• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Landasan Teori

2.5.5. Efisiensi Tataniaga

Efisiensi tataniaga merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam suatu sistem pemasaran. Dalam mengatasi masalah efisiensi pemasaran, Mubyarto (1987) berpendapat bahwa ada dua syarat suatu sistem pemasaran dapat dikatakan efisien, yaitu (1) mampu menyampaikan produk dari produsen ke konsumen dengan biaya semurah-murahnya, dan (2) mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar dalam kegiatan produksi dan pemasaran produk tersebut. Untuk mencapai tingkat efisien pemasaran tersebut produsen

perlu menekan biaya pemasaran, terutama dengan mengurangi keuntungan-keuntungan yang tidak wajar dari pedagang perantara.

Dalam terminologi ilmu ekonomi, maka pengertian efisien ini dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu : efisiensi teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga), dan efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis terjadi kalau faktor produksi yang dipakai menghasilkan produksi yang maksimum. Dikatakan efisiensi alokatif atau efisiensi harga kalau nilai dari produk marginal sama dengan harga faktor produksi yang bersangkutan. Efisiensi ekomoni terjadi kalau usaha pertanian tersebut mencapai efisiensi teknis dan sekaligus juga mencapai efisiensi harga.

Model pengukuran efisiensi juga bergantung dari model yang dipakai. Umumnya ada dua model yang dipakai, yaitu model fungsi produksi dan model linear programming (Soekartawi, 2016).

Menurut Soekartawi (2002) dalam Surbakti (2018), tataniaga yang efisien adalah jika biaya pemasaran lebih rendah daripada nilai produk yang dipasarkan. Adapun kriteria efisien tataniaga adalah sebagai berikut :

Efisiensi tataniaga tidak terjadi jika : 1. Biaya pemasaran semakin besar.

2. Nilai produk yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu besar.

Efisiensi tataniaga akan terjadi jika :

1. Biaya pemasaran dapat ditekan sehingga keuntungan pemasaran dapat lebih tinggi.

2. Persentase perbedaan harga (margin) yang dibayarkan produsen dan konsumen tidak terlalu tinggi.

Efisiensi tataniaga merupakan suatu kondisi dimana terciptanya kepuasan dan kesejahteraan pada setiap lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga.

Pendekatan efisiensi tataniaga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu efisiensi harga dan efisiensi operasional. Efisiensi harga menekankan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen sebagai akibat prubahan tempat, bentuk, dan waktu termasuk pengolahan, penyimpanan, dan pengangkutan. Efisiensi operasional atau teknis menunjukkan hubungan antara input-output, dimana biaya input pemasaran dapat diturunkan tanpamemengaruhi jumlah output barang dan jasa (Hammond dan Dahl, 1987) dalam (Anwar, 2015).

Efesiensi secara ekonomis digunakan untuk mengetahui saluran tataniaga yang efisien secara ekonomis. Apabila semakin rendah persentase margin tataniaga, maka farmer’s share akan semakin tinggi. Apabila farmer’s share< 50%, maka tataniaga belum efisien dan apabila farmer’s share> 50%, maka tataniaga dapat dikatakan efisien (Harttitianingtias, 2015).

Margin tataniaga merupakan perbedaan harga pada tingkat yang berbeda dari sistem pemasaran atau tataniaga. Margin tataniaga berbeda antara-beda antara satu komoditi hasil pertanian dengan komoditi lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan jasa yang diberikan pada berbagai komoditi mulai dari pintu gerbang petani ketingkat pengecer untuk konsumen akhir (Limbong dan Sitorus, 1985).

Marjin tataniaga dapat didefinisikan menurut dua pengertian, yaitu sebagai berikut:

1.Perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dan yang diterima oleh produsen.

2.Harga sekumpulan jasa-jasa tataniaga yang merupakan hasil interaksi antara permintaan dan penawaran jasa-jasa tersebut.

Marjin tataniaga sebagai perbedaan harga ditingkat petani (Pf) dengan harga pedagang pengecer (Pr). Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah produk yang dipasarkan. Nilai marjin tataniaga (value of marketing marjin) merupakan perkalian antara marjin tataniaga dengan volume produk yang terjual (Pr-Pf) x Qrf yang mengandung pengertian marketing cost dan marketing charge (Dahl dan Hammond, 1977).

Gambar 1. Hubungan antara fungsi – fungsi pertama dan turunan terhadap margin tataniaga dan nilai margin tataniaga.

Keterangan :

Pr = Harga di tingkat pedagang pengecer Pf = Harga di tingkat petani

Sr = Supply di tingkat pengecer (derived supply) Sf = Supply di tingkat petani

Dr = Demand di tingkat pengecer (derived demand)

Qr, f = Jumlah keseimbangan di tingkat petani dan tingkat pengecer (Limbong dan Sitorus, 1987).

Berdasarkan Gambar 1 diatas dapat dilihat besarnya nilai margin tataniaga yang merupakan hasil perkalian dari perbedaan harga pada dua tingkat lembaga tataniaga (dalam hal ini selisih harga eceran dengan harga petani) dengan jumlah produk yang dipasarkan. Semakin besar perbedaan harga antara lembaga-lembaga tataniaga yang terlibat, terutama antara harga yang terjadi di tingkat eceran dengan harga yang diterima petani, maka semakin besar pula margin tataniaga dari komoditi yang bersangkutan. Hal ini disebabkan banyak lembaga tataniaga yang terlibat mengakibatkan biaya tataniaga meningkat akan diikuti peningkatan pengambilan keuntungan oleh setiap lembaga tataniaga yang terlibat.

Tingginya margin tataniaga belum mencerminkan efisiennya jasa yang diberikan oleh sistem tataniaga tersebut. Salah satu indikator yang cukup berguna adalah memperbandingkan bagian yang diterima (farmer’s share) oleh petani.

Salah satu indikator yang menentukan efisiensi pemasaran ialah farmer’s share (selama komoditas tidak berubah bentuk hingga sampai di tangan konsumen akhir). Bagian yang diterima petani (farmer’s share) merupakan perbandingan harga yang diterima petani dengan harga yang dibayar konsumen. Bagian yang diterima lembaga pemasaran ini dinyatakan dalam persentase.

Farmer’s Share mempunyai hubungan yang negatif dengan margin tataniaga, karena apabila margin tataniaganya semakin tinggi umumnya akan mengakibatkan farmer’s share akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya.

Sehingga, farmer’s share mempunyai nilai yang relatif lebih rendah jika harga di

tingkat konsumen akhir relatif tinggi jika dibandingkan dengan harga yang diterima oleh petani. Sebailknya juga jika farmer’s share mempunyai nilai yang relatif lebih tinggi jika harga di tingkat konsumen akhir tidak terpaut jauh jika dibandingkan dengan harga yang diterima oleh petani (Limbong dan Sitorus, 1987) dalam (Amalia, 2012).

2.6 Penelitian Terdahulu

Supriadi Surbakti (2018), dengan judul Analisis Tataniaga Jambu Biji (Psidium guajava L.) (Studi Kasus : Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang). Penelitian ini untuk mengetahui saluran tataniaga, fungsi-fungsi tataniaga, biaya tataniaga, price spread, share margin, dan tingkat efisiensi tataniaga jambu biji yang terjadi di daerah peelitian. Hasil penelitian yang diperoleh adalah Saluran tataniaga jambu biji di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang terdiri dari 2 saluran, yaitu : Saluran I : Petani - Pedagang Pengumpul - Pedagang Besar - Pedagang Pengecer Konsumen. Saluran II : Petani - Pedagang Pengecer - Konsumen. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pada setiap saluran tataniaga jambu biji di daerah penelitian adalah sebagai berikut : Dimana fungsi pembelian, penjualan, pembiayaan, dan informasi pasar dilakukan oleh petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer. Sedangkan fungsi pengangkutan, penyimpanan, Standardisasi dan Grading, penanggungan resiko dilakukan oleh pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer. Margin keuntungan paling besar tingkat petani adalah dengan harga jual Rp 2.500/kg sebesar Rp 1.375,53/kg. Margin keuntungan paling besar tingkat pedagang pengumpul adalah yang menjual ke daerah Jakarta Rp 3.932,33/kg. Margin

keuntungan paling besar tingkat pedagang besar adalah di daerah Jakarta Rp 5.648,65/kg. Margin keuntungan paling besar tingkat pedagang pengecer adalah di daerah Aceh sebesar Rp 2.706,90/kg. Efisiensi saluran tataniaga jambu biji di daerah penelitian pada saluran tataniaga jambu biji I daerah Jakarta lebih besar dari pada daerah Aceh, saluran tataniaga jambu biji II, daerah Batam, dan jambu biji kualitas BS (barang sisa) daerah lokal, yaitu 2,22, 2,10, 1,74, 1,48, dan 1,03.

Amalia (2012), dengan judul penelitian Analisis Tataniaga Wortel (Daucus carota L.) di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran tataniaga, fungsi-fungsi yang dilakukan lembaga-lembaga tataniaga, untuk mengetahui struktur dan perilaku pasar pada maisng-masing lembaga, dan untuk mengetahui tingkat efisiensi berdasarkan marjin, farmer share, dan rasio keuntungan dan biaya tataniaga. Saluran tataniaga wortel di Kecamatan Pacet melibatkan beberapa lembaga tataniaga yaitu petani, pedagang pengumpul kebun (PPK), Sub Terminal Agribisnis (STA), pedagang besar sampai pedagang pengecer. Dari masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran tataniga wortel sampai ke konsumen terdapat empat saluran tataniaga. Masing-masing lembaga tataniaga menghadapi proses tataniaga yang berbeda yang dan dapat dilihat berdasarkan fungsi- fungsi pemasaran, struktur, perilaku pasar dan keragaan pasar. Fungsi–fungsi yang dilakukan oleh lembaga – lembaga pemasaran yang terlibat meliputi fungsi fisik, fungsi pertukaran dan fungsi fasilitas yang sudah dilakukan cukup baik, namun belum tepat dilakukan oleh petani. Struktur pasar yang dihadapi oleh petani, PPK dan sebagian pedagang pengecer adalah pasar persaingan sempurna, sedangkan struktur pasar yang dihadapi STA dan pedagang besar cenderung mengarah ke pasar persaingan

oligopoli. Dan sebagian pedagang pengecer (supermarket) menghadapi struktur pasar oligopoli. Perilaku pasar yang dihadapi dalam praktek penjualan dan pembelian telah menjalin kerjasama yang erat dan cukup baik antara lembaga tataniaga. Analisis terhadap sistem tataniaga wortel di Kecamatan Pacet menunjukkan bahwa sebaran marjin keuntungan dan marjin biaya yang ditanggung oleh masing-masing lembaga tataniaga berbeda-beda sesuai dengan fungsi tataniaga yang telah dilakukan oleh masing-masing lembaga tataniaga.

Marjin terbesar terdapat pada saluran II dan terkecil pada saluran III. Secara operasional dari empat pola saluran tataniaga yang ada saluran tataniaga III lebih efisien jika dilihat dari nilai margin yang merata di setiap lembaga tataniaga yang terlibat dan dilihat dari penyebaran rasio keuntungan terhadap biaya (Li/Ci ratio) yang paling besar.

2.7 Kerangka Pemikiran

Setiap petani jeruk nipis dapat memasarkan produknya kepada konsumen secara langsung maupun melalui beberapa lembaga perantara. Lembaga-lembaga pemasaran yang dapat terlibat dalam proses pemasaran ini yaitu tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar, agen penjualan, dan pengecer.Dalam hal ini, terdapat tiga saluran yang terjadi.Setiap saluran tataniaga melaksanakan fungsi tataniaga. Adapun fungsi-fungsi tataniaga tersebut adalah fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas.

Semakin panjang saluran tataniaga, maka semakin banyak pula fungsi tataniaga yang terjadi sehingga akan mengakibatkan harga jeruk nipis semakin tinggi karena biaya tataniaga yang dikeluarkan untuk melakukan fungsi-fungsi tataniaga

menentukan harga yang diterima oleh setiap lembaga. Biaya tataniaga dapat diukur dengan Price Spread dan Share Margin. Apabila nilai Share Margin telah diketahui, maka akan didapat pula nilai efisiensi tataniaga jeruk nipis tersebut.

Secara skematis, kerangka pemikiran dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Keterangan :

: Menyatakan saluran tataniaga

: Menyatakan pelaksanaan fungsi tataniaga : Menyatakan pengaruh

2.8 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah dan landasan teori, maka hipotesis penelitian ini adalah tataniaga jeruk nipis di daerah penelitian sudah efisien.

Petani Jeruk Nipis

Biaya Tataniaga

Efisiensi Tataniaga

Fungsi-Fungsi Tataniaga :

1.Fungsi Pertukaran 2.Fungsi Fisik 3.Fungsi Fasilitas

Saluran 1 Saluran 2 Saluran 3

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penelitian dilakukan di Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan secara purposive sampling atau secara sengaja, yaitu metode pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu. Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa Kecamatan Sipispis merupakan daerah budidaya dan produksi jeruk nipis yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Sampel dalam penelitian ini dibagi atas dua jenis sampel dari petani jeruk nipis (produsen) dan sampel dari pedagang perantara yang terdiri dari pedagang besar, pedagang pengumpul, dan pedagang pengecer.

3.2.1 Produsen (Petani Jeruk Nipis)

Pengambilan sampel petani ini dilakukan dengan metode sensus dimana, semua populasi yang ada di daerah penelitian dijadikan sampel. Dalam hal ini, karena jumlah populasi relative kecil maka peneliti menggunakan metode sensus.

Populasi dalam penelitian ini adalah petani jeruk nipis di Desa Marjanji, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

3.2.2 Pedagang Perantara

Pedagang perantara adalah orang atau lembaga yang terlibat dalam memasarkan jeruk nipis dari produsen hingga ke konsumen. Penentuan sampel pedagang perantara dalam penelitian ini dilakukan dengan metode snowball sampling, yaitu

dengan menelusuri saluran pemasaran jeruk nipis yang dominan di daerah penelitian berdasarkan informasi yang didapat dari pelaku pasar sebelumnya.

Metode snowball sampling dimulai dengan suatu kelompok kecil atau orang, yang kemudian menjadi sumber informasi dan diminta untuk menunjuk responden/sampel berikutnya. Orang-orang yang ditunjuk ini kemudian dijadikan anggota sampel yang selanjutnya diminta untuk menunjuk orang lain lagi yang memenuhi kriteria menjadi anggota sampel sehingga, anggota sampel yang diinginkan tercapai.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulandata dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan narasumber yaitu petani, dan pedagang perantara melalui survei maupun kuisioner yang sudah dipersiapkan.

Data sekunder merupakan data pendukung data primer, data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait, seperti : Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai, Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, dan beberapa literatur berupa hasil-hasil penelitian terdahulu.

3.4 Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari dari daerah penelitian terlebih dahulu akan ditabulasi untuk selajutnya dianalisis, adapun analisis datanya ialah sebagai berikut :

Untuk identifikasi masalah pertama, digunakan metode analisis deskriptif, yaitu dengan menganalisis saluran tataniaga dan fungsi-fungsi yang dilakukan

oleh masing-masing lembaga tataniaga jeruk nipis mulai dari produsen (petani jeruk nipis) sampai konsumen akhir di daerah penelitian.

Untuk identifikasi masalah kedua, akan digunakan analisis tataniaga yaitu dengan menganalisis hubungan antara harga yang diterima petani atau pedagang dengan harga yang dibayar oleh konsumen yang disebut share margin, untuk menganalisis price spread dan efisiensi tataniaga di daerah penelitian.

Margin pemasaran dan distribusinya pada masing-masing lembaga perantara dapat digunakan model sebagai berikut:

atau

Keterangan :

M = Margin Pemasaran

Pr = Harga di tingkat pengecer Pf = Harga di tingkat produsen

= Jumlah biaya tiap lembaga perantara ke-i

= Jumlah keuntungan tiap lembaga perantara ke-i

Share biaya (Sbi) masing-masing lembaga perantara menggunakan model:

Keterangan :

Sbi = Share Biaya (%)

Bi = Biaya masing-masing lembaga (Rp/kg) M = Pr - Pf

Pf =Harga di tingkat produsen (Rp/kg)

Share keuntungan (Ski) masing-masing lembaga perantara menggunakan model:

Keterangan :

Ski = Share keuntungan masing-masing lembaga (%) Ki = Keuntungan di tingkat lembaga perantara (Rp/kg) Pr = Harga di tingkat lembaga perantara (Rp/kg) Pf = Harga di tingkat produsen (Rp/kg)

Share petani (produsen) (Sf) masing-masing lembaga perantara menggunakan model :

Keterangan :

Sf = Share petani

Pr = Harga di tingkat lembaga perantara (Rp/kg) Pf = Harga di tingkat produsen (Rp/kg)

Share petani (farmer’share) dapat membuktikan tingkat efisiensi pada masing-masing saluran tataniaga yang digunakan dalam Metode Herman Southworth di dalam buku Gultom (1996), cara untuk menghitung efisiensi tataniaga adalah dari share margin pengolah/produsen dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

S = Share Margin Produsen (pengolah)

Pf = Harga jual petani Pr = Harga beli konsumen M = Marketing margin

Apabila S > 50% maka dikatakan efisien dan S < 50% maka dikatakan tidak efisien.

Dengan menggunakan Metode Shepherd, untuk menganalisis efisiensi tataniaga dapat digunakan dengan rumus:

Keterangan :

ME = Efisiensi Tataniaga

V = Harga di Konsumen (Rp/kg) I = Biaya Tataniaga (Rp/kg)

Nilai ME yang tinggi menunjukkan tingkat efisiensi tataniaga yang tinggi dan sebaliknya, sehingga semakin besar harga yang dibayarkan oleh konsumen maka saluran tataniaga tersebut semakin efisien.

Dengan menggunakan Metode Acharya dan Aggarwal, untuk menganalisis efisiensi tataniaga dapat digunakan dengan rumus:

Keterangan :

ME = Efisiensi Tataniaga

Pf = Harga di Produsen (Rp/kg) MC = Biaya Tataniaga (Rp/kg)

ME =

𝑽𝑰

- 1

ME =

𝑴𝑪+𝑴𝑴𝑷𝒇

MM = Margin Keuntungan (Rp/kg)

Nilai ME yang tinggi menunjukkan efisiensi tataniaga yang tinggi dan sebaliknya. Di dalam metode ini efisiensi tataniaga dilihat dari perbandingan harga yang diterima produsen dengan biaya tataniaga ditambah margin keuntungan. Sehingga jika harga yang diterima produsen besar maka semakin efisien saluran tataniaga tersebut.

Dengan menggunakan Metode Marketing Efficiency Index, untuk menganalisis efisiensi tataniaga dapat digunakan dengan rumus:

Keterangan :

ME = Efisiensi Tataniaga MC = Biaya Tataniaga (Rp/kg) MM = Margin Keuntungan (Rp/kg)

Efisiensi tataniaga yang tinggi ditunjukkan oleh nilai ME yang tinggi dan sebaliknya. Pada metode ini efisiensi tataniaga terjadi jika biaya tataniaga yang dikeluarkan lebih kecil dari marjin keuntungan lembaga tataniaga.

Menurut Soekartawi (2002), efisiensi tataniaga juga dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

Ep = Efisiensi Tataniaga

ME = 1 +

𝑴𝑴𝑴𝑪

Ep =

𝑴𝑪𝑷𝒌

MC = Biaya Tataniaga (Rp/kg) Pk = Harga di Konsumen (Rp/kg)

Jika nilai Ep semakin kecil, maka semakin tinggi pula tingkat efisiensi saluran tataniaga.

Maka pasar yang tidak efisien akan terjadi kalau:

1. Biaya tataniaga semakin besar, dan

2. Nilai produk yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu besar.

Oleh karena itu efisiensi tataniaga akan terjadi kalau :

1. Biaya tataniaga dapat ditekan sehingga keuntungan tataniaga dapat lebih tinggi.

2. Persentase perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi.

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kekeliruan dan kesalahpahaman dalam menafsirkan penelitian, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut :

3.5.1 Definisi

1. Tataniaga jeruk nipis adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi menyampaikan jeruk nipis dari produsen ke konsumen akhir melalui lembaga-lembaga perantara atau lembaga tataniaga.

2. Saluran tataniaga adalah kumpulan lembaga-lembaga yang secara langsung atau tidak langsung terlibat di dalam kegiatan tataniaga jeruk nipis yang saling memengaruhi.

3. Lembaga tataniaga adalah badan usaha atau individu yang ikut berperan dalam menyelenggarakan dan menyalurkan komoditi jeruk nipis dari petani

jeruk nipis kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya.

4. Fungsi tataniaga adalah serangkaian kegiatan fungsional yang dilakukan oleh petani dan lembaga-lembaga tataniaga, baik aktivitas proses fisik maupun aktivitas jasa yang ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen akhir.

5. Produsen (petani jeruk nipis) adalah pelaku yang mengusahakan usahataninya dan menerima hasil dari penjualan produksi usahataninya tersebut.

6. Usahatani jeruk nipis adalah kegiatan produksi jeruk nipis di daerah penelitian.

7. Pedagang besar adalah pedagang yang membeli jeruk nipis secara langsung dari banyak petani dalam jumlah yang besar dan menjualnya kepada pedagang pengecer.

8. Pedagang pengumpul adalah pedagang yang membeli jeruk nipis langsung dari produsen dan menjualnya kepada pedagang besar ataupun ke pedagang pengecer setelah dilakukannya penyortiran.

9. Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli jeruk nipis dari pedagang pengumpul ataupun dari pedagang besar untuk dijual langsung ke konsumen.

10. Konsumen adalah pelaku akhir yang membeli jeruk nipis dari berbagai pedagang perantara.

11. Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga tataniaga dalam menyalurkan jeruk nipis dari produsen (petani jeruk nipis) hingga ke konsumen akhir.

12. Margin tataniaga adalah perbedaan harga antara jumlah yang dibayarkan oleh konsumen dan jumlah yang diterima produsen (petani jeruk nipis), diukur dengan membandingkan harga mulai dari produsen sampai konsumen yang dinyatakan dalam rupiah (Rp).

13. Price Spread atau sebaran harga adalah sekelompok harga beli dan harga jual dan juga biaya-biaya pemasaran menurut fungsi tataniaga dan margin keuntungan dari setiap lembaga tataniaga atau semua ongkos yang dikeluarkan dalam kegiatan penyampaian barang dari produsen (petani jeruk nipis) ke konsumen.

14. Share Margin adalah salah satu indikator untuk mengetahui efisiensi pemasaran. Share Margin diukur dengan membandingkan harga yang diterima petani atau pedagang perantara jeruk nipis dengan harga yang harus dibayarkan oleh konsumen dikalikan 100%, dinyatakan dalam persen.

15. Efisiensi tataniaga adalah biaya yang dikeluarkanuntuk memasarkan tiap-tiap unit produk dengan nilai produk yang dipasarkan dan dinyatakan dalam persen.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian ini dilakukan di Desa Marjanji, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

2. Sampel penelitian adalah petani jeruk nipis dan pedagang perantara jeruk nipis di daerah penelitian.

3. Penelitian dilakukan pada tahun 2020.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1 Luas Wilayah Dan Letak Geografis

Desa Marjanji merupakan salah satu desa di Kabupaten Serdang Bedagai, dengan luas wilayah 882.000 Ha. Jarak ke ibukota kecamatan terdekat berjarak 6 km dan jarak ke ibukota kabupaten 51 km. Desa Marjanji terbagi menjadi 14 dusun yang dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1 Pembagian Wilayah Di Desa Marjanji Tahun 2018

No. Nama Dusun Luas Wilayah (Ha) Jumlah RT (KK)

Sumber: RPJM Desa Marjanji Tahun 2018

Adapun batas-batas Desa Marjanji adalah :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Baja Dolok.

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Buluh Duri.

 Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Gunung Monako.

 Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Silau Padang.

4.1.2 Keadaan Penduduk

Penduduk yang ada di daerah penelitian tergolong heterogen, karena keragaman suku penduduk yang terdiri atas Suku Batak Simalungun, Jawa, dan Banjar.

Jumlah kepala keluarga di Desa Marjanji adalah 1.213 KK. Keadaan penduduk di Desa Marjanji menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Di Desa Marjanji Tahun 2018

No. Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. Laki-laki 2.531 49,85

2. Perempuan 2.546 50,15

Jumlah 5.077 100

Sumber: RPJM Desa Marjanji Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 15 jiwa den persentase 0.29%.

Jenis kelamin laki-laki sebanyak 2.531 dengan persentase 49,85%, sedangkan jenis kelamin perempuan sebanyak 2.546 dengan persentase 50,15%. Jumlah penduduk Desa Marjanji Tahun 2018 sebanyak 5.077 jiwa.

Tingkat pendidikan di Desa Marjanji bermacam-macam. Lebih jelasnya pada tabel 4.3 dapat dilihat komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan. Pada umumnya masyarakat Desa Marjanji saling mengenal satu sama lainnya. Bahasa sehari-hari yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah bahasa Indonesia.

Tingkat pendidikan di Desa Marjanji bermacam-macam. Lebih jelasnya pada tabel 4.3 dapat dilihat komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan. Pada umumnya masyarakat Desa Marjanji saling mengenal satu sama lainnya. Bahasa sehari-hari yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah bahasa Indonesia.

Dokumen terkait