Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor
DAFTAR LAMPIRAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. E Lpj sebagai Bentuk Pengimplementasian SIA
E–LPJ BP/BPP dirancang sebagai suatu sistem yang terintegrasi antara aplikasi LPJ BP dengan aplikasi LPJ BPP dengan menggunakan basis internet/web dengan sistem keamanan data yang terkontrol oleh server dengan menggunakan user dan password untuk masing-masing bendahara atau user pada saat ingin menginput data. Tujuan utama dari pengembangan aplikasi ini adalah selain untuk meminimalisir kekurangan sistem manual juga untuk mempermudah BP dan BPP dalam menyusun laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan yang lebih akurat dan cepat. Dengan E–LPJ BP/BPP ini, BPP hanya akan menginput transaksi dengan mengakses sistem dan database melalui internet, kemudian sistem akan secara otomatis melakukan penjurnalan ke buku-buku terkait. Kemudian, sistem juga akan secara otomatis membuat LPJ BPP dan laporan yang berisi informasi keuangan lainnya. Bendahara pengeluaran memiliki wewenang
untuk bisa mengakses ke semua pembukuan BPP (17 BPP) namun tidak sebaliknya, karena BPP hanya diperbolehkan untuk memiliki satu username
dan password. Pengaksesan ke dalam sistem pun dapat dilakukan kapan saja secara real time. Gambar penyusunan LPJ BPP dengan menggunakan e-LPJ BP/BPP secara garis besar adalah sebagai berikut:
Gambar 4. Penyusunan LPJ BPP dengan aplikasi e – LPJ BP/BPP (2012)
Hingga saat ini, aplikasi LPJ BP dan BPP masih dalam tahap percobaaan dan dikembangkan secara bertahap dan paralel. BPP masih menggunakan sistem manual, sedangkan Bagian Keuangan masih dalam proses finalisasi. Dalam mengembangkan aplikasi tersebut, Bagian Keuangan lebih berfokus kepada pengembangan aplikasi LPJ BPP terlebih dahulu baru kemudian aplikasi LPJ BP, karena BPP berada di unit akuntansi terkecil yang mengelola transaksi ekonomi sehari-hari.
1. Penginputan data. Pada tahap ini transaksi ekonomi telah digolongkan per jenis transaksi sesuai dengan sifat dan karakteristik transaksi. Setiap jenis transaksi telah dilakukan otomatisasi jurnal dengan alur pembukuan sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharanaan Nomor: PER-47/PB/2009. Ketika BPP memilih jenis transaksi, maka akan terjadi jurnal di buku-buku pembantu terkait secara otomatis. Adapun jenis transaksi dan alur pembukuan adalah seperti Gambar 5.
Gambar 5.Jenis transaksi dan alur pembukuan dari aplikasi (Bagian Keuangan Biro Umum, 2012 ).
2. Pengubahan data. Menu ini digunakan untuk mengubah data yang sebelumnya telah diinput kedalam sistem. Menu ini juga digunakan
untuk melengkapi data seperti menambah informasi bahwa transaksi tersebut sudah diterbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) pada transaksi pertanggungjawaban UP atau mengedit profile.
3. Penghapusan data. Menu ini digunakan untuk menghapus data yang salah yang telah tersimpan dalam database, misalnya menghapus data yang terdeteksi terjadi penginputan berulang. 4. Penyusunan pembukuan. Menu ini digunakan untuk membuat LPJ
BPP, yang data dasarnya berasal dari hasil penginputan transaksi secara otomatis dan saldo kas bank dan tunai yang diinput secara manual berdasarkan kondisi nyata.
Penggunaan e-LPJ BP/BPP ini sangat memudahkan BPP dalam melakukan pembukuan. Namun sistem ini tetap memerlukan pengetahuan, ketelitian dan kehati-hatian dari BPP, karena kunci dari keakuratan penyusunan LPJ BPP dengan sistem ini adalah pada saat BPP memilih jenis transaksi. Ketika BPP salah memilih jenis transaksi maka akan berakibat kesalahan pada buku-buku pembantu lainnya dan menyebabkan informasi yang salah pada LPJ BPP. Oleh karena itu BPP harus tetap diberikan pengetahuan tentang konsep dasar akuntansi terkait penyusunan LPJ BPP ini.
Aplikasi e – LPJ BP/BPP memiliki fitur- fitur lain selain pembukuan inti yang membuatnya lebih unggul dari sistem manual, yaitu:
1. Fitur kas dan profile. Fitur ini memberikan gambaran lebih rinci mengenai profil BPP seperti no SK dan tanggal pengangkatan, informasi DIPA Kementerian dan penjelasan selisih LPJ. Informasi dalam dalam fitur ini akan digunakan sebagai informasi dalam LPJ BPP
2. Fitur lihat transaksi. Fitur ini digunakan untuk melihat seluruh transaksi yang telah diinput.
3. Fitur SPTB. Fitur ini hanya digunakan untuk jenis transaksi pertanggungjawaban UP dan pertanggungjawaban TUP. Fitur ini mempermudah BPP jika ingin mencetak SPTB UP/TUP
4. Fitur Buku Besar. Fitur ini digunakan untuk menampilkan seluruh transaksi pada BKU dan buku pembantu secara perbulan.
5. Fitur Buku Cek. Fitur ini digunakan untuk melihat daftar transaksi berdasarkan nomor cek. Melalui fitur ini kita dapat melakukan rekonsiliasi dengan rekening Koran untuk melihat cek – cek yang masih beredar.
6. Fitur cari SPP. Fitur ini digunakan untuk melihat transaksi berdasarkan nomor SPP
7. Fitur saldo Pembukuan. Fitur ini digunakan untuk melihat saldo per bulan dari BKU dan buku pembantu lainnya secara umum
8. Fitur print. Fitur ini digunakan untuk mencetak berbagai laporan seperti LPJ BPP, BKU dan buku-buku pembantu
9. Fitur export. Fitur ini digunakan untuk mengubah data kedalam bentuk file excel.
10. Fitur logout. Fitur ini digunakan untuk keamanan data ketika keluar dari aplikasi
Adapun Fitur –fitur yang terdapat pada aplikasi LPJ BPP seperti terlihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 6. Menu aplikasi LPJ BPP (bagian keuangan Biro Umum, 2012) E – LPJ BP/BPP sebagai bentuk implementasi SIA di Kementerian PPN/Bappenas diharapkan akan memberikan nilai lebih bukan hanya
kepada BP ataupun BPP tetapi juga kepada Kementerian PPN/Bappenas mengingat informasi keuangan yang diberikan lebih banyak dan beragam dan keakuratan pembukuan LPJ BPP yang dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan yang secara langsung menggambarkan pengelolaan keuangan negara di Kementerian PPN/Bappenas.
Gambar 7.Hubungan LPJ BPP, LPJ BP dan laporan keuangan (data diolah, 2012).
Selain hal tersebut diatas, berikut adalah kelebihan-kelebihan e - LPJ BP/BPP antara lain:
1. One time data entry. Hal ini menimbulkan efisiensi dalam penyusunan LPJ BPP, karena BPP tidak perlu untuk melakukan penginputan berulang atas transaksi yang sama dalam buku-buku pembantu
2. Penjurnalan secara otomatis oleh sistem dapat meminimalisir kesalahan penjurnalan pada buku-buku pembantu terkait
3. Adanya validasi data dapat meminimalisir kesalahan penulisan huruf dan angka
4. Standardisasi format membuat format pembukuan di seluruh BPP sama (format angka, tulisan, laporan)
5. Menghasilkan informasi keuangan yang lebih beragam, cepat akurat dan dapat diakses secara real time
6. Keamanan data lebih terkontrol. Password dan username seluruh BPP hanya dibuat oleh BP dan penggantian Password dan username harus melalui persetujuan BP. Selain itu juga ada enkripsi data untuk menjaga kerahasiaan data
7. BP memiliki data akses atas siapa saja yang mengakses sistem 8. Setiap perubahan dalam sistem terdokumentasi dengan baik. Setiap
terjadi eror maka sistem secara otomatis akan mengeluarkan notifikasi
9. Menghasilkan laporan LPJ BPP yang lebih akurat dan laporan lainnya yang lebih terstruktur
10. Meningkatkan pengendalian internal BP atas pembukuan yang dilakukan BPP. BP dapat kapan saja melihat progress pembukuan BPP
11. Sebagai recovery plan, database di back up setiap seminggu sekali dalam komputer Bagian Keuangan
12. Mempercepat penyusunan LPJ BPP karena otomatisasi sistem 13. Biaya yang lebih murah karena meminimalisir penggunaan kertas Selain kelebihan-kelebihan diatas, sistem ini masih terdapat beberapa kelemahan dan resiko yang harus dihadapi, yaitu:
1. E- LPJ BP/BPP merupakan sistem informasi akuntansi yang sarat teknologi. Kemajuan teknologi yang berkembang pesat menuntut komitmen yang tinggi untuk mampu beradaptasi dengan cepat dari pengelola dan pengguna sistem.
2. Terdapat transaksi yang merujuk pada data yang sama sehingga kemungkinan terjadi data berulang, misalnya transaksi A merujuk pada SP2D x dan cek x, begitu juga transaksi B merujuk pada SP2D x dan cek x.
3. Otomatisasi sistem dikhawatirkan akan membuat operator sedikit memiliki keinginan untuk mempelajari konsep dasar akuntansi yang menjadi dasar pembuatan jurnal-jurnal pada sistem ini. 4. Rentan terhadap kehilangan data secara keseluruhan
Secara umum, dengan membandingkan biaya dan manfaat dari pengembangan e- LPJ BP/BPP, aplikasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih bagi BP dan BPP pada khususnya dan Kementerian PPN/Bappenas pada umumnya. E – LPJ BP/BPP diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara yang transparan dan akuntabel pada Kementerian PPN/Bappenas. E – LPJ BP/BPP juga diharapkan mampu meningkatkan kepuasan internal terhadap pelayanan umum yang sejalan dengan salah satu prioritas nasional yang ditetapkan dalam RPJMN 2010 – 2014 yaitu reformasi birokrasi dan tata kelola
4.3. Evaluasi Sistem Aplikasi LPJ BP/BPP
Evaluasi atas sistem aplikasi LPJ BP/BPP dilakukan melalui analisis data kuantitatif dan data kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dan data kualitatif dilakukan untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi aktual sesuai dengan lingkup evaluasi. Sinergi antara analisis data kuantitatif dan data kualitatif diharapkan mampu menghasilkan kesimpulan evaluasi yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun populasi dari kegiatan evaluasi ini adalah seluruh pengguna aplikasi LPJ BP/BPP yaitu seluruh BPP yang berada di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas yang berjumlah 17 orang.
Tabel 3. Daftar BPP Kementerian PPN/Bappenas TA 2012
No. Pengguna (BPP) Username
1 Dukungan M anajem en I Set men PPN/ Set t am a Bappenas dm1 2 Dukungan M anajem en II Setm en PPN/ Set t am a Bappenas dm2 3 Dukungan M anajem en III Setm en PPN/ Set t am a Bappenas dm3 4 Dukungan M anajem en IV Set men PPN/ Set t am a Bappenas dm4 5 Program Peningkat an Sarana dan Prasarana p2spab 6 Program Peningkat an Pengaw asan dan Akuntabilit as Aparat ur p2a2 7 Kedeput ian Bidang SDM dan Kebudayaan sdm k 8 Kedeput ian Bidang Polhukhankam polhukhankam 9 Kedeput ian Bidang Kem iskinan, Ket enagakerjaan dan UKM kukm
10 Kedeput ian Bidang Ekonomi ekonom i
11 Kedeput ian Bidang SDA LH sdalh
12 Kedeput ian Bidang Sarana dan Prasarana sarpras 13 Kedeput ian Bidang Pengem bangan Regional dan Ot da ot da 14 Kedeput ian Bidang Pendanaan Pem bangunan pendanaan 15 Kedeput ian Bidang Evaluasi Kinerja Pem bangunan ekap 16 Pengelolaan Sum ber Daya Air Terpadu psdat 17 Kegiat an Infrastruct ure Reform Sect or Development project (IRSDP) Loan ADB irsdp
4.3.1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yang digunakan dalam evaluasi ini diambil dari database sistem aplikasi LPJ BP/BPP dengan menggunakan admin administrator. Data tersebut adalah sebagai berikut:
1) Jumlah pengguna yang login ke dalam aplikasi LPJ BP/BPP sejak bulan April – September 2012
2) Jumlah penggunaan aplikasi LPJ BP/BPP sejak bulan April – September 2012
Berdasarkan database sistem aplikasi LPJ BP/BPP per 30 September 2012, seluruh BPP (17 BPP) pernah melakukan login ke dalam sistem aplikasi LPJ BP/BPP, namun frekuensi login per BPP bervariasi selama bulan April hingga September 2012.
Gambar 8. Grafik Frekuensi Login Per BPP April s.d September 2012
Berdasarkan grafik diatas, BPP Pendanaan adalah BPP yang frekuensi loginnya paling tinggi selama bulan April – September 2012 yaitu sebanyak 133 kali atau rata-rata 22 kali login sebulan, sedangkan BPP ekap adalah BPP yang paling rendah frekuensi loginnya yaitu
47 20 32 1018 656072 40 19 47 18 58 133 9 55 14 0 20 40 60 80 100 120 140 d m 1 d m 2 d m 3 d m 4 p 2 sp a b p 2 a 2 sd m k p o lh u k h a n k a m k u k m e k o n o m i sd a lh sa rp ra s o td a p e n d a n a a n e k a p p sd a t ir sd p Frekuensi Login
sebanyak 9 kali selama bulan April – September 2012 atau rata-rata 2 kali login dalam sebulan.
Tabel 4. Rata- Rata Frekuensi Login Per Bulan
Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat bahwa sekitar 41% pengguna melakukan login ke dalam aplikasi LPJ BP/BPP rata-rata kurang dari 4 kali dalam sebulan. Hal ini menunjukkan masih terjadi penumpukan pekerjaan dengan tidak menginput transaksi kedalam aplikasi LPJ BP/BPP secara mingguan.
Selanjutnya, parameter analisis jumlah penggunaan aplikasi LPJ BP/BPP adalah dengan melihat jumlah BPP yang telah menyelesaikan LPJ bulan April hingga September 2012.
Tabel 5. Penyelesaian LPJ Per Bulan
No. BPP Username rata-rata/ bulan
1 Dukungan M anajemen I Setmen PPN/ Set tama Bappenas dm1 8 2 Dukungan M anajemen II Setmen PPN/ Set t ama Bappenas dm2 3 3 Dukungan M anajemen III Set men PPN/ Set t ama Bappenas dm3 5 4 Dukungan M anajemen IV Setmen PPN/ Set t ama Bappenas dm4 2 5 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana p2spab 3 6 Program Peningkatan Pengaw asan dan Akunt abilit as Aparat ur p2a2 11 7 Kedeput ian Bidang SDM dan Kebudayaan sdmk 10 8 Kedeput ian Bidang Polhukhankam polhukhankam 12 9 Kedeput ian Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan UKM kukm 7
10 Kedeput ian Bidang Ekonomi ekonomi 3
11 Kedeput ian Bidang SDA LH sdalh 8
12 Kedeput ian Bidang Sarana dan Prasarana sarpras 3 13 Kedeput ian Bidang Pengembangan Regional dan Ot da otda 10 14 Kedeput ian Bidang Pendanaan Pembangunan pendanaan 22 15 Kedeput ian Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan ekap 2 16 Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu psdat 9 17 Kegiatan Infrastruct ure Reform Sect or Development project (IRSDP) Loan ADB irsdp 2
4.3.2 Data Kualitatif
Metode pengambilan data kualitatif dalam evaluasi sistem apliaksi LPJ BP/BPP dilakukan melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD). Pemilihan pengambilan data kualitatif melalui FGD dilakukan dengan pertimbangan kelebihan-kelebihan pelaksanaan FGD antara lain sebagai berikut:
1) FGD memberikan kemudahan dan peluang untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta pengalaman yang dimiliki oleh informan (BPP)
2) FGD memungkinkan adanya diskusi intensif dan tidak kaku dalam membahas isu-isu yang sangat spesifik
3) FGD memungkinkan pengumpulan informasi secara cepat dan konstruktif dari peserta FGD yang memiliki latar belakang berbeda- beda
4) FGD memungkinkan adanya dinamika kelompok yang terjadi selama berlangsungnya proses diskusi dan seringkali memberikan informasi yang penting, menarik, bahkan kadang tidak terduga.
Namun demikian, arti penting FGD bukan terletak pada hasil representasi populasi, tetapi pada kedalaman informasinya. Melalui pelaksanaan FGD, dapat diketahui alasan, motivasi, argumentasi atau dasar dari pendapat seseorang atau kelompok.
4.3.3 Pelaksanaan FGD
Pelaksanaan FGD diadakan selama 2 hari di ruang rapat Bagian Keuangan Biro Umum pada tanggal 22 s.d 23 Oktober 2012. Populasi peserta FGD adalah seluruh BPP di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas yang berjumlah 17 orang. Dalam pelaksanaanya, peserta FGD dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Pengelompokkan dilakukan secara terstruktur berdasarkan tingkat keseringan BPP melakukan login ke dalam aplikasi LPJ BP/BPP selama bulan
April hingga September 2012. Berikut adalah kriteria pengelompokkan peserta FGD:
Tabel 6. Kategori Pengelompokkan
Frekuensi Login April s.d September 2012 Kategori
> 55 kali Sering sekali
31 kali - 55 kali Sering
≤ 30 kali Jarang
Pengelompokkan terstruktur ini diharapkan dapat menciptakan diskusi intensif yang menarik dan konstruktif. Berdasarkan kategori pengelompokkan tersebut, maka kelompok FGD adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Kelompok FGD
4.3.4 Analisis Hasil FGD
Berdasarkan FGD yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober, berikut adalah analisis hasil FGD yang dapat dibagi dalam dua aspek, yaitu:
1) Aspek Pengguna a. Beban pekerjaan
Berdasarkan diskusi dalam forum FGD didapat informasi bahwa terdapat beberapa BPP yang bukan hanya melakukan pembukuan LPJ tetapi juga mengerjakan pekerjaan lain seperti penginputan data ke beberapa aplikasi lainya seperti aplikasi Sakpa, aplikasi persediaan,
BPP Kelompok Kategori
Kedeputian Bidang Pendanaan Pembangunan Kelompok 1 Sering sekali login Dukungan M anajemen III Setm en PPN/ Sett ama Bappenas Kelompok 1 Sering login Kedeputian Bidang SDA LH Kelompok 1 Sering login Kedeputian Bidang Ekonomi Kelompok 1 Jarang login Kegiat an Infrastruct ure Reform Sect or Developm ent project (IRSDP) Loan ADB Kelompok 1 Jarang login Program Peningkat an Sarana dan Prasarana Kelompok 1 Sering sekali login Kedeputian Bidang Polhukhankam Kelompok 2 Sering sekali login Kedeputian Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Kelompok 2 Jarang login Kedeputian Bidang Sarana dan Prasarana Kelompok 2 Jarang login Dukungan M anajemen I Set men PPN/ Set t am a Bappenas Kelompok 2 Sering login Pengelolaan Sum ber Daya Air Terpadu Kelompok 2 Sering login Kedeputian Bidang Pengembangan Regional dan Ot da Kelompok 2 Sering sekali login Kedeputian Bidang SDM dan Kebudayaan Kelompok 3 Sering sekali login Dukungan M anajemen II Set men PPN/ Set t ama Bappenas Kelompok 3 Jarang login Program Peningkat an Pengaw asan dan Akunt abilitas Aparatur Kelompok 3 Sering sekali login Kedeputian Bidang Kemiskinan, Ket enagakerjaan dan UKM Kelompok 3 Sering login Dukungan M anajemen IV Set men PPN/ Set t ama Bappenas Kelompok 3 Jarang login
aplikasi Simak BMN. Hal ini menurut BPP dapat menghambat pekerjaan BPP dalam melakukan penginputan data ke aplikasi LPJ BP/BPP. Oleh karena itu, terdapat beberapa BPP yang jarang menggunakan aplikasi LPJ BP/BPP atau menumpuk penginputan transaksi ke dalam aplikasi LPJ BP/BPP. Manajemen waktu yang kurang baik tentu saja dapat menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya human eror dalam penginputan transaksi.
Tabel 8. Kelompok FGD yang mengerjakan beberapa aplikasi
b. Peraturan
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharanaan Nomor: PER- 47/PB/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja menyatakan bahwa bendahara wajib melakukan rekonsiliasi LPJ BP paling lambat 10 hari kerja bulan berikutnya. Berdasarkan peraturan tersebut, dapat dikatakan bahwa tidak ada peraturan yang mengikat BPP untuk menyelesaikan LPJ BPP secara tepat waktu, karena LPJ yang direkonsiliasi dengan pihak KPPN adalah LPJ BP bukan LPJ BPP. Tidak adanya peraturan dan sanksi yang mengikat kepada BPP atas keterlambatan penyampaian
LPJ BPP kepada BP menjadi salah satu faktor penyebab adanya beberapa LPJ BPP yang belum selesai.
c. Pendidikan
Berdasarkan informasi yang didapat dalam forum FGD diketahui bahwa tidak semua BPP memiliki latar belakang akuntansi. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi BPP dalam memahami alur akuntansi serta penjurnalan yang terjadi dalam sistem aplikasi LPJ BP/BPP. Kurang pemahaman BPP atas alur akuntansi menyebabkan BPP tidak dapat melakukan koreksi sendiri apabila terjadi system error yang menyebabkan kesalahan jurnal transaksi. Seperti halnya kurang pemahamannya dalam transaksi pengembalian dan pertanggung jawaban uang muka, kebingungan mengenai pemotongan dan pembayaran pajak.
2) Aspek Perangkat/Aplikasi a. Keraguan Teknologi
Berdasarkan diskusi dalam forum FGD diketahui bahwa adanya keraguan dan kekhawatiran BPP akan kehilangan data yang telah diinput dalam sistem aplikasi LPJ BP/BPP. Kekhawatiran tersebut memicu beberapa BPP untuk tetap mennyusun LPJ BPP secara manual dalam format excel. Penginputan transaksi secara ganda tersebut (manual dan menggunakan aplikasi) tentu saja mengurangi esensi dibuatnya aplikasi LPJ BPP yang diharapkan dapat memberikan efisiensi pekerjaan kepada BPP. Namun sebenarnya pada aplikasi LPJ BPP sudah di buatkan fitur export data dalam format excel, hanya saja masih sederhana dan tidak otomatis export data secara keseluruhan. b. Fitur Aplikasi
Berdasarkan hasil FGD diketahui beberapa kebutuhan pengembangan fitur-fitur yang ada dalam aplikasi LPJ BP/BPP sebagai berikut:
a) Fitur export data keseluruhan. Fitur ini dibutuhkan BPP sebagai bukti dukung dalam pemeriksaan oleh auditor eksternal. Dari mulai
pembukan sampai dengan format LPJ dan Berita acara pemeriksaan kas.
b) Fitur input transaksi. Untuk menu inputasi transaksi dibuat lebh mudah, seperti menyortir nomor cek yang sudah di input sebelumnya pada saat input data baru
c) Fitur edit profile. Pada menu ini perlu dipisah menjadi dua: 1) tanggal pembukuan, uang tunai ,uang bank, penjelasan selisih pada ljp dan berita acara serta tanggal pengesahan yang harus di input setiap bulannya; 2) tanggal dan no sk bpp dan ppk, pejabat pembuat komitmen, bendahara pengeluaran pembantu, nip, fungsi, sub fungsi, program, kegitan, dan sub kegiatan dibuat hanya 1 kali inputan dan bisa di edit jika data akan di rubah.
d) Fitur SPTB. Bahwa fitur sptb itu dinilai tidak efisien karena mereka jadi dua kali bekerja, dan saran nya di tambah menu untuk SPP agar lebih mempermudah dan fitur SPTB pun akan lebih berguna.
e) Fitur “cari SP2D”. Fitur ini dibutuhkan untuk mencara data dari nomor sp2d yang telah di input sebelumnya.
4.3.5 Rencana Aksi
Berdasarkan hasil analisis FGD, disusun suatu rencana aksi untuk mengakomodir kendala dan saran yang konstruktif untuk pengembangan aplikasi LPJ BP/BPP sebagai berikut:
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
LPJ BP/BPP pada Kementerian PPN/Bappenas hingga saat ini masih disusun secara manual. Namun, dengan kelemahan yang timbul pada sistem manual ini, maka Bagian Keuangan Biro Umum mencoba mengembangkan
e-LPJ BPP yang berbasis internet, terintegrasi, penjurnalan yang terotomatisasi dan menghasilkan informasi keuangan yang beragam dan dapat diakses secara real time. e-LPJ BPP merupakan suatu bentuk sistem informasi akuntansi yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara yang lebih transparan dan akuntabel.
Evaluasi atas sistem aplikasi LPJ BP/BPP dilakukan melalui analisis data kuantitatif dan data kualitatif, Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan pelaksanaan FGD. Pemilihan metode FGD dilakukan karena beberapa kelebihan FGD diantaranya kemudahan dan peluang untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta pengalaman yang dimiliki oleh informan
Berdasarkan hasil FGD dan analisis data kuantitatif dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan sistem aplikasi LPJ BP/BPP belum optimal. Hal ini dikarenakan adanya bebrapa kendala dari aspek pengguna maupun aspek perangkat. Untuk mengoptimalkan penggunaan sistem aplikasi LPJ BP/BPP maka disusun suatu rencana aksi untuk mengakomodir kelemahan sistem aplikasi yang berjalan dan mengakomodir saran-saran yang