BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Efikasi Diri Pengasuhan
pengasuhan anak yang adaptif, menstimulasi dan mendorong perkembangan anak. Sebaliknya efikasi diri pengasuhan yang rendah berkaitan dengan kecenderungan pengasuh untuk fokus pada kesulitan dalam hubungan antara pasangan, afeksi yang negatif, tingkat stress yang meningkat, perasaan tidak berdaya dalam peran sebagai pengasuh, dan penggunaan teknik pendisiplinan dengan hukuman (Coleman & Karraker, 2000).
Selama menjalankan usaha fungsi pengasuhan dengan baik dan maksimal tentu ibu membutuhkan ilmu dan pengetahuan guna mendukung tercapainya tujuan pengasuhan yang optimal. Akan tetapi realitanya terkadang ibu dengan anak berkebutuhan khusus menolak melakukan tugas pengasuhan pada anak berkebutuhan khusus. Jika dikaitkan dengan anak berkebutuhan khusus tentu
setiap periode perkembangan anak dan remaja menjadi salah satu tantangan yang terasa lebih sulit bagi ibu karena ibu harus merawat dan mengasuh anak berkebutuhan khusus sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Menurut Suranata dan Sulastri (2010), pada usia anak, ada beberapa masalah yang seing muncul: (1) masalah sosial misalnya, agresif ditampilkan dalam bentuk tingkah laku menyepak dan memukul teman, (2) masalah emosional, misalnya pemalu ditampilkan dalam bentuk tingkah laku pemalu tidak mau berteman, (3) masalah moral, misalnya merusak ditampilkan dalam bentuk tingkah laku sengaja merusak mainan teman, (4) masalah perkembangan pengertian, misalnya lamban dalam memahami keterangan/penjelasan ditampilkan dalam bentuk tingkah laku kesulitan memahami keterangan atau penjelasan, dan (5) masalah bahasa, misalnya ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gagap dalam berbicara.
Menurut Jannah (2016), setiap periode mempunyai masalahnya sendiri- sendiri, akan tetapi masalah remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada remaja perubahan fisik yang cepat dan terjadi secara berkelanjutan menyebabkan para remaja sadar dan lebih sensitif terhadap bentuk tubuhnya dan mencoba membandingkan dengan teman- teman sebaya. Jika perubahan tidak berlangsung secara lancer terutama pada anak berkebutuhan khusus maka berpengaruh terhadap perkembangan psikis dan emosi anak. Sebaliknya pada orangtua keadaan ini dapat menimbulkan konflik bila proses anak menjadi dewasa ini tidak dipahami dengan baik (Batubara, 2010). Di samping itu, juga terjadi perubahan psikososial anak baik dalam tingkah laku, hubunga dengan lingkungan serta ketertarikan dengan lawan jenis. Perubahan-
perubahan tersebut juga dapat menyebabkan hubungan antara orangtua dengan remaja menjadi sulit apabila orangtua tidak memahami proses yang terjadi. (Jannah, 2016).
Berdasarkan tantangan perkembangan pada ibu yang memiliki anak dan remaja berkebutuhan khusus, maka diperlukan dukungan dari pasangan. Dukungan sosial dari suami dapat berupa ucapan-ucapan yang memberikan semangat, saling membantu meringankan pekerjaan istri seperti mengurus rumah, meyiapkan kebutuhan anak, membantu memberi makan anak, mengajak anak bermain sehingga ibu dapat melakukan kegiatan lain tentu akan meringankan beban mereka. Ibu anak berkebutuhan khusus diharuskan menjalankan peran ekstra dalam merawat dan mengasuh anak yang kebutuhannya berbeda dengan anak normal lainnya. Terutama pada ibu yang anaknya mengalami disabilitas secara fisik, karena anak mereka tidak dapat melakukan berbagai hal secara mandiri dan selalu membutuhkan bantuan serta pengawasan, maka di situlah dibutuhkan kesabaran ekstra dari ibu untuk mengasuh dan merawat anak. Di saat seperti ini dukungan sosial dari suami sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan keyakinan diri ibu dalam kemampuan pengasuhan dan keyakinan bahwa anak mereka juga memiliki potensi tersendiri yang harus digali dan dikembangkan.
Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti ingin membuktikan adanya hubungan antara dukungan yang diberikan oleh suami kepada istri, dalam hal ini khususnya kepada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus yang dalam usia kanak-kanak hingga remaja. Asumsinya yaitu semakin tinggi dukungan sosial
suami kepada istri, maka efikasi diri pengasuhan atau keyakinan ibu terhadap kemampuannya dalam melakukan tugas pengasuhan anak dengan kebutuhan khusus tersebut akan semakin tinggi, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial suami kepada istri maka efikasi diri pengasuhan mereka juga semakin rendah.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penenlitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial suami dan keyakinan diri dalam pengasuhan atau efikasi diri pengasuhan pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan ilmu di bidang psikologi perkembangan terutama terkait dengan pengasuhan dan dukungan sosial. 2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui besarnya pengaruh dukungan suami terhadap efikasi diri pengasuhan ibu dengan anak berkebutuhan khusus.
D. Keaslian Penenlitian
Sebelumnya sudah ada penelitian mengenai efikasi diri pengasuhan atau parenting self efficacy (PSE) akan tetapi dipasangkan dengan variabel lain yang berbeda. Penelitian tersebut mengangkat topik Parenting Self Efficacy,
Parenting Stress and Child Behavior Before and After a Parenting Programme, ditulis oleh Linda Bloomfield dan Sall Kendall pada tahun 2012
dengan melibatkann 63 orang tua yang memiliki anak usia dibawah 10 tahun. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara efikasi diri pengasuhan dan
parentig stress yaitu orang tua yang memiliki pengalaman kepecayaan diri
dalam pengasuhan atau efikasi diri pengasuhan yang rendah memiliki level stres yang lebih tinggi, sebaliknya orang tua yang memiliki efikasi diri pengasuhan lebih tinggi cendereng memiliki stres yang lebih rendah.
Topik peneletian kedua mengenai efikasi diri pengasuhan yaitu “Peran Persepsi Keterlibatan Orang Tua dan Strategi Pengasuhan Terhadap Parenting
Self Efficacy”, ditulis oleh Stephanie Yuanita Indrasari dan Laily Affiani pada
tahun 2018. Dengan melibatkann 270 orang tua baik ayah ataupun ibu (boleh tidak berpasangan) dengan rentang usia 25-45 tahun dan memiliki anak yang berusia kanak-kanak madya (5-12 tahun). Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari persepsi keterlibatan ayah dan strategi pengasuhan secara bersama-sama terhadap parenting self efficacy F (2, 267) = 13, 805, p<0,01. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara persepsi keterlibatan ibu dan strategi pengasuhan secara bersama-sama terhadap parenting self efficacy F (2, 267) = 11, 021, p<0,01. Pada penelitian ini efikasi diri pengasuhan dapat diprediksi oleh persepsi keterlibatan orang tua di masa lalu dan strategi pengasuhan.
Penelitian selanjutnya dengan topik “Hubungan Antara Dukungan Sosial Suami dengan Penerimaan Diri pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome di Semarang” ditulis oleh Intan Megasari dan Ika Febriana Kristianti pada tahun 2016 dengan melibatkan subjek sejumlah 51 ibu dengan anak down
syndrome di beberapa SLB di Semarang, dengan teknik pengambilan sampel
menggunakan cluster random sampling. Instrumen penelitian dengan skala penerimaan diri ibu dan skala dukungan sosial suami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara dukungan sosial suami dengan penerimaan diri pada ibu yang memiliki anak down syndrome, dimana dukungan sosial suami memberikan sumbangan sebesar 49,5%.
Penelitian terakhir mengangkat topik “Parenting Beliefs, Parental
Stress, and Social Support Relationships” yang dilakukan oleh Melissa
Respler-Herman, Barbara A. Mowder, Anastasia E. Yasik, dan Renee Shamah pada tahun 2012 dengan melibatkan subjek sejumlah 87 orang tua siswa pra- sekolah dan sekolah dasar yang berasal dari sekolah swasta kecil di daerah pinggiran di pantai timur Amerika. Peserta umumnya kelas menengah ke atas, dengan teknik pengambilan data menggunakan kuesioner. Instrumen penelitian dengan skala parenting stress, parenting beliefs dan skala Perceived Social
Support. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, stres pengasuhan
yang lebih sedikit terkait dengan persepsi pengasuhan yang lebih positif dan stres pengasuhan yang lebih banyak terkait dengan persepsi pengasuhan yang kurang positif. Dukungan sosial tidak mendukung peningkatan hubungan antara stres pengasuhan dan persepsi pengasuhan.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, penelitian yang disusun oleh penulis dapat dikatakan asli terutama dari segi :
1. Topik
Topik penelitiani ini yaitu “Hubungan Antara Dukungan Sosial Suami Dan Efikasi Diri Pengasuhan Pada Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus”, dari penelitian-penlitian sebelumnya didapati belum ada yang meneliti terkait topik tersebut.
2. Subjek Penelitian
Penelian terkait efikasi diri pengasuhan ataupun dukungan sosial pada orang tua dengan anak bekebutuhan khusus memang sudah ada penelitian sebelumnya. Akan tetapi untuk spesifikasi subjeknya ada yang berbeda. Hal tersebut berkaitan dengan subjek penelitian yang lebih spesifik yaitu hanya kepada Ibu dan spesifikasi wilayah pengambilan data di wilayah Yogyakarta. Selain itu bentuk dukungan sosial juga lebih fokus terhadap dukungan sosial dari suami.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Efikasi Diri Pengasuhan 1. Definisi efikasi diri pengasuhan
Efikasi diri pengasuhan berasal dari kata parenting yang artinya pengasuhan dan self efficacy yang artinya keyakinan diri. Menurut Bandura (Antawati & Murdiyani, 2013) self-efficacy didefinisikan sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang mereka miliki dalam mengarahkan performansinya yang kemudian berpengaruh terhadap berbagai kejadian dalam kehidupan mereka. Self efficacy dalam lingkup pengasuhan atau parenting dikenal dengan istilah Parenting Self Efficay. Menurut Ormrod (Albintary, dkk 2018) self-efficacy merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menjalankan perilaku tertentu atau kemampuan mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Sevigny dan Loutzenhiser (Bloomfield & Kendall, 2012) self-efficacy adalah proses yang dinamis dan muncul setelah dimodifikasi oleh tugas dan tuntutan situasional, serta mengubah faktor individu.
Definisi parenting self-efficacy atau PSE menurut Coleman & Karraker yaitu perkiraan pribadi orang tua mengenai kompetensi mereka dalam peran sebagai orang tua atau persepsi orang tua terhadap kemampuan mereka dalam mempengaruhi perilaku dan perkembangan anak-anak mereka secara positif (Antawati & Murdiyani, 2013). Prinsip utama teori efikasi diri pengasuhan menurut Bandura (Bloomfield &
Kendall, 2012) adalah ekspektasi efikasi diri seseorang dalam ranah perilaku apa pun akan dikembangkan oleh penguasaan kinerja dan pengalaman serta pembelajaran melalui role modeling dalam pengasuhan. Efikasi diri pengasuhan telah diidentifikasi sebagai penentu utama perilaku pengasuhan dan terkait erat dengan hasil perkembangan anak dan penyesuaian psikososial anak.
Jadi efikasi diri pengasuhan dapat disimpulkan sebagai kepercayaan atau keyakinan diri dari orang tua mengenai kemampuan mereka mencapai kesuksesan dalam mengasuh anak.
2. Apek-aspek Efikasi Diri Pengasuhan
Menurut Bornstein (Antawati & Murdiyani, 2013) terdapat beberapa aspek yang berkaitan dengan pengasuhan yaitu :
a. Nurturant caregiving
Aspek ini meliputi pemenuhan kebutuhan anak secara fisik. Orang tua bertanggung jawab penuh dalam menjaga anak-anak mereka dengan baik dan mencegah anak dari berbagai bahaya dan penyakit. Orang tua memiliki tugas untuk merawat anak bahkan sejak usia bayi seperti menyediakan makanan, merawat anak secara rutin, menjaga dan mengawasi anak, serta memberikan kenyamanan pada anak. Perawatan atau nurturance berkaitan erat dengan daya tahan atau survival serta kesejahteraan anak atau well-being anak.
b. Material caregiving
Aspek ini meliputi cara orang tua dalam mengawasi, mengorganisir, dan mengatur lingkungan fisik anak seperti rumah dan lingkungan sekitar mereka. Orang tua memiliki tanggung jawab menyediakan obyek-obyek stimulasi seperti mainan, buku, atau peralatan keseharian lain. Orang tua juga perlu memberikan batasan kebebasan fisik bagi anak dan memberikan keamanan serta dimensi- dimensi fisik yang berkaitan dengan pengalaman yang diperoleh anak. Hal tersebut termasuk juga penyediaan waktu bagi anak untuk bermain dengan obyek maupun berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.
c. Social caregiving
Aspek ini meliputi perilaku orang tua dalam membangun keterikatan emosional dan mengatur interaksi timbal balik antara orang tua dengan anak. Perilaku tersebut dapat berupa sentuhan fisik, tatapan mata, tutur kata, maupun senyuman. Melalui tanggapan yang positif, keterbukaan, negosiasi, mendengar aktif, dan kedekatan emosional, orang tua dapat membuat anak merasa lebih berharga dan merasa diterima dalam lingkungannya. Pengasuhan ini juga meliputi dukungan orang tua dalam membantu anak untuk mengatur perilaku dan emosinya, cara berkomunikasi dan juga membantu anak membangun hubungan interpersonal yang bermakna dalam waktu yang berkelanjutan.
d. Didactic caregiving
Aspek ini meliputi beragam strategi yang orang tua gunakan untuk memberikan stimulasi pada anak dan memahami serta mempelajari hal- hal yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Didaktik berarti memperkenalkan, menghubungkan dan mengartikan dunia luar anak. Selain itu di dalam didaktik juga tercakup proses mendidik, menjelaskan dan memberi contoh pada anak. Orang tua memberikan kesempatan bagi anak untuk mengamati, meniru, dan mempelajari dunia luar mereka sendiri, namun tetap dengan pengawasan orang tua.
Sedangkan menurut Coleman dan Karraker (2000) menyebutkan ada lima dimensi atau aspek yang terdapat dalam efikasi diri pengasuhan yang diambil dari tugas orang tua saat melakukan proses parenting pada anak yaitu :
a. Achievement
Orang tua menyediakan fasilitas yang dapat mendukung prestasi anak di sekolah. Sekolah merupakan hal yang terpenting karena sekolah dapat memberikan berbagai macam pengetahuan, keterampilan sosial, mengembangkan pikiran dan tubuh mereka dan memfasilitasi keberhasilan anak di sekolah.
b. Rekreasi
Rekreasi yaitu anak mengeksplorisasi pertemanan mereka lebih dalam dimana lebih banyak waktu dihabiskan dengan kelompokmya.
mendukung kebutuhan anak untuk rekreasi termasuk bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dalam hal ini orang tua mendukung kebutuhan anak dengan menyediakan kegiatan yang menyenangkan termasuk bersosialisasi dengan teman-temannya.
c. Disiplin
Disipilin artinya orang tua menerapkan peraturan dan kedisiplinan pada anak, orang tua dan anak bekerja sama, berbagi tanggung jawab dan menghargai antara satu dengan yang lainya.
d. Nurturance
Nurturance artinya domain pengasuhan anak, orang tua dapat
menyediakan dukungan emosional pada anak dan ekspresi keadaan emosional yang ada pada anak dan orang tua.
e. Kesehatan
Orang tua memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehingga anak tidak mengalami masalah-masalah fisik yang nantinya akan memengaruhi aktifitas sehari-hari mereka serta mempertahankan kesehatan fisik anak. Dalam hal ini orang tua memberikan perawatan dengan baik pada anak.
Berdasarkan uaraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek- aspek dari efikasi diri pengasuhan yaitu kemampuan orang tua dalam mendukung anak mencapai prestasi, mendukung kebutuhan anak dengan menyediakan kegiatan yang menyenangkan termasuk bersosialisasi dengan teman-temannya, orang tua bekerjasama
menerapkan peraturan dan kedisiplinan pada anak, dapat menyediakan dukungan emosional pada anak dan ekspresi keadaan emosional, serta memenuhi kebutuhan nutrisi anak sekaligus memberikan perawatan dengan baik pada anak.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri Pengasuhan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Silalahi pada tahun 2012 (Oktavianto dkk, 2019), setelah diidentifikasi terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi efikasi diri pengasuhan antara lain usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan & paritas/ jumlah anak.
Coleman dan Karraker (Mafaza, dkk 2017) menyampaikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi secara spesifik terhadap pengembangan parenting self efficacy. Faktor tersebut terbagi menjadi dua yaitu yang berasal dari orang tua dan berasal dari luar diri orangtua :
a. Pengalaman masa kecil, ketika orang tua memiliki pengalaman masa kecil yang positif, orang tua sering secara langsung terlibat dalam pengasuhan anak dan memiliki wawasan yang luas mengenai pengasuhan. Hal tersebut akan meningkatkan keyakinan diri mereka selama melaksanakan pengasuhan
b. Pengalamannya dengan anak-anak, pengalaman dengan anak-anak baik dengan anaknya sendiri atau dengan anak orang lain menjadi salah satu faktor efikasi diri pengasuhan. Ide efikasi diri pengasuhan dari bandura berkembang sebagai hasil dari pengalaman langsung (Irawati, 2012).
c. Kesiapannya menjadi orang tua. Irawati (2012) menjelaskan tingkat kognitif/ persiapan behavior menjadi orang tua sebagai suatu persiapan yang sudah dilakukan oleh individu sebelum menjadi orang tua.
d. Selanjutnya, faktor yang berasal dari luar diri orang tua, seperti dukungan dari pasangan dan komunitas di sekitar tempat tinggal mereka. Hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan self efficacy
beliefs melalui mekanisme persuasi sosial atau feedback dalam
menjalani proses pengasuhan.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan hal-hal yang menjadi faktor dalam mempengaruhi efikasi diri pengasuhan individu yaitu adanya pengalaman orang tua, orang tua mempelajari pengasuhan dari pengalaman masa kecilnya saat diasuh oleh kedua orang tuanya, kemudian ada pengaruh faktor budaya yang menjadi nilai orang tua dalam memberikan pengasuhan pada anak, pegalaman dengan anak-anak akan mendukung terbentuknya keyakin orang tua dalam mengasuh anak, tingkat kognitif atau perilaku persiapan yang mendukung pengasuhan yang baik, dan dukungan dari orang-orang terdekat..
B. Dukungan Sosial Suami