KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR A. Kajian Pustaka
3. E-book dengan Multimedia Interaktif a. Pengertian dan Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (Depdiknas, 2008). Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan. Menurut the University of Wollongong
“Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning” yang artinya melaksanakan pembelajaran didefinisikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif.
Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang mempunyai struktur dan urutan yang sistematis, menjelaskan tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi siswa untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belajar siswa sehingga menyediakan bimbingan bagi siswa untuk mempelajari bahan tersebut, memberikan latihan yang banyak, menyediakan rangkuman, dan secara umum berorientasi pada siswa secara individual (learner oriented).
Biasanya, bahan ajar bersifat mandiri, artinya dapat dipelajari oleh siswa secara mandiri karena sistematis dan lengkap (Panen dan Purwanto, 2004). Untuk itu, sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain:
1) Petunjuk belajar (petunjuk bagi siswa/ guru),
commit to user 2) Kompetensi yang akan dicapai,
3) Konten atau isi materi pembelajaran, 4) Informasi pendukung,
5) Latihan-latihan,
6) Petunjuk kerja, dapat berupa lembar kerja (LK), 7) Evaluasi, dan
8) Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi (Depdiknas, 2008)
Bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan ajar cetak, bahan ajar dengar, bahan ajar pandang dengar, dan bahan ajar multimedia interaktif (Depdiknas, 2008). Bahan ajar cetak (printed) contohnya antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, brosur/leaflet, dan model/maket. Bahan ajar dengar (audio) meliputi kaset, radio, piringan hitam, dan compact disc audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) meliputii video compact disc dan film. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) terdiri atas CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).
Pembelajaran berbasi aplikasi komputer memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara individual, dimana pengguna program (pembelajar) dengan gaya dan kecepatan menangkap informasi dapat melakukan interaksi langsung dengan sumber informasi (Krisnadi dan Pribadi, 2010). Artinya, penggunaan teknologi komputer dalam pembelajaran dapat mengakomodasi perbedaan individu peserta didik yang pada dasarnya memang memiliki sikap, gaya belajar, minat, hobi, atau kepentingan yang berbeda-beda yang akan mempengaruhi hasil belajar (Krisnadi dan Pribadi, 2010). Umumnya, program pembelajaran yang dikemas dengan aplikasi komputer mampu menyajikan model pembelajaran yang bersifat interaktif dan mampu memproses data atau memberi jawaban bagi pengguna (Mayer, 2009).
b. Kriteria Bahan Ajar
Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi
commit to user
dengan gambar dan keterangan-keterangannya (Depdiknas, 2008). Hernawan dkk.
(2010) menambahkan bahwa bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang didisain secara lengkap, dalam arti ada unsur media. Menurut Prastowo (2011), bahan ajar yang didisain secara bagus dan dilengkapi isi dan ilustrasi yang menarik akan menstimulasi siswa untuk memanfatkan bahan ajar sebagi sumber belajar.
Secara umum, komponen-komponen bahan ajar terdiri dari bagian awal, bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup (Widodo dan Jasmadi, 2008).
Semua komponen harus tersusun scara runtut dan tersaji dengan baik agar memenuhi kaidah-kaidah penulisan bahan ajar dan bermanfaat bagi pengguna.
Menurut panduan pengembangan bahan ajar Depdiknas (2008), komponen evaluasi bahan ajar mencakup kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafikan.
Komponen kelayakan isi antara lain meliputi:
1) Kesesuaian dengan SK, KD
2) Kesesuaian dengan perkembangan anak 3) Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar 4) Kebenaran substansi materi pembelajaran 5) Manfaat untuk penambahan wawasan
6) Kesesuaian dengan nilai moral dan nilai-nilai sosial Komponen Kebahasaan antara lain mencakup:
1) Keterbacaan
2) Kejelasan informasi
3) Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar 4) Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat) Komponen Penyajian antara lain mencakup:
1) Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai 2) Urutan sajian
3) Pemberian motivasi, daya tarik
4) Interaksi (pemberian stimulus dan respon) 5) Kelengkapan informasi
Komponen Kegrafikan antara lain mencakup:
1) Penggunaan font; jenis dan ukuran
commit to user 2) Lay out atau tata letak
3) Ilustrasi, gambar, foto 4) Disain tampilan
c. Pengertian dan Manfaat E-book
Salah satu bahan ajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan adalah e-book.
E-book adalah singkatan dari electronic book atau buku elektronik, nama lain yang sering digunakan adalah digital book. Nelson (2008) mendefinisikan e-book sebagai buku elektronik yang dapat dibaca secara digital pada layar komputer, piranti khusus pembaca e-book (e-book reader), personal digital assistant (PDA), atau bahkan pada telepon genggam. Dengan perkataan lain, e-book dinikmati dan dibaca di layar daripada pada lembaran kertas.
Ahuja dan Goel (2010) menambahkan bahwa e-book yang dapat diperoleh secara elektronik dan disimpan serta dibaca pada berbagai perangkat memberikan kemudahan bagi penggunanya karena e-book dapat diakses dengan berbagai cara, dimana saja, dan kapan saja. Dalam banyak hal, e-book lebih sempurna karena mudah diakses dan memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan buku cetak. Menurut Ahuja dan Goel (2010), berbagai keunggulan e-book antara lain adalah:
1) Menghemat tempat .
2) Lebih cepat dan lebih mudah diperoleh dari berbagai tempat.
3) Mudah diperbaiki dan diperbaharui. E-book dapat memuat informasi terbaru.
4) Menghemat waktu dalam mencari dan menelusuri isi buku.
5) Pengguna biasanya mendapatkan lebih banyak hal lain daripada sekedar buku.
6) Menghemat penebangan pohon dan mengurangi polusi dari indutsri pengolahan kayu menjadi kertas.
7) Mudah dibawa dan dapat diakses dengan mudah dan cepat .
8) Referensi yang mudah dicari. Tautan langsung ke website dan referensi lain dapat diaplikasikan dalam e-book.
commit to user
Pastore (2008) menuliskan daftar 30 manfaat e-book, dan diantaranya adalah bahwa e-book:
1) Meningkatkan minat baca. Dewasa ini orang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar monitor daripada di depan buku cetak.
2) Ramah bagi lingkungan. E-book menghemat pohon. E-book menyingkirkan kebutuhan tempat untuk membuang buku-buku lama. E-book menghemat biaya transportasi dan polusi terkait dengan pengiriman buku cetak ke berbagai wilayah.
3) Memelihara/menjaga keawetan buku. E-book tidak mengenal umur atau tahan lama (tidak terbakar, berjamur, keropos, busuk, atau hancur lebur). E-book menjamin bahwa literatur akan tetap ada.
4) Lebih cepat diproduksi dan direvisi dibandingkan dengan buku cetak yang memungkinkan pembaca untuk membaca buku tentang isu-isu dan peristiwa mutakhir.
5) Sangat mudah diperbaharui, untuk memperbaiki kesalahan dan/atau menambah informasi baru.
6) Mudah dicari secara global artinya informasi di dalam buku dapat dicari dengan cepat dari mana saja dan kapan saja.
7) Mudah dibawa (portable). Memungkinkan untuk membawa (mema-sukkan) koleksi seluruh perpustakaan di dalam satu DVD.
8) Dalam bentuk buku audio digital dapat didengarkan tanpa harus meninggalkan kegiatan lain.
9) Dapat juga dicetak; hal ini memberikan sebagian besar atau semua keunggulan kepada pembaca lebih dari apa yang ada di buku cetak.
10) Melawan waktu; e-book dapat didistribusikan segera dalam hitungan waktu menit atau detik. E-book sampai ke penerima lebih cepat dari jasa pengiriman manapun karena didribusikan atau dikirim via internet kapan saja tidak dibatasi oleh jam kerja kantor.
11) Melawan ruang; e-book online dapat dibaca secara simultan oleh ribuan orang dalam waktu yang sama.
12) Lebih murah ongkos produksinya oleh karena itu harganya lebih murah.
commit to user 13) Dapat diperoleh secara gratis.
14) Dapat ditambahi keterangan (anotasi) tanpa merusak karya asli.
15) Menjadikan bacaan menjadi mudah bagi orang-orang dengan keterbatasan.
Teks dapat diubah ukurannya bagi pembaca yang terganggu penglihatannya.
Layar dapat diubah menjadi lebih terang atau lebih gelap tergantung pada lingkungan sekitar.
16) Memberi kebebasan pembaca untuk mengubah tampilan. Banyak e-book bisa diubah ukuran dan jenis font-nya, ukuran halaman, ukuran margin, warna, dsb.
17) Dapat dilengkapi dengan multimedia baik berupa gambar diam, gambar bergerak, animasi, suara dll.
Dari berbagai sumber, Suyatna (2015) mensarikan kelebihan e-book sebagai berikut:
1) Ukuran fisik lebih kecil; dibuat dengan format digital yang dapat disimpan dalam format yang kompak. Puluhan bahkan ratusan buku dapat disimpan dalam sebuah DVD atau flash-disc sehingga tidak memerlukan banyak tempat.
2) Tahan lama; tidak menjadi lapuk dimakan usia dengan kualitas yang tidak berubah sepanjang jaman.
3) Mudah diproses, dilacak, atau dicari dengan cepat sehingga menghemat waktu.
4) Mudah didistribusikan melalui media elektronik dalam waktu yang singkat 5) Bersifat interaktif, artinya e-book dapat dilengkapi fitur-fitur multimedia
interaktif atau animasi bergerak sehingga mempermudah siswa dalam menangkap materi pelajaran.
Menurut Pearson-Labs (2014) buku sekolah elektronik dapat meningkatkan pembelajaran dengan berbagai cara, dan diantaranya adalah:
1) Bersifat interaktif dan dapat dibuat dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengambil bab-bab penting dari berbagai sumber dan menyatukannya dalam satu buku sesuai dengan materi pembelajaran yang akan diberikan.
2) Dapat menjadi penuntun bagi siswa dalam proses pembelajaran.
commit to user
3) Praktis dan mudah diakses. E-book dalam perangkat portable dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.
4) Dapat dengan mudah diintegrasikan sebelum, selama, dan setelah tatap muka di kelas.
5) Mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam belajar mandiri (pembelajaran berpusat pada siswa).
6) Membantu siswa dalam mendapatkan berbagai bahan atau informasi sebagai sumber belajar selain materi yang dibelajarakan di kelas.
d. Pengembangan E-book Interaktif
Menurut Henke (2001), sebuah e-book sebaiknya dibuat dengan meniru prototipe buku cetak yaitu dengan menyertakan sebanyak mungkin standar baku format buku cetak. Dengan meniru buku cetak maka pengguna akan belajar menggunakan e-book dan menerima transisi dengan lebih cepat. Selanjutnya Henke (2001) merinci kriteria e-book yang baik adalah yang memiliki fitur-fitur seperti berikut ini:
1) Pencarian (search) yaitu keterampilan untuk mencari kata atau istilah yang ada di dalam e-book tersebut dengan cepat dan akurat.
2) Daftar isi, serta daftar gambar dan daftar tabel, yaitu memuat daftar isi yang dapat diklik untuk langsung menuju bagian tertentu.
3) Judul bab dan sub-bab yaitu judul yang mengindikasikan mulainya bab dan sub-bab yang juga dapat diklik untuk menuju ke bagian yang dimaksud.
4) Highlight yaitu penanda hal-hal (kata-kata) penting .
5) Anotasi yaitu dapat membuat komentar tambahan pada e-book namun tidak mengubah isi teks dan format aslinya.
6) Audio dan video yaitu keterampilan untuk dapat memainkan musik, cuplikan suara, atau video klip.
7) Bookmarks (penunjuk halaman buku) yaitu memungkinkan pengguna untuk menciptakan bookmarks-nya sendiri.
8) Glosarium yaitu kumpulan pengertian atau definisi istilah-istilah khusus.
commit to user
9) Indeks yaitu memuat indeks yang hypertext (dapat diklik langsung untuk menuju ke halaman tertentu di dalam e-book).
10) External links yaitu kemampuan untuk menyediakan tautan ke lokasi internet lain.
Liesaputra dan Witten (2012) mendeskripsikan berbagai fitur agar e-book yang dibuat dapat menyamai atau bahkan melebihi buku cetak yaitu dengan memiliki berbagai fitur navigasi dalam e-book seperti pencarian otomatis, pembalikan halaman, penanda lokasi virtual, bookmark dan anotasi. Selain itu, sangat dimungkinkan untuk menggabungkan berbagai keunggulan lingkungan digital seperti hyperlinks (tautan langsung), multimedia, identifikasi persamaan arti kata (sinonim) secara otomatis, referensi silang istilah kunci dengan ensiklopedia online, dan secara otomatis dapat membuat indeks di akhir buku.
Multimedia interaktif adalah teknologi dinamis yang memerlukan input tertentu dari pengguna untuk menyampaikan sekumpulan informasi melalui teks, grafis, image, atau video. Biasanya aplikasi multimedia interaktif dirancang untuk menampilkan hasil tertentu dan memberikan umpan balik dengan cepat. Seperti multimedia interaktif, maka ebook interaktif merupakan media gabungan yakni cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi dengan menggabungkan beberapa bentuk media seperti teks, gambar, audio-video, animasi dll yang dikendalikan oleh komputer (Arsyad, 2011).
Penambahan multimedia interaktif ke dalam e-book harus memenuhi beberapa syarat agar menghasilkan pembelajaran yang efektif dan bermakna.
Pengembang software pembelajaran harus mengetahui prinsip-prinsip dalam mendisain multimedia pembelajaran. Mayer (2009) mengungkapkan beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam pengembangan multimedia yaitu: 1) prinsip multimedia, 2) prinsip kedekatan ruang, 3) prinsip keterdekatan waktu, 4) prinsip koherensi, 5) prinsip modalitas, 6) prinsip redudansi, dan 7) prinsip perbedaan individu.
Selain menguasai prinsip-prinsip dasar pembuatan multimedia pembelajaran, pengembang multimedia harus mempertimbangkan kriteria kualitas
commit to user
multimedia yang dihasilkan sebelum digunakan. Thorn (1995) mengemukakan enam kriteria yang harus dipenuhi dalam mengevaluasi multimedia interaktif.
Yang pertama adalah kemudahan penggunaan dan navigasi. Sebuah program perlu dirancang sesederhana mungkin sehingga siswa tidak kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan. Yang kedua adalah beban kognitif dimana pengguna perlu menguasai isi, struktur, dan cara kerja program dengan baik.
Program harus intuitif sehingga akan bekerja sesuai dengan harapan pembuatnya.
Yang ketiga adalah cakupan pengetahuan dan presentasi informasi. Yang keempat adalah integrasi media dimana multimedia perlu digabungkan untuk menghasilkan pembelajaran bermakna. Yang kelima adalah aspek estetika yang dimaksudkan untuk menarik minat siswa. Yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan.
Program yang dikembangkan harus dapat memberikan pembelajaran sebagaimana diharapkan oleh siswa. Artinya, ketika selesai menggunakan program tersebut maka siswa akan merasa telah belajar sesuatu.