BAB III MOTORISASI PERAHU PINISI
3.3. Dukungan Pemerintah dan Masyarakat di Tanah
memiliki tinggi metasentra lebih dari dua meter dan sudut karam lebih dari 70 derajat.38
Kelemahan pada konstruksi Pinisi, terletak pada sistem sambungan. Baik antara papan-papan maupun antara bagian konstruksi. Tidak memiliki dinding sekat pembagi ruang perahu guna mempertinggi daya apung bila terjadi kebocoran. Kelemahan lainya terdapat pada lubang palka dan lubang pintu agak rendah, sehingga mudah dimasuki air apabila ombak naik di atas dek. Inilah kelemahan Pinisi secara umum.
oleh Dirjen Perhubungan laut berkerja sama dengan Universitas Hasanuddin Ujung Pandang dan ITS Surabaya. Untuk merumuskan buku pedoman desain, konstruksi yang ditindak lanjuti dengan prototipe KPM tipe Pinisi dengan ukuran 255 GRT dengan masing-masing galangan kapal di Bulukumba dan Batu licin.39
Pemerintah setempat juga bekerja sama dengan dengan Departemen Perindustrian melakukan pembinaan dan petunjuk tentang motorisasi perahu tradisional agar penggunaanya lebih efisien dan efektif. Mereka berupaya untuk memberikan bantuan peralatan teknis operasional berupa bor, ketam listrik, chainsaw dsb. Kemudian menyerahkan kepada mereka kelunakan untuk mendapatkan kredit motorisasi, namun muncul masalah karena mereka beranggapan bahwa sistem kredit tersebut adalah riba.
Departemen Perindustrian Sulawesi Selatan juga telah menyusun program yakni : “Program pembinaan perahu/kapal rakyat diarahkan kepada usaha peningkatan kemampuan di bidang perluasan pasar, peningkatan teknologi, peningkatan manajemen usaha, dan peningkatan keterampilan pengrajin/pengusaha”. Berdasar hal diatas, maka usaha yang perlu dilakukan adalah.40
1. Penerapan teknologi pembuatan perahu/kapal rakyat dengan suatu metode yang disesuaikan dengan kondisi dan keterampilan yang sudah dimiliki oleh para pengusaha atau para pengrajin perahu/kapal rakyat di Sul-Sel.
39 Yamin Jinca, “Transportasi Laut Kapal Layar Motor Pinisi” (Makassar: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, 2002), hlm. 23.
40 Balai Pembinaan dan Pengembangan Industri, Kanwil Departemen Perindustrian Sul-Sel. “Diskusi Teknis Pengembangan Kapal Rakyat Sul-Sel” (Ujung Pandang, 1985).
2. Mengusahakan adanya keterkaiatan antara sesama industri, maupun dengan sektor lainya.
3. Peningkatan keterampilan para pengusaha dan pengrajin dalam hal keterampilan teknis dan pengelolaan usahanya.
4. Perluasan pasar dengan memanfaatkan kebutuhan-kebutuhan umum dan pembelian pemerintah.
Usaha diatas menunjukkan bahwa pembinaan Departemen Perindustrian sangat diharapkan dapat mendorong para pengrajin untuk meningkatkan usahanya, dan tidak dapat dipungkiri pula timbul sebuah pertanyaan, mampukah teknologi tradisional berpacu dengan teknologi modern? Jawabanya ditentukan oleh pengrajin itu sendiri, yang harus mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi dan perkembangan teknologi. Hal itu juga merupakan tugas Pemerintah untuk melakukan pembinaan lebih lanjut, guna pengembangan industri pembuatan perahu di Tanah Beru yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi tanpa mengurangi nilai-nilai tradisional yang merupakan warisan budaya dari nenek moyang mereka, sehingga budaya tersebut tetap lestari. Dengan demikian tercipta perpaduan antara kedua jenis teknologi tersebut.
Teknis operasional pembuatan perahu tidak begitu dicampuri, sebab para pengrajin masih mengandalkan sistem teknologi warisan leluhurnya. Karena itu, pembinaan hanya terfokus pada teknis modifikasi perahu tradisional menjadi kapal layar bermotor yang jarang dilakukan, sebab terbentur biaya yang terbatas, kecuali ada permintaan pesanan dari luar negeri. Selain itu kantor Departemen Perindustrian telah mengikut sertakan 10 orang pengrajin dalam program
pendidikan dan latihan, dengan materi pokok membaca gambar dan praktikum pengembangan kapal rakyat pada tahun 1988.41
Upaya pemerintah tidak hanya pada pengenalan motorisasi saja, usaha memperkenalkan perahu Pinisi terutama kepada wisatawan mancanegara dan domestik terus berlanjut. Mempromosikannya kepada setiap pendatang dan membuka kesempatan bagi mereka yang ingin melihat secara langung pembuatan perahu Pinisi. Peran pemerintah ini tidak lepas dari visi dan misi Kabupaten Bulukumba yang bertujuan Mewujudkan masyarakat sejahtera. Kesejahteraan masyarakat akan ditingkatkan dengan mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya yang ada dengan mewujudkan atau membangun daerah agroindustri, agro bisnis, daerah wisata bahari, peningkatan ekonomi kerakyatan, dan pelayanan jasa.42
Usaha untuk memperkenalkan dan menjadikan Tanah Beru sebagai daerah penghasil perahu Pinisi dan tempat wisata bahari tidak hanya dilakukan pihak pemerintah saja, tetapi juga terlihat dari apresiasi dan peranan masyrakat setempat dengan sikap yang ramah tamah menerima tamu mancanegara serta domestik dan memperbolehkan melihat langsung proses pembuatan Pinisi, selain itu masyarakat juga membuat souvenir Pinisi yang berbagai ukuran dan harga yang bervariasi pula seperti yang ditekuni oleh H. Arifin Nur 70 tahun yang selama puluhan tahun telah menjalankan usahanya.
41 Syahrul Amar, “Kehidupan Nelayan Pembuat Perahu di Tanah Lemo Kabupaten Bulukumba 1950-1988” (Ujung Pandang: Skripsi Pada Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, 1994), hlm. 81.
42 Muhammad Akbar, “Budaya Bahari Bulukumba” (Bulukumba: Dinas Perindustrian Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Bulukumba Propinsi Sulawesi Selatan, 2005), hlm. 7.
BAB IV
DAMPAK MOTORISASI
4.1 Pengaruh Motorisasi Dalam Bidang Ekonomi
Demikian luas dan kayanya laut Indonesia, sehingga orang banyak menduga bahwa di masa depan laut menjadi salah satu alternatif yang potensial sebagai daya dukung terhadap kehidupan dan penghidupan manusia. Setelah semakin sempitnya daratan dan terjadinya penyusutan sumber daya alam di darat yang semakin tidak seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk. Kondisi geografis yang sebagian besar terdiri dari laut, memungkinkan berkembangnya sektor industri perahu, perikanan, pariwisata, perhubungan laut, pertambangan minyak dan sebagainya. Sektor-sektor ini menjanjikan harapan untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi yang sangat penting, akan tetapi persoalannya terletak pada masalah sumber daya manusia.
Kebutuhan perahu Pinisi yang semakin meningkat yang nampak jelas sejak pengguanaan peralatan modern mulai berkembang pesat pada tahun 1985.43 Telah membuka peluang yang besar bagi masyarakat setempat untuk menjadikan usaha pembuatan kapal dan pertukangan menjadi mata
43 Wawancara, dengan H. Abdullah tanggal 27 April 2013 di Tanah Beru.
pencaharian pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.44 Dengan demikian profesi bertukang banyak menyerap tenaga kerja.
Pada sentra pembuatan perahu Pinisi di Tanah Beru ada sekitar 200 orang tukang perahu yang didominasi tukang-tukang setempat yang mengerjakan perahu berbagai type dan ukuran baik pesanan domestik maupun pesanan dari mancanegara.45 Penghasilan seorang tukang (sawi) rata-rata perhari sekitar Rp.3000,-4.500, sedangkan kepala tukang lebih banyak lagi sekitar Rp. 7.5000/hari. Jika tukang tersebut mengerjakan perahu diluar Sul-Sel, maka upah borongan akan lebih tinggi sebab semua urusan logistik menjadi tanggungan pemilik perahu.
Dari penghasilan sebagai tukang perahu ini, para tukang dapat menghidupi keluarganya dengan berkecukupan sebagai warga desa. Mereka juga memperhatikan pendidikan anak-anaknya, sebab mereka dapat menyekolahkan anaknya sampai SLTA dan bahkan lanjut sampai keperguruan tinggi. Selain mereka memanfaatkan penghasilan bertukang untuk pendidikan anak-anaknya, dari penghasilan bertukang itu juga mereka mampu membuat rumah yang baik untuk ukuran desa. Bagi warga desa pada umumnya, rumah disamping sebagai tempat tinggal juga merupakan simbol kehormatan dan prestasi tersendiri. Hal itu dapat terwujud karena keluarga yang ditinggalkan suami memanfaatkan waktunya untuk berwira usaha seperti menjahit/menyulam, berdagang dan berbagai usaha produktif lainya.
44 Nurhana, “Perkembangan Pembuatan Perahu Pinisi Di Tanah Beru Kabupaten Bulukumba 1985-1995” (Makassar: Skripsi Pada Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, 2009), hlm. 56.
45 Arief Saenong, “Pinisi Panduan Teknologi dan Budaya” (Bulukumba: Dinas Perindustrian Pariwisata dan Budaya, 2007), hlm. 128.
Sampai saat ini industri pembuatan perahu di Tanah Beru masih cukup ramai melayani pesanan membuat perahu. Dengan tetap berkembangnya industri pembuatan perahu, maka muncul pula pengusaha pembuat perahu.
pengusaha itulah yang menerima order/pesanan dari konsumen baik dari perorangan maupun instansi. Besarnya harga sebuah perahu tergantung dari kesepakatan antara konsumen dan pengusaha yang bersangkutan. Hal itu sangat tergantung dari tonase perahu yang di inginkan, jenis kayu yang akan digunakan serta bobot/volume pekerjaan yang dikehendaki.
Masyarakat setempat yang pada awalnya hanya bekerja sebagai pelaut dan nelayan biasa, mulai merintis karir dan selanjutnya mengembangkan usaha dengan cara berkongsi dengan para pengusaha keturunan Tionghoa.
Begitu pun dengan masyrakat yang berada di peratauan banyak yang kembali karena lapangan pekerjaan sudah ada di daerah sendiri.
Kehadiran motorisasi secara langsung memberikan kemajuan ekonomi pada masyarakat di Tanah Beru. Meningkatnya jangkauan pemasaran produksi perahu, jumlah pesanan perahu, membuka kesempatan kerja dan berusaha pada sub sektor perhubungan laut. Pengguanaan tenaga kerja yang semakin bertambah dan pengusaha kayu yang menyediakan kayu sebagai bahan baku perahu juga semakin bertambah jumlahnya.
Lama pelayaran dengan bantuan mesin adalah satu setengah kali dibanding hanya mengandalkan layar. Selanjutnya, jumlah pelayaran pertahun telah berlipat ganda dengan bantuan mesin waktu pelayaran antar pelabuhan lebih cepat dan musim lebih panjang untuk berlayar. Walau terjadi
penambahan ongkos untuk mesin, perahu ini tetap memberikan keuntungan lebih besar kepada kapten, pemilik dan awak sendiri. Selain itu faktor yang penting adalah meningkatnya ketersediaan muatan titipan dari agen pengapalan dengan pertimbangan meningkatnya kecepatan dan kehandalan perahu-perahu bermotor.
Bagaimana persisnya motorisasi memberi dampak pada hidup para pelaut dan jenis muatan yang mereka kapalkan? hal ini bisa kita lihat dari sebuah ilustrasi, yaitu catatan tentang pelayaran satu tahun pada tahun 1980 dengan menggunakan Pinisi tipe lambo, perahu yang berkapasitas 60 ton dengan daun kemudi dan kemudi samping, layar belacu, dan tali layar berbahan sabut kelapa. Masih tanpa mesin, perahu ini diawaki sembilan orang. Dua juru mudi diperlukan siang hari dan dua untuk malam hari. Empat awak dibutuhkan untuk menaikkan dan menurunkan layar, enam orang untuk mendayung ketika angin berhenti, dan lima untuk menarik perahu di sepanjang pantai dengan sampan dan jangkar ketika dibutuhkan. Dalam kondisi demikian, pada akhir musim barat, sembilan hari dihabiskan untuk melewati 180 mil atau sekitarnya dari Bira ke Buton. Tepatnya di tahun 1981, masing-masing awak hanya menerima Rp. 20.000. dengan begitu banyak awak yang bekerja keras dengan upah yang amat sedikit, tak heran bila pemilik segera beralih ke motorisasi, dan para awak hanya mencari perahu yang sudah dipasangi mesin.46
46 Wawancara, dengan H. Sakka tanggal 17 Juli 2013 di Ara.
Berikutnya, contoh kedua memperlihatkan perubahan yang agak grafis keuntungan dari motorisasi adalah pengapalan bawang merah dari Bima ke Makassar, Bulukumba, Buton dan pelabuhan lainya. Bawang merah juga merupakan muatan penting bagi pedagang setempat. Bawang merah juga komoditas yang mudah rusak. Karena barang ini akan lama di masa transit, bawang ini akan dikeringkan dulu selama 40 hari agar muatan itu tidak rusak sebelum meninggalkan Bima. Meski demikian, cara ini mengurangi beratnya dan dengan begitu keuntungan juga berkurang. Dengan bantuan mesin, kini bisa membawa bawang merah dengan komisi (tanpa harus dibeli) dan mendapatkan lebih banyak kentungan. Contohnya, pelayaran dari Bira ke Buton, ketika berlayar dengan angin timur yang konstan akan memakan waktu sepuluh hari sebelum penggunaan mesin, dan selama itu bawang merah akan membusuk. Kini hanya memerlukan waktu lima hari dengan batuan mesin, dan agen pengapalan sering menambahkan bonus bila perahu tiba dalam empat hari. Maka sebuah perahu 40 ton dapat membawa 600 keranjang bawang merah dengan komisi, setelah menghitung pengeluaran, adalah Rp 3000 per keranjang, atau Rp 1.500.000, dan bisa jadi ditambahkan Rp 100.000 jika tiba dalam empat hari. Dibagi menjadi 10 bagian, masing-masing awak akan mendapatkan hasil yang lumayan besar, Rp 160.000 untuk pekerjaan kurang dari seminggu.47
Singkatnya terjadi peningkatan kemampuan mendapatkan keuntungan secara umum, yang merupakan dampak dari perubahan teknologi. Hasil
47 Wawancara, dengan H. Mahmuddin tanggal 11 Juli 2013 di Tanah Beru.
bersihnya adalah berkurangnya jumlah awak per perahu bersamaan dengan meningkatnya jumlah dan ukuran perahu bermesin serta jumlah pelayaran per tahun.
Bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu komponen yang utama dalam menjalankan kegitan pelayaran dan penangkapan ikan. BBM, khususnya solar mempengaruhi biaya usaha sekitar 25% hingga 45% dari total biaya usaha pelayaran dan penangkapan ikan untuk pembelian solar.48 Pada sektor pelayaran, motorisasi pada perahu yaitu perubahan penggunaan tenaga layar menjadi mesin sebagai tenaga penggerak utama kapal membawa dampak efisiensi terhadap waktu, tenaga dan luas jangkauan pelayaran.
Semakin meningkatnya motorisasi pada kegiatan pelayaran dan penangkapan ikan, ketergantungan solar sebagai bahan bakar kapal mutlak diperlakukan dan jumlahnya semakin bertambah.
Pola konsumsi solar dipengaruhi oleh jumlah dan jenis kapal yang secara aktif melakukan pelayaran dan penangkapan ikan. Untuk mendapatkan hasil muat dan tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi tergantung pada proses penanganan muatan di atas kapal. Kapal motor yang biasanya memiliki lama perjalanan 30 hari dilengkapi dengan ruangan pendingin (freezing room) yang harus tetap dinyalakan terus menerus yang berdampak pada pemakaian solar yang semakin banyak karena mesin kapal harus dihidupkan tanpa berhenti.
48 Wawancara, dengan H. Abdullah tanggal 13 Juli 2013 di Tanah Beru.
Suplai solar untuk kebutuhan kapal di sekitar Tanah beru pasokanya terbatas, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bulukumba yang hanya satu unit harus melayani kapal dan kendaraan bermotor sehingga terkadang para pelaut harus antri untuk mendapatkan solar. Mekanisme penyaluran BBM untuk para pelayar dan nelayan yang menggunakan kapal motor dan perahu motor tempel sangat berbeda. Para pelayar yang menggunakan kapal motor dapat melakukan pembelian solar secara langsung dari SPBU. Para pelayar sebelum membeli BBM solar harus mendaftarkan terlebih dahulu kapalnya kepada syahbandar dengan cara mencatatkan nama kapal, pemilik kapal, ukuran kapal, kekuatan mesin dan lama pelayaran.
Setelah mendapatkan persetujuan dari petugas syahbandar, pelayar kapal motor di ijinkan untuk membeli BBM solar di SPBU dengan syarat menunjukkan surat pemohonan pembelian minyak solar kepada petugas SPBU. Sedangkan para nelayan yang menggunakan perahu motor tempel dapat melakukan pembelian solar melalui pengecer yang harga jualnya jauh lebih mahal dibandingkan harga jual di SPBU. Keadaan ini sangat mempengaruhi beban biaya operasional kegiatan penangkapan ikan para nelayan yang menggunakan perahu motor tempel.
Ukuran dan kekuatan mesin kapal merupakan faktor yang menentukan besarnya biaya investasi dan bahan bakar yang dgunakan. Besar kecilnya kekuatan mesin akan mempengaruhi harga mesin itu sendiri, karena semakin besar kekuatan mesin, maka harga mesin juga semakin mahal. Kekuatan
mesin kapal akan menentukan besarnya konsumsi bahan bakar harian yang dibutuhkan kapal.
Tabel 4.1
Ukuran Kapal (GT) dan Kekuatan Mesin (PK) Pelayar/Nelayan Kapal Motor dan Perahu Motor Tempel, tahun 1985
No Karakteristik Kapal
Kapal Motor Perahu Motor Tempel Rata-rata Kisaran Rata-rata Kisaran
1 Ukuran Kapal (GT) 30 25 – 80 11 5 – 20
2 Kekuatan Mesin (PK) 100 60 – 150 17 10 – 30 Sumber : Data Primer.49
Pada tabel di atas terlihat bahwa ukuran kapal motor yang dinyatakan dalam satuan Gross Tonage (GT) berkisar antara 25-80 GT, sedangkan untuk perahu motor tempel berkisar antara 5-20 GT, sementara kekuatan mesin kapal motor dinyatakan dalam satuan Paardekracht (PK) adalah 100 PK dengan ukuran kapal paling besar 150 PK dan yang paling kecil 60 PK. Rata-rata kekuatan mesin perahu motor tempel 17 PK dengan kekuatan mesin perahu paling besar 30 PK dan yang paling kecil 10 PK.
Ukuran kapal (GT) yang lebih besar memungkinkan kapal dilengkapi palka hasil tangkapan dan ruang dek yang luas untuk membawa air bersih, makanan, es, solar, oli. Serta lebih leluasa melakukan pekerjaan di atas kapal.
Lama perjalanan melalui per trip yang dilakukan pelaut responden kapal motor cenderung lebih lama dibandingkan nelayan perahu motor
49 Wawancara, H. Sakka tanggal 10 Juni 2013 di Tanah Beru.
tempel. Rata-rata lama perjalanan kapal motor adalah 28 hari, sementara perahu motor tempel hanya 3 hari. Waktu tersingkat perjalanan kapal motor adalah 2 minggu dan terlama dapat mencapai 3 bulan. Sedangkan lama perjalanan perahu motor tempel yang tersingkat adalah 1 hari dan terlama mencapai 2 minggu dan terlama dapat mencapai 3 bulan. Sedangkan lama perjalanan perahu motor tempel yang teringkat adalah 1 hari dan terlama mencapai 2 minggu.
Lama Perjalanan (Hari) dan Pendapatan (Rp/Trip) Pelayar dan Nelayan kapal motor dan perahu motor tempel, Tahun 1985.
No Peubah
Kapal Motor Perahu Motor Tempel Rata-rata Kisaran Rata-rata Kisaran
1 Lama Perjalana (Hari) 28 14- 90 3 1-15
2 Pendapatan (Rp/Trip) 100.000
150.000-250.000
25.000
45.383-65.450 Sumber: Data Primer.50
Pendapatan yang diperoleh pelayar kapal motor mencapai Rp 100.000/
trip pada tahun 1985, sementara nelayan perahu tempel hanya Rp 25.000.
Besarnya pendapatan pelayar kapal motor yang paling tinggi adalah Rp 250.000 sedangkan nelayan perahu tempel hanya Rp 65.450.
50 Wawancara, H. Sakka tanggal 13 Juni 2013 di Tanah Beru.