BAB IV HASIL PENELITIAN
H. EKI SETYANTO,SE. (WAKIL BUPATI)
c.
Ir. SUTONO,MM. (SEKRETARIS DAERAH)
Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza adalah yang memiliki pemikiran untuk mengganti lambang daerah telah dilakukan sejak dia dilantik menjadi bupati. Sebab lambang daerah yang dimiliki Lampung Selatan saat ini sudah tidak sesuai dengan kondisi yang ada. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten yang mengusulkan pergantian lambang daerah itu ke DPRD Lampung Selatan. Mulai 1 Januari 2012, seluruh kendaraan Dinas (Randis) milik Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dipasangi logo baru kabupaten itu. Kini logo Kabupaten Lampung Selatan sudah berubah. Maka diperlukan sosialisasi, salah satunya dengan memasang logo baru pada randis, tugu, gapura, dan bet seragam pegawai negeri sipil (PNS). 4.1.2 Gambaran Umum Desa Agom Konflik pada tanggal 27 sampai 29 oktober 2012 terjadi diwilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan yang melibatkan masyarakat Desa Agom Kecamatan Kalianda dan Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji. Jarak kedua desa ini kurang lebih lima kilometer dan dipisahkan dua desa yaitu Desa Taman Agung dan Desa Sidoreno. Jumlah penduduk Desa Agom dengan luas wilayah 630ha/m 2 pada tahun 2013 adalah 2840 jiwa atau 791 KK. Penduduk didominasi oleh suku pribumi
97
Lampung dan suku jawa, selain itu terdapat suku lain seperti sunda, betawi, dan batak. Pola
permukiman cenderung berjauhan antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Sebagian besar penduduk Desa Agom bermata pencaharian sebagai petani dengan tingkat pendidikan rendah. 4.1.3
Gambaran Umum Desa Balinuraga Berbeda dengan Desa Agom yang didirikan oleh masyarakat pribumi.
Desa Balinuraga adalah desa yang didirikan oleh transmigran Bali yang sudah berpuluh-puluh tahun bermukim disini. Sebelum menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Selatan. Desa Balinuraga termasuk dalam daerah Kabupaten Lampung Timur. Setelah masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan Desa Balinuraga termasuk wilayah Kecamatan Sidomulyo. Setelah ada proyek pemekaran wilayah, maka Desa Balinuraga menjadi bagian dari Kecamatan Way Panji. Jumlah penduduk Desa Balinuraga yang memiliki luas wiayah 920 Ha/m2 adalah 2200 jiwa atau 500 KK. Penduduk Balinuraga murni suku Bali yang beragama Hindu dan mayoritas penduduknya adalah petani karet dan sawit sukses dengan lahan luas walaupun tingkat pendidikannya rendah. Pola pemukiman di Balinuraga terpola seperti kompleks perumahan, jarak antara rumah saling berdekatan. Desa Balinuraga bukan satu-satunya pemukiman dengan penduduk murni suku bali, diwilayah yang masih berdekatan dengan Desa Balinuraga terdapat pula desa dengan penduduk murni suku Bali, yaitu Desa Bali Napal dan Desa Sidoreno yang juga pernah terlibat konflik dengan suku pribumi.
(Sumber: google search/wikipedia 2015) Gambar 4.3 Wilayah Administrasi Kabupaten Lampung Selatan
4.2 Deskripsi Data 4.2.1
Deskripsi data penelitian Deskripsi data penelitian merupakan penjelasan mengenai hasil penelitian
yang telah diolah dari data mentah, dengan mengunakan teknik analisis data yang
99
relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif yang menghasilkan data baik berupa kata-kata maupun tindakan. Data kualitatif diperoleh melalui observasi partisipasi pasif, wawancara mendalam, kajian pustaka, serta studi dokumentasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Data-data kualitatif tersebut perlu dianalisis saat sebelu memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai dilapangan. Berikut ini untuk mempertajam
analisis data, peneliti menggunakan dimensi penilaian yang mengacu pada teori yang dikemukankan oleh Nawawi (2005: 151) diantaranya yaitu: 1.
Perencanaan Strategi , dan
2.
Perencanaan Operasional
Dalam menganilisis data kualitatif, peneliti menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Hubermen (2009:20). Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman peneliti serta membantu mempresentasikannya kepada orang. Miles dan Hubermen menjelaskan ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan dalam menganalisis data, diantaranya pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Langkah pertama yang dilakukan yaitu pengumpulan data mentah baik melalui wawancara, observasi lapangan, kajian pustaka, serta studi dokumentasi, tanpa adanya intervensi dari pihak lain dari pemikiran peneliti atau dengan kata lain data yang bersifat apa adanya (verbatim). Langkah kedua yaitu mereduksi data dengan merangkum, memilih-milih hal-hal yang pokok, dan mengfokuskan
100
pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya reduksi data ini juga berlangsung selama proses pengumpulan data masih berlangsung, pada tahap ini juga akan berlangsung kegiatan pengkodean, meringkas dan membuat partisi (bagian-bagian).
Adapun
dalam
menyusun
jawaban
peneliti
memberikan beberapa kode sebagai berikut: 1.
Kode Q untuk menunjukkan item pertanyaan
2.
Kode A untuk menunjukan item jawaban
3.
Kode I1 untuk menujukan informan dari pihak Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan
4.
Kode I2 untuk menunjukan informan dari pihak Kassat Binmas Polres Lampung Selatan
5.
Kode I3.1 – I3.3 untuk menunjukan informan dari pihak Lembaga Penanganan Konflik atau Forum Penanganan Konflik
6.
Kode I4.1 –I4.3 untuk menunjukan informan dari pihak masyarakat Lampung
7.
Kode I5.1 –I5.3 untuk menunjukan informan dari pihak masyarakat Bali.
8.
Kode I6 untuk menunjukan informan dari pihak Kodim Kabupaten Lampung Selatan.
Kemudian penyajian data yang dilakukan dalam uraian singkat, bagan hubungan antar kategori, flowchart dengan penyajian datanya berbentuk narasiyang bertujuan agar peneliti dapat memahami apa yang terjadi dan merencanakan tidakan selanjutnya yang dilakukan. Langkah terakhir adalah
101
penarikan kesimpulan dengan catatan bahwa data penelitian tersebut sudah jenuh dan didukung dengan bukti-bukti data yang valid dan konsisten yang peneliti temukan dilapangan. 4.2.2
Daftar Informan Penelitian Dalam penelitian yang berjudul manajemen strategi penyelesaian konflik
kependudukan di Kabupaten Lampung Selatan (studi kasus konflik antar suku asli Lampung dengan suku pendatang Bali tahum 2012) seperti yang sudah peneliti kemukakan pada BAB III, dalam pemilihan informan peneliti menggunakan teknik purposive. Informan dalam penelitian ini adalah stakeholder dalam manajemen strategi penyelesaian konflik kependudukan di Kabupaten Lampung Selatan (studi kasus konflik antar suku asli Lampung dengan suku pendatang Bali tahun 2012) baik
dari pihak pemerintah, aparat keamanan, lembaga penanganan konflik dan masyarakat. Mengenai informan penelitian, peneliti membagi informan menjadi dua yaitu key informan yang merupakan pihak yang terlibat secara langsung dalam penanganan konflik tersebut, sedangkan secondary informan adalah informan yang tidak terlibat langsung secara langsung namun memiliki
pengetahuan atau informasi terkait dengan penanganan konflik di Kabupaten Lampung Selatan. Adapun lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.1 dibawah ini:
102
Tabel 4.1 Kodefikasi Informan Penelitian No
Kode Nama 1 I1 Ismed Alwi 2 I2 Y. Ujang 3 I3.1 Alamsyah 4 I3.2 Ernayati 5 I3.3 Marwan Abdullah 6 7 I4.1 I4.2 8
I4.3
9
I5.1
Muksin Syukur Ida Riana Hassanudin (nama samaran) Made Santre
10 I5.2 Kadek Sirye 11 I5.3 Made Suka 12 I6 Hermawanto
(Sumber: data diolah Peneliti, 2015)
Keterangan Kepala Bidang Politik dan Kewaspadaan Nasional di Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan Kasat Binmas Polres Lampung Selatan Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Anggota Forum Kerukunan Umat beragama/Kasubid Ketahanan Seni dan Budaya Sekretaris Majelis Penyeimbang Adat Lampung/ Kabag Umum DPRD Kab. Lampung Selatan Kepala Desa Agom Masyarakat Lampung Desa Agom Masyarakat Lampung Desa Agom Kepala Desa
Balinuraga Kadus (Kepala Dusun) Pande Arga Desa Balinuraga Tokoh Masyarakat Desa Balinuraga Ketua Bintara Unit Khusus Intelegen Kodim Lampung Selatan
4.3 Deskripsi Hasil Penelitian Deskripsi hasil penelitian ini merupakan suatu data dan fakta yang peneliti dapatkan langsung dari lapangan serta disesuaikan dengan teori yang peneliti gunakan yaitu menggunakan teori manajemen strategi menurut Hadari Nawawi
103
(2005: 151), proses manajemen strategi ini merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak kearah yang sama pula. Dalam penelitian kali ini peneliti akan menguraikan hasil penelitian dengan didasari data yang peneliti peroleh melalui hasil observasi, wawancara,
dokumentasi, serta studi kepustakaan mengenai manajemen strategi penyelesaian konflik
kependudukan di Kabupaten Lampung Selatan (studi kasus konflik antar suku asli Lampung dan suku pendatang Bali tahun 2012) yang meliputi beberapa komponen variabel menurut Nawawi, diantaranya sebagai berikut: 1. Perencanaan Strategi yang meliputi:
Visi
Misi, dan
Tujuan organisasi,
2. Perencanaan Operasional yang meliputi:
Sasaran Operasional
Pelaksanaan fungsi manajeman berupa (fungsi pengorganisasian, pelaksanaan, dan fungsi penganggaran)
Kebijakan situasional
Jaringan kerja internal dan jaringan kerja eksternal
Fungsi kontrol dan evaluasi
Umpan balik.
104
4.3.1
Perencanaan Strategi Manajemena strategi dapat dilihat keberhasilannya jika perencanaan
strategi dari pemerintah memang disesuaikan dengan sosio-kultur yang ada di masyarakat. Ketika perencanaan strategi yang dibuat oleh pemerintah terlalu Ideal (Utopis) untuk dilaksanakan di masyarakat, maka akan sulit untuk menjalankan perencanaan strategi itu dengan baik. Dari dimensi perencanaan strategi peneliti menilai aspek yang terkandung didalamnya, yaitu: bagaimana visi itu dibuat untuk penyelesaian konflik kependudukan
di
Lampung
Selatan,
kemudian
bagaimana
merealisasikan visi yang dibuat dengan misi, serta apakah tujuan organisasi sudah tercapai dari penyelesaian konflik tersebut. Maksud dari penyelesaian konflik yang ada di Kabupaten Lampung Selatan ini sendiri sesuai dengan UndangUndang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terancana dalam situasi dan peristiwabaik sebelum, pada saat, maupun sesudah terjadi konflik yang mencakup pencegahan konflik, penghentian, dan pemulihan pasca konflik. Mengenai aspek visi strategi dalam penyelesaian konflik tersebut, peneliti memberikan pertanyaan kepada Bapak Ismed Alwi (I1) Kepala Bidang Politik dan Kewaspadaan Nasional di Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan, berikut kutipan wawancarnya:
105
“Visinya kan ada aturannya tuh yang diatur dalam Undang-Undang no 7 tahun 2012”. (wawancara dengan Bapak Ismed Alwi, Kamis 1 Oktober 2015, 11.00 WIB, di Kantor Badan Kesbangpol
Kabupaten Lampung Selatan) Berdasarkan wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi visi dalam penyelesaian konflik tersebut telah tertuang didalam peraturan Undang-Undang No 7 Tahun 2012. Pertanyaan serupa peneliti ajukan kepada Bapak Y. Ujang (I2) Kasat Binmas Polres Lampung Selatan yang mengungkapkan: “Ya yang pengaruhin visi kita, gimana caranya biar masalah itu cepet selesai aja tapi kalo secara tertulis gak ada tapi kalo ikutin visi dari kepolisian ya yang melindungi, mengayomi dan melayani aja”.(wawancara dengan Bapak Y. Ujang, Jumat 25 September 2015, 11.00 WIB, di Kantor Polisi Resor Lampung Selatan) Berdasarkan wawancara tersebut, visi dalam penyelesaian konflik tersebut tidak ada secara tertulis namun disesuaikan dengan TUPOKSI dari kepolisian. Kemudian penelitipun mengajukan kepada Bapak Alamsyah (I3.1) Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat, yang menjawab: “Kalo visi kita itu pengaruh dari peraturan yang UU no 7 tahun 2012 itu tentang penanganan konflik sosial, kita juga dari program Kesbangpol sendiri, kemudian dari konflik yang ada dimasyarakat, maka jadilah FKDM ini”.(wawancara dengan Bapak Alamsyah, Jumat 2 Oktober 2015, 10.30 WIB, Kantor Badan
Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan)
106
Berdasarkan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa forum yang dibentuk juga visi yang dibuat masih dipengaruhi oleh Peraturan Undang-Undang No 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, dan disesuaikan dengan TUPOKSI dari Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan. Selanjutnya peneliti pun mengajukan pertanyaan tersebut kepada Ibu Ernayati (I3.2) Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama/Kasubid Ketahanan Seni dan Budaya, berikut kutipan wawancaranya: “Iya kita ada secara tertulis yang Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 9 Tahun 2006 dan No 8 Tahun 2006 ada juga tujuannya untuk mempersatukan umat yang beragama yang ada dilampung selatan biarpun kita beda keyakinan tapi tetap satu”.(wawancara dengan Ibu Ernayati, Kamis 1 Oktober 2015, 14.30 WIB, Sekertariat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)/Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan) Berdasarkan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa forum tersebut memiliki landasan hukum sendiri yang dijadikan sebagai visi tertulis mereka. Sementara Bapak Marwan Abdulah (I3.3) sekertaris Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL)
yang menyatakan bahwa MPAL memiliki visi untuk menjunjung tinggi adat dan budaya Lampung, berikut kutipan wawancaranya: “Itu visinya terwujudnya majelis penyeimbang adat Lampung yang bermatabat untuk membangun masyarakat yang menjunjung tingga adat dan budaya
lampung”.(wawancara dengan Bapak Marwan Abdulah, Jumat 2 Oktober 2015, 09.00 WIB, Kantor DPRD Kabupaten Lampung Selatan) Berdasarkan wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa MPAL yang merupakan salah satu lembaga penanganan konflik memiliki visi yang harus
107
menjunjung tinggi adat Lampung dan budaya Lampung, hal ini dikarenakan adat dan budaya Lampung itu sendiri semakin jarang dilestarikan oleh orang Lampungnya itu sendiri. Berdasarkan wawancara mengenai visi strategi dalam penyelesaian konflik di Kabupaten Lampung Selatan bahwa visi yang mereka buat dalam penyelesaian konflik kependudukan di Kabupaten Lampung Selatan masih di berpegang oleh peraturan yang dibuat oleh pemerintah pusat dan belum tersusun secara sistematis. Sementara aspek misi untuk menjalankan visi dalam penyelesaian konflik kependudukan, Bapak Ismed Alwi (I1) Kepala Bidang Politik dan Kewaspadaan Nasional di Badan Kesbangpol
Kabupaten Lampung Selatan, berikut kutipan wawancaranya: “Iya disesuaikan juga dengan undang-undang itu, apa yang dilakukan oleh kita itu kayak diadakannya forum kita kumpulin masyarakatnya untuk pertemuan, ada juga sosialisasi ke kecamatan-kecamatan yang disesuaikan dengan anggaran setahun itu hanya 3 kecamatan, tahun ini baru 3 kecamatan”. (wawancara dengan Bapak Ismed Alwi, Kamis 1 Oktober 2015, 11.00 WIB, di Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan). Wawancara diatas menjelaskan bahwa misi yang dibuat disesuaikan dengan undang-undang yang digunakan dan untuk itu diadakan kegiatan seperti pertemuan untuk membahas tentang sosialaisasi setelah terjadi konflik tersebut. Hal berbeda diungkapkan oleh Bapak Y. Ujang (I2) Kasat Binmas Polres Lampung Selatan, kutipannya sebagai berikut: “Ya itu tadi kita mikirnya gimana caranya supaya masalah itu bisa cepet selesai, oh iya ada juga program Rembuk Pekon yang lagi kita jalanin”.(wawancara
108
dengan Bapak Y. Ujang, Jumat 25 September 2015, 11.00 WIB, di Kantor Polisi Resor Lampung Selatan) Berdasarkan wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa pihak aparat tidak memiliki misi secara spesifik dalam penyelesaian konflik kependudukan yang terjadi namun mereka miliki tujuan dalam penyelesaian konflik tersebut. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Alamsyah (I3.1) Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat menjelaskan bahwa FKDM tidak memliki misi secara spesifik dalam penyelesaian konflik, namun mereka memiliki tujuan yang jelas bahwa infomasi sekecil apapun harus dilaporkan jika itu berhubungan dengan konflik di masyarakat, berikut kutipan wawancaranya: “Iya misi dibuat sesuai sama visi, kalo kita mungkin lebih ke tujuan ya, kita sering komunikasi ke pengurus FKDM, pengurus FKDM yang ada di kabupaten itu ada 18 orang, dikecamatan juga ada tapi ya itu mati suri, banyak faktor yang menyebabkan susah untuk diaktifkan”.(wawancara dengan Bapak Alamsyah, Jumat 2 Oktober 2015, 10.30 WIB, Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan). Hal berbeda diungkapkan oleh Bapak Marwan Abdulah (I3.3) sekertaris Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL), berikut kutipan wawancaranya: “Tertuang misi pembinaan dan pemberdayaan masyarkat lampung, pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, pelestarian dan pembinaan budaya adat lampung, ini kerjaan kita kerjaan MPAL, meningkatkan hubungan silahturami antar
masyarakat, antar suku, antar tokoh”.(wawancara dengan Bapak Marwan Abdulah, Jumat 2 Oktober 2015, 09.00 WIB, Kantor DPRD Kabupaten Lampung Selatan) Berdasarkan
tersebut
dapat
diketahui
bahwa
dalam
penyelesaian konflik kependudukan di Kabupaten Lampung Selatan ini MPAL
109
memiliki misi secara terstruktur untuk mengurangi konflik kependudukan yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan. Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan mengenai aspek misi dalam
strategi penyelesaian konflik kependudukan secara garis besar pemerintah belum memiliki misi secara spesifik yang digunakan dalam strategi penyelesaian konflik kependudukan yang terjadi, hal ini dikarenakan pemerintah yang bertanggung jawab dalam penanganan konflik tersebut belum siap dalam penyelesaian konflik yang terjadi. Kemudian peneliti mengajukan pertanyaan mengenai aspek tentang tujuan organisasi yang disesuaikan dengan visi, misi organisasi dan realisasinya,Bapak Ismed Alwi (I1) Kepala Bidang Politik dan Kewaspadaan Nasional di Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan bahwa tujuan organisasi telah disesuaikan dengan visi dan misi yang ada di landasan hukum yang dipakai, berikut kutipan wawancaranya: “Iya sudah berjalan, karena masyarakat sudah mulai mengerti pentingnya damai itu tadi”.(wawancara dengan Bapak Ismed Alwi, Kamis 1 Oktober 2015, 11.00 WIB, di Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan). Berdasarkan kutipan wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan organisasi sudah tercapai seiring dengan kesadaran masyarakat yang semakin mengerti arti pentingnya hidup damai. Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Y. Ujang (I2) Kasat Binmas Polres Lampung Selatan, berikut kutipan wawancarnya:
110
“Iya tentu ajalah itu berjalan kan diliat dari tugas kita yang 3 itu tadi”.(wawancara dengan Bapak Y. Ujang, Jumat 25 September 2015, 11.00 WIB, di Kantor Polisi Resor Lampung Selatan). Berdasarkan kutipan wawancara diatas dapat diketahui bahwa selama kegaiatan yang dilakukan itu sesuai
dengan tugas mereka sebagai penegak hukum maka tujuan organisasi itu secara otomatis berjalan sesuai dengan visi dan misi mereka. Kemudian tujuan organisasi yang ada di FKDM itu juga sudah berjalan sampai sekarang hal ini diungkapkan oleh Bapak Alamsyah (I3.1) Ketua Forum
Kewaspadaan Dini Masyarakat, berikut kutipannya: “Iya sudah berjalan sampai sekarang”.(wawancara dengan Bapak Alamsyah, Jumat 2 Oktober
2015, 10.30 WIB, Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten
Lampung Selatan). Namun berbeda dengan yang diungkapkan oleh Bapak Marwan Abdulah (I3.3) Sekertaris Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL), berikut kutipan wawancaranya: “Tujuan kami belum tercapai karena masyarakat lampung selatan sampai sekarang banyak yang belum mengerti kami yang orang pribumi”.(wawancara dengan Bapak Marwan Abdulah, Jumat 2 Oktober 2015, 09.00 WIB, Kantor DPRD Kabupaten Lampung Selatan) Berdasarkan kutipan wawancara diatas dapat diketahui bahwa tujuan dari MPAL belum tercapai sesuai dengan apa yang menjadi visinya, ini dikarenakan
111
masyarakat yang berada khususnya di Kabupaten Lampung Selatan yang sebagian besar merupakan masyarakat pendatang masih menganggap bahwa kebudayaan Lampung itu asing bagi mereka. Berangkat dari hasil wawancara di atas, peneliti menganalisis bahwa dalam penanganan dan penyelesaian konflik kependudukan yang terjadi, visi dan misinya masih belum tersusun secara sistematis. Penyebabnya karena belum adanya SOP yang dibentuk secara tersendiri oleh pihak instansi yang bertanggung jawab langsung dengan konflik tersebut. Selanjutnya aspek tujuan organisasi yang disesuaikan dengan visi, misi organisasi dan realisasinya telah berjalan sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya
masing-masing, dan sampai sekarang masih berjalan guna
meminimalkan terjadinya konflik kembali bahkan dari tujuan tersebut di adakan program Rembuk Pekon yang bertujuan untuk memediasi masyarakat yang sedang berkonflik.
4.3.2
Perencanaan Operasional Perencanaan operasioanal umumnya merupakan terjemahan dari tujuan
umum organisasi yang ada di perencanaan strategi dalam rentang waktu tertentu, semakin baik perencanan operasional yang digunakan semakin baik pula hasil yang didapat dan begitu pula sebaliknya. Dimensi ini terdapat beberapa aspek yaitu
sasaran pengorganisasian, operasional, fungsi pelaksanaan pelaksanaan, fungsi fungsi manajeman
penganggaraan),
(fungsi kebijakan
112
situasioanal, jaringan kerja internal, dan jaringan kerja eksternal, fungsi kontrol dan evaluasi, umpan balik. Pertama aspek sasaran operasional, Bapak Ismed Alwi (I1) Kepala Bidang Politik dan Kewaspadaan Nasional di Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan menjelaskan bahwa sasaran operasioanl mereka hanya disesuaikan dengan anggaran yang masuk dalam setahun, berikut kutipan wawancaranya: “Iya tadi kita sesuaikan anggaran yang 3 kecamatan setahun itu, ditentukan dari kecamatan yang rawan konfik dulu, prioritas banyak yang tinggi skala
konfliknya”.(wawancara dengan Bapak Ismed Alwi, Kamis 1 Oktober 2015, 11.00 WIB, di Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan) Berdasarkan kutipan wawancara di atas dapat diketahui kegiatan yang dilakukan oleh Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan dan
pemerintah sebanyak 3 kali dalam setahun, dan diprioritaskan untuk kecamatan yang sering terjadi konflik. Penyebabnya adalah dana anggaran APBD yang didapat untuk kegiatan tersebut terbatas hanya untuk 3 kecamatan saja. Pertanyaan serupa peneliti ajukan kepada Bapak Y. Ujang (I2) Kasat Binmas Polres Lampung Selatan, berikut kutipan wawancarnya: “Kita berlandaskan hukum, jadi kita sesuaikan dengan pasal-pasal pidana maupun perdata aja”.(wawancara dengan Bapak Y. Ujang, Jumat 25 September 2015, 11.00 WIB, di Kantor Polisi Resor Lampung Selatan).
113
Berdasarkan wawancara diatas dapat diketahui bahwa sasaran operasional dari pihak aparatur hukum mengenai penanganan konflik dan penyelesaian konflik ditentukan berdasarkan landasan hukum yang digunakan dan itu tidak bisa diubah dan itu bersifat mutlak dan bersifat tidak memihak pihak manapun. Berbeda dengan apa yang sampaikan oleh Bapak Alamsyah (I3.1) Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), bahwa FKDM tidak memiliki sasaran secara tertentu, berikut kutipan wawancaranya: “Kita gak ada sasaran tertentu, jadi kalo ada konflik ya langsung kita laporkan ke Kesbangpol, nanti dari sini ditindak lanjutkan dengan koordinasikan sama pihak aparat keamanan”.(wawancara dengan Bapak Alamsyah, Jumat 2 Oktober 2015, 10.30 WIB, Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan). Berdasarkan wawancara di atas dapat diketahui bahwa untuk sasaran operasional yang ada dalam FKDM itu tidak ditentukan karena melihat dari tugasnya yatu hanya sebagai pencegah dari konflik yang ada dimasyarakat melalui informasi yang didapat dari pengurus yang ada disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Hampir sama halnya yang dijelaskan oleh Ibu Ernayati (I3.2) Anggota Forum Kerukunan Umat beragama/Kasubid Ketahanan Seni dan Budaya bahwa FKUB tidak memilik sasaran operasional tertentu, berikut kutipan wawancaranya: “Gak ada sasaran tertentu buat FKUB ini”.(wawancara dengan Ibu Ernayati, Kamis 1 Oktober
2015, 14.30 WIB, Sekertariat Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB)/Kantor Badan Kesbangpol Kabupaten Lampung Selatan).
114
Sementara Bapak Marwan Abdulah (I3.3) Sekertaris Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL)