih Laboratorium, Penangkar Benih, dan UPTD Balai Benih sebanyak 32 penghargaan.

4. Realisasi Anggaran

Tahun 2013, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengelola APBN Sektoral sebanyak Rp.2,887 triliun dialokasikan pada delapan kegiatan utama yaitu: 1) Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Rp.1,223 triliun; 2) Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi dengan anggaran Rp.813,129 miliar; 3) Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Rp.201,158miliar; 4) Penguatan Perlindungan Tanaman dari Gangguan OPT dan DPI Rp.232,164 miliar; 5) Penanganan Pascapanen Tanaman Rp.161,112 miliar; 6) Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen TP Rp.236,596 miliar; 7) Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Rp.8,306miliar; dan 8) Pengembangan Peramalan Serangan OPT Rp.12,200 miliar.

Tabel 42. Realisasi Anggaran APBN Sektoral Tahun 2013 Ditjen Tanaman Pangan Berdasarkan Kegiatan Utama

Realisasi penyerapan anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan satker pusat dan daerah mencapai Rp.2,337 triliun atau 80,95% dari pagu anggaran Rp.2,887 triliun. Realisasi anggaran berdasarkan kegiatan utama yaitu: 1) Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Rp.1,111 triliun (90,91%); 2) Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi mencapai Rp.511,416 miliar (62,89%); 3) Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Rp.181,021 miliar (89,99%); 4) Penguatan Perlindungan Tanaman dari Gangguan OPT dan DPI Rp.193,106 miliar (83,18%); 5) Penanganan Pascapanen Tanaman Rp.148,399 miliar (92,11%); 6) Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen TP Rp.172,409 miliar (72,77%); 7) Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Rp.7,673 miliar (92,39%); dan 8) Pengembangan Peramalan Serangan OPT Rp.11,816 miliar (96,85%).

Tabel 43. Realisasi Anggaran APBN Sektoral Tahun 2013 Ditjen Tanaman Pangan Berdasarkan Kelompok Satker Pusat dan Daerah

Pagu DIPA

(Rp.000) (Rp.000) (%) 1 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia 1.222.564.895 1.111.473.864 90,91 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka

Kacang dan Umbi 813.128.914 511.415.717 62,89 3 Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih

Tanaman Pangan 201.158.424 181.020.742 89,99 4 Penguatan Perlindungan Tanaman

Pangan dari Gangguan OPT dan DPI 232.163.927 193.106.490 83,18 5 Penanganan Pasca Panen Tanaman 161.111.746 148.398.794 92,11 6 Dukungan Manajemen dan Teknis 236.596.137 172.409.141 72,87 7 Pengembangan Pengujian Mutu Benih 8.305.596 7.673.192 92,39 8 Pengembangan Peramalan Serangan

Organisme Pengganggu Tumbuhan 12.200.000 11.815.893 96,85

2.887.229.639

2.337.313.833 80,95

No. Kegiatan Realisasi

Jumlah

No. Satker Pagu DIPA (Rp 000) Realisasi (Rp 000) % 1 Kantor Pusat 2.056.665.743 1.713.163.422 83,30 2 UPT Pusat 16.228.948 15.976.369 98,44 3 Dekonsentrasi/Provinsi 1.455.850.801 1.397.671.931 96,00 4 Tugas Pembantuan/Kab/Kota 993.855.612 934.177.885 94,00

Realisasi anggaran menurut kelompok satker yaitu Satker Kantor Pusat mencapai Rp.209,815miliar (38,35% dari pagu Rp.547,152 miliar); UPT Pusat Rp.19,489 miliar (95,04% dari pagu Rp.20,506 miliar); dana dekonsentrasi (Dinas Pertanian, BPSBTPH dan BPTPH) Rp.343,398 miliar (90,74% dari pagu Rp.378,428 miliar) dan dana tugas pembantuan/kabupaten/kota Rp.1,765 triliun (90,91% dari pagu sebesar Rp.1,941 triliun).

Tabel 44. Realisasi Anggaran APBN Sektoral Tahun 2013 Ditjen Tanaman Pangan Berdasarkan Jenis Belanja

Realisasi anggaran berdasarkan jenis belanja yaitu belanja pegawai mencapai Rp.40,811miliar (66,55% dari pagu Rp.61,327 miliar); belanja barang Rp.570,390 miliar (85,46% dari pagu Rp.667,409 miliar); belanja modal Rp.39,941 miliar (58,51% dari pagu Rp.68,259 miliar) dan bantuan sosial Rp.1,686 triliun (80,67% dari pagu Rp.2,090 triliun).

Jika dilihat realisasi anggaran perprovinsi, masih terdapat empat provinsi yang realisasi anggarannya dibawah 75%, yaitu Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan DKI Jakarta, termasuk juga Satker Pusat yang mencapai 40,39%.

Pagu DIPA (Rp. 000) (Rp. 000) (%) 1 Pegawai 61.327.306 40.811.031 66,55 2 Barang 667.408.870 570.390.426 85,46 3 Modal 68.258.875 39.941.107 58,51 4 Bansos 2.090.234.588 1.686.171.269 80,67 2.887.229.639 2.337.313.833 80,95

No. Jenis Belanja Realisasi

Tabel 45. Rincian Realisasi Anggaran APBN Sektoral Tahun 2013 Ditjen Tanaman Pangan Per Provinsi

Keterangan: *) Pusat meliputi Ditjen TP dan UPT Pusat (BBPPMBTPH Cimanggis dan BBPOPT Jatisari

Pagu DIPA Realisasi (Rp.000) (Rp.000) 1 Aceh 137.938.771 129.857.341 94,14 2 Sumatera Utara 74.074.625 60.984.878 82,33 3 Sumatera Barat 50.564.042 40.647.469 80,39 4 Riau 44.684.589 26.581.856 59,49 5 Kepulauan Riau 1.287.911 805.002 62,50 6 Jambi 56.908.739 49.375.018 86,76 7 Sumatera Selatan 103.287.617 87.418.141 84,64 8 Bangka Belitung 7.862.859 5.206.930 66,22 9 Bengkulu 38.225.244 35.458.771 92,76 10 Lampung 67.064.144 64.929.277 96,82 11 DKI Jakarta 2.143.546 1.344.457 62,72 12 Jawa Barat 139.581.533 133.599.424 95,71 13 Banten 58.480.216 52.597.475 89,94 14 Jawa Tengah 138.566.084 126.568.682 91,34 15 DI. Yogyakarta 46.590.930 38.656.539 82,97 16 Jawa Timur 240.025.451 216.111.141 90,04 17 Bali 24.234.682 21.791.940 89,92 18 NTB 146.170.684 142.620.072 97,57 19 NTT 117.404.910 105.508.060 89,87 20 Kalimantan Barat 104.892.713 103.117.511 98,31 21 Kalimantan Tengah 52.022.820 47.280.199 90,88 22 Kalimantan Selatan 81.114.065 75.607.377 93,21 23 Kalimantan Timur 29.360.069 22.273.155 75,86 24 Sulawesi Utara 48.062.675 46.825.543 97,43 25 Gorontalo 25.070.927 22.961.654 91,59 26 Sulawesi Tengah 46.747.250 41.913.334 89,66 27 Sulawesi Selatan 237.505.074 222.590.407 93,72 28 Sulawesi Barat 44.198.722 37.447.593 84,73 29 Sulawesi Tenggara 35.291.462 33.387.624 94,61 30 Maluku 27.812.863 25.051.195 90,07 31 Maluku Utara 25.917.567 24.974.933 96,36 32 Papua 44.705.050 42.837.992 95,82 33 Papua Barat 21.774.200 21.678.520 99,56 Jumlah Daerah 2.319.572.034 2.108.009.507 90,88 34 Pusat*) 567.657.605 229.304.325 40,39

Total (Daerah + Pusat) 2.887.229.639 2.337.313.832 80,95

Rendahnya serapan anggaran terutama pada Satker Pusat Ditjen Tanaman Pangan disebabkan terdapat beberapa kegiatan tidak terlaksana yaitu: (1) Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai senilai Rp.236,5 miliar karena gagal lelang tiga kali; (2) Bantuan penanggulangan bencana alam Rp.22,3 miliar karena harus ada

pernyataan kejadian bencana dari instansi/lembaga

berwenang/BNPB; (3) Mobil brigade proteksi dan mobil laboratorium hama penyakit tanaman Rp.23 miliar karena gagal pelaksanaan melalui e-Catalogue; (4) sisa gaji/tunjangan Rp.15,34 miliar karena tidak ada rekruitmen pegawai baru, serta sisa efisiensi pengadaan barang/jasa dan kegiatan lainnya.

Pada tahun 2013, Ditjen Tanaman Pangan juga terdapat anggaran subsidi (BA.999) yang dialokasikan untuk kegiatan subsidi benih sejumlah Rp.1,454 triliun dengan kontrak Rp.1,314 triliun. Pelaksanaan kegiatan dalam bentuk PSO oleh PT Sang Hyang Seri (Persero) dan PT Pertani (Persero).

Tabel 46. Realisasi Anggaran APBN Subsidi Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2013

Realisasi anggaran subsidi benih sejumlah Rp.398,700 miliar atau 27,42% dari pagu, dengar rincian PT SHS (Persero) Rp.202,423 miliar atau 23,20% dan PT Pertani (Persero) Rp.196,277 miliar atau 33,74% dari pagu masing-masing.

5. Barang Milik Negara (BMN)

Nilai BMN pada Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan per 31 Desember 2013 adalah sebesar Rp.519.767.442.073, yang dibedakan berdasarkan klasifikasi pos-pos perkiraan neraca yaitu: persediaan,

Pagu Anggaran Kontrak

(Rp.000) (Rp.000) (Rp.000) (%) 1 PT SHS (Persero) 872.490.000 788.489.100 202.423.824 23,20 2 PT Pertani (Persero) 581.660.000 525.659.400 196.276.973 33,74

1.454.150.000

1.314.148.500 398.700.797 27,42

No. Uraian Realisasi

tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, konstruksi dalam pengerjaan, dan aset lainnya.

Tabel 47. Nilai BMN Dalam Pos Perkiraan Neraca

6. Sistem Pengendalian Intern (SPI)

Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penerapan unsur-unsur SPI dalam pelaksanaan program, kegiatan dan penyelenggaraan pemerintahan dalam pembangunan tanaman pangan, maka telah dilaksanakan antara lain:

a. Sosialisasi SPI

Sosialisasi SPI lingkup Ditjen Tanaman Pangan yang dilaksanakan bagi pejabat dan staf Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang mengidentifikasi permasalahan terhadap pemahaman SPI yaitu:

Rp % Rp % Rp % I Aset Lancar 1 Persediaan 168.776.558.419 100 0 168.776.558.419 100 Sub jumlah 168.776.558.419 100 0 168.776.558.419 100 II Aset Tetap 1 Tanah 182.286.598.500 0 182.286.598.500

2 Peralatan dan Mesin 162.574.011.252 10.629.225 100 162.584.640.477 3 Gedung dan Bangunan 5.252.290.029 0 5.252.290.029 4 Jalan Irigasi dan Jaringan 341.021.498 0 341.021.498

5 Aset Tetap Dalam renovasi 0 0 0

6 Aset Tetap Lainnya 68.223.675 0 68.223.675

Sub Jumlah 350.522.144.954 100 0 350.532.774.179 100

III Aset Lainnya

1 Kemitraan dengan pihak ketiga 0 0 0

2 Aset Tak Berwujud 468.738.700 100 0 468.738.700 100 3Aset yg dihentikan Penggunaanya

operasional Pemerintah 0 0 0

Sub Jumlah 468.738.700 100 0 468.738.700 100

Total 519.767.442.073 10.629.225 519.778.071.298

- Dianggap bahwa SPI hanya tanggungjawab Satlak PI 9 (belum menjadi tanggungjawab masing-masing unsur);

- Ruang lingkup SPI dipahami di tingkat unit kerja, yang

seharusnya dapat kepada unsur terkecil sekalipun;

- SPI tidak dimulai dengan diagnosa oleh masing-masing unsur

pada bidang tugasnya;

- Personil, hanya memahami secara parsial, misalnya diberi

kewajiban untuk memasukan penilaian resiko namun tidak paham bagaimana proses selanjutnya;

- SPI terjebak ke dalam pemenuhan kelengkapan dokumen, dan

belum sepenuhnya kepada penerapannya.

Upaya pemecahan permasalah di atas dapat dilakukan:

- Perlunya sosialisasi yang lebih intens kepada seluruh tingkatan

pegawai lingkup Ditjen Tanaman Pangan mengenai SPI;

- Penyelenggaraan kegiatan pada suatu Instanasi Pemerintah,

mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, sampai dengan pertanggungjawaban, harus dilaksanakan secara tertib, terkendali, serta efektif dan efisien. Untuk mewujudkannya dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberi kayakinan memadai bahwa penyelenggaraan kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan dapat mencapai tujuan. Sistem inilah yang dikenal sebagai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP);

- Pengembangan dan penerapan SPI perlu dilakukan secara

komprehensif dan harus memperhatikan aspek biaya dan manfaat (cost dan benefit), rasa keadilan dan kepatuhan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

b. Workshop Penyempurnaan Pedoman Pelaksanaan SPI Lingkup Ditjen Tanaman Pangan

Sebagai bahan pegangan dalam mengimplementasikan SPI ke dalam kegiatan pembangunan tanaman pangan, bagi para

pelaksana dan penanggungjawab kegiatan termasuk Tim Satuan Pelaksana (Satlak PI) dan seluruh Satuan Kerja (Satker) Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, maka disusun dan disempurnakan pedoman pelaksanaan SPI kegiatan strategis lingkup Ditjen Tanaman Pangan meliputi kegiatan SL-PTT (padi, jagung, dan kedelai), pemberdayaan penangkar, subsidi benih, Cadangan Benih Nasional (CBN), sertifikasi benih, penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI, bansos penanganan pascapanen, peramalan serangan organisme pengganggu tumbuhan, pengembangan metode pengujian mutu benih, serta pelayanan pengujian mutu pestisida, pupuk dan produk tanaman pangan.

7. Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3)

Target LM3 penerima bantuan sosial dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun Anggaran 2013 sebanyak 280 LM3, namun dalam penetapannya beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain:

- Proses overlay yang terlalu lama, sehingga pengambilan keputusan

penetapan LM3 terpilih juga tidak sesuai jadwal (terlambat). Hal ini karena kurang koordinasi lintas eselon I lingkup Kementerian Pertanian saat overlay sehingga terdapat beberapa eselon I yang tidak bisa hadir dan menghambat proses overlay;

- Hasil verifikasi lapang oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota yang tidak

segera dikirimkan ke Ditjen Tanaman Pangan, sehingga menghambat proses penentuan status short list;

- Terdapat beberapa Eselon I yang tidak berkoordinasi sebelumnya

untuk melakukan workshop pencairan dana bansos, sehingga Eselon I lainnya harus mengulang kembali proses overlay untuk mencocokan kembali dengan SK yang telah diterbitkan. Hal ini juga memperlama proses penetapan LM3 untuk eselon I lainnya. Setelah melalui tahap penyeleksian, sebanyak 280 LM3 terpilih untuk memperoleh bantuan dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,

namun satu LM3 yang mengundurkan diri yaitu LM3 Gereja Betlehem dari Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, dengan alasan karena tidak mampu memenuhi persyaratan administrasi yang dibutuhkan untuk proses pencairan bansos LM3.

8. Bantuan Bencana Alam

Kegiatan bantuan bencana alam pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tidak dilaksanakan, karena dalam pencairan dananya harus ada pernyataan kejadian bencana dari instansi/lembaga berwenang/ Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

9. Kerugian Negara (KN) Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sisa Kerugian Negara (KN) lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan sampai dengan Desember 2013 sejumlah Rp.45,285 miliar, dengan rincian sebagai berikut:

- Sisa Temuan BPK-RI sebesar Rp.30,841 miliar merupakan temuan

CBN dan Subsidi Benih Tahun 2012 oleh PT SHS (Persero);

- Temuan Riksus/Investigasi Itjen terdapat adalah kemahalan harga

bibit pada dem area ubikayu di Lombok Tengah Tahun 2011, telah diangsur Rp.57,2juta sehingga masih tersisa Rp.105 juta, dan Light Trap sebesar Rp.2,553 miliar dan telah diangsur sebesar Rp.2,045 miliar, sehingga sisa Rp.508,6 juta;

- Kerugian Negara sebesar Rp.1,6miliar merupakan temuan lama dan

sulit ditindaklanjuti (dibawah tahun 2001), sudah dilakukan penelusuran bukti pendukung tetapi banyak berkas yang sudah hilang;

- Temuan terbesar baik di pusat maupun di daerah adalah temuan

BPKP yang sulit untuk ditindaklanjuti dan dihapuskan, sudah dilakukan koordinasi dengan BPKP. Pada bulan Maret 2012 dan Juli 2012 sudah diusulkan agar difasilitasi penyelesaiannya oleh Itjen Kementan;

- Kerugian Negara sebesar Rp.1,164miliar merupakan temuan di pusat terdiri dari temuan Itjen sebesar Rp.186 juta dan temuan BPKP sebesar Rp.978,38 juta (PATM dan Kunming);

- Telah dilakukan permohonan penghapusan terhadap temuan

PATM dan Kunming kepada BPKP pada tahun 2008 tetapi belum disetujui, dan saat ini telah dilakukan permohonan kembali untuk TPTD namun belum ada balasan.Pada Bulan Juni 2013 telah mengusulkan TPTD ke BPKP dengan berkoordinasi dengan Setjen Kementan;

- Terdapat temuan Inspektorat Jenderal Kementan di Maluku

sebesar Rp.107,600 juta yang merupakan anggaran subsidi, namun dimasukkan dalam KN Ditjen TP dan temuan di Lampung Selatan sebesar Rp.139juta (denda keterlambatan karena Idul Fitri) yg sedang dibahas di Inspektorat untuk diketahui lebih lanjut penyelesaiannya.

Tabel 48. Data Kerugian Negara Lingkup Ditjen Tanaman Pangan (s.d Desember 2013)

10. Laporan Rencana Aksi Percepatan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2013

Rencana Aksi Percepatan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2013 yang dipantau oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki tanggung jawab melaksanakan dua rencana aksi dengan tiga sub rencana aksi yaitu:

(Rp.000) (Rp.000) (Rp.000) (Rp.000) (Rp.000) (%) 1 Kinerja 4.136.724 10.872.633 108 15.009.357 14 1.164.729 7,76 94 13.844.627 30,57 - Itjen 1.552.403 10.859.412 59 12.411.815 7 1.087.596 8,76 52 11.324.218 25,01 - BPKP 2.584.321 13.221 49 2.597.542 7 77.133 2,97 42 2.520.409 5,57 2 BPK-RI - 41.264.367 41.264.3678 10.423.3224 25,26 30.841.0454 68,10 3 Investigasi Itjen 172.053 2.582.438 5 2.754.491 - 2.154.982 78,24 5 599.510 1,32 4.308.777 54.719.438 121 59.028.215 18 13.743.033 23,28 103 45.285.182 100,00 Sisa KN s.d Des 2012 Tambahan KN 2013 (s.d Desember) Porsi thd Jumlah KN KN Jumlah KN KN No. Temuan

Kasus Kasus % Kasus Jumlah KN s.d Des Tindaklanjut 2013 Sisa KN 2013 ( s.d

a. N5P46A85 pengelolaan produksi tanaman serealia:

- Tersalurnya bantuan SL-PTT padi untuk 4.625.000 ha;

- Tersalurnya bantuan SL-PTT jagung untuk 260.000 ha.

b. N5P46A86 pengelolaan produksi tanaman akabi: tersalurnya bantuan SL-PTT kedelai untuk 455.000 ha

Akibat adanya kebijakan penghematan anggaran dan revisi DIPA tahun 2013 target areal SL-PTT mengalami perubahan, yaitu: SL-PTT padi menjadi 4.385.625 ha, SL-PTT jagung 235.380 ha, dan SL-PTT kedelai 411.740 ha.

Realisasi Pelaksanaan:

a. Penyaluran bantuan SL-PTT padi masing-masing check point yaitu: B04 mencapai 101,77%; B06 101,20%; B09 103,05% dan B12 85,02% dari target.

b. Penyaluran bantuan SL-PTT jagung masing-masing check point yaitu: B04 mencapai 101,56%; B06 100,62%; B09 103,06% dan B12 83,08% dari target.

c. Penyaluran bantuan SL-PTT kedelai masing-masing check point yaitu: B04 mencapai 164,65%; B06 108,27%; B09 107,20% dan B12 79,17% dari target.

Beberapa faktor penyebab tidak tercapainya target SL-PTT 100% antara lain: (1) kondisi perubahan iklim tahun 2013 mengakibatkan perubahan/pergeseran jadwal dan pola tanam; (2) terjadinya bencana alam (banjir) di beberapa daerah serta erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara menyebabkan mundur tanam; (3) masa transisi bantuan benih menjadi subsidi benih dari sebelumnya bantuan gratis/BLBU; (4) varietas benih yang diinginkan petani tidak seluruhnya sesuai dengan ketersediaan varietas benih subsidi; (5) petani tidak sanggup membeli benih di pasar bebas; (6) khusus kedelai karena iklim relatif basah sepanjang tahun, sehingga lahan sawah yang biasa digunakan untuk pertanaman kedelai (setelah padi), ditanami padi lagi, serta kesulitan memperoleh benih kedelai

secara swadaya di lokasi; dan (7) rusaknya sebagian jaringan irigasi di beberapa daerah. Selain aspek teknis tersebut, proses revisi DIPA penghematan serta revisi DIPA penyesuaian AKUN juga berpengaruh terhadap terlambatnya realisasi pelaksanaan kegiatan di lapangan, karena kabupaten pelaksana menunggu terbit DIPA hasil revisi.

Tabel 49. Perkembangan Pelaksanaan Rencana Aksi Percepatan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2013

Beberapa pertemuan yang dilaksanakan pada Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya, antara lain:

1. Rapat Koordinasi Penyusunan Angka Sementara (ASEM) Tahun 2013 dan Angka Prognosa Tahun 2012 Produksi Tanaman Pangan

Dalam rangka meningkatkan akurasi penetapan angka produksi tanaman pangan ASEM 2013 dan Angka Prognosa Tahun 2012, telah dilakukan Rapat Koordinasi Nasional pada tanggal 6 s.d8 Februari 2013 di Hotel Ashton Palembang, Sumatera Selatan.

Peserta rapat terdiri dari Sekretaris Dinas/Pejabat pengelola data tanaman pangan/pejabat yang membidangi produksi tanaman pangan Dinas Pertanian Provinsi se-Indonesia, Pejabat yang membidangi pengelolaan data produksi BPS Provinsi se-Indonesia, peserta Pusat dari Eselon II lingkup Ditjen Tanaman Pangan dan BPS-RI, serta dihadiri oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Pejabat Eselon II dan Kepala Balai Besar lingkup Ditjen Tanaman Pangan, Kepala Pusat Data dan Informasi Pertanian.

Rapat didahului sambutan selamat datang Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Selatan, pengarahan