TINJAUAN UMUM TENTANG LIVING QUR’AN TERKAIT KEGIATAN MASYARAKAT SELAMA MASA KEHAMILAN
C. DZIKIR DAN UPACARA ADAT SELAMA MASA KEHAMILAN KEHAMILAN
Zikir yang dilakukan dengan lisan bisa dilakukan dengan menyebut lafal nama-nama Allah yang baik, termasuk dalam hal ini tahlil, tasbih, tahmid, wirid, dan bahkan menari (berputar) seperti yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. Sayyid Sabiq menyebutkan dua jalan/sarana makrifat kepada Allah: pertama, makrifat dengan memikirkan alam ciptaan-Nya kedua makrifat dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Makrifat yang kedua melalui pintu zikir dengan selalu menyebut nama-nama-Nya yang baik atau bahkan namanama-Nya Yang Teragung (Ismullāh al-A„zam).23 Al-Sayyid „Abd Allāh bin „Alawī al-Haddād mengatakan:
sesungguhnya zikir (al-zikr) adalah ruh ibadat dan segala amal. Rahasia maqāmat dan ahwāl. Zikir adalah saudara laki-laki pikir. Keduanya menguatkan iman seorang hamba dan menumbuhkan keyakinan. Kalau zikir dapat menangkap kelembutan ilahi, dengan pikir lobang pintu pengetahuan diterobos. Keduanya dapat menunjuk rahasia-rahasia kelembutan. Keduanya bagai dua sayap yang terbang ke alam arwah menuju rawa-rawa makrifat dan lapangan kemenangan.24 zikir sangat urgen dalam kehidupan manusia. Dia akan mengantarkan seseorang kepada “induk”-Nya (Tuhan) dan membantu seseorang bersikap arif dalam kehidupannya. Kalau pendapat ini benar, maka tentunya menggali ayat-ayat al-Qur‟an dan hadis yang banyak mengungkap fenomena zikir
23 Ruslan, Ragam Zikir Dalam Al-Quran, IAIN Antasari Banjarmasin, Khazanah: Vol. XII. No. 01 (Januari-Juni 2014), 106.
` 24 Al-Sayyid „Abd Allāh bin „Alawī Haddâd, Wasīlah „Ibād Ilā Zād al-Ma„ād, (India: t.p. 1302), 2. dalam Ruslan, Ragam Zikir Dalam Al-Quran, IAIN Antasari Banjarmasin, Khazanah: Vol. XII. No. 01 (Januari-Juni 2014), 107.
adalah sesuatu yang sangat penting dan besar manfaatnya. Mungkin kita bisa berhipotesa “Tuhan dan Nabi sebagai syar‟i (Pembuat syariat) tentu agar dipedomani. Jalan yang dibuat Tuhan dan Nabi-Nya tentu lebih baik untuk membuka pintu ma„rifat kepada-Nya”. Pemikiran ini dibangun berdasarkan alasan hadis Nabi yang potongan artinya: “sesungguhnya sebenar-benar informasi adalah Kitabullāh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW”.25
Ayat yang menjadi dasar zikir diantaranya surat al-Kahf [18]: 24
“Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah" dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".
(QS. Al-Kahfi [18] : 24).
Allah memerintahkan supaya banyak berzikir sebagaimana dalam surah Al-Ahzab : 41-43:
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. dan bertasbihlah kepada-Nya
25 Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim, al-Hākim, al-Nasā‟ī dan lain-lain. Teks versi Nasā‟ī dapat dilihat dalam Sunan Kubrā Juz I, (Beirut: Dār Kutub
al-„Ilmiyyah, 1411), 550.
diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. “ (QS.
Al-Ahzab [33] : 41-43).
Imam al-Qusyairī (wafat 465 H) mengatakan bahwa ayat ini mengisyaratkan mereka mereka yang mencintai Allah karena Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu lebih banyak menyebutnya”. Maka wajiblah engkau menyebut “Allah” dan janganlah engkau lupakan Allah setelah engkau menyebut-Nya.26
Dalam surah al-Baqarah [2] : 152 Allah juga memerintahkan untuk berzikir
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Al-Baqarah [2]: 152).
Quraish Shihab menjelaskan tafsir ayat tersebut yakni menyebut atau mengingat Allah baik dengan lisan, hati, pikiran, atau dengan anggota badan. Pengertian tersebut juga diungkapkan oleh an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar bahwa zikir itu tidak hanya sebatas membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir, asmaul husna, dan lain sebagainya, namun semua aktivitas
26 Imam „Abd Karīm bin Hawāzin bin „Abd Mālik Naisabūrī al-Qusyairī, Tafsir al-Qusyairî, Juz VI, 2007 hlm. 266. Tafsir ini bercorak sufistik dan pada covernya tertulis “Tafsīr Shūfiy Kāmil li al-Qur‟ān al-Karīm”, nama lain dari tafsir ini adalah Lathāif al-Isyārāt .
amal perbuatan ketaatan pada dasarnya juga disebut dengan zikir kepada Allah SWT.27
Begitu banyak perintah zikir dalam al-Qur‟an ini menunjukan bahwa zikir merupakan cara agar manusia selalu ingat akan pencipta-Nya, selain hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari juga tak lepas dari zikir, kehidupan bermasyarakat tentu membutuhkan rasa tenang dan damai, salah satunya dengan membaca al-Qur‟an yang di dalamnya terdapat lafaẓ-lafaẓ zikir. Seperti hal nya pembacaan al-Qur‟an ketika peringatan pada masa kehamilan didalamnya mengandung bacaan al-Qur‟an pada prosesi upacara adat yang dilakukan, hal tersebut tentu tidak lepas dari peran agama sebab itu di dalam peringatan upacara masa kehamilan selain unsur tradisi didalmnya juga mengandung unsur agama berupa bacaan Qur‟an. Manfaat zikir sangat besar baik untuk penguatan iman, menaikkan maqāmat atau manfaat lain yang dalam kehidupan manusia itu sendiri.
Zikir tetap relevan untuk kehidupan manusia modern yang terpengaruh dengan naturalisme, materialisme, dan positivisme guna mengatasi keterasingan jiwa manusia, krisis spiritual, disorientasi, dan lain sebagainya.
Upacara adat berakar dari budaya Jawa yang tersebar di sebagian besar wilayah di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi masyarakat Jawa, kehamilan tidak hanya bermakna peristiwa biologis fisiologis yang terjadi pada perempuan, namun memiliki makna kultural religi sebagai proses mendapatkan keturunan yang sehat dan sempurna menjadi anak
27 Abdul Hafiz Dan Rusydi Konsep Dzikir dan Do‟a Perspektif Al-Qur‟an, Islamic Akademia: Jurnal Pendidikan &KeIslaman, Vol 6 No 1(Juni 2019), 63.
yang berakal berbudi tinggi serta menjunjung keselamatan dunia dengan mengeratkan rasa solidaritas sosialnya.28
Upacara adat yang dilaksanakan oleh Masyarakat Desa Jrahi dan Desa Pakem Kabupaten Pati adalah mitoni. Mitoni berasal dari bahasa Jawa pitu yang berarti tujuh, sehingga secara harfiah, mitoni merupakan upacara adat yang dilaksanakan ketika usia kandungan tujuh bulan. Mitoni merupakan upacara adat yang dilaksanakan menjelang persalinan, seluruh sajen yang digunakan dalam pelaksanaan mitoni merepresentasikan simbol persalinan yang lancar dan kesempurnaan wujud manusia.
Interpretasi terhadap simbol dan makna yang terkandung dalam upacara mitoni menunjukkan adanya hubungan secara vertikal dan horizontal.
Hubungan vertikal merujuk kepada hubungan antara manusia dengan Tuhan dan makhluk supranatural sebagai tempat meminta keselamatan.
Hubungan horizontal mengacu kepada hubungan antar sesama manusia, dimana mitoni merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan dan ketentraman dalam masyarakat. Masyarakat Desa Jrahi menggunakan kelapa cengkir yang ditulisi dengan Aksara Jawa, yang kemudian dibelah oleh calon ayah. Apabila saat dibelah air kelapa memuncrat, kemungkinan bayi yang dilahirkan adalah laki-laki, namunbila air kelapa merembes, bayi yang akan dilahirkan berjenis kelamin perempuan. Sedangkan pada masyarakat Desa Pakem, sarana yang digunakan untuk menebak jenis kelamin bayi adalah kendi yang terbuat dari tanah liat. Sebagaimana masyarakat Desa Jrahi, kendi tersebut dipecahkan oleh calon ayah dan
28 Phuspita. F, “Sistem Kepercayaan Adat Kehamilan dan Kelahiran di dalam Masyarakat Jawa dalam Teks Platenalbum Yogyakarta”, (Skripsi S1 Universitas Indonesia. 2010), 30.
bagaimana air keluar dari kendi menyimbolkan jenis kelamin bayi yang akan lahir.29
Rangkaian Acara Upacara Mitoni yang dilaksanakan oleh pasangan Jawa-Padang terdiri dari Upacara Siraman, upacara memasukan telur ayam dang cengkir gading, upacara ganti pakaian, upacara Angrem, upacara mecah kelapa, dan dodol rujak. Yang pertama, Upacara Siraman.
Siram artinya mandi. Siraman berarti memandikan. Dimaksudkan untuk membersihkan serta menyucikan calon ibu dan bayi yang sedang dikandung, lahir maupun batin.Yang kedua, Brojolan. Calon ibu berbusana kain jarit yang diikat longgar dengan letrek yaitu sejenis benang warna merah putih dan hitam. Merah melambangkan kasih sayang calon ibu, putih melambangkan tanggung jawab calon bapak bagi kesejahteraan keluarganya nanti. Warna hitam melambangkan kekuasaan Yang Maha Kuasa yang telah mempersatukan cinta kasih kedua orang tuanya.Yang ketiga Prosesi Ganti Busana. Calon ibu dibimbing keruangan lain untuk dikenai busana kain batik atau jarit berbagai motif. Prosesi ini dilakukan oleh calon ibu dengan tujuh jenis kain batik dengan motif yang berbeda.
Ibu akan memakai model kain yang terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain.
Yang keempat, Jual Dawet dan Rujak. Setelah upacara angkreman selesai, disusul dengan memilih nasi kuning yang terletak di dalam takir sang suami. Setelah itu dilanjutkan upacara jual "Dawet dan "Rujak". Penjualan dawet dan rujak ini dibayar dengan uang logam tiruan yang terbuat dari pecahan genteng (Kreweng) yang dibentuk bulat, seolah-olah seperti uang logam. Makna dari upacara ini adalah agar kelak anak yang dilahirkan banyak mendapat rejeki, dapat untuk menghidupi keluarganya. Yang
29 Nurul Aeni, Upacara Adat Dalam Perawatan Maternal Di Desa Jrahi Dan Desa Pakem , Jurnal Litbang, Vol.XI, No.1, (Juni 2015), 58.
kelima Kenduri/Selametan Tujuan kenduri Tingkeban adalah untuk memperingati kehamilan anak pertama yang masih dalam kandungan dan berumur tujuh bulan. Nilai filosofi yang ada pada acara kenduri adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya. Upacara Mitoni biasanya disediakan hidangan-hidangan sebagai tanda ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.30
Aspek kehidupan masyarakat Baduy diselimuti dengan berbagai budaya dan ritual termasuk upacara adat pada proses kehamilan dan persalinan. Upacara kehamilan dan persalinan yang masih diterapkan di kehidupan sehari-hari diantaranya, Upacara empat bulanan (Neundeun Seupaheun) dilakukan oleh dukun paraji bersama dengan beberapa kokolot bertujuan untuk menghindari dari gangguan roh dan marabahaya lain selama kehamilan. Upacara ini dilakukan dengan memberikan
„Kapuru‟ (untaian benang putih) yang sudah diberi doa atau jampe oleh kokolot selama tiga malam, lalu diikatkan di pergelangan tangan ibu di sebelah kiri. Upacara tujuh bulanan (Kendit) atau biasa disebut dengan upacara pemasangan kain putih yang sudah didoakan oleh kokolot yang diikatkan dipinggang ibu hamil. Tujuan dari upacara ini adalah memberikan doa kepada ibu hamil dan janinnya agar selamat, aman tidak diganggu ruh sehingga proses kelahiran bisa berjalan lancar ibu dan bayinya selamat.31
30 Retno Intani & Novita Damayanti , Pemaknaan Tradisi Mitoni Adat Jawa Tengah pada Pasangan Jawa dan Padang, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof.
Dr. Moestopo, E-ISSN: 2113-9790 Prosiding Konferensi Nasional Komunikasi, Vol. 02, No.01, 2018, .324.
31 Vita Kartika, dkk, Budaya Kehamilan Dan Persalinan Pada Masyarakat Baduy, Di Kabupaten Lebak, Tahun 2018, Buletin Penelitian Sistem Kesehatan , Vol. 22 No. 3 (Juli 2019), 195.
Upacara opat bulanan dan nujuh bulanan yang masih menjadi ritual yang dipatuhi oleh masyarakat Desa Karangsari Kabupaten Garut memiliki makna yang sangat dalam. Ritual inisiasi menyampaikan pesan simbolis yang menyuarakan nilai dan keyakinan budaya yang sangat dalamdan bertujuan untuk melindungi ibu dan janin (dan kadang juga ayah, kerabat dan seluruh keluarga) dari kekuatan jahat. Besar kecilnya acara syukuran ini disesuaikan dengan kemampuan ibu hamil dan keluarganya. Tetapi ada beberapa persyaratan yang harus ada yaitu empat macam buah-buahan yang dibuat rujak dan empat macam „beubeutian‟
(umbi-umbian) yang „diseupan‟ (dikukus). Kemudian Ibu hamil harus menjual rujak itu kepada keluarga dan tetangga yang hadir, dan mereka membelinya dengan potongan genting yang berbentuk bulat seperti koin (uang recehan). Semakin banyak yang membeli maka diyakini proses kehamilan dan persalinan ibu akan semakin dimudahkan. Pada upacara ini ibu hamil juga dimandikan oleh orang tua dan keluarganya dengan air yang dicampur dengan empat jenis bunga-bungaan yang sudah dijampi-jampi oleh maraji. Selain itu juga diadakan pengajian dan pada proses pengajian ini dibacakan Surah Yāsin, Surah Yusuf dan Surah An-Nisā.
Pengajian ini bertujuan untuk mendo‟akan supaya persalinan lancar dan anak yang dilahirkan sehat, sholeh dan ganteng jika laki-laki serta sholehah dan cantik jika perempuan.32
Upacara adat Nyaki Tihi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak memiliki latar belakang pelaksanaan yang khas sebagai mana upacara adat-istidat lainnya di kalangan Suku Dayak secara umum di Mandomai Kecamatan Kapuas Barat Kabupaten Kapuas, upacara itu dilatarbelakangi
32 Juariah, Kepercayaan Dan Praktik Budaya Pada Masa Kehamilan Masyarakat Desa Karangsari, Kabupaten Garut ,Sosiohumaniora, Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora, ISSN 1411 - 0903 : eISSN: 2443-2660, Vol. 20, No. 2, (Juli 2018), 165.
oleh beberapa hal. Pertama, keyakinan atau kepercayaan terhadap perlindungan dan keselamatan ibu yang hamil, sehingga upacara adat Nyaki Tihi merupakan semacam perlindungan terhadap ibu yang mengandung bayi pertama (Temei). Uniknya, upacara itu hanya dilakukan untuk kandungan bayi pertama. Terhadap kandungan bayi kedua dan seterusnya tidak lagi. Kedua, kepercayaan bahwa seorang ibu yang hamil memiliki masa lemah di bulan tertentu. Kepercayaan itu kemudian memunculkan ritus atau upacara adat Nyaki Tihi yang dilakukan ketika ibu hamil memasuki bulan ketujuh masa kandungannya. Hal itu disebabkan keyakinan bahwa ibu hamil dalam bulan tersebut mengalami kelemahan secara rohaniah. Ketiga, kepercayaan kepada "darah" sebagai media penenteram atau media yang memiliki "kuasa" mengusir pengaruh roh-roh jahat. Berdasarkan kepercayaan itu, sarana penting yang digunakan dalam upacara adat Nyaki Tihi adalah darah sebagai alat manyaki atau mamalas yang diambil dari binatang kampung yang dikorbankan dalam upacara tersebut. Darah sebagai sarana manyaki atau mamalas di sini dipandang dapat meredam bahaya atau celaka dan menjauhkan dari roh-roh yang jahat yang dapat mengganggu kandungan yang akan dilahirkan (Manyadingen). Dengan demikian, upacara Nyaki Tihi dilakukan dengan latar belakang peristiwa-peristiwa sulit yang dihadapi seorang perempuan saat melahirkan anak pertama.33
Melihat gejala-gejala sosial yang terjadi di masyarakat yang menempakan al-Qur‟an sebagai sesuatu yang riil dipahami dan dialami oleh masyarakat, merupakan fungsi al-Qur‟an dan fenomena Qur‟an in
33 Patricia dkk, Suatu Tinjauan Tentang Upacara Menujuh Bulan Kehamilan (Nyaki Tihi) Menurut Adat Dayak Ngaju Di Mandomai Kecamatan Kapuas Barat Kabupaten Kapuas, Jurnal Paris Langkis Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol.1 No. 1, (Agustus 2020), 37.
Everyday.34 Artinya dalam kehidupan praktis al-Qur‟an diambil dan dipakai fungsinya sebagai praktek penerapan di luar kondisi teksualnya.
Dampak dari hal tersebut sebuah proses percampuran dua budaya yang menghasilkan sebuah budaya baru. Reserpsi masyarakat terhadap al-Qur‟anyang masuk pada tradisi ngupati (upacara empat bulanan) dan tingkeban/mitoni (upacara tujuh bulanan) merupakan cara pandang masyarakat dalam meresepsi al-Qur‟an dalam kehiupan mereka.35
Menurut Fazlurrahman tradisi Islam bisa terdiri dari elemen yang tidak Islami, yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah, jadi perlu dibedakan antara Islam,sejarah Islam dan tradisi Islam. Ajaran Islam yang termuat dalam al-Qur‟an dan hadis adalah ajaran yang merupakan sumber asal dan ketika sumber itu digunakan atau diamalkan dalam suatu wilayah sebagai pedoman kehidupan maka bersamaan dengan itu tradisi setempat bisa saja mewarnai penafsiran masyarakat lokalnya.36
34 Muhammad Mansur, Lliving Qur‟an dalam Lintas Sejarah studial-Qur‟an”
dalam Sahirpan Samsudin Metodologi Peneliian Living Qur‟an dan Hadis, cet I (ogakara:H Press, 2007), 5.
35 Muhammad Fauzan Naisir, “Pembacaan Surat Pilihan al-Qur‟an Dalam Tradisi Mitoni”, (Skripsi S1 IAIN Surakarta,2016), 78.
36 Iswah Adriana, Neloni Mitoni atau Tingkeban STAIN Pamkekasan , Jurnal Karsa Vol 19 No 2 Tahun 2011, 9.
39
PROFIL KECAMATAN KALIPUCANG KABUPATEN