• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. KINERJA ALAT PENYULINGAN

3. Efisiensi Kondensor

Efisiensi kondensor merupakan perbandingan antara energi panas yang diserap air pendingin dengan energi panas yang dilepaskan uap air. Efisiensi kondensor dipengaruhi oleh luas penampang pindah panas dan laju destilat. Selain itu koefisien pindah panas keseluruhan juga berpengaruh terhadap efisiensi kondensor. Menurut Ketaren (1985), koefisien pidah panas untuk kondensor jenis berpilin (coil) adalah 40 Btu/ft2 jam oF. Nilai efisiensi kondensor dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Perbandingan efisiensi kondensor

Keterangan Penyulingan

Kohobasi

Penyulingan Non Kohobasi Energi yang dilepaskan uap (MJ) 642,68 570,37 Energi yang diserap air pendingin (MJ) 502,71 566,04

Efisiensi (%) 79 99,23

Penyulingan yang dilakukan pada penelitian ini menghasilkan efisiensi kondensor sebesar 79 % untuk penyulingan kohobasi dengan

energi yang lepaskan uap air sebesar 642,68 MJ dan energi yang diserap air pendingin sebesar 502,71 MJ. Efisiensi kondensor pada penyulingan non kohobasi sebesar 99,26 % dengan energi yang dilepaskan uap air sebesar 570,37 MJ dan energi yang diserap air pendingin sebesar 566,04 MJ. Air pengisi ketel yang berupa air kohobasi maupun air non kohobasi tidak berpengaruh terhadap efisiensi kondensor karena yang berpengaruh terhadap efisiensi kondensor adalah laju destilat dan penggunaan air pendingin. Air pengisi ketel hanya akan mempengaruhi energi yang digunakan untuk menguapkan air di ketel suling.

Semakin besar laju destilat maka efisiensinya semakin rendah. Laju destilat pada penyulingan kohobasi lebih besar dibandingkan dengan penyulingan non kohobasi yaitu sebesar 0,74 liter/jam/kg bahan sedangkan pada penyulingan non kohobasi sebesar 0,63 liter/jam/kg bahan. Laju destilat yang semakin besar akan melepaskan energi panas yang semakin besar. Energi panas dari uap air tidak dapat diserap oleh air pendingin secara maksimal selain itu kontak antara uap dan air pendingin terjadi lebih singkat. Kemampuan air pendingin untuk menyerap panas menurun ketika suhu air pendingin meningkat. Selain itu air pendingin yang digunakan pada penyulingan non kohobasi dialirkan lebih lama dibandingkan dengan penyulingan kohobasi sehingga pada penyulingan kohobasi kemampuan air pendingin menyerap panas lebih rendah. Energi yang diserap air pendingin jauh lebih kecil dibandingkan dengan energi yang dilepas oleh uap air, sehingga efisiensinya kecil.

Pada penelitian Fatahna (2005), efisiensi kondensor tipe shell and tube penyulingan minyak nilam sebesar 94,51 % sedangkan penelitian Sugiarto (1993) didapatkan efisiensi kondensor sebesar 97,35 %. Efisiensi kondensor pada penyulingan minyak atsiri umumnya cukup baik karena kondensor yang digunakan dapat mengubah uap minyak dan air menjadi fase cair.

4. Efisiensi Energi Penyulingan

Efisiensi energi penyulingan merupakan nilai perbandingan antara energi yang keluar dari sistem dengan energi yang masuk ke dalam sistem. Energi yang masuk ke dalam sisitem merupakan energi yang berasal dari bahan bakar sedangkan energi yang keluar dari sistem adalah energi yang diserap oleh air pendingin di kondensor.

Nilai efisiensi energi penyulingan kohobasi sebesar 19,48 % dengan energi yang berasal dari bahan bakar sebesar 2579,85 MJ dan energi yang diserap air pendingin sebesar 502,7 MJ. Sedangkan efisiensi penyulingan non kohobasi sebesar 22,75 % dengan energi yang dihasilkan bahan bakar sebesar 2487,6 MJ dan energi yang diserap air pendingin sebesar 566,04 MJ. Nilai efisiensi penyulingan tersebut menunjukkan bahwa pada sistem penyulingan minyak nilam dengan metode uap dan air ini energi yang dihasilkan oleh bahan bakar lebih banyak yang hilang ke lingkungan dibandingkan dengan yang digunakan dalam proses penyulingan. Pada penyulingan kohobasi kehilangan energi keseluruhan sebesar 2077,15 MJ dan pada penyulingan non kohobasi kehilangan energi keseluruhan sebesar 1921,56 MJ. Kehilangan energi tersebut merupakan kehilangan energi di tungku pembakaran, ketel suling, tutup ketel, pipa penghubung ketel dengan kondensor dan kondensor.

Pada penelitian Fatahna (2005), efisiensi energi penyulingan nilam sebesar 67,87 % dan pada penelitian Sunanto (1992) efisiensi energi penyulingan sereh wangi sebesar 45,81 %. Perbedaan efisiensi energi penyulingan tersebut dapat disebabkan karena sistem penyulingan yang berbeda. Penelitian yang dilakukan Fatahna (2005) dan Sunanto (1992) menggunakan sistem penyulingan uap langsung dengan penghasil uap air berasal dari ketel uap dan menggunakan bahan bakar yang berbeda. Neraca energi penyulingan kohobasi dan penyulingan non kohobasi disajikan pada Gambar 17 dan gambar 18.

Gambar 17. Neraca Energi Penyulingan Kohobasi Ketel Suling dengan

Tungku Pembakaran ξ = 25 % Tair awal = 23,5 °C

Tsteam = 100 °C Tekanan = 1 atm Energi Kayu Bakar

2579,85 MJ

Loss Energi Ketel 1935,34 MJ

Energi Penguapan Air 644,77 MJ

Loss Energi Pipa Ketel - Kondensor 2,1 MJ

Energi yang Dilepaskan Uap 642,68 MJ

Kondensor ξ = 79 % Tsteam = 100 °C Tdestilat = 31,56 °C

Loss Energi Kondensor 139,71 MJ

Energi yang Diserap Air Pendingin 502,7 MJ

Gambar 18. Neraca Energi Penyulingan Non Kohobasi Ketel Suling dengan

Tungku Pembakaran ξ = 22,99 % Tair awal = 25 °C Tsteam = 100 °C Tekanan = 1 atm Energi Kayu Bakar

2487,6 MJ

Loss Energi Ketel 1936,43 MJ

Energi Penguapan Air 572,46 MJ

Loss Energi Pipa Ketel - Kondensor 2,1 MJ

Energi yang Dilepaskan Uap 570,37 MJ

Kondensor ξ = 99,26 % Tsteam = 100 °C Tdestilat = 30,35 °C

Loss Energi Kondensor 4,2 MJ

Energi yang Diserap Air Pendingin 566,04 MJ

D. ANALISA MUTU

Setelah proses penyulingan, dilakukan pengujian mutu terhadap minyak nilam yang dihasilkan sesuai dengan prosedur Standar nasional Indonesia. Parameter yang diukur antara lain bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, bilangan ester dan kelarutan dalam alkohol. Perbandingan mutu minyak nilam hasil penyulingan metode kohobasi dan non kohobasi dengan spesifikasi mutu minyak nilam berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2385- 2006 disajikan dalam Tabel 13. Mutu minyak nilam hasil penyulingan dapat dikatakan baik karena hasil perhitungan menunjukkan setiap parameter uji masuk dalam SNI 06-2385-2006.

Tabel 13. Perbandingan mutu minyak nilam hasil penyulingan

No. Parameter Kohobasi Non

Kohobasi SNI 06-2385-2006 1. Penampakan warna minyak

nilam Kuning kecokelatan Kuning muda Kuning muda- cokelat kemerahan 2. Bobot jenis (t = 25 °C) 0,9583 0,9582 0,950 – 0,975 3. Indeks bias (nD20) 1,5075 1,5073 1,507-1,515 4. Putaran optik (-) 64,5 (-) 62,47 (-) 48° - (-) 65°

5. Bilangan asam 3,18 3,19 Maksimal 8

6. Bilangan ester 8,75 5,55 Maksimal 20

7. Kelarutan dalam etanol 90 % 1 : 7 – 1 : 1 1 : 7 – 1 : 1 Maksimal 1 : 10

1. Penampakan Warna

Parameter warna ditentukan secara visual terhadap minyak nilam yang hasil penyulingan menurut. Pada umumnya warna minyak yang lebih muda lebih disukai daripada warna minyak yang gelap. Gambar 18 menunjukkan minyak hasil penyulingan dengan sistem kohobasi dan non kohobasi.

Penyulingan Kohobasi Penyulingan Non Kohobasi Gambar 19. Minyak nilam hasil penyulingan dari kiri ke kanan minyak

jam pertama hingga jam kedelapan

Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2385-2006 untuk warna minyak nilam yang memenuhi syarat yaitu kuning muda sampai coklat kemerahan. Warna kuning pada minyak nilam merupakan warna alami pada minyak nilam. Secara visual dapat dilihat bahwa penyulingan dengan sistem kohobasi menghasilkan minyak dengan warna yang lebih gelap dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan dari penyulingan non- kohobasi. Selain itu dengan semakin bertambahnya waktu penyulingan warna minyak menjadi semakin gelap. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kadar dan jumlah komponen dalam minyak tersebut. Pada penyulingan kohobasi warna yang gelap dapat dikarenakan penggunaan air pengisi ketel secara berulang-ulang. Selain itu semakin lama waktu penyulingan maka semakin banyak komponen fraksi berat seperti patchouli alkohol sehingga warnanya lebih gelap.

Bobot pada suhu ter jenis ditentuk didalam minya G Pada G hasil penelitia penyulingan b ini disebabkan banyak fraksi komponen yan Menurut Stand pada rentang n Minya yang sesuai maupun penyu pertama lebih nilam jam ket Selain itu dap penyulingan k kohobasi. Sec 0.9 0.91 0.92 0.93 0.94 0.95 0.96 0.97 0.98 0.99 1 1.01 B o b o t Je n is

ot jenis didefinisikan sebagai perbandingan ma tertentu dengan massa air pada suhu yang sa tukan oleh komponen-komponen kimia ya

yak nilam.

Gambar 20. Grafik perbandingan nilai bobot je

Gambar 20 dapat dilihat bahwa bobot jeni itian cenderung meningkat dengan semakin baik pada penyulingan kohobasi maupun no an dengan semakin lamanya penyulingan mak si berat yang tersuling. Semakin tinggi kadar

ang ada dalam minyak maka nilai bobot jenis ndar Nasional Indonesia nilai bobot jenis miny g nilai 0,950 – 0,975 pada suhu 25oC.

yak nilam hasil penyulingan hanya minyak p i dengan standar baik pada penyulingan de yulingan non kohobasi. Minyak nilam hasil p ih rendah dibandingkan dengan standar sed etiga hingga jam kedelapan nilainya lebih be dapat dilihat bahwa nilai bobot jenis minyak

kohobasi lebih tinggi dibandingkan dengan p ecara keseluruhan minyak nilam yang dih

Jam ke-

massa suatu bahan sama. Nilai bobot yang terkandung

jenis

nis minyak nilam n lamanya waktu non kohobasi. Hal aka akan semakin ar fraksi berat dan is semakin tinggi. nyak nilam berada

pada jam kedua dengan kohobasi l penyulingan jam edangkan minyak besar dari standar. ak nilam dengan penyulingan non ihasilkan dengan

Kohobasi Non Kohobasi

penyulingan Nasional Indo 3. Indeks Bias Nilai ind komponen mi rantai karbon karbon, semak yang datang. H hubungan anta lama penyulin G Menurut berada pada re untuk minyak kohobasi mem berkisar anta penyulingan n 20oC. Dari g penyulingan s 1.5 1.502 1.504 1.506 1.508 1.51 1.512 1.514 In d e k s B ia s

kohobasi maupun non kohobasi sesuai d donesia.

indeks bias minyak nilam berhubungan denga inyak hasil penyulingan. Indeks bias ditentuk on yang menyusun suatu senyawa. Semakin akin besar kerapatannya sehingga sukar mem . Hal ini menyebabkan nilai indeks bias menja ntara nilai indeks bias minyak nilam hasil peny lingan disajikan pada Gambar 21.

Gambar 21. Grafik perbandingan nilai indeks

rut Standar Nasional Indonesia nilai indeks bia rentang nilai 1,507 – 1,515 pada suhu 20oC. N ak nilam hasil penyulingan dengan kohoba

emenuhi standar. Nilai indeks bias penyul tara 1,5050 – 1,5120 pada suhu 20oC s non kohobasi berkisar antara 1,5046 – 1,5 grafik diatas dapat dilihat bahwa semak

semakin meningkat pula nilai indeks bias. Ha

Jam ke-

i dengan Standar

gan perbandingan ukan oleh panjang in panjang rantai embiaskan cahaya njadi besar. Grafik nyulingan dengan

ks bias

bias minyak nilam . Nilai indeks bias basi maupun non ulingan kohobasi sedangkan pada 1,5121 pada suhu akin lama waktu al tersebut terjadi

Kohobasi Non Kohobasi

karena pada awal penyulingan minyak nilam mengandung fraksi ringan dengan semakin lama penyulingan maka minyak dengan fraksi berat semakin banyak yang tersuling. Sepeti halnya nilai bobot jenis, nilai indeks bias dipengaruhi oleh perbandingan-perbandingan komponen- komponen yang terkandung di dalamnya.

Besar kecilnya nilai indeks bias berhubungan dengan perbandingan komponen-komponen dan senyawa yang terkandung di dalamnya. Indeks bias dipegaruhi oleh panjangnya rantai karbon dan banyaknya ikatan rangkap. Banyaknya fraksi ringan dalam minyak akan menurunkan kerapatan minyak, sehingga indeks bias menjadi kecil. Jika kerapatan minyak semakin kecil maka akan mudah membiaskan cahaya yang datang sehingga nilai indeks biasnya kecil. Semakin panjang rantai karbon, semakin besar kerapatannya dan semakin banyak minyak mengandung senyawa dengan ikatan rangkap atau fraksi-fraksi berat, maka kerapatan minyak akan semakin besar. Jika kerapatan minyak semakin besar, maka akan sulit membiaskan cahaya yang datang dan akan menyebabkan nilai indeks bias menjadi lebih besar.

4. Putaran Optik

Kisaran nilai yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2385-2006 untuk nilai putaran optik minyak nilam adalah (-) 48o – (-) 65o. Nilai putaran optik pada minyak nilam yang dihasilkan hanya minyak pada jam pertama dan kedua saja yang sesuai dengan standar sedangkan untuk minyak jam ketiga sampai kedelapan tidak sesuai dengan standar tetapi secara kseluruhan minyak nilam hasil penyulingan sesuai dengan standar. Minyak nilam ada pula yang tidak memutar bidang polarisasi, tetapi seluruh minyak nilam hasil penelitian ini memutar bidang polarisasi ke arah kiri (levo rotary) dengan tanda negatif (-).

Ga Gamba hasil penelitia sebelah kiri di optik aktif ke semakin men tersebut diseb banyak kandu minyak untuk 5. Bilangan Asam Sebag bebas yang t oksidasi dan terhadap bilan 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P u ta ra n O p ti k

Gambar 22. Grafik perbandingan nilai putaran o

bar 22 menunjukkan grafik nilai putaran opti itian setiap jam. Kecenderungan minyak nila

disebabkan oleh adanya patchouli alkohol yan ke kiri (-) yang cukup besar. Nilai putaran oti eningkat dengan semakin lamaya waktu pe

ebabkan karena semakin lama penyulingan dungan patchouli alkohol dalam minyak sehing

k memutar bidang polarisasi ke kiri semakin b

sam

agian besar minyak atsiri mengandung sejumla terbentuk secara alami atau yang dihasilk n hidrolisa ester. Grafik hubungan antara lam angan asam minyak nilam dapat dilihat pada G

Jam ke-

n optik

ptik minyak nilam ilam memutar ke ang memiliki daya otik minyak nilam penyulingan. Hal an maka semakin ingga kemampuan

besar.

lah asam organik ilkan dari proses lama penyulingan Gambar 23.

Kohobasi Non Kohobasi

Gam Nilai m 8. Nilai bilan kohobasi mau masuk ke dal sampai kedela dilihat bahwa bilangan asam dilihat bahwa kohobasi lebih tersebut dapa semakin ban kemungkinan Selain pengeringan menyebabkan bahan dikerin ester. 6. Bilangan Este 0 2 4 6 8 10 12 14 16 B il a n g a n A sa m

ambar 23. Grafik perbandingan nilai bilangan

i maksimal bilangan asam menurut (SNI) 06-23 angan asam minyak nilam yang dihasilkan pa aupun non kohobasi pada jam pertama hing alam standar sedangkan minyak nilam untu elapan tidak masuk ke dalam standar. Dari gra

a semakin lama waktu penyulingan maka sem amnya. Dengan semakin lamanya waktu pen wa nilai bilangan asam minyak nilam deng bih tinggi dibandingkan dengan penyulingan no

pat disebabkan karena pada penyulingan de anyak uap yang bersentuhan dengan mi

n proses hidrolisa akan lebih besar.

in itu apabila bahan yang digunakan telah me dan penyimpanan yang terlalu lama, an bilangan asamnya semakin tinggi karena ringkan dan disimpan terjadi proses oksidas

ter

Jam ke-

n asam

2385-2006 adalah pada penyulingan ingga jam kelima tuk jam ke enam grafik diatas dapat makin tinggi nilai enyulingan dapat ngan penyulingan non kohobasi. Hal dengan kohobasi minyak sehingga

mengalami proses a, maka dapat na diduga selama asi dan hidrolisis

Kohobasi Non Kohobasi

Bilangan terutama yang ester yang di 2006 adalah 2 minyak nilam Ga Berdasarka memperlihatka penyulingan. kohobasi selur dengan penyu melebihi stand Lama peny ester terdapat lama penyulin berat dan bilan

Komponen dan eugenol y Semakin lama yang tersuling senyawa ester 0 5 10 15 20 25 B il a n g a n E st e r

n ester cukup penting peranannya dalam ng berkaitan dengan aroma. Besar nilai ma ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia 20. Berikut ini adalah grafik hubungan nila m dengan lama penyulingan.

ambar 24. Grafik perbandingan nilai bilangan

rkan Gambar 24 dapat dilihat bahwa nilai tkan kecenderungan meningkat dengan berta . Minyak nilam yang dihasilkan dengan p luruhnya sesuai dengan standar sedangkan untu yulingan kohobasi pada minyak nilam jam ked

ndar.

nyulingan mempengaruhi besarnya bilangan e at dalam fraksi berat yang menguap pada suhu lingan dan suhu semakin tinggi untuk menyul langan ester semakin tinggi.

en penentu aroma minyak adalah benzaldehid l yang memilliki titik didih tinggi dan merupak ma waktu penyulingan komponen tersebut s ing sehingga bilangan ester semakin tinggi. S er dalam minyak akan semakin baik aroma min

Jam ke-

m minyak atsiri, aksimal bilangan a (SNI) 06-2385- ilai bilangan ester

an ester

lai bilangan ester tambahnya waktu penyulingan non ntuk minyak nilam kedelapan nilainya

ester. Kandungan u tinggi. Semakin uling maka fraksi

id, sinnamaldehid pakan fraksi berat. t semakin banyak Semakin banyak inyak tersebut.

Kohobasi Non Kohobasi

7. Kelarutan dalam alkohol 90 %

Minyak atsiri larut dalam alkohol dan jarang sekali larut dalam air, oleh karena itu nilai kelarutannya diketahui dengan melarutkan dalam alkohol 90 %. Semakin banyak jumlah alkohol yang ditambahkan maka semakin sukar minyak tersebut larut dalam alkohol. Minyak yang banyak mengandung komponen oxygenated hidrocarbon mudah larut dalam alkohol dibandingkan dengan minyak yang banyak mengandung terpen.

Minyak nilam mudah larut dalam alkohol karena komponen utama dalam minyak nilam adalah patchouli alkohol yang termasuk golongan terpen-O. Kelarutan minyak hasil penyulingan dalam alkohol 90 % dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Kelarutan minyak nilam dalam alkohol 90 % Jam ke- Kelarutan Penyulingan Kohobasi Penyulingan Non Kohobasi 1 1 : 7 1 : 7 2 1 : 1 1 : 4 3 1 : 1 1 : 1 4 1 : 1 1 : 1 5 1 : 1 1 : 1 6 1 : 1 1 : 1 7 1 : 1 1 : 1 8 1 : 1 1 : 1 9 1 : 1 1 : 1

Guenther (1947), bahwa komponen kimia yang terkandung dalam minyak atsiri menentukan kelarutan minyak tersebut dalam etanol. Biasanya minyak dengan kandungan oxygenated hydrocarbon tinggi akan lebih mudah larut dalam etanol dibandingkan dengan minyak atsiri dengan kandungan senyawa terpen tinggi. Salah satu komponen yang termasuk dalam golongan oxygenated hydrocarbon adalah patchouli alkohol dengan

gugus fungsi -COH (alkohol), yang artinya memiliki kepolaran yang hampir sama dengan pelarut alkohol (etanol).

Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa dengan semakin lamanya waktu penyulingan akan meningkatkan kelarutan minyak nilam dalam alkohol. Minyak nilam pada jam pertama sulit larut dengan alkohol sedangkan pada jam berikutnya lebih mudah larut dalam alkohol. Hal tersebut dapat disebabkan karena dengan semakin lamanya waktu penyulingan maka akan meningkatkan kandungan patchouli alkohol dalam minyak nilam dan senyawa-senyawa oxygenated hydrocarbon lainnya.

E. PENYULINGAN RAKYAT

Alat penyulingan yang digunakan pada penyulingan minyak nilam di Pakpak Barat, Sumatera Utara pada umumnya masih menggunakan teknologi yang sederhana. Metode penyulingan yang dilakukan adalah metode penyulingan uap dan air dengan sistem non kohobasi. Pengisian air dilakukan secara terus menerus selama proses penyulingan berlangsung dengan memperhitungkan uap air yang keluar (biasanya dengan aliran yang sangat kecil). Bahan baku yang digunakan adalah tanaman nilam Aceh (Pogostemon cablin benth) yang dikeringkan selama 2 hari dengan kadar air 10 % - 14 %. Sketsa penyulingan rakyat dapat dilihat pada Gambar 25.

Gambar 25. Sketsa Unit pengolahan Hasil (UPH) Tradisional

Keterangan :

A : Ketel air D : Kondensor

B : Ketel suling E : Separator C : Pipa penghubung

Peralatan penyulingan yang digunakan adalah tungku, ketel air, ketel suling, pipa uap, kondensor dan separator. Ketel air ditempatkan dibawah tanah dan pada bagian atas ketel air terdapat pipa uap untuk mengalirkan uap ke ketel suling yang berada diatasnya. Luas permukaan pindah panas pada ketel air sebesar 0,78 m2 dengan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan destilat adalah 1 jam. Ketel suling dan ketel air yang digunakan terbuat dari drum berplat besi dengan diameter 57 cm dan tinggi 87,5 cm. Ketel yang terbuat dari besi dapat dengan mudah membentuk organologam pada saat penyulingan, hal itu dikarenakan penyulingan membutuhkan suhu yang tinggi. Pada suhu yang tinggi, organologam akan mudah sekali terbentuk. Organologam pada minyak nilam dapat mempengaruhi warna minyak kasar yang dihasilkan. Minyak nilam yang mengandung organologam akan berwarna kecokelatan, gelap, sampai hitam pekat, hingga mutu minyak tersebut akan menurun dan mengakibatkan harga jual minyak tersebut akan

A

D B

E C

turun. Kapasitas ketel suling yaitu 30 kg daun dan ranting nilam kering dengan kepadatan bahan 0,13 kg/liter. Bahan bakar yang digunakan pada penyulingan rakyat ini adalah kayu bakar sebanyak 2 m3.

Rata-rata laju destilat selama penyulingan berlangsung yaitu 0,9 L/jam/kg bahan. Grafik laju destilat setiap jam dapat dilihat pada Gambar 26. Grafik tersebut menunjukkan laju destilat yang tidak stabil. Pada jam kedua laju destilat mengalami penurunan kemudian naik pada jam ketiga dan turun kembali hingga akhir penyulingan. Ketidakstabilan laju detilat dapat disebabkan karena penggunaan kayu bakar selama penyulingan. Penurunan laju destilat dapat terjadi karena kurangnya pasokan kayu bakar.

Gambar 26. Laju destilat penyulingan rakyat

Pipa uap yang digunakan berbahan dasar alumunium dengan panjang 6 meter sampai 18 meter. Kondensor pada penyulingan rakyat ini menggunakan pipa kondensor yang berbahan dasar alumunium dengan bak kondensor yang digunakan berbentuk tebuka pada bagian atasnya dan dinding bak kondensor terbuat dari papan atau tanah sepanjang 6 meter sampai 10 meter. Tipe kondensor yang digunakan berupa kondensor dengan pipa yang panjang dan lurus yang terendam dalam bak kondensor. Air pendingin kondensor dialirkan secara terus menerus selama penyulingan dengan arah sama dengan aliran uap minyak dalam pipa.

Tabel 15. Perbandingan suhu rata-rata di kondensor pada penyulingan rakyat

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1 2 3 4 5 La ju L /j a m /k g b a h a n Jam ke-

No. Keterangan Suhu (°C)

1. Destilat 35.8

2. Air pendingin masuk 24

3. Air pendingin keluar 44,2

Rata-rata suhu destilat selama penyulingan adalah 35,8 °C sedangkan rata- rata suhu air pendingin keluar adalah 44,2 °C dan suhu air pendingin masuk 24 °C. Suhu destilat dan suhu air pendingin semakin meningkat dengan semakin lamanya penyulingan. Grafik perubahan suhu destilat dan suhu air pendingin selama proses penyulingan disajikan pada Gambar 27. Aliran searah yang digunakan pada penyulingan rakyat mengakibatkan suhu destilat menjadi semakin tinggi dan mencapai 39 °C pada akhir penyulingan. Hal tersebut dapat disebabkan karena pada aliran searah tidak akan dapat membuat suhu destilat mendekati suhu air pendingin yang masuk dan panas yang dipindahkan akan kurang dari yang dapat dipindahkan jika alirannya berlawanan arah.

Gambar 27. Grafik suhu di kondensor pada penyulingan rakyat

Separator yang digunakan berbentuk tabung yang terbuat dari alumunium. Proses pemisahan minyak terjadi karena adanya perbedaan bobot jenis kemudian minyak yang berada pada bagian atas dipisahkan secara

0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 S u h u Jam ke- Suhu destilat

Suhu air pendingin masuk

Suhu air pendingin keluar

manual dari air dengan menggunakan sendok sayur dan air berlebih dari separator langsung di buang.

Rendemen minyak nilam yang dihasilkan berkisar antara 2 % - 3,3 % selama 5 - 6 jam penyulingan. Tingginya rendemen yang dihasilkan karena bahan baku yang digunakan yaitu 80 % daun dan 20 % ranting muda. Menurut penelitian Purwaningrat (2008), berdasarkan bagian tanaman nilam, rendemen paling tinggi dihasilkan oleh bagian pucuk (ruas ke- 1 sampai ruas ke- 5) dan semakin menurun dari bagian pucuk ke bagian akar tanaman. Daun mempunyai rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian tanaman

Dokumen terkait