HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Lokasi Penelitian
98.0 93.9 96.0 Dukungan Informasi
C. Dukungan Sosial Pemerintah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan emosi dari pemerintah yang diterima keluarga contoh sebanyak lebih dari 90 persen. Sebesar 95.5 persen keluarga contoh menyatakan bahwa pemerintah bersikap santun dan 94 persen yang menyatakan pemerintah bersikap ramah. keluarga yang merasakan mendapatkan fasilitas lengkap saat terjadi bencana sebesar 54 persen dan masyarakat yang mendapatkan bantuan uang dari pemerintah sebesar 59.5 persen (Tabel 16).
Tabel 16 Sebaran contoh menurut indikator dukungan sosial pemerintah No Pernyataan Dukungan Sosial
Pemerintah Rancabali % Kutawaringin % Total % Dukungan Emosi
1 Pemerintah bersedia mendengarkan masalah
82.4 94.9 88.5
2 Pemerintah berusaha memperlihatkan kepedulian
84.3 93.9 89.0
3 Petugas pemerintah ramah dalam melayani
90.2 98.0 94.0
4 Petugas LM menunjukkan sikap yang ramah dan santun dalam melayani masyarakat
94.1 96.9 95.5
Dukungan Instrumen
1 Saya mendapatkan bantuan keuangan Pemerintah
65.7 53.1 59.5
2 Saya mendapatkan bantuan barang dari pemerintah
67.7 67.4 67.5
3 pemerintah menyediakan fasilitas lengkap untuk menolong masyarakat saat terjadi bencana
70.6 37.8 54.5
4 Pemerintah selalu memberikan solusi terhadap masalah yang saya hadapi
72.6 80.6 76.5
Dukungan Informasi
1 Pemerintah selalu memberi info tanda bahaya untuk kewaspadaan akan terjadinya bencana
67.7 82.7 75.0
2 Pemerintah selalu siap melayani
pertanyaan warga seputar bencana atau yang lainnya
85.3 90.8 88.0
Hasil analisis dukungan sosial total dari pemerintah (Lampiran 3). lebih dari setengah (64.0%) keluarga contoh menyatakan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dari pemerintah. Bentuk dukungan tertinggi yang diterima keluarga contoh berupa dukungan emosi (87.0%) dan dukungan informasi (72.5%). Perbedaan bentuk dukungan emosi dan informasi dikedua kecamatan tersebut berbeda signifikan (p-value <0.05). Hal ini diduga masyarakat Kutawaringin
sebagai daerah dataran tinggi perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah karena kondisi lingkungan yang rawan longsor.
Diantara berbagai bentuk dukungan tersebut, dukungan instrumen merupakan dukungan yang paling sedikit diterima keluarga contoh. Rancabali memiliki persentase dukungan instrumen dari pemerintah yang lebih tinggi (26.5%) dibandingkan Kutawaringin (14.3%). Hal ini diduga adanya perbedaan kondisi Wilayah Rancabali merupakan daerah dataran rendah yang didominasi perkebunan teh yang berada dibawah naungan perusahaan milik negara sehingga penyedian fasilitas bagi masyarakat lebih baik dan lengkap dibandingkan di Kutawaringin yang tidak d ibawah perusahaan milik negara (Lampiran 3). Tabel 17 menunjukkan bahwa dukungan sosial total yang diterima keluarga contoh masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 62 persen. Kecamatan Kutawaringin memiliki persentase dukungan sosial total yang lebih tinggi (66.3%) dibandingkan Rancabali, namun perbedaan tersebut tidak signifikan (p-value >0.05).
Tabel 17 Sebaran contoh menurut kategori dukungan sosial total
Dukungan Sosial Rancabali Kutawaringin Total
n % n % n % Rendah (<60) 7 6.9 4 4.1 11 5.5 sedang (60-80) 36 35.3 29 29.6 65 32.5 Tinggi (>80) 59 57.8 65 66.3 124 62.0 Total 102 100.0 98 100.0 200 100.0 Rata-rata±SD 80.83±12.37 81.14±13.30 80.98±12.81 p-value 0.863
Kesejahteraan Keluarga Subyektif dan Obyektif
Kesejahteraan subyektif merupakan kesejahteraan yang diukur dengan pendekatan tingkat kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan oleh anggota keluarga sendiri bukan orang lain. Dilihat dari beberapa item variabel kesejahteraan subyektif, terdapat beberapa item yang dirasakan tidak puas oleh lebih dari 40 persen keluarga contoh diantaranya dalam hal kepemilikan perhiasan, kondisi keuangan, keadaan materi/aset, kondisi rumah, penghasilan suami dan pendidikan anak (Lampiran 4).
Lebih dari setengah contoh menyatakan puas pada item hubungan perkawinan, komunikasi istri dengan suami, perilaku suami terhadap istri, pembagian pekerjaan rumah, keadaan mental keluarga, perilaku anak, frekuensi makan, kesehatan fisik dan manajemen keuangan keluarga. Tabel 18 menunjukkan bahwa lebih dari tiga per empat (86.0%) keluarga contoh memiliki
kesejahteraan subyektif kategori rendah. Persentase kesejahteraan subyektif keluarga contoh di Rancabali yang masuk kategori tinggi (87.3%) memiliki nilai yang lebih besar dibanding Kutawaringin (84.7%) namun perbedaannya tidak signifikan (p-value >0.05).
Tabel 18 Sebaran kategori kesejahteraan subyektif total
Kesejahteraan Subjektif Rancabali Kutawaringin Total
n % n % n % Rendah (<60) 89 87.3 83 84.7 172 86.0 Sedang (60-80) 13 12.7 15 15.3 28 14.0 Tinggi (>80) 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Total 102 100.0 98 100.0 200 100.0 Rata-rata±SD 41.72±14.48 41.66±15.01 41.69±14.70 p-value 0.977
Kesejahteraan objektif keluarga diukur dari besar pendapatan perkapita keluarga dilihat berdasarkan garis kemiskinan daerah pedesaan Propinsi Jawa Barat tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 63 persen keluarga contoh tergolong sejahtera. Tabel 19 menunjukkan bahwa keluarga contoh yang tergolong sejahtera (67.6%) memiliki persentase yang lebih tinggi dibanding Kutawaringin (58.2%) namun perbedaannya tidak signifikan (p-value
>0.05). Secara umum, kondisi kesejahteraan obyektif yang tinggi berkebalikan dengan kondisi kesejahteraan subyektif keluarga yang tergolong rendah. (Tabel 19)
Tabel 19 Sebaran kategori kesejahteraan obyektif total
Kesejahteraan Objektif Rancabali Kutawaringin Total
n % n % n %
Tidak Sejahtera (< Rp 209.777) 33 32.4 41 41.8 74 37.0
Sejahtera (> Rp 209.777) 69 67.6 57 58.2 126 63.0
Total 102 100.0 98 100.0 200 100.0
p-value 0.922
Hubungan antara Karakteristik Keluarga Contoh dengan Strategi Koping, Dukungan Sosial, dan Kesejahteraan Keluarga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara strategi koping total dengan pendapatan total keluarga (r=-0.227**). Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil pendapatan, maka semakin besar upaya keluarga dalam melakukan strategi koping. Sumardjan (1998) dalam Herawati (2012) menyatakan bahwa kesulitan yang dihadapi keluarga dengan pendapatan rendah selama krisis telah memaksa keluarga mengadakan penghematan pengeluarannya dengan cara menentukan prioritas pengeluaran terutama pangan, kesehatan dan keperluan anak.
Pada strategi koping penghematan pengeluaran, selain berhubungan negatif dengan pendapatan total (r=-0.315*) juga dengan pendidikan suami (r=-0.154*). Hal ini menunjukkan bahwa pilihan strategi koping penghematan pengeluaran yang dilakukan keluarga berhubungan dengan tinggi rendahnya pendidikan suami dan pendapatan total. Semakin tinggi pendidikan dan pendapatan suami, maka semakin besar upaya strategi koping yang dilakukan keluarga.
Hasil Penelitian Megawangi et al. (1994) membuktikan bahwa tingkat pendidikan dan pendapatan suami berhubungan nyata dan positif terhadap kebiasaan merencanakan anggaran biaya keluarga. Dengan demikian pada saat keluarga mengalami kesulitan dalam hal ekonomi, suami yang berpendidikan tinggi akan aktif mencari strategi agar perekonomian keluarga tetap stabil. Pendidikan menggambarkan mutu sumberdaya manusia yang akan mempengaruhi dan membentuk cara dan pola berfikir individu dalam mengatasi kesulitan (Gunarsa dan Gunarsa 2000).
Tabel 20 Hubungan karakteristik dengan strategi koping, dukungan sosial, dan kesejahteraan keluarga
Variabel Ukuran keluarga Usia Suami Pendidikan Suami Pendidikan Istri Pendapat-an total Strategi Koping Penghematan Pengeluaran 0.033 -0.095 -0.154* -0.078 -0.315** Penambahan Pendapatan 0.120 -0.082 0.032 0.071 -0.023
Strategi koping total 0.085 -0.101 -0.101 -0.03 -0.227**
Dukungan Sosial
Dukungan Emosi -0.044 -0.097 0.039 0.147* 0.200**
Dukungan Instrumen 0.033 -0.106 0.045 0.119 0.003
Dukungan Informasi 0.045 -0.159* 0.009 -0.027 0.176*
Dukungan Sosial Total 0.03 -0.146* 0.046 0.133 0.116
Kesejahteraan Keluarga
Kesejahteraan
Subyektif -0.103 -0.067 0.158* 0.165* 0.226**
Kesejahteraan
Obyektif -0.154* -0.008 0.279** 0.277** -
Keterangan: *: Korelasi signifikan pada p<0.05 **: Korelasi signifikan pada p<0.01
Karakteristik keluarga juga berhubungan dengan dukungan sosial. Penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara dukungan sosial total dengan usia suami (r=-0.146*). Dukungan sosial akan semakin besar diberikan oleh lingkungan seiring semakin mudanya usia suami. Hal ini diduga semakin mudanya usia suami menunjukkan usia pernikahan yang tergolong muda sehingga lingkungan sekitar lebih responsif dalam memberikan dukungan
sosialnya. Selain itu, pendidikan istri juga berhubungan positif dengan dukungan emosi (r=0.147*). Istri yang memiliki pendidikan yang semakin tinggi akan memiliki pola pikir dan wawasan yang lebih baik serta cara pandang positif terhadap masalah. Dalam hidup bermasyarakat terdapat kecenderungan bahwa orang yang semakin tinggi pendidikan akan memiliki status sosial yang lebih tinggi dibanding yang berpendidikan rendah. Berdasarkan hal tersebut maka dukungan emosi yang diperoleh dari lingkungan juga akan semakin tinggi pula.
Korelasi yang sama juga di tunjukkan pada hubungan positif antara pendapatan total dengan dukungan emosi (r=0.200**) dan dukungan informasi (r=0.176*). Semakin tinggi pendapatan keluarga maka keluarga tersebut akan memiliki status sosial yang lebih baik sehingga dukungan yang diberikan lingkungan semakin besar. Beberapa karakteristik keluarga yang berhubungan dengan kesejahteraan diantaranya ukuran keluarga, pendidikan suami-istri dan pendapatan total keluarga.
Pendidikan suami-istri dan pendapatan total memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan subyektif keluarga. Karakteristik keluarga tersebut juga berhubungan positif dengan kesejahteraan obyektif yang terdapat satu karakteristik keluarga lain yaitu ukuran keluarga yang memiliki hubungan negatif. Pendidikan merupakan faktor penting yang akan menentukan kemampuan seseorang dalam berfikir dan mengatasi masalah. Elder (1991) menyatakan bahwa untuk mencapai kesejahteraan keluarga perlu adanya kemampuan dalam mengelola ekonomi rumah tangga yang efektif terutama dalam penggunaan sumberdaya keluarga yang ada, guna pemenuhan kebutuhan hidup. Suami dan istri yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan memiliki kemampuan mengelola masalah maupun ekonomi dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah.
Hubungan negatif antara ukuran keluarga dengan kesejahteraan obyektif (r=-0.154*) menunjukkan bahwa semakin kecil jumlah anggota keluarga maka keluarga akan semakin sejahtera. Keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga banyak akan memiliki beban biaya yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan hidup sehingga dapat diasumsikan semakin besar pengeluaran terutama dalam hal pangan maka kesejahteraan semakin menurun. Sumarwan (2003) bahwa pendapatan perkapita dan belanja pangan keluarga akan menurun sejalan dengan meningkatnya jumlah keluarga. Pendapat tersebut juga didukung oleh Rahardjo (2000) yang menyatakan keluarga yang berpendapatan rendah
akan menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk pangan. Kesejahteraan subyektif dan obyektif juga berhubungan positif dengan pendidikan suami istri dan pendapatan total. Semakin tinggi pendidikan maka secara tidak langsung seseorang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang lebih tinggi. Hal tersebut berhubungan dengan kesejahteraan keluarga yang semakin tinggi pula.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Strategi Koping
Hasil menunjukkan terdapat hubungan positif antara dukungan sosial total, dukungan instrumen dan dukungan informasi dengan strategi koping total, strategi penghematan pengeluaran dan penambahan pendapatan. Hal ini menunjukkan semakin besar dukungan instrumen dan informasi yang diterima keluarga contoh dari lingkungan maka semakin tinggi strategi koping yang dilakukan keluarga contoh. Purnomosari (2004) menyebutkan bahwa dukungan sosial yang positif akan membuat ibu dapat melaksanakan tugas dan peranannya dengan perasaan aman dan nyaman dalam mengelola rumah tangga. Adanya dukungan sosial yang diperoleh keluarga akan membantunya dalam melakukan strategi koping untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Tati 2004).
Tabel 21 Hubungan strategi koping dan jenis dukungan sosial Variabel Strategi Penghematan Pengeluaran Strategi Penambahan Pendapatan Strategi Koping Total Dukungan Emosi -0.06 0.083 0.000 Dukungan Instrumen 0.244** 0.281** 0.287** Dukungan Informasi 0.156* 0.234** 0.214**
Dukungan Sosial Total 0.157* 0.257** 0.220**
Keterangan: *: Korelasi signifikan pada p<0.05 **: Korelasi signifikan pada p<0.01
Pengaruh Karakteristik Keluarga, Dukungan Sosial, dan Strategi Koping terhadap Kesejahteraan Keluarga
Hasil uji pengaruh menghasilkan model regresi yang dapat memberikan gambaran pengaruh karakteristik, dukungan sosial, strategi koping terhadap kesejahteraan keluarga. Tabel 22 menunjukkan bahwa ukuran keluarga, pendapatan total, dan dukungan emosi berpengaruh nyata terhadap kesejahteraan subyektif sebesar 0.105. Hal ini memiliki arti bahwa sebesar 10.5 persen kesejahteraan subyektif keluarga dipengaruhi variabel tersebut, selebihnya sebanyak 89.5 persen variabel tersebut dipengaruhi variabel lain di luar penelitian.
Tabel 22 menunjukkan beberapa variabel dalam penelitian yang mempengaruhi kesejahteraan subyektif keluarga secara nyata diantaranya ukuran keluarga (β= -2.106, p=0.040), total pendapatan (β=1209x10-6, p=0.024), dan dukungan emosi (β=0.509, p=0.015). Hubungan nyata dan negatif ukuran keluarga dengan kesejahteraan menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan anggota keluarga maka akan mengurangi kesejahteraan keluarga sebesar 2.106 poin. Pengaruh nyata dan positif pendapatan total keluarga terhadap kesejahteraan subyektif berarti setiap peningkatan satu rupiah pendapatan keluarga maka akan meningkatkan kesejahteraan sebesar 1209x10
-6
poin. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Rambe (2004) yang menyatakan bahwa diantara kriteria kesejahteraan, pendapatan keluarga memberikan pengaruh nyata terhadap kriteria kesejahteraan subyektif.
Tabel 22 Pengaruh karakteristik keluarga, strategi koping, dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan subyektif keluarga
Variabel β Kesejahteraan Subyektif Keluarga T Sig
Karakteristik Keluarga
Ukuran Keluarga -0.144 -2.070 0.040
Usia Suami 0.164 1.538 0.126
Usia Istri -0.175 -1.636 0.104
Lama Pendidikan Suami 0.099 1.215 0.226
Lama Pendidikan Istri 0.047 0.571 0.569
Total pendapatan 0.180 2.277 0.024 Dukungan Sosial Dukungan Emosi 0.203 2.453 0.015 Dukungan Instrumen -0.101 -1.277 0.203 Dukungan Informasi 0.015 0.181 0.857 Strategi Koping Penghematan Pengeluaran -0.070 -0.551 0.583 Penambahan Pendapatan -0.036 0.182 0.856 N 200 Df 11 F 3.123 (p=0.001) Adj R2 0.105
Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosi berpengaruh nyata dan positif terhadap kesejahteraan subyektif. Hal tersebut bermakna bahwa peningkatan satu dukungan dalam bentuk emosi maka akan menambah kesejahteraan subyektif sebesar 0.509. Dukungan emosi yang diberikan akan memberikan rasa nyaman dan tenang bagi seseorang. Pada saat keluarga menerima dukungan emosi yang besar dari lingkungan sekitarnya maka hal tersebut akan menguatkan keyakinannya dalam menghadapi kesulitan hidup dan memandang kondisi keluarga dengan rasa syukur.
Variabel yang mempengaruhi kesejahteraan subyektif dalam penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Rachmawati (2010). Hasil penelitian menunjukkan ukuran keluarga berpengaruh nyata dan negatif terhadap kesejahteraan subyektif. Ukuran keluarga, pendidikan istri dan strategi koping penghematan pengeluaran berpengaruh nyata terhadap kesejahteraan obyektif sebesar 0.228 dengan nilai p=0.000. Hal ini berarti sebesar 22.8 persen kesejahteraan obyektif keluarga dipengaruhi oleh faktor tersebut. Sebanyak 77.2 persen kesejahteraan obyektif dipengaruhi variabel lain di luar penelitian.
Tabel 23 Pengaruh karakteristik keluarga, strategi koping, dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan obyektif keluarga
Variabel β Kesejahteraan Obyektif Keluarga T Sig
Karakteristik Keluarga
Ukuran Keluarga -0.153 -2.391 0.018
Usia Suami 0.097 0.988 0.324
Usia Istri -0.114 -1.148 0.252
Lama Pendidikan Suami 0.114 1.919 0.057
Lama Pendidikan Istri 0.187 2.493 0.014
Dukungan Sosial Dukungan Emosi 0.107 1.406 0.161 Dukungan Instrumen -0.086 -1.177 0.241 Dukungan Informasi 0.101 1.340 0.182 Strategi Koping Penghematan Pengeluaran -0.315 -3.863 0.000 Penambahan Pendapatan -0.017 -0.218 0.828 N 200 Df 10 F 6.878 (p=0.000) Adj R2 0.228
Ukuran keluarga (β=-0.153, p=0.018) dan strategi koping penghematan pengeluaran (β=-0.315, p=0.000) memiliki pengaruh nyata dan negatif terhadap kesejahteraan obyektif (Tabel 23). Pendidikan istri (β=0.187, p=0.014) memiliki pengaruh nyata dan positif terhadap kesejahteraan subyektif. Ukuran keluarga menentukan kesejahteraan obyektif keluarga. setiap peningkatan satu satuan anggota keluarga maka akan menurunkan kesejahteraan obyektif sebesar 0.135 poin. Keluarga yang memiliki anggota keluarga semakin sedikit, maka keluarga tersebut semakin sejahtera karena tanggungan biaya yang harus dikeluarkan juga lebih sedikit.
Pendidikan istri berpengaruh terhadap kemampuan mendapatkan penghasilan tambahan dalam membantu suami. Megawangi et al. (1994) membuktikan bahwa pendapatan dan pendidikan berhubungan nyata dan positif terhadap kebiasaan merencanakan anggaran biaya. Keluarga yang memiliki
manajemen keuangan yang baik akan lebih mudah mengatur kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan.
Setiap peningkatan satu satuan usaha strategi koping penghematan pengeluaran yang dilakukan keluarga maka akan menurunkan kesejahteraan obyektif sebesar 0.315 poin. Keluarga yang melakukan strategi koping penghematan pengeluaran semakin tinggi menunjukkan bahwa keluarga tersebut kurang sejahtera. Simanjuntak (2010) yang menyatakan bahwa dalam untuk menghadapi situasi ekonomi yang kritis, keluarga lebih banyak melakukan strategi koping penghematan pengeluaran.
Pembahasan
Dalam pandangan sistem keluarga, kesejahteraan merupakan sebuah
output dari proses pengolahan (input) (Sunarti 2006). Ditinjau dari aspek kesejahteraan, Sunarti (2006) menyatakan bahwa kesejahteraan merupakan sejumlah kepuasan yang diperoleh seseorang dari hasil mengkonsumsi pendapatan yang diterima. Namun demikian tingkatan dari kesejahteraan itu sendiri bersifat relatif karena tergantung dari besarnya kepuasan yang diperoleh dari hasil mengkonsumsi pendapatan (Sawidak 1985). Berdasarkan pandangan tersebut, pada hakekatnya kesejahteraan dilihat dengan ukuran kesejahteraan material/kesejahteraan obyektif (dengan mengukur tingkat pendapatan) dan kesejahteraan psikologi/kesejahteraan subyektif (dengan mengukur kepuasan, suasana hati dan arti hidup yang dirasakan).
Dilihat dari tingkat kesejahteraan obyektif, persentase terbanyak menunjukkan bahwa keluarga contoh termasuk kategori sejahtera dengan pendapatan antara Rp 500.000,0–Rp 1.000.000,0. Persentase tertinggi berpendidikan sampai tamat SD. Pendidikan merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan berfikir dan bersikap seseorang dalam menghadapi masalah. Gunarsa dan Gunarsa (2000) bahwa pendidikan membentuk cara, pola, kemampuan berfikir, pemahaman, dan kepribadian seseorang. Hal tersebut yang nantinya akan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menganalisis masalah, menentukan strategi koping, pencapaian kesejahteraan dan kemampuan individu dalam membuat keputusan yang tepat saat dihadapkan dengan situasi yang tidak diinginkan.
Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar keluarga contoh memiliki dukungan sosial yang tinggi. Dukungan sosial merupakan simbol interaksi dan pertalian sosial yang akan membantu individu dalam menghadapi
stres. Bentuk dukungan terbesar yang dirasakan keluarga contoh berupa dukungan emosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga besar merupakan salah satu dukungan yang memiliki persentase tinggi diantara dukungan sosial lain.
Sumber dukungan sosial semacam ini merupakan bentuk dukungan yang paling sering dan umum diperoleh keluarga dari anggota keluarga atau teman dekat atau sanak saudara yang akrab dan memiliki hubungan yang harmonis. Keluarga merupakan sumber dukungan sosial utama karena keluarga merupakan orang-orang terdekat yang mempunyai potensi sebagai sumber dukungan dan senantiasa bersedia untuk memberikan bantuan dan dukungannya ketika individu membutuhkan. Keluarga sebagai suatu sistem sosial, mempunyai fungsi-fungsi yang dapat menjadi sumber dukungan utama bagi individu.
Tingginya bentuk dukungan emosi dalam penelitian ini tidak diikuti dengan tingginya dukungan instrumen yang diberikan kepada keluarga contoh. Rendahnya dukungan instrumen tidak hanya terlihat dari dukungan yang diberikan oleh keluarga dan tetangga, tetapi juga dari pemerintah. Gove et al. (1990) mengatakan bahwa dukungan sosial dapat memberikan kekuatan dan dapat mengurangi kesulitan seseorang dalam menjalani kehidupannya, termasuk kesulitan finansial.
Jika dilihat dari berbagai upaya pemerintah dalam memberikan peluang kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan, begitu banyak program yang ditujukan kepada masyarakat miskin. Simanjuntak (2010) menyebutkan beberapa program kesejahteraan untuk keluarga kurang mampu meliputi Jaringan Pengaman Sosial (JPS), Subsidi Langsung Tunai (SLT), beras miskin (Raskin), Asuransi kesehatan untuk masyarakat (Askeskin), Program Keluarga Harapan (PKH) dan lain-lain. Rendahnya dukungan instrumen pemerintah yang diberikan kepada keluarga contoh diduga karena program pemerintah dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin belum banyak mencapai sasaran masyarakat dikawasan tersebut.
Hasil penelitian mengenai strategi koping menunjukkan bahwa strategi koping yang dilakukan keluarga contoh masuk kategori rendah. Puspitawati (1992) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping keluarga diantaranya karakteristik sosial ekonomi, karakteristik demografi, wilayah tinggal, dan tekanan tempat kerja. Meskipun keputusan keluarga untuk
memilih strategi koping yang yang dilakukan setiap orang berbeda-beda, namun faktor karakteristik keluarga berpengaruh pada tindakan tersebut. Simanjuntak (2010) menyatakan bahwa keluarga dengan tingkat pendapatan rendah cenderung lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masa kini sehingga pola mekanisme koping yang paling mudah dilakukan yaitu dengan mengurangi pengeluaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kusumo (2009) yaitu strategi koping yang paling banyak dilakukan keluarga petani adalah dengan melakukan penghematan pengeluaran. Strategi koping tersebut lebih dipilih karena keterbatasan sumberdaya ekonomi untuk melakukan strategi koping aktif misalnya memanfaatkan lahan kosong untuk ditanam, meminjam uang, mengontrakkan rumah/lahan pertanian atau menanam tanaman obat ditanah pekarangan.
Sunarti (2006) dalam analisis teori Maslow yang menyebutkan bahwa konsep kesejahteraan terkait erat dengan kebutuhan dasar manusia sehingga keluarga yang kesejahteraannya masih rendah akan mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Hasil penelitian ini senada dengan pernyataan tersebut. Penghematan pengeluaran yang dilakukan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dapat membantu untuk menghemat pendapatan keluarga.
Secara teori, keluarga yang mempunyai penghasilan kurang memadai dapat mencoba mengurangi tekanan ekonomi dengan melakukan satu atau lebih strategi. Keluarga dapat mengurangi kebutuhan atau tuntutan dengan penghematan pada konsumsi untuk meningkatkan pendapatan keluarga (Conger
et al. 1990). Dalam penelitian ini, keluarga contoh lebih banyak yang melakukan strategi koping dalam hal lainnya dibandingkan strategi penghematan dalam hal pangan.
Kondisi yang cukup memprihatinkan terlihat dari strategi koping yang dilakukan ketika kritis yaitu masih terdapat keluarga yang memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya dan terpaksa mengijinkan anaknya untuk tidak sekolah. Hal tersebut menunjukkan masih terdapat beberapa keluarga yang belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas penting bagi anaknya. Pendidikan merupakan hak setiap warga negara karena dengan pendidikan maka akan mengurangi kriminalitas dan menurunkan angka kemiskinan. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2000), tingkat pendidikan yang dicapai akan mempengaruhi dan membentuk cara, pola, kerangka berfikir, persepsi, pemahaman dan kepribadian seseorang. Pendidikan juga akan membantu keluarga mencapai kesejahteraan
karena menurut Hardinsyah (1986) seseorang yang berpendidikan tinggi akan memiliki upah yang lebih tinggi.
Hasil penelitian terkait kesejahteraan menunjukkan kondisi yang berlawanan antara kesejahteraan subyektif dengan obyektif keluarga contoh. kesejahteraan subyektif keluarga contoh masuk dalam kategori rendah namun ditinjau dari secara obyektif mereka masuk dalam kategori sejahtera. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya keluarga yang sejahtera dari segi ekonomi merasakan kepuasan dari aspek lainnya. Kesimpulan tersebut didukung hasil analisis hubungan yang dilakukan Rachmawati (2010) yang mengatakan bahwa keluarga yang memiliki pendapatan dan sumberdaya materi yang tinggi belum tentu merasakan kepuasan dari kondisi non materi kehidupan keluarga mereka.
Kondisi tersebut juga disampaikan Syarif dan Hartoyo (1993) bahwa suatu keluarga yang berada dibawah garis kemiskinan mungkin merasa lebih sejahtera karena merasa lebih bersyukur atas karunia-Nya. Sebaliknya mereka yang berpendapatan diatas garis kemiskinan mungkin merasa kurang sejahtera kerana masih ada keinginan yang belum terpenuhi dan merasa selalu stres, ketakutan/tertekan dan dituntut oleh pekerjaan atau hal lainnya. Oleh karena itu, Iskandar (2007) menyatakan bahwa pendekatan subyektif dalam pengukuran kesejahteraan menginterpretasikan kemiskinan berdasarkan pemahaman mereka terhadap keadaan yang mereka hadapi sehingga pendekatan ini sulit digunakan dalam studi analisis kesejahteraan secara makro/nasional namun untuk memberikan pengertian yang mendalam pada berbagai ruang dan latar kehidupan terkait kesejahteraan subyektif itu sendiri.
kesejahteraan subyektif secara signifikan dipengaruhi oleh pendapatan keluarga dan dukungan emosi. Kesejahteraan subyektif menggambarkan evaluasi individu terhadap kehidupannya yang mencakup kebahagiaan, kondisi emosi yang senang, dan tenang serta kepuasan hidup (Diener dan Biswas 2000). Dukungan emosi yang tinggi menjadikan keluarga merasa mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya yang menjadikannya senang dan tenang. Meskipun terdapat banyak keluarga yang secara obyektif kurang sejahtera dan merasa puas/sejahtera secara subyektif, pendidikan dan pendapatan keluarga tetap berkontribusi dalam mewujudkan kedua kesejahteraan tersebut. Istri yang memiliki pendidikan yang tinggi memungkinkan memiliki keterampilan yang lebih baik dan mencari strategi ekonomi ketika dalam kondisi keterbatasan serta
cenderung mampu mengelola keuangan keluarga dengan lebih baik. Keterbatasan Penelitian
1. Penelitian ini hanya mewawancarai istri tanpa melibatkan suami sehingga dalam beberapa hal peneliti mengalami kendala dalam memperoleh informasi terkait kondisi keluarga dalam mendapatkan dukungan keluarga dan melakukan strategi koping pada saat terkena bencana.