• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKOSISTEM RENTAN TERHADAP INVASI TUMBUHAN

Dalam dokumen BaB I. TUMBUHAN INVASIF (Halaman 33-35)

Daftar ekosistem yang rentan terhadap invasi diuraikan oleh sekretariat CBD meliputi: daerah pantai laut dangkal, sistem perairan air tawar, seperti danau, waduk, sungai; hutan

savanna, daerah kering, pegunungan, ekosistem perkebunan /pertanian, dan pulau pulau yang terisolasi secara geografis atau evolusioner.

Sudah banyak dikupas bahwa ada kecenderungkan meningkatnya masalah terkait dengan bilogi invasi tumbuhan, terutama karena modernisasi, melaui peningkatan perdagangan, transport, tourisme disamping perubahan iklim dan perubahan sistem pemanfaatan lahan.

1.8.1. Modernisasi

Promosi perdagangan bebas melalui WTO (World Trade Organisation) telah meningkatkan aktivitas ekonomi secara signifikan dan meningkatkan kesejahteraan dari sebagian besar populasi manusia. Kecenderungan ini juga meningkatkan pergerakan barang dan jasa meliputi pergerakan species asing. Perdagangan bebas ini adalah relatif fenomena baru yang mentransformasi cara ekonomi dunia beroperasi. Manusia bergerak dalam jumlah yang selalu meningkat memfasilitasi transportasi ribuan organisme (i.e. tumbuhan, miroorganisme dan hewan) diseluruh dunia. Jumlah transportasi darat yang meningkat (kendaraan, pesawat ), semuanya berpotensi mengintroduksi species asing yang merugikan di daerah baru. Tahun 2015 negara di Asia Tenggara akan menerapkan Asean Economic Community ( AEC), kawasan perdagangan bebas yang dimaksudkan untuk mendorong memacu aktivitas ekonomi untuk mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Diharapkan bahwa volume perdagangan akan meningkat, karena itu, peluang pergerakan species tumbuhan invasif juga akan meningkat. Olehkarena itu negara dikawasan Asia Tenggara harus mengantisipasi itu dengan mengeluarkan regulasi untuk meminimisasi kalau tidak mengelimisasi dampak buruk dari masuknya tumbuhan invasif di kawasan Asia Tenggara

1.8.2 Perubahan sistem pemanfaatan lahan

Laju pertumbuhan poulasi di Asia Tenggara sangat tinggi (kecuali Singapora). Hal ini akan meningkatkan permintaan akan (food) makanan, (fiber)pakaian, feed (makanan ternak), perumahan, kesehatan dan lain keperluan manusia seperti pendidikan, aestetika, spiritual kesenian dsb. Permintaan ini akan memberikan tekanan berat pada lingkungan alam, merubahnya tanpad banyak disadari menjadi kondisi yang rentan terhadap invasi. Walaupun ini fenomena biasa, akan tetapi sejak implementasi WTO, laju dengan mana manusia mentransformasi landsekap alam di kawasan Asia Tenggara meningkat dengan sangat cepat. Pembentukan AEC ( ASEAN Economic Community – Masyarakat Ekonomi ASEAN) diharapkan membuka pasar lebih lebih besar dan ekonomi akan lebih bergantung pada eksport. Ini akan berdampak secara dramatis pada peningkatan insentif ekonomi untuk pertumbuhan industri dan ekspansi pertanian. Akibatnya adalah perubahan lingkungan secara besar2an seperti urbanisasi, deforestasi dan agribisnis in kawasan ini. Dalam banyak hal dampak dari perubahan ini adalah menyediakan kondisi ideal untuk species invasif berkompetisi dan sangat berhasil mengalahkan species lokal yang berbagi lingkungan denga mereka. Misalnya kehilangan banyak pohon besar secara berlebihan dalam proses penebangan hutan mengakibatkan lantai hutan terpaparkan pada lebih banyak cahaya matahari dan suhu tanah meningkat. Kondisi ini menciptakan kondisi kondusif bagi invasi

tumbuhan yang cepat tumbuh dan invasif. Bunga kuning dari Singapura ( Widelia trilobata) menginvasi tumbuhan bawah dari hutan Shorea yang baru ditanam di lokasi bekas tambang emas Kelian Equatorial Mining, Kalimantan Timur. Mikania micrantha memberikan masalah besar pada semai Shorea leprosula dalam usaha membangun hutan meranti di BFI (Balikpapan Forest Industry), di Kalimantan Timur. Yang lebih spektakuler adalah invasi mantangan ( Merremia peltata) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Pembalakan pohon besar secara illegal oleh orang yang tidak bertanggung jawab, membuka lantai hutan sehingga tersedia melimpah sinar matahari, M.peltata merespon perubahan lingkungan ini dengan pertumbuhan yang luar biasa meningkatkan nilai rasio luas daun, dengan luas daun spesifik tinggi, artinya hasil fotosintesis dari M.peltata ini sebagian besar dipakai untuk membuat daun lagi sehingga laju pertumbuhan nisbi menjadi sangat tinggi.

Ekspansi populasi manusia telah menciptakan lebih banyak kota yang lebih besar dan pada gilirannya menciptakan jaringan infrastruktur yang meningkat dan sangat masif menghubungkan antar daerah2 urban. Demikian ini adalah lingkungan yang sangat terganggu dan sering memberikan jalur sekunder yang mudah bagi species invasif menyebar dan mapan di dalam habitat yang tidak terganggu.

1.8.3. Perubahan iklim

Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia saat ini sangat tinggi dan subsidi harga bahan bakar fosil yang mengikutinya menimbulkan debat yang berkepanjangan apakah tujuaan subsidi itu benar. Apakah tujuan itu benar atau tidak benar pembakaran bensin atau solar menghasilkan begitu banyak “gas rumah kaca” terutama CO2 yang berkontribusi pada pemanasan atmosfir bumi yang mengakibatkan perubahan iklim diseluruh dunia. Akibat dari perubahan ini sudah terlihat dengan bertambahnya masalah gulma dan tumbuhan invasif. Savanna Bekol di Taman Nasional Baluran didominasi oleh rumput Dichantium caricosum, rumput tahunan yang mendukung kehidupan satwa asli banteng, disamping rusa, kerbau dsb. Invasi A.nilotica menanungi rumput bahkan merobah ekosistem savanna menjadi semak belukar dengan berbagai semak seperti Thespesia lampas, Bidens biternata, Hyptis suaveolens, dsb. dan rumput berganti didominasi oleh rumput rayapan (Brachiaria reptans). Ketika A.nilotica diberantas secara mekanis dengan buldozer dan berhasil baik, diharapkan savanna kembali. In 2010 , iklim amat basah, August/September curah hujan masih tinggi, rumput di savanna biasanya didominasi Sclerachne punctata, dan B. reptans tetapi pada musim basah 2011 itu savanna itu didominasi oleh T.lampas, semak berdaun lebar. T.lampas ini biasanya mati pada musim kemarau, sehingga pada musim hujan/basah berikutnya tidak akan mendominasi vegetasi disitu, dan didominasi oleh rumput Sclerachne punctata, dan B. reptans. Kondisi iklim basah ini menimbulkan masalah T. lampas di savanna. Beruntung T.lampas dapat diberantas dengan herbisida triclopyr, sayang musim basah berikutnya tidak dilanjutkan pengendalian T.lampas, sehingga dominasi T.lampas kembali lagi. TN.Baluran harus memberantas lagi pada musim basah berikutnya. Beberapa ahli berargumentasi bahwa kondisi ini bukan akibat perubahan iklim, tetapi variasi iklim saja. Seandainya ini sekedar variasi iklim, kalau dilihat dampaknya terhadap ekosistem yang dahsyat bisa merubah ekosistem savanna, dan memerlukan biaya begitu besar untuk mempertahankan savanna dari perubahan menjadi semak belukar, maka perubahan iklim akan lebih dahsyat lagi.

Dalam dokumen BaB I. TUMBUHAN INVASIF (Halaman 33-35)

Dokumen terkait