BAB VI PEMBAHASAN
6.2 Efek Pengolesan PRP dan Pajanan UVB terhadap Ekspresi
Hasil penelitian dan analisis data terhadap ekspresi TGF-β1 pada
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan menunjukkan bahwa hasil uji
normalitas (Uji Shapiro Wilk) dan homogenitas (Levene’s test) untuk
kelompok post-test masing-masing kelompok berdistribusi normal dan
homogen (p > 0,05).
Uji perbandingan sebelum diberikan perlakuan antara kedua
kelompok menggunakan uji t-independent. Rerata ekspresi TGF-β1 kelompok
kontrol (pajanan UVB dan aquades)t adalah 0,3120,027 pg/ml dan rerata
kelompok perlakuan (pengolesan PRP dan pajanan UVB) adalah 0,3060,050
pg/ml. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi TGF-β1 antara kelompok kontrol
dengan kelompok perlakuan (p > 0,05). Hal ini berarti bahwa kedua
kelompok sebelum diberikan perlakuan berupa pengolesan PRP dan pajanan
UVB, rerata ekspresi TGF-β1 nya tidak berbeda secara bermakna.
Uji perbandingan dengan pemberian aquades dan pengolesan PRP
sebelum diberikan pajanan UVB antara kedua kelompok menggunakan
t-independent. Rerata ekspresi TGF-β1 kelompok kontrol (pajanan UVB dan
aquadest) adalah 0,2850,022 pg/ml dan rerata kelompok pengolesan PRP
dan pajanan UVB adalah 0,3480,027 pg/ml. Analisis kemaknaan dengan uji
t-independent menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara bermakna
ekspresi TGF-β1 antara kedua kelompok sesudah diberikan aquades dan
pengolesan PRP (p<0,05). Hal ini berarti bahwa kelompok yang diberikan
perlakuan berupa aquadest dan pengolesan PRP sebelum diberikan pajanan
UVB, rerata ekspresi TGF-β1 berbeda secara bermakna. Terjadinya
penurunan ekspresi TGF-β1 sesudah diberikan pajanan UVB dan aquades
pada kelompok kontrol disebabkan karena pajanan UVB merupakan radiasi
ultra violet yang dapat merusak kesehatan kulit melalui penurunan ekspresi
TGF-β1.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa sesudah diberikan pajanan UVB
dan plasebo terjadi penurunan ekspresi TGF-β1 sebesar 8,65%. Ekspresi
TGF-β1 menurun menunjukkan adanya efek buruk kronis dari sinar matahari
yang bertumpuk dengan gejala penuaan kronologis. Radiasi ultraviolet
dengan panjang gelombang 100-400 nm merupakan 5% dari seluruh radiasi
sinar yang ada (Rigel dkk., 2004). Pajanan UVB adalah yang paling banyak
73
lebih pendek dan paling banyak menembus bumi, sinar ultra violet juga
terbukti meningkatkan degradasi kolagen melalui aktivasi matriks
metalloproteinase (MMP). Sinar ultra violet juga dapat memacu sintesis
MMP-1 dan MMP-3 melalui pelepasan TNF-α oleh keratinosit dan fibroblas
serta menyebabkan penurunan β (Gilchrest dan Krutmann, 2006).
TGF-β juga dapat menghambat sintesis melanin dengan memecah enzim tyrosinase
(Martinez-Esparza dkk, 2001). Ultraviolet B lebih banyak menyebabkan
kerusakan sel DNA. Kelainannya berupa lesi DNA pada cyclobutane
pyrimidine dimer. Secara klinis kelainannya berupa eritema atau kemerahan.
Menariknya hasil akhir dari proses glikasi atau advance glycation end
product (AGE) yang terakumulasi pada protein yang berusia panjang seperti
matriks ekstraseluler juga berfungsi sebagai sensitiser untuk ultraviolet
sehingga merusak sel fibroblas di dermal. UVB secara langsung berefek pada
kerusakan DNA terutama pada dua lesi besar yaitu cyclobutane dimer dan
pyrimidine pyrimidone photo product. Yang secara langsung mempengaruhi
sintesis asam nukleat. Walaupun DNA inti mempunyai kemampuan untuk
memperbaiki diri, kerusakan DNA jarang sekali di perbaiki secara komplit
dan bisa menjadi sel kanker (Gilchrest, 2004).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa radiasi sinar UVB
menyebabkan penurunan dari sintesis TGF-β (Gilchrest dan Krutmann,
2006). TGF-β dapat menghambat sintesis melanin dengan memecah enzim
tyrosinase (Martinez-Esparza dkk., 2001).
UVB terjadi peningkatan ekspresi TGF-β1 sebesar 13,68%. Terjadinya
peningkatan ekspresi TGF-β1 pada kelompok yang diolesi PRP sebelum di
berikan pajanan UVB disebabkan karena PRP merupakan plasma kaya
trombosit. Konsentrasi trombosit dalam PRP dapat meningkat delapan kali
dari kadar trombosit di dalam darah sehingga kadar growth factor di dalam
PRP juga meningkat delapan kali kecuali IGF-1. Dan selama proses
pengambilan atau pembuatannya tidak terjadi aktivasi dari trombosit.
Pemberian PRP ini dapat meningkatkan ekspresi TGF-β1 yang dapat
menghambat efek penuaan dini kulit (photoaging), oleh karena paparan sinar
ultra violet yang terus-menerus dapat memacu sintesis MMP-1 dan MMP-3
melalui pelepasan TNF-α oleh keratinosit dan fibroblas yang menyebabkan
kerusakan jaringan serta menurunkan ekspresi TGF-β secara langsung pada
kulit manusia secara in vivo (Gambichler dkk., 2007; Quan dkk., 2004) yang
dapat menimbulkan hiperpigmentasi, juga dapat menghambat sintesis
melanin dengan memecah enzim tyrosinase (Martinez-Esparza dkk., 2001),
mekanisme molekuler yang berhubungan dengan TGF-β juga dapat
mengakibatkan terjadinya hipopigmentasi. PRP sudah digunakan untuk
menyembuhkan luka (Driver dkk., 2006), karena selain berisi platelet dan
faktor pembekuan darah dalam jumlah besar, PRP juga mempunyai growth
factor agonist (Petrova dan Edmonds, 2006).
Hasil publikasi terakhir PRP juga digunakan dalam bedah periodontal
dan mulut (Pietrzak dan Eppley, 2005; Shashikiran dkk., 2006), bedah plastik
75
(Eppley dkk.,2006), bedah bypass jantung dan luka bakar (Henderson dkk.,
2003). Fungsi PRP sebagai jaringan dan sistem penghantar dengan kandungan
yang kaya akan platelet dan berfungsi untuk menyembuhkan luka, karena
PRP dapat memproduksi locally acting growth factors (Everts dkk., 2006)
melalui α - granules degranulation.
Bermacam sitokin dan growth factor berpengaruh terhadap
penyembuhan dan maturasi dari luka. Sitokin berperan dalam perekrutan sel
untuk proliferasi dan diferensiasi.Begitu juga dengan growth factor. Growth
factor yang berasal dari trombosit atau platelet derived growth factor(PDGF)
keluar dari alfa granul dan berfungsi dalam rekrutmen dan aktivasi sel immun
dan fibroblas.
Selain itu trombosit juga mengeluarkan TGF-β, yang merangsang
maturasi fibroblas, migrasi, dan sintesis matriks ekstraseluler (Ten Dijke dan
Hill, 2004) serta dapat menurunkan sintesis melanin yang dapat menyebabkan
hipopigmentasi (Martinez-Esparza dkk., 2001). Sedangkan growth factor
lainnya yaitu epidermal growth factor (EGF), dan vascular endothelial
growth factor (VEGF) dikeluarkan oleh fibroblas, sel endotel, dan sel immun
untuk menambah percepatan penyembuhan luka (El-Sharkawy dkk., 2007;
Pietramaggiori dkk., 2006).
PRP juga dapat menekan pengeluaran sitokin dan membatasi
inflamasi, berinteraksi dengan makrofag untuk regenerasi (Mishra dkk., 2009)
meningkatkan pertumbuhan kapiler baru (Millington dan Norris, 2004; Mc
didefinisikan sebagai plasma darah yang mengandung 1,000,000
trombosit/microliter dalam 5 ml plasma. Secara luas plasma kaya trombosit
diketahui mengandung 7 macam growth factor yaitu: PDGF-AA, PDGF-BB,
PDGF-AB, TGF-β1, TGF-β2, VEGF, EGF. Dan kadar growth factor in-vivo
tetap terjaga setelah dilakukan pembuatan PRP. Konsentrasi trombosit dalam
PRP dapat meningkat delapan kali dari kadar trombosit di dalam darah
sehingga kadar growth factor di dalam plasma kaya trombosit juga meningkat
delapan kali kecuali IGF-1. Selama proses pengambilan atau pembuatannya