BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Efektivitas Pengobatan
Berdasarkan data dari rekam medik ada satu pasien dengan nomor rekam medik 25.82.41 yang lamanya hari rawat inap selama 14 hari, hal ini disebabkan karena kondisi pasien yang kurang stabil sehingga pasien tidak memenuhi syarat-syarat operasi, pasien baru dioperasi pada hari ke-11 rawat inap sehingga biaya yang dibutuhkan selama menjalani perawatan menjadi lebih besar dibandingkan pasien lainnya yaitu Rp 5.772.677,00-, bila pasien hanya dirawat 1 hari sebelum operasi maka biaya yang dibutuhkan lebih sedikit yaitu Rp 3.461.777,00- dengan biaya obat selama 4 hari adalah Rp 143.777,00-.
Pada penelitian ini efektivitas pengobatan dinilai berdasarkan lamanya hari rawat inap hingga pasien dinyatakan sembuh oleh dokter, lama waktu kering luka operasi dan adanya tanda-tanda infeksi setelah operasi. Seperti diketahui invasi
bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma selama pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala infeksi sering muncul dalam 2–7 hari setelah pembedahan berupa adanya purulent (nanah, cairan radang yang terdiri dari leukosit), peningkatan drainase (pengaliran genangan cairan dalam luka dengan memasukkan pipa kuras ke dalam rongga abses), nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih (Suparyanto, 2011; Ramali dan Pamoentjak, 2005).
Pada penelitian tidak ada data mengenai gejala infeksi ini disebabkan pasien bedah apendik tidak menunjukkan tanda infeksi pasca operasi apendik. Sedangkan perubahan suhu selain merupakan vital sign yang harus selalu diukur dan ditulis di rekam medik juga merupakan salah satu tanda gejala infeksi. Karena harus ditulis maka data mengenai perubahan suhu pasti terdapat dalam rekam medik.
Berdasarkan pengamatan pada rekam medik pasien yang menjalani bedah apendik periode Januari 2011-Desember 2011, ada dua pasien dengan nomor rekam medik 29.15.86 dan 03.21.71 yang mengalami peningkatan suhu tubuh di hari pertama rawat inap dan kembali normal pada hari ke-2 setelah pemberian parasetamol. Peningkatan suhu sebelum operasi merupakan gejala klinis dari apendisitis baik akut maupun kronik. Ada 1 pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh pada hari ke-2 setelah mengalami pembedahan yaitu pada nomor rekam medik 02.93.65 Suhu tubuh pasien pada hari ke-1 setelah operasi adalah 36 meningkat menjadi 38 pada hari ke- 2 dan 1 pasien dengan nomor rekam medik 03.19.34 yang mengalami peningkatan suhu tubuh pada hari ke-1 setelah pembedahan, suhu tubuh pasien sebelum operasi 36 meningkat menjadi 38,5 .
Secara normal luka akan mengalami inflamasi pada hari ke-2 sampai hari ke-3 pasca bedah (Potter dan Anne, 2005). Pada fase inflamasi biasanya didapati demam (Sjamsuhidajat dan Wim, 2004).
Suhu tubuh kedua pasien kembali normal menjadi 36 pada hari ke-3 disebabkan selain pemberian parasetamol juga karena pasien telah melewati waktu kritis penyembuhan luka antara 24 sampai 72 jam setelah pembedahan (pasien telah melewati fase inflamasi). Jika suhu tubuh tetap di atas 38 setelah melewati masa kritis ini, maka pasien kemungkinan terkena infeksi pasca operasi karena infeksi terjadi pada hari ke-3 sampai hari ke-6 setelah pembedahan (Potter dan Anne, 2005).
Berdasarkan uraian di atas maka pada bedah apendik tidak terdapat pasien yang mengalami infeksi pasca operasi, sehingga efektivitas pengobatan dinilai berdasarkan rata-rata waktu kering luka operasi dan rata-rata lama hari rawat inap.
Pengobatan yang efektif dinilai berdasarkan kecepatan waktu kering luka operasi (≤ 72 jam setelah operasi) dan rata-rata lama hari rawat inap. Waktu kritis penyembuhan luka adalah 24 sampai 72 jam setelah pembedahan (Potter dan Anne, 2005). Rata-rata waktu kering luka operasi tidak lebih dari 72 jam menunjukkan antibiotika yang digunakan efektif, sedangkan jika lebih dari 72 jam kurang efektif karena setelah melewati waktu kritis penyembuhan luka maka ada kemungkinan luka mengalami infeksi, biasanya infeksi terjadi 3-6 hari setelah pembedahan (Potter dan Anne, 2005).
Berdasarkan uraian di atas, maka hasil penelitian ini menunjukkan waktu kering luka operasi pada hari ke-3 (tidak lebih dari 72 jam) adalah penggunaan antibiotika cefotaxim injeksi dan cefadroksil oral, yang menurut Potter bahwa
antibiotika ini telah terbukti efektif karena waktu kering luka operasi adalah pada hari ke-3 (tidak lebih dari 72 jam). Sedangkan penggunaan antibiotika lainnya kurang efektif karena waktu kering luka operasi lebih dari 72 jam.
Menurut Suparyanto (2011), waktu kering luka operasi tidak hanya dipengaruhi oleh antibiotika yang digunakan saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain yaitu usia, nutrisi, sirkulasi, oksigenasi, hematoma, iskemia dan diabetes. Meskipun dalam penelitian ini tidak meneliti mengenai faktor yang mempengaruhi waktu kering luka operasi, tetapi menurut Schwartz bahwa faktor nutrisi mempengaruhi waktu kering luka operasi. Nutrisi yang tidak adekuat dapat mengganggu fase-fase proses penyembuhan luka operasi. Pasien dengan status nutrisi kurang memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan (Schwartz, 2000). Perbedaan status nutrisi akan menyebabkan perbedaan lama waktu kering luka operasi meskipun pasien yang berbeda menggunakan antibiotika yang sama.
Pada penelitian ini pasien dinyatakan sembuh dan dapat pulang karena luka operasi telah kering sehingga waktu kering luka operasi akan mempengaruhi lama hari rawat inap. Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata waktu kering luka operasi dan rata-rata lama hari rawat inap diperoleh efektivitas pengobatan yang lebih baik pada bedah apendik adalah penggunaan cefotaxim injeksi dan cefadroksil oral, dengan rata-rata waktu kering luka operasi pada hari ke 3 dan rata-rata lama hari rawat inap 5,6 hari. Efektivitas pengobatan pada bedah apendik ditunjukkan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Efektivitas pengobatan pada bedah apendik berdasarkan rata-rata lama waktu kering luka operasi dan rata-rata lama hari rawat inap di RSUD Meutia Lhokseumawe
No
Jenis Antibiotik (Injeksi-Oral)
Rata-rata Rata-rata
Waktu Kering Lama
Luka Operasi Hari Rawat
(Hari ke-) Inap (hari)
1 Cefo (Inj) + Cipro + Metro (inf) – Cipro (oral) 3,42 6,42
2 Cefo (Inj) – Cipro (Oral) 3,3 6,3
3 Cefo + Cefta (Inj) + Metro (inf) – Cipro (Oral) 3,25 6
4 Ceftri (inj) + Metro (Inf) – Cipro (Oral) 4 7
5 Cefo (inj) + Metro (inf) – Cipro (Oral) 3,5 6,75
6 Cefo + Genta (Inj) + Cipro (inf) – Cipro (Oral) 3,6 7,33
7 Cefo (Inj) – Cefa (Oral) 3 5,6
8 Cefo (Inj) + Metro (Inf) – Cefa (Oral) 3,5 7
9 Cefo (inj) + Metro (Inf) – Amox (Oral) 3,6 6,8
10 Cefo + Genta (Inj) – Cipro (Oral) 4 7,5
11 Cefo + Genta (Inj) + Metro (inf) – Cipro (oral) 3 14