A. Teori – teori Terkait dengan Penelitian
3. E – Government
a. Pengertian E – Government
E – government adalah sistem teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dimiliki atau dioperasikan pemerintah yang mengubah hubungan dengan warga negara, sektor swasta dan/atau lembaga pemerintah lainnya untuk mempromosikan pemberdayaan warga negara, meningkatkan penyampaian layanan, memperkuat akuntabilitas, meningkatkan transparansi, atau meningkatkan efisiensi pemerintah (World Bank, 2002). Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) e – government didefinisikan sebagai memanfaatkan internet dan world-wide-web untuk menyampaikan informasi dan layanan pemerintah kepada warga negara. Dialog Bisnis Global tentang Perdagangan Elektronik (Global Business Dialogue on Electronic Commerce) mendefinisikan pemerintahan elektronik (selanjutnya disebut e – government) mengacu pada situasi di mana lembaga administratif, legislatif dan yudikatif (termasuk pemerintah pusat dan daerah) mendigitalkan operasi internal dan eksternal mereka dan menggunakan sistem jaringan secara efisien untuk mewujudkan
20 kualitas yang lebih baik dalam penyediaan layanan publik (Thornton, 2014). Jaringan Administrasi Publik PBB (UNPAN) memberikan gambaran tentang e – government sebagai kerangka kerja konseptual yang tertanam dalam paradigma pembangunan manusia dan sosial.
Dalam hal itu, e – government mencakup kapasitas dan kemauan sektor publik untuk menggunakan TIK untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi untuk layanan warga negara (Tintin et al., 2018).
Jadi dapat dikatakan bahwa e – government merupakan penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dalam pelaksanaan pelayanan publik sehingga dapat mempermudah hubungan antara pemerintah kepada masyarakat, pebisnis, ataupun dalam pemerintah itu sendiri. E – government yang dalam pelaksanaannya memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya meliputi (Indrajit et al., 2006):
1) Government to Citizen (G2C) merupakan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat yang bertujuan untuk dapat memperbaiki hubungan interaksi diantara pemerintah dnegan masyarakat. Selain itu hal ini juga mempermudah masyarakat di dalam mencari berbagai infromasi mengenai pemerintahan.
2) Government to Business (G2B) adalah tipe hubungan pemerintah dengan bisnis dimana relasi ini sangat penting untuk membentuk lingkungan bisnis yang kondusi sehingga kemudahan berbisnis masyarakat dari kalangan pebisnis. Dimana kalangan pebisnis ini lah yang menjadi salah satu roda perekonomian sebuah negara.
21 3) Government to Government (G2G) adalah tipe hubungan antar pemerintah yang bertujuann agar dapat memenuhi berbagai macam informasi yang dibutuhkan diantara pemerintah yang satu dengan yang lainnya. Selain itu hubungan ini juga dapat memperlancar sebuah kerjasama diantara pemerintah – pemerintah.
4) Government to Employees (G2E) merupakan hubungan antar pemerintah dengan pegawainya yang harus dijaga agar para pegawai pemerintah dapat meningkatkan kinerja dan kesejahteraannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelanan masyarakat disalah satu institusi pemerintah.
5) Government to Non-Profit (G2N) merupakan hubungan antara pemerintah dengan lembaga atau institusi non – profit seperti NGO, Partai Politik, dan sebagainya. Dimana bertujuan untuk mewujudkan tujuan lembaga atau institusi tersebut sesuai fungsi dan wewenangnya masing – masing dengan pengelolaan lembaga atau institusi secara baik.
E – government memberi manfaat dalam peningkatan kualitas layanan publik dan memperbaiki proses transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat (Indrajit et al., 2006). Beberapa manfaat yang diharapkan dari implementasi konsep e – government dilihat dari berbagai sisi antara lain sebagai berikut (Cahyadi, 2003).
22 1) Dari sisi lembaga (organisasi), manfaat yang dapat dirasakan antara lain penghematan biaya dalam melayani masyarakat yang seperti, penghematan dalam pemakaian kertas (paperless transaction), sumber daya manusia (office automation), dan waktu. Selain itu juga meningkatkan kemampuan lembaga pemerintah dalam tukar-menukar informasi dan data (information sharing).
2) Dari sisi masyarakat (konsumen), manfaat yang diterima masyarakat berupa pelayanan dan pemberian informasi yang lebih cepat, akses yang cepat terhadap dokumen dan formulir elektronik, pelayanan masyarakat yang terus-menerus (24 jam sehari), menimbulkan kemampuan melayani diri sendiri (self – service), meningkatnya kemampuan untuk””mencari informasi karena meluasnya akses terhadap informasi.
b. Mengukur E – Government
E – government sendiri diukur dengan menggunakan Indeks Pengembangan E – Government atau E – Government Development Index (EGDI). Indeks Pengembangan E – Government ini dibuat oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) yang merupakan indikator gabungan yang mengukur kemauan dan kapasitas administrasi nasional untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan publik. Indikator gabungan tersebut terdiri dari
23 tiga indkes yaitu Indeks Layanan Online, Indeks Infrastruktur Telekomunikasi, dan Indeks Modal Manusia. Hal ini didasarkan pada survei yang komprehensif dari kehadiran online dari semua 193 negara anggota, yang menilai fitur teknis dari website nasional serta kebijakan dan strategi yang diterapkan pada umumnya e – government dan sektor – sektor tertentu untuk pengiriman layanan penting (United Nation, 2012).
Penilaian yang dilakukan oleh United Nation Department of Economic and Social Affairs (UNDESA) memberi peringkat pada kinerja e – government dari negara – negara relatif satu sama lain, dan bukannya menjadi ukuran absolut. Secara matematis, EGDI adalah rata – rata tertimbang dari tiga skor yang dinormalisasi pada dimensi paling penting dari e – government, yaitu: ruang lingkup dan kualitas layanan online (Online Services Index), status pengembangan infrastruktur telekomunikasi (Infrastructure Telecommunication Index), dan sumber daya manusia yang melekat (Human Capital Index) (United Nation, 2012). Berikut merupakan persamaan pembentukan EGDI.
𝐸𝐺𝐷𝐼 = (1 3⁄ ∗ 𝑂𝑆𝐼) + (1 3⁄ ∗ 𝑇𝐼) + (1 3⁄ ∗ 𝐻𝐶𝐼) Dimana :
OSI : Online Services Index
ITI : Infrastructure Telecommunication Index HCI : Human Capital Index
24 c. Hubungan E – Government Terhadap Korupsi
Pengadopsian e – government dan TIK memiliki pengaruh yang positif dalam pengurangan korupsi di ASEAN (Hartani et al., 2020).
Berkembangnya teknologi dan informasi e – government merupakan salah satu inisiatif yang dilakukan pemerintah untuk menekan tindak korupsi dan mempromosikan transparansi. TIK yang dalam penggunaannya dianggap sebagai cara yang dapat menghemat biaya dan nyaman untuk mengurangi intervensi yang tidak diperlukan oleh pejabat publik yang dapat menyalahgunakan kekuasaannya. Selain itu penggunaan TIK juga dapat membantu memantau jalannya pelayanan publik sehingga lebih terbuka dan transparan dalam memberikan informasi dan layanan publik. Terdapat penelitian yang mengatakan bahwa pengadopsian internet dapat mengurangi korupsi (Lio et al., 2011). Dengan adanya e – government yang mempromosikan transparasi dalam pelayanan publik sehingga meningkatkan kepercayaan masayarakat kepada pemerintah, pencegahan korupsi, kualitas pengambilan keputusan, keakuratan informasi pemerintah, dan fungsi lain (John C. Bertot et al., 2010).