• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. EFEKTIFITAS KEPALA MADRASAH DALAM MENYIASATI

Berapa banyak sumber belajar yang digunakan anak dalam kegiatan belajar? Jawabannya biasanya tidak lebih dari dua, pertama buku dan kedua guru. Artinya, sumber belajar selama ini masih dipahami sebagai buku dan hasil cetak. Indikasi lain dapat kita lihat dari kecenderungan penekanan proses belajar yang terutama lebih mengembangkan ekspresi anak dalam berbicara, membaca dan menulis saja.

Apa yang terjadi? Sumber belajar yang terbatas jelas akan mempengaruhi komponen lain proses kegiatan belajar. Kalau kegiatan belajar tidak menyediakan banyak alternatif, anak akan cepat bosan dan belajar menjadi sesuatu yang menakutkan. Lebih runyam lagi, apabila pendidikan hanya berlangsung dalam salah satu dari tiga wilayah: keluarga/masyarakat, sekolah, dan Negara; oleh Ki Hadjar Dewantara disebut Tri Pusat Pendidikan. Ini berarti sudah tidak ada lagi tempat belajar yang menyediakan banyak alternatif kepada anak. Akibatnya, anak mungkin akan mencari dunia lain yang sering tidak diharapkan masyarakat seperti tawuran, narkoba, dan tindak kriminalitas.

Ada banyak ragam alternatif dalam menyiasati keternatasan sumber belajar:

1. Optimalisasi sumber belajar. Lingkungan alam menyediakan banyak hal yang dapat dipelajari anak, begitu pula lingkungan sosial, lingkungan budaya, produk pabrik, audio visual, relaita, hasil cetak, bahkan limbah. Sumber belajar ini dapat dikreasi berdasarkan kebutuhan menjadi alat/aktivitas permainan edukatif (APE).57

2. Membingkai aneka sumber belajar dengan alternatif kegiatan belajar melalui metode dan media belajar. Pendekatan belajar yang akhir-akhir ini dianggap dapat menghubungkan dunia anak dengan kegiatan belajar yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang berlangsung adalah belajar aktif (active learning). Pendekatan ini mengandung prinsip anak senang (joyfull learning), anak aktif (active learning), dan kegiatan belajar berpusat atau berpihak kepada anak (child-centered learning).

3. Internet sebagai media interaktif dapat digunakan setiap orang untuk mendapatkan informasi dari seluruh dunia. Salah satu penggunanya adalah siswa/peserta didik. Peserta didik dapat menggunakan internet sebagai sumber belajar alternatif selain buku untuk mendapatkan informasi lebih banyak.58

Tulisan Anthony de Mello berikut kiranya dapat menjadi perenungan kita bersama:

57

Sri Joko Yunanto, Sumber Belajar Anak Cerdas, (PT. Grasindo, Jakarta: 2004) hal. ix – x

58

Seorang murid mengeluh kepada gurunya,

“Bapak menuturkan banyak cerita, Tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami”

Jawab sang guru,

“bagaimana pendapatmu nak, andaikata seorang menawarkan buah kepadamu namun mengunyahkannya lebih dahulu buatmu?

Tidak kalah penting adalah mengetahui potensi yang ada pada anak, baik kecerdasan, ekspresi, maupun tahap tumbuh kembang yang berlangsung, banyak penemuan mengenai hal ini: Roger Sperry menemukan belahan otak kanan dan otak kiri yang berbeda, Howard Gardner mendalilkan multiple intelligence, Daniel Goleman mempublikasikan teorinya tentang emotional intelligence, Jean Pieget mengemukakan tahap perkembangan anak, dan banyak penemuan lain tentang anak.

Semua upaya yang dilakukan sebenarnya memiliki satu muara: agar anak-anak dapat belajar secara proporsional dengan tumbuh kembangnya, bahkan seumur hidupnya. Dalam konteks ini belajar yang seimbang, yakni otak, pikiran, tubuh, dan emosi membentuk suatu sistem yang berkaitan meskipun emosi yang tidak terkendali menyebabkan tindakan yang irasional, namun keputusan tanpa disertai faktor emosional dapat pula mendatangkan bencana.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), manjur atau mujarab, dapat membawa hasil59. Jadi efektifitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang

59

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Perum Balai Pustaka, 2002) hal. 219

melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Efektifitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional.60

Berdasarkan pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa efektifitas berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapinya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya partisipasi aktif dari anggota. Dengan demikian, efektifitas manajemen berbasis sekolah berarti bagaimana manajemen berbasis sekolah berhasil melaksanakan semua tugas pokok sekolah, menjalin partisipasi masyarakat, mendapatkan serta memanfaatkan sumber daya, sumber dana dan sumber belajar untuk mewujudkan tujuan sekolah.

Masalah efektifitas biasanya berkaitan erat dengan perbandingan antara tingkat pencapaian tujuan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang direncanakan. Efektifitas manajemen berbasis sekolah sebagaimana efektifitas pendidikan pada umumnya dapat dillihat berdasarkan teori sistem dan dimensi waktu. Berdasarkan teori sistem, kriteria efektifitas harus mencerminkan keseluruhan siklus input-proses-output, tidak hanya output atau hasil, serta harus mencerminkan hubungan timbal balik antara manajemen berbasis sekolah dan lingkungan sekitarnya. Adapun berdasarkan dimensi waktu, efektifitas manajemen berbasis sekolah dapat diamati dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

60

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (PT. Remaja Rosdakarya, Bandung: 2002) hal. 82

Kriteria efektifitas jangka pendek untuk menunjukkan hasil kegiatan dalam kurun waktu sekitar satu tahun, dengan kriteria kepuasan, efisiensi, dan produksi. Efektifitas jangka menengah dalam kurun waktu lima tahun, dengan kriteria perkembangan serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan perusahaan. Sementara kriteria efektifitas jangka panjang adalah untuk menilai waktu yang akan datang (diatas lima tahun) digunakan kriteria kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kemampuan membuat perencanaan strategis bagi kegiatan dimasa depan.

Kebutuhan dan harapan masyarakat (community needs and wants) akan mutu pelayanan pendidikan yang baik tampaknya menjadi faktor pemicu utama inovasi manajemen pendidikan (Jones & Salisbury, 1989). Keputusan institusional atau institutional decisions yang dibuat oleh Kepala Madrasah dan staf untuk meningkatkan mutu pelayanan internal (di dalam lembaga sekolah) dan eksternal (hubungan sekolah dengan masyarakat) akan sangat mempengaruhi proses pembuatan keputusan inovatif dalam bidang manajemen pendidikan.kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah hanya akan berjalan baik, jika ditunjang oleh manajemen pendidikan yang memadai. Satu hal yang hingga saat ini masih menjadi focus pemikiran para ahli manajemen pendidikan adalah bagaimana menyeimbangkan antara produk kerja inovasi manajemen pendidikan dan aplikasinya di sekolah-sekolah. Mereka sepakat bahwa inovasi manajemen pendidikan dapat dibuat dengan menggunakan logika deduktif dari proses inkuiri,

berdasarkan penelitian eksperimental atau penelitian empiris tertentu. Namun demikian, pada tingkat aplikasi, ternyata unsure-unsur seni (art) dan keprigelan (craft) dalam kinerja manajemen pendidikan tidak sepenuhnya menunjukkan perpaduan yang serasi.

Hasil pendidikan dipandang mermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler para peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu. Keunggulan akademik dinyatakan dengan nilai yang dicapai oleh peserta didik. Keunggulan ekstraikurikuler dinyatakan dengan aneka jenis keterampilan yang diperoleh siswa selama mengikuti program ekstrakurikuler. Di luar kerangka itu, mutu luaran juga dapat dilihat dari nilai-nilai hidup yang dianut, moralitas, dorongan untuk maju, dan lain-lain yang diperoleh anak didik selama menjalani pendidikan.

Untuk menciptakan mutu layanan yang dikehendaki aspek-aspek daya dukung dan masalah-masalah kontekstual sangat mungkin berpengaruh dalam penataan struktur organisasi sekolah yang memenuhi criteria untuk mencapai mutu. Secara umum, struktur organisasi dan mekanisme kerja sekolah yang dikehendaki menurut konsep manajemen mutu terpadu (MMT) seperti berikut ini:61

61

1. Struktur organisasi sekolah mampu melancarkan proses pengelolaan mutu secara menyeluruh dan kondusif bagi perbaikan kualitas.

2. Struktur organisasi sekolah mampu mengutamakan kerja sama yang solid secara tim kerja.

3. Struktur organisasi sekolah mampu mengurangi fungsi kontrol yang tidak perlu.

4. Struktur organisasi sekolah mampu mereduksi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara repetitif atau tumpang-tindih akibat kesalahan struktur kerja. 5. Struktur organisasi sekolah mampu membentuk tim yang terstruktur dengan

sistem manajemen yang sederhana

6. Struktur organisasi sekolah mampu mengupayakan agar semua anggota tim memahami visi lembaga

7. Struktur organisasi sekolah mampu mengupayakan agar semua anggota tim mampu memahami potensi lembaga, baik yang riil ada maupun yang mungkin diakses.

8. Struktur organisasi sekolah mampu mengupayakan agar keseluruhan proses kerja berada di bawah satu komando yang hubungan kerjanya sederhana.

9. Struktur organisasi sekolah mampu melakukan penilaian untuk menentukan keberhasilan kerja sebuah sekolah.

Kepemimpinan mutu menjadi prasyarat untuk mencapai maksud tersebut, yaitu kemampuan Kepala Madrasah untuk bekerja dengan atau melalui staf

administratif dan tenaga akdemiknya. Seorang Kepala Madrasah seyogjanya memahami betul mengenai visi lembaganya. Mereka harus mampu membudayakan kerja secara bermutu dan dapat memberdayakan seluruh potensi yang ada untuk mendukung mutu yang dikehendaki. Ada lima kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh Kepala Madrasah. Pertama, Kepala Madrasah memahami visi organisasi dan visi kerja yang jelas. Kedua, Kepala Madrasah mampu dan mau bekerja keras. Maksudnya, Kepala Madrasah tidak cukup memiliki daya dorong kerja yang tinggi, tetapi juga harus memliki kemampuan fisik yang kuat. Ketiga, Kepala Madrasah tekun dan tabah dalam bekerja dengan bawahan, terutama tenaga administratif dan tenaga akademiknya. Keempat, Kepala Madrasah memberikan layanan secara optimal dengan tetap tampil secara rendah hati. Kelima, Kepala Madrasah memiliki disiplin kerja yang kuat.

Ukuran dasar kriteria sekolah yang efektif dapat disajikan sebagai berikut:62

1. Mempunyai standar kerja yang tinggi dan jelas mengenai untuk apa setiap siswa harus mengetahui dan dapat mengerjakan sesuatu.

2. Mendorong aktivitas, pemahaman multibudaya, kesetaraan gender, dan mengembangkan secara tepat pembelajaran menurut standar potensi yang dimiliki oleh pelajar.

62

3. Mengharapkan para siswa untuk mengambil peran tanggung jawab dalam belajar dan perilaku dirinya.

4. Mempunyai instrument evaluasi dan penilaian prestasi belajar siswa yang terkait dengan standar pelajar (learner standards), menentukan umpan balik yang bermakna untuk siswa, keluarga, staf, dan lingkungan tentang pembelajaran siswa.

5. Menggunakan metode pembelajaran yang berakar pada penelitian pendidikan dan suara praktik professional.

6. Mengorganisasikan sekolah dan kelas untuk mengkreasikan lingkungan yang bersifat memberi dukungan bagi kegiatan pembelajaran.

7. Pembuatan keputusan secara demokratis dan akuntabilitas untuk kesuksesan siswa dan kepuasan pengguna.

8. Menciptakan rasa aman, sifat saling menghargai, dan mengakomodasikan lingkungan secara efektif.

9. Mempunyai harapan yang tinggi kepada semua staf untuk menumbuhkan kemampuan professional dan meningkatkan keterampilan praktisnya.

10. Secara aktif melibatkan keluarga di dalam membantu siswa untuk mencapai sukses.

11. bekerjasama atau ber-partner dengan masyarakat dan pihak-pihak lain untuk mendukung siswa dan keluarganya.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi si muka bumi ini telah mengantarkan umat manusia kepada suatu zaman yang penuh dinamika, penuh gejolak, penuh tantangan, permasalahan, bahkan keprihatinan yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Proses globalisasi terjadi dalam kecepatan yang amat tinggi sehingga batas Negara, kebangsaan, kebudayaan, etnis, waktu, dan tempat diterobos oleh kekuatan yang amat dahsyat sehingga membuat para ahli sekalipun kian sulit memprediksikan apa yang akan terjadi besok.

Untuk menjawab tantangan seperti itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus menjadi center of excellence atau pusat keunggulan dalam keseluruhan wacana pengembangan sumber daya manusia (SDM). Dengan demikian, pengelolaan sekolah perlu mengalami pergeseran dari pola tradisional ke pola pengelolaan sekolah secara modern. Semua pihak yang terkait dengan lembaga sekolah harus memberikan perhatian besar terhadap upaya pemberdayaan sekolah sehingga sekolah benar-benar menjadi pusat dari segala pusat keunggulan.

Untuk menciptakan sekolah seperti itu, tanggung jawab utama (key person) berada di pundak Kepala Madrasah (school principals). Dikatakan demikian karena sudah lama diakui oleh pakar manajemen pendidikan, Kepala Madrasah merupakan faktor kunci efektif tidaknya suatu sekolah. Kepala Madrasah dikatakan faktor kunci karena Kepala Madrasah memainkan peranan yang sangat penting dalam keseluruhan spektrum pengelolaan sekolah. Sebagai manajer pendidikan yang profesional, Kepala Madrasah bertanggung jawab sepenuhnya

terhadap sukses tidaknya sekolah yang dipimpinnya. Ini berarti bahwa profesionalisme Kepala Madrasah menjadi sebuah keharusan.

Dalam buku landasan manajemen pendidikan H.Jodeph Reitz menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas pemimpin meliputi: 1) keprribadian (personality) pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, 2) harapan dan perilaku atasan, 3) karakteristik harapan dan perilaku bawahan, dan 4) harapan dan perilaku rekan. Faktor-faktor itu mempengaruhi pemimpin dan bawahan secara timbal balik. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:63

Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan Pengharapan dan

perilaku atasan (2)

kepribadian, pengalaman kebutuhan tugas

masa lalu, dah harapan (4)

(1)

efektifitas kepemimpinan

iklim dan kebijaksaan harapan dan

organisasi perilaku rekan

(5) (6)

karakteristik, harapan dan perilaku bawahan

63

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 1996), hal. 98 – 100

(3)

1. Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pimpinan hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya. Sebagai contoh, jika ia pernah sukses dengan cara menghargai bawahan dengan pemenuhan kebutuhannya, cenderung akan menerapkan gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada bawahan/orang.

2. Pengharapan dan perilaku atasan, sebagai contoh atasan yang secara jelas memakai gaya yang berorientasi kepada tugas, cenderung manajer menggunakan gaya itu.

3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan, mempengaruhi terhadap gaya kepemimpinan manajer. Sebagai contoh, karyawan yang mempunyai kemampua tinggi biasanya akan kurang memerlukan penndekatan yang direktif dari pemimpin.

4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin. Sebagai contoh, bawahan yang bekerja pada bagian pengelolaan data (litbang) menyukai pengarahan yang lebih berorientasi pada tugas.

5. Iklim dan kebijaksanaan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan. Sebagai contoh, kebijakan dalam pemberian penghargaan, imbalan dengan skala gaji yang ditunjang dengan intensif lain (dana pensiun, bonus, cuti) akan mempengaruhi motivasi kerja bawahan.

6. harapan dan perilaku rekan. Sebagai contoh, manajer membentuk persahabatan dengan rekan-rekan dalam organisasi. Sikap mereka ada yang merusak reputasi, tidak mau kooperatif, berlomba memperebutkan sumber daya, sehingga mempengaruhi perilaku rekan-rekannya.

Dengan demikian, upaya seorang Kepala Madrasah dapat berarti efektif jika dalam menyiasati keterbatasan sumber belajar ada hubungan timbal balik antara pimpinan dan bawahan dalam kepribadian (personality) pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, harapan dan perilaku atasan, karakteristik harapan dan perilaku bawahan, kebutuhan tugas, iklim dan kebijaksanaan organisasi serta harapan dan perilaku rekanan.

Dokumen terkait