• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Pengujian DEA

1. Efisiensi BPR Kabupaten

Jumlah BPR yang mewakili Kabupaten sebanyak 29 Bank, kinerjanya sebagai fungsi intermediasi memiliki efisiensi sebesar 96,372 % dan sebagai fungsi produksi sebesar 97,061 % (tabel 4.16).

Capaian tingkat efisiensi itu menunjukkan sudah bagus karena mendekati nilai maksimal yaitu 100%, sedangkan nilai produksi yang lebih dari intermediasi menunjukkan kinerjanya dalam fungsi produksi lebih efisien dibandingkan fungsi intermediasi.

Tingkat efisiensi yang lebih tinggi pada tahap produksi juga menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat untuk menempatkan dananya di perusahaan daerah BPR/BKK. Sejalan dengan tingkat kesehatan bank yang semakin membaik, PD. BPR/BKK juga mengikuti program penjaminan dari Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sehingga keamanan dana nasabah lebih terjamin, keuntungan lain pelayanan bank yang bersifat personal atau jemput bola disertai suku bunga yang diatas rata-rata bank umum menjadikan BPR lebih disukai.

Tabel 4.15

Rata-rata Efisiensi BPR/BKK Kabupaten Tahun 2008 Variabel Jml Sumber : Hasil pengolahan data

Sebaran tingkat efisiensi Bank berkisar dari 77,05 % sampai dengan 100% (tabel 4.16), sebanyak 8 buah Bank efisiensinya dalam fungsi produksi kurang dari 100%, dan sebanyak 9 buah dalam fungsi

commit to user

66 intermediasi yang kurang dari 100%. Bank lainnya sebanyak 20 buah dalam fungsi produksi dan intermediasi sudah mencapai 100%.

Selain kendala geografis dan demografis terbatasnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia jika dibanding luasnya daerah operasional menjadikan kabupaten kurang maksimal dalam efisiensi.

Fungsi intermediasi kurang efisien karena ekspansi kredit masih menemui berbagai kendala, baik kendala wilayah, SDM, adanya prinsip kehati-hatian dan standar kelayakan usaha bagi calon debitur, persaingan dengan bank umum, koperasi dan lembaga keuangan lain yang ikut-ikutan membidik pangsa pasar mikro apalagi ditambah dengan banyaknya lintah darat yang semakin memperketat persaingan pasar. Bank yang kecil bukan berarti tidak efisien terbukti BPR/BKK Kota dimana dalam uraian deskriptifnya semua variabelnya memiliki nilai lebih rendah dari BPR/BKK Kabupaten ternyata mampu mencapai tingkat efisiensi 100%.

Namun bukan berarti bank di kota lebih baik dibandingkan kabupaten karena dilihat dari target usaha yang lebih kecil maka kota akan lebih mudah mencapai target 100% padahal seharusnya target usaha bisa lebih dari yang sudah ditetapkan.

Tabel 4.16

Sebaran Efisiensi BPR/BKK Kabupaten Tahun 2008

Tahap

commit to user

67 a. Bank dengan Efisiensi 100%

Nama-nama Bank yang tingkat efisiensinya mencapai 100%

dapat dilihat dalam tabel 4.17. Ditemukan Bank yang fungsi intermediasinya sudah efisien 100% otomatis dalam fungsi produksinya juga efisien 100%, namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Terlihat BPR Purbalingga memiliki efisiensi 100% dalam fungsi produksi namun tidak 100% dalam fungsi intermediasi, melainkan hanya 86,3%

(tabel 4.18). Ditemukan apabila bank pada fungsi intermediasinya sudah efisien 100% otomatis dalam fungsi produksinya juga efisien 100%.

Hal ini menarik mengingat bank yang mampu menyalurkan dana ke masyarakat dengan baik berarti bank juga mampu menghimpun dana guna membiayai ekspansi kreditnya. Selain itu bank yang telah dipercaya masyarakat akan lebih mudah dalam usaha menghimpun dana pihak ketiga. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya, terlihat BPR Purbalingga untuk efisiensi dalam fungsi produksi mencapai 100%

tetapi dalam fungsi intermediasinya hanya mencapai 86,3% berarti BPR Purbalingga belum optimal dalam melakukan ekspansi kreditnya.

commit to user

68 Tabel 4.17

Daftar BPR/BKK Yang Mencapai Efisiensi 100%

Tahun 2008

No Tahap Produksi Tahap Intermediasi

1 Ungaran Ungaran

2 Boja Boja

3 Demak Kota Demak Kota

4 Purwodadi Purwodadi

5 Karanganyar Karanganyar 6 Pati Kota Pati Kota

7 Taman Taman

8 Jepara kota Jepara kota

9 Lasem Lasem

10 Blora Kota Blora Kota 11 Purwokerto Purwokerto 12 Purbalingga -

13 Muntilan Muntilan

14 Wonosobo Wonosobo

15 Purworejo Purworejo

16 Kebumen Kebumen

17 Tulung Tulung

18 Djoko tingkir Djoko tingkir

19 Grogol Grogol

20 Wonogiri Kota Wonogiri Kota 21 Tpi klidang Tpi klidang Sumber : Hasil pengolahan data

Pencapaian efisiensi 100% dalam fungsi produksi menjelaskan keberhasilan Bank menggunakan sumber daya yang dimiliki seperti tenaga kerja dan kapital fisik untuk mengumpulkan deposit. Dalam fungsi intermediasi menjelaskan kemampuan manajerial dan ketrampilan pemasarannya mentransformasikan deposit menjadi pinjaman dan investasi.

Ketika sudah mencapai efisiensi 100% atau tidak ada pemborosan dalam mengelola input menjadi output, yang perlu diperhatikan kemudian adalah nilai (besar) deposit yang disalurkan.

commit to user

69 Oleh karenanya bersamaan dengan mempertahankan tingkat efisiensi perlu dibarengi dengan peningkatan jumlah penyaluran nilai kredit.

Secara normatif semakin besar nilainya berarti semakin bagus, namun berapa besarnya tidak dapat disamakan untuk semua Bank karena besar Bank berbeda-beda. Oleh karenanya nilai kredit yang disalurkan lebih mudah dijelaskan melalui pergerakannya selama kurun waktu terakhir.

Secara rata-rata besar kredit dari kwartal pertama sampai keempat terus mengalami peningkatan. Fakta ini menunjukkan keberhasilan meningkatkan nilai kredit yang disalurkan bersamaan dengan keberhasilan menjaga efisiensi tetap 100%.

b. Bank dengan Efisiensi Kurang dari 100%

Bank yang efisiensinya kurang dari 100% bukan berarti otomatis tidak baik atau gagal dalam pengertian luas. Karena bisa jadi tidak mencapai 100% namun sudah mendekatinya, apalagi esensi dari efisiensi adalah rasio output dan input, bukan Bankrut atau tidak Bankrut. Meskipun demikian penulis sepakat efisiensi merupakan ukuran normatif yang sangat penting dan bisa menjadi jalan kegagalan suatu Bank.

Tabel berikut memperlihatkan Bank yang efisiensinya kurang dari 100%, terdapat 9 unit Bank dalam fungsi intermediasi dan sebanyak 8 unit Bank dalam fungsi produksi. Terlihat semua yang ada dalam fungsi produksi masuk dalam fungsi intermediasi, hal ini berkaitan dengan kegiatan dalam fungsi intermediasi yang menyalurkan deposit hasil fungsi produksi menjadi kredit. Sehingga bila dalam

commit to user

70 fungsi produksinya sudah tidak efisien maka dalam fungsi intermediasinyapun tidak efisien.

Banyaknya bank yang memiliki efisiensi kurang dari 100%

dalam fungsi intermediasi juga tidak terlepas dari pengaruh krisis keuangan global yang terjadi di akhir tahun 2008 yang berdampak pada ketidakstabilan kondisi perekonomian dan politik dunia. Faktor eksternal tersebut ditambah dengan banyaknya peraturan dan ketentuan yang mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit sehingga BPR lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke masyarakat mengingat kondisi sektor riil masih belum pasti.

Faktor keterbatasan dan kekurangan likuiditas juga sempat menghambat operasional bank di tahun 2008, bank lebih menekankan usaha penghimpunan dana agar kondisi likuiditas bank lebih aman sehingga usaha penyaluran kredit sedikit terhambat.

Daerah operasional kabupaten lebih luas dan jangkauannya lebih sulit sehingga kendala untuk memaksimalkan kinerja lebih besar atau dibutuhkan kerja yang lebih keras untuk mencapai target dan tingkat efisiensi yang maksimal. Sedangkan di kota daerah operasional yang berpusat di perkotaan memudahkan kegiatan operasional dan kontak dengan nasabah sehingga permasalahan yang timbul lebih cepat teratasi. Selain itu perekonomian di kota lebih dinamis dan cepat pergerakannya, karena jumlah uang yang beredar berpusat di kota sehingga lebih menguntungkan bagi bank yang beroperasi di perkotaan.

Hasil analisis yang menunjukkan tingkat efisiensi fungsi produksi yang lebih tinggi baik di kabupaten maupun secara regional

commit to user

71 menggambarkan kondisi perbankan yang masih mengalami kendala dalam menyalurkan dana ke masyarakat maupun dalam melakukan ekspansi kredit. Hal tersebut bisa terjadi karena banyaknya usaha kecil di daerah-daerah yang kurang layak baik legalitas usaha maupun jenis dan volume usahanya , terlebih jika bank dihadapkan pada prinsip kehati-hatian maka bank akan lebih selektif dalam melempar kredit ke masyarakat. Sedang di kota sektor-sektor usaha lebih variatif dan lebih berkembang baik jenis maupun volumenya, legalitas usaha juga lebih jelas sehingga usaha pelemparan kredit di kota lebih terjamin, resiko juga lebih kecil. Perputaran modal juga lebih cepat sehingga peluang penghimpunan dana masyarakat lebih besar.

Tabel 4.18

Daftar BPR/BKK dengan Efisiensi Kurang Dari 100%

Tahun 2008

Tahap Intermediasi Tahap Produksi

BPR/BKK Efisiensi BPR/BKK Efisiensi

Talang 77,05 Talang 77,05

Banjarharj 99,78 Banjarharjo 99,78

Jati Kudus 85,91 Jati kudus 85,91

Cilacap Tengah 90,14 Cilacap Tengah 88,26

Purbalingga 86,3 Mandiraja 86,19

Mandiraja 85,21 Temanggung 92,73

Temanggung 77,88 Boyolali Kota 89,12

Boyolali Kota 96,8 Tasikmadu 95,73

Tasikmadu 95,73 Sumber : Hasil pengolahan data

Hasil pengujian DEA selain memperlihatkan tingkat efisiensi Bank, juga menginformasikan rekomendasi yang sebaiknya dilakukan oleh Bank yang efisiensinya kurang dari 100%. Sebagai contoh untuk

commit to user

72 BPR Talang yang efisiensinya baru mencapai 77,05% dalam fungsi intermediasi dan produksi akan diuraikan sebagai berikut (tabel 4.18).

Modal, Beban Bunga, dan Beban Operasional lainnya adalah parameter input yang digunakan untuk menganalisis efisiensi, semua parameter input dalam tabel 4.19 diawali dengan tanda minus (-).

Sedangkan yang menjadi output adalah parameter kredit, pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya , semua parameter output diawali dengan tanda plus (+). Dalam parameter-paramater tersebut tertulis akhiran I, II, III dan IV adalah mewakili kwartal, Yaitu : bulan Maret atau Kwartal I, bulan Juni atau kwartal II, bulan September atau kwartal III, dan bulan Desember atau kwartal IV.

Pada kwartal pertama BPR Talang berhasil mengakumulasi modal disetor sampai dengan Rp. 10.000.000.000,- (nilai aktual) jumlah ini bila dikaitkan dengan sumber-sumber yang dimiliki BPR Talang baru mencapai tingkat efisiensi sebesar 67,9%. Jumlah tersebut terlalu besar dari target yaitu Rp. 6.794.799.400,- (nilai aktual) atau diturunkan 32,1% agar efisiensinya menjadi 100% atau sesuai dengan outputnya.

Peningkatan efisiensi juga dapat dilakukan dengan memaksimalkan output. Pada kwartal pertama BPR Talang berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp. 15.930.655.000,- (nilai aktual) efisiensi penyaluran kredit tersebut baru mencapai 87,2%. Agar naik menjadi 100% perlu dimaksimalkan penyalurannya hingga mencapai target sebesar Rp.18.274.770.300,- (nilai aktual) atau dinaikkan 14,7%.

commit to user

73 Tabel 4.19

Efisiensi BPR Talang Dalam Fungsi Intermediasi ( dalam ribuan rupiah )

Parameter BPR Talang Efisiensi 77,05 % Radial Pencapaian

Sekarang Target Rekomendasi Penurunan/ penyederhanaan dari tabel tersebut agar lebih mudah dalam mengetahui

commit to user

74 penyesuaian yang harus dilakukan BPR Talang. BPR yang lain dapat dilihat pada lampiran hasil pengujian DEA.

Tabel 4.20

Rekomendasi Nilai Input BPR Talang ( dalam ribuan rupiah )

Rekomendasi Nilai Output BPR Talang ( dalam ribuan rupiah ) Parameter Kwartal

commit to user

75 Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat dijelaskan secara kewilayahan bahwa, Persentase BPR/BKK Kabupaten di Jawa Tengah yang tingkat efisiensinya sudah mencapai 100% mencapai 72,41%

dalam fungsi produksi dan 68,97% dalam fungsi intermediasi. Selisih sebesar 3,45% dimana fungsi produksi lebih banyak dicapai dibandingkan fungsi intermediasi menunjukkan terdapat BPR/BKK yang sudah berhasil menyerap dana masyarakat dengan efisien namun belum efisien dalam menyalurkan kembali ke masyarakat. Daftar nama dan tingkat efisiensi untuk semua Bank dapat dilihat dalam tabel di bawah.

BPR Kabupaten juga mengalami banyak kendala dalam usaha menyalurkan kredit ke masyarakat mengingat faktor luasnya daerah operasional yang harus dijangkau apalagi banyaknya daerah pedesaan yang terpencil semakin mempersulit layanan bank. Selain itu secara demografis bank kabupaten dihadapkan pada masyarakat yang belum sepenuhnya maju dalam status sosial , ekonomi maupun pendidikan, hal ini juga berpengaruh pada terbatasnya permohonan kredit yang layak pada bank.

Ketidakmampuan bersaing dengan pelaku bisnis perbankan maupun lembaga keuangan lain bahkan lintah darat yang tumbuh subur di pedesaan semakin mempersulit gerak langkah bank, belum lagi resiko kredit macet yang menghadang.

commit to user

76 Tabel 4.22

Efisiensi Fungsi Produksi BPR/BKK Kabupaten di Jawa Tengah Tahun 2008

Efisiensi fungsi Intermediasi BPR/BKK Kabupaten di Jawa Tengah Tahun 2008 deskriptif sebelumnya terlihat semuanya memiliki nilai lebih rendah dibandingkan BPR Kabupaten. Namun hasil pengujian DEA menunjukkan semua BPR Kota efisiensinya sudah mencapai 100%.

Dokumen terkait