1. PENDAHULUAN
2.5. Ecological Footprint (EF)
Wackernagel dan Ress (1996) mendefinisikan Ecological Footprint (EF)
sebagai area dari ruang produktif ekologi dalam beberapa kelas (termasuk area laut) yang akan diperlukan pada basis keberlanjutan, yaitu (1) untuk menyediakan semua konsumsi energi dan material sumberdaya dan (2) untuk menyerap semua limbah yang dibuang oleh populasi dengan teknologi yang digunakan. Basis
konseptual EF dimulai dari dasar pemikiran bahwa seseorang bergantung pada
biosphere untuk tetap menyuplai kebutuhan dasar untuk hidup; energi untuk
penghangat dan mobilitas; kayu untuk rumah; produk furnitur dan kertas, serat untuk pakaian; kualitas makanan dan air untuk kesehatan hidup; penyerapan secara ekologi untuk menyerap limbah; dan banyak jasa pendukung kehidupan non konsumsi (Wackernagel dan Yount 1998; Ferguson 1999; Chamber et al.
2001).
Konsep EF bisa dikatakan sebagai sebagai sebuah metode untuk meningkatkan kesadaran dari dampak manusia pada penderitaan (Moffat 2000). Secara perspektif ekologi, salah satu strategi yang dilakukan untuk tujuan keberlanjutan pemanfaatan melalui penilaian terhadap sumberdaya alam. Pendekatan yang digunakan dalam penilaian sumberdaya melalui analisis EF. Dasar pemikiran analisis pendekatan ini berasal dari konsep daya dukung
(Carrying Capacity) kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan
manusia. Selain ini, pendekatan EF membantu dalam pengambilan keputusan terhadap pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan (Wackernagel dan Rees 1996; Tavallai dan Sasanpour 2009).
Ide daya dukung sebelumnya banyak dibangun dan diaplikasikan pada studi ekologi. Konsep daya dukung dapat dilihat seperti menetapkan daya dukung lingkungan alam atas sumberdaya, baik lingkungan sosial-ekonomi (populasi, pola konsumsi, dampak manusia, dan lain-lain) yang mempengaruhi daya dukung dari sistem manusia (Wackernagel et al. 1999; Charles 2000). Salah satu indikator
keberlanjutan adalah EF (Charles 2000).
Analisis EF dapat memberikan kita area total yang dibutuhkan populasi dengan standar hidup yang ada. Jika total area yang digunakan oleh populasi lebih kecil dibandingkan total area dalam EF, perbedaan dalam sebuah indikator dari luas area sebenarnya adalah tidak cukup (tidak berkelanjutan) untuk mendukung populasi (Barker 2002; Roth et al. 2000; Wackernagel dan Rees 1996; Charles
2000; Chambers et al. 2001 Wackernagel dan Yount 2000).
Menurut Rees (1996) in Wackernagel dan Yount (1998), analisis EF adalah sebuah indikator berbasis area yang mengkuantitatifkan intensitas manusia memanfaatkan sumberdaya dan aktivitas pembuangan limbah di area khusus
terkait pada kapasitas area yang dimiliki untuk menyediakan aktivitas tersebut. Analisis EF berbasis pada dua asumsi. Pertama, yaitu kemungkinan menjadi daerah pencaharian dari umumnya sumberdaya yang dikonsumsi populasi manusia dan limbah yang dihasilkan populasi. Kedua, yakni sumberdaya dan aliran-aliran limbah dapat dikonversi menjadi sebuah kebutuhan area produktif biotik untuk menyediakan sumberdaya dan untuk mengasimilasi limbah (Wackernagel dan Yount 1998).
Satuan ukur untuk menghitung footprint adalah global hektar (gha). Ini
biasanya hektar yang mewakili rata-rata produksi dari seluruh area bioproduktif bumi. Lebih tepat global hektar adalah satu hektar secara biologis ruang produktif dengan produktivitas rata-rata dunia yang diberikan per tahun (Wackernagel et al.
2006). Menurut Wilson dan Anielski (2005) EF sebagai ukuran permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, jumlah area dan badan air (laut, danau dan sungai) yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan relatif terhadap produksi area lahan dan laut secara biologis yang menyediakan barang dan jasa alam. Ini dilakukan dengan menghitung dan membandingkan konsumsi manusia secara langsung terhadap produktivitas yang terbatas dari alam.
EF bertujuan untuk menggambarkan penyediaan lahan produktif secara biologi oleh individu atau negara dengan menggunakan kesamaan ruang (space equivalents). Pendekatan ini dengan membandingkan area yang dibutuhkan untuk mendukung gaya hidup tertentu dengan area yang ada, sehingga menghasilkan suatu instrumen untuk mengkaji konsumsi yang secara ekologi berkelanjutan (Wackernagel dan Rees 1996; Chamber et al., 2000 in Gössling 2002). Luas area
dapat diambil dari jumlah energi dimana setiap 100 GJ energi setara dengan 1 ha dari lahan ekologi (Tavallai dan Sasanpour 2009).
Secara konseptual maka EF tidak boleh melebihi biocapacity (BC). BC
dapat diartikan sebagai daya dukung biologis atau daya dukung saja. Ferguson (2002) in PKSPL-IPB (2005) mendefinisikan BC sebagai sebuah ukuran
ketersediaan lahan produktif secara ekologis. Sementara itu, daya dukung lingkungan dalam kaitan ini dapat disajikan dalam bentuk jumlah orang yang dapat hidup di lokasi tersebut dan dapat didukung oleh BC yang ada. Daya dukung lingkungan (carrying capacity) adalah total BC dibagi dengan total EF.
Penilaian EF dan BC yang disebut pendekatan ruang ekologis/jejak kaki ekologis diperkenalkan Wackernagel dan Rees tahun 1995, dimana tingkat kebutuhan manusia terhadap sumberdaya alam diterjemahkan kedalam luasan area yang produktif sebagai penyedia sumberdaya dan sebagai tempat mengasimilasi sisa buangan akibat pemanfaatan sumberdaya. Menurut Ferguson (1999) in
Venetoulis dan Talberth (2008) bahwa EF salah satu analisis yang telah digunakan dalam penilaian keberlanjutan dengan membandingkan permintaan sumberdaya suatu populasi dengan produktivitas secara global. Sedangkan Wackernagel dan Loh (2002) in Vanetoulis dan Talberth (2008) menggunakan EF untuk menilai
berapa banyak areal produktif (daratan dan perairan) yang diperlukan oleh perorangan, sebuah kota, satu negara atau suatu masyarakat untuk mengkonsumsi sumberdaya alam. Sebagaimana disebutkan Wilson dan Anielski (2005) bahwa setiap orang akan memanfaatkan ruang/suatu wilayah dalam memenuhi kebutuhan hidup melalui pemanfaatan sumberdaya alam, dengan pendekatan ini digunakan untuk menilai hubungan permintaan (demand) terhadap sumberdaya dan ketersediaan (supplay) sumberdaya yang dikonversi menjadi luas area, sehingga dapat menggambarkan tingkat pemanfaatan sumberdaya telah melebihi atau belum optimal.
Hasil analisis melalui pendekatan ekologi dapat menggambarkan pemanfaatan terhadap sumberdaya belum optimal atau telah melebihi daya dukung ekologi. Meskipun suatu wilayah memiliki ketersediaan sumberdaya alam, tetapi secara lokal dapat mengalami defisit (Schaefer et al. 2006). Menurut
Chamber et al. (2001) defisit ekologi suatu wilayah dimana tingkat kebutuhan
terhadap sumberdaya melebihi kemampuan ekologis wilayah tersebut. Dengan kata lain, jika hasil penilaian EF lebih besar dibandingkan BC, maka kondisi ini disebut defisit.
Wisata berkelanjutan sering dibahas dalam berbagai konteks. Secara khusus, wisata berkelanjutan dipandang sebagai cara untuk mencapai tujuan lingkungan, sosial, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan di lokasi wisata. Pandangan ini mengabaikan tujuan yang berfokus pada kontribusi wisata dengan dampak ekologis keseluruhan wisatawan. Melalui EF, penggunaan sumber daya diperiksa pada tingkat individu dan pilihan spesifik (jenis transportasi, jenis akomodasi,
makanan) yang tercermin dalam footprint pribadi. Jika diukur pada tingkat
individu, pariwisata bisa dianggap sebagai komponen dari gaya hidup yang berkelanjutan, atau sekedar cara lain di mana masyarakat dinilai apakah melebihi batas-batas ekologi. Beberapa artikel akademis telah menyerukan penyelidikan penggunaan EF sebagai alat untuk membandingkan keberlanjutan berbagai jenis pariwisata (Hunter 2002). Tujuan utamanya adalah menentukan bentuk dan ukuran sebuah wisata berkelanjutan. Gagasan ini juga didukung oleh Wackernagel dan Yount (2000) yang menyarankan penggunaan EFuntuk membantu pengambil keputusan dalam mengidentifikasi pilihan berkelanjutan. Gagasan ini diperluas oleh Hunter (2002), yang membuat kasus penggunaan EF untuk memperjelas status berkelanjutan sebuah wisata.
Sebagai contoh, Moffat (2000) menguraikan bahwa keuntungan utama dari konsep EF dari beberapa indikator lain seperti ruang lingkungan adalah konsep yang terlebih dahulu memberi kejelasan, pesan yang jelas dalam suatu format yang mudah dicerna. Kejelasan dari pesan tersebut berupa fungsi penting segala indikator bagi pembuat kebijakan dan publik umum.
Wackernagel et al. (2006) menjelaskan bahwa analisis EF didasarkan pada dua asumsi. Pertama, adalah untuk mengawasi banyaknya sumberdaya yang dikonsumsi pada suatu populasi manusia dan kebanyakan populasi tersebut menghasilkan buangan. Kedua, bahwa sumberdaya disini dan aliran buangannya dapat dikonversi ke suatu area yang produktif untuk keperluan penyediaan sumberdaya dan asimilasi buangan. Setiap proses kehidupan yang hadir memiliki EF dengan ukuran yang berbeda. Pada skala global, manusia secara keseluruhan dapat dibandingkan dengan total kekayaan alam dan jasa yang tersedia. Ketika manusia dalam pemanfaatannya masih didalam kemampuan alam melakukan regenerasi, maka keberlanjutan merupakan konsekuensi logis yang akan didapat.
Pada Pulau Sepanjang, EF dinilai menggunakan metode TEF (Touristic Ecological Footprint). Penghitungan dan analisis EF sebuah tujuan wisata dibuat
dengan membagi dan menghitung konsumsi per kapita dan pekerjaan konstruksi selama tur, yang akhirnya akan dikonversi ke lahan produktif. Jadi pembagian konsumsi (identifikasi komponen) dan akses data merupakan langkah penting untuk TEF (Peng dan Guihua, 2007).
System Resilience
Buffering Redundancy Diversity Learning Social memory Adaptability Spasial heterogeneity
Carrying Capacity Socio-economic limits Ecological limits Pressure/ impacts
Human Activities Equity of access Quality of life
Human choice Population & tourists Limits
Presures
Gambar 6 Keterkaitan EFdengan CC (Wilson dan Anielski 2005)
Menurut pendekatan komponen, item yang dipilih harus mencakup semua konsumsi dan limbah sebagai hasil dari kegiatan wisata. Lebih lanjut dijelaskan bahwa produk dari EF terdiri tujuh komponen utama: makanan, akomodasi, transportasi, wisata, pembelian, hiburan dan limbah.
Setelah didapatkan nilai TEF, kemudian akan dibandingkan dengan nilai BC untuk mendapatkan ukuran daya dukung pulau. Ewing et al. (2010) menyatakan bahwa menghitung BC dimulai dengan menjumlah total bioproduktivitas lahan
yang ada. “Bioproduktif” berhubungan pada lahan dan air yang signifikan
mendukung aktivitas fotosintesis dan akumulasi biomassa, area tandus yang rendah diabaikan, mengurangi produktivitas. Ini tidak untuk mengatakan bahwa area-area seperti Gurun Sahara, Antartika, atau puncak Gunung Alpine tidak mendukung kehidupan; produksi mereka terlalu kecil tersebar luas untuk dipanen secara langsung oleh manusia. BC adalah ukuran agregat dari jumlah lahan yang ada, bobot dari produktivitas lahan tersebut. BC mewakili kemampuan biosphere
untuk menghasilkan tanaman, peternakan (padang rumput), produk kayu (hutan) dan ikan, baik untuk pembuangan carbon dioksida di hutan. BC juga termasuk
seberapa banyak kapasitas regeneratif ini ditempati oleh infrastruktur (lahan bangunan). Singkatnya, BC mengukur kemampuan area daratan dan lautan untuk menyediakan jasa ekologi.
Ecological Footprint Wisata Konsumsi Sumberdaya Kebutuhan Pangan dan Serat Limbah Pemandangan Akomodasi Purchase Transportasi Hiburan Limbah Padat
Gambar 7 Komponen Touristic Ecological Footprint (TEF)