4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Ekostruktur Komunitas Ikan Terumbu
Ikan terumbu yang teridentifikasi di perairan Karang Lebar selama penelitian terdiri atas 110 spesies dari 25 famili (Lampiran 3.). Berdasarkan pengambilan data komunitas ikan terumbu pada sembilan titik penyelaman di Karang Lebar. Komposisi spesies yang umum ditemukan berasal dari Famili Pomacentridae, Labridae, Chaetodontidae, Caesionidae, Serranidae dan Scaridae (Gambar 6.). Menurut Adrim (1993) berdasarkan kelompok fungsionalnya, ikan terumbu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) Ikan Target merupakan ikan ekonomis penting dan ditangkap untuk konsumsi,contohnya: Famili
Acanthuridae, Haemulidae, Caesionidae, Lethrinidae, Lutjanidae, Serranidae; (2) Ikan Indikator merupakan ikan terumbu yang mendiami daerah terumbu dan menjadi indikator kesuburan ekosistem tersebut, contohnya: Famili Balistidae, Chaetodontidae, Scaridae; (3) Ikan Mayor merupakan ikan yang sepanjang hidupnya berada di daerah karang dan cenderung bersifat teritorial, contohnya: Apogonidae, Labridae, Pomacentridae. Di lokasi penelitian, komunitas ikan terumbu yang tergolong ikan target sebanyak 25 spesies, ikan indikator sebanyak 13 spesies dan ikan mayor sebanyak 72 spesies.
34
Gambar 6. Kelimpahan Ikan Terumbu di Karang Lebar Komposisi famili terbanyak berdasarkan hasil padaGambar 6.
menunjukkan bahwa ikan Famili Pomacentridae dijumpai dominan di perairan tersebutdengan nilai 43%, Labridae 28%, Chaetodontidae 6%, masing-masing 4% pada famili Scaridae, Serranidae dan Caesionidae, Nemipteridae 3%,
Pomacanthidae 1% dan famili lainnya 7%. Jika dilihat dari hasil pengamatan tersebut ikan mayor memiliki jumlah komposisi famili terbanyak di perairan Karang Lebar. Famili Pomacentridae paling banyak ditemukan di daerah karang dan patahan karang (rubble) dikarenakan ikan terumbu ini merupakan ikan yang tergolong memiliki tingkah lakuteritorial,dan menetap terhadap sumber
makanan dan tempat berlindung dari serangan predator. Ikan Pomacentridae tergolong ikan herbivora berdasarkan struktur jejaring makanannya. Famili Labridae merupakan salah satu ikan mayor yang banyak ditemukan setelah Pomacentridae di setiap stasiun pengamatan. Ikan ini merupakan ikan terumbu yang berada di perairan dangkal, daerah pasang surut dan terumbu karang dengan
35
ukuran yang bervariasi 5-30 cm dan tergolong ikan pemakan zooplankton, benthos dan karnivora. Spesies yang termasuk ke dalam Famili Chaetodontidae merupakan ikan pemakan alga dan hewan karang, sehingga keberadaan ikan ini sebagai tolok ukur kondisi ekosistem terumbu karang yang ada.
Kelimpahan dan biomassa merupakan salah satu parameter penelitian komunitas ikan terumbu di Karang Lebar. Kelimpahan ikan terumbu
menggambarkan banyaknya jumlah individu dan jumlah jenis yang ditemukan dalam suatu area. Sedangkan, biomassa sebagai pendugaan stok jenis ikan dalam suatu area di tiap stasiun penelitian berdasarkan arah pergerakan angin permukaan (leeward/windward). Adanya perbedaan proporsi kelimpahan dan biomassa ikan berdasarkantrophic level pada kondisi stasiun yang berbeda, baik di daerah leeward(daerah tanpa hembusan angin) maupunwindward(daerah yang dilewati angin) yang ditunjukkan olehGambar 7.
Secara umum ikan terumbu yang terbanyak pada semua lokasi (Windward danLeeward) adalah ikan terumbu jenis planktivora, omnivora dan pemakan invertebrata bentik. Ikan planktivora (Famili Caesionidae, beberapa Famili Pomacentridae dan Malacanthidae) merupakan ikan yang akan memakan segala jenis plankton, baik zooplankton maupun fitoplankton. Ikan omnivora (Famili Pomacentridae) merupakan ikan yang mampu beradaptasi di lingkungan manapun karena mampu memakan segala jenistrophic levelterutama di daerah yang memiliki tingkat tutupan karang yang di dominasi rubble(patahan karang), karang yang ditutupi alga dan pasir. Ikan pemakan invertebrata bentik (Famili Labridae) merupakan ikan pemakan hewan-hewan kecil yang hidup di dasar perairan, seperti: udang, bintang laut, gastropoda, alga, bivalvia.
36
Gambar 7. Profil Arus, Gelombang, Kelimpahan, dan Biomassa Ikan Terumbu BerdasarkanTrophic Leveldi Karang Lebar
Parameter kelimpahan dan biomassa ikan terumbu memiliki perbedaan karakteristik dari hasil yang diinterpretasikan. Kondisi yang terjadi di Gambar 7.
37
merupakan perbedaan karakteristik dari parameter kelimpahan dan biomassa. Salah satu contohnya saat kondisi kelimpahan ikan planktivora di stasiun 3 tergolong tinggi, tetapi biomassa ikan planktivora di stasiun 3 tergolong sedikit. Hal ini dikarenakan oleh perhitungan parameter kelimpahan yang
diinterpretasikan hanya berdasarkan jumlah individu ikan terumbu yang ditemukan, sedangkan perhitungan parameter biomassa yang diinterpretasikan berdasarkan pada jumlah individu dan panjang ikan terumbu yang ditemukan.
Ikan terumbu yang tercatat pada daerah pengamatan adalah pemakan invertebrata bentik, karnivora, koralivora, detritivora, herbivora, omnivora dan planktivora. Pada umumnya daerahwindward,kelimpahan ikan total terbesar adalah ikan omnivora sebesar 20.440 ind/ha. Selain omnivora, ikan terumbu yang tercatat pada daerahwindwardadalah planktivora (17.440 ind/ha), pemakan invertebrata bentik (7.280 ind/ha), herbivora (6.760 ind/ha), karnivora (2.240 ind/ha), koralivora (840 ind/ha), dan detritivora (440 ind/ha). Pada daerah leeward, kelimpahan ikan total terbesar adalah ikan planktivora sebesar 26880 ind/ha. Selain planktivora, ikan terumbu yang tercatat pada daerahleedward adalah omnivora (18680 ind/ha), pemakan invertebrata bentik (11600 ind/ha), herbivora (4160 ind/ha), koralivora (3240 ind/ha), karnivora (1920 ind/ha), dan detritivora (280 ind/ha).
Pada daerahwindward,rata-rata biomassa ikan terumbu terbesar adalah ikan planktivora sebesar 142.883 Kg/ha. Ikan terumbu yang tercatat di daerah windwardadalah omnivora (68.630 Kg/ha), pemakan invertebrata bentik (110.867 Kg/ha), herbivora (63.672 Kg/ha), karnivora (108.651 Kg/ha), koralivora(5.435 ind/ha) dan detritivora(15014 ind/ha). Pada daerahleeward,rata-rata biomassa
38
ikan terbesar adalah ikan planktivora sebesar 440.448 Kg/ha. Selain planktivora, ikan terumbu yang tercatat pada daerahleedwardadalah omnivora (297.390 Kg/ha), pemakan invertebrata bentik (416.882 Kg/ha), herbivora (131.189 Kg/ha), koralivora (47.116 ind/ha), karnivora (140.788 Kg/ha), dan detritivora (11.160 Kg/ha).
Kondisi gelombang dan arus yang bergerak di perairan Karang Lebar memiliki ketergantungan terhadap profil batimetri yang dilewati perairan tersebut. Menurut Fulton dan Bellwood (2005) kecepatan arus dan tinggi gelombang akan mengalami peningkatan ketika pergerakan air dari profil batimetri yang dalam menuju dangkal atau tubir dan mengalami penurunan kecepatan arus dan tinggi gelombang ketika melewati daerah dangkal menuju goba. Pengaruh gelombang dan arus yang terjadi pada penelitian ini di perairan Karang Lebar mencapai kedalaman hingga 3 meter, sehingga ikan terumbu yang diamati mendapatkan pengaruh langsung dari arus dan gelombang di perairan Karang Lebar.
Profil gelombang dan arus yang bergerak ke arah Timur hingga Tenggara di perairan Karang Lebar yang ditunjukkan olehGambar 7.memberikan pengaruh nyata terhadap jejaring makanan ikan terumbu di Karang Lebar. Kecepatan arus yang berkisar antara 0,05-0,25 m/s memberikan pengaruh terhadap karakteristik gerak renang ikan terumbu yang berbeda di tiap lapisan perairan, sehingga mempengaruhi pola makanan pada ikan terumbu tersebut.
Di lapisan kolom perairan Karang Lebar, khususnya pada penelitian ini kedalaman perairan sejauh 5 m memiliki ikan terumbu yang dominan menempati daerah kolom perairan adalah ikan yang menggunakan sirip pektoral dan
39
yang dominan adalah ikan yang menggunakan sirip kaudal (Fulton dan Bellwood 2005). Ikan terumbu yang menggunakan sirip pektoral dan pektoral-kaudalnya dalam mencari makanan adalah Famili Acanthuridae, Chaetodontidae, Scaridae, Labridae dan Pomacentridae, terutama ikan terumbu yang memangsa plankton. Ikan terumbu yang menggunakan sirip kaudal biasanya mencari makanan di substrat perairan, seperti ikan Famili Serranidae, Haemulidae, Caesionidae dan Lutjanidae. Pada umumnya jejaring makanan ikan terumbu yang menggunakan sirip kaudal bersifat karnivora dan planktivora.
4.3.2 Indeks Ekologi
Struktu komunitas ikan terumbu di suatu kawasan dapat ditketahui dengan memperhatikan indeks keanekaragaman (H ), keseragaman (E) dan dominansi (C). HIstogram indeks keanekaragaman (H ), keseragaman (E) dan dominansi (C) untuk komunitas ikan yang terdata disajikan padaGambar 8.
Indeks keanekaragaman (H ) komunitas ikan berkisar 2,59 sampai 4,30. Nilai H yang tertinggi ditemukan di Stasiun 1 dan terendah terdapat di Stasiun 8. Tingginya tingkat keanekaragaman Stasiun 1 diduga dipengaruhi topografi yang berbentuk tubir sehingga kondisi gelombang serta arus yang melewati Stasiun 1 membawa unsur hara dan plankton yang dibutuhkan ikan terumbu di perairan dangkal dan Stasiun 1 merupakan daerah yang terpapar langsung oleh hembusan angin pada bulan Juni. Rendahnya nilai H Stasiun 8 dikarenakan kondisi topografinya terletak didaerah yang menuju laut dalam, sehingga gelombang dan arus yang melewati perairan tersebut relatif sedikit membawa unsur hara dan plankton dibandingkan stasiun penelitian lainnya.
40
Gambar 8. Indeks Keanekaragaman (H ), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) di Karang Lebar
Hasil analisis terhadap indeks keseragaman di seluruh lokasi penelitian menunjukkan kisaran nilai antara 0,69 sampai 1,01. Nilai tertinggi indeks keseragaman ditemukan di Stasiun 1 dan nilai terendah ditemukan di Stasiun 8. Pada umumnya nilai indeks keseragaman memiliki korelasi positif terhadap indeks keanekaragaman. Hal ini dikarenakan semakin tinggi/rendah
keanekaragaman, maka keseragaman spesies ikan dari kemerataan jumlah individu semakin tinggi/rendah.
Hasil analisis terhadap indeks dominansi di seluruh lokasi penelitian menunjukkan kisaran nilai antara 0,02 sampai 0,13. Nilai tertinggi indeks
dominansi ditemukan di Stasiun 8 sedangkan nilai terendah ditemukan di Stasiun 1. Nilai indeks dominansi memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan nilai indek keanekaragaman dan keseragaman. Hal ini diakibatkan spesies yang berada di Staiun 8 tergolong homogen dan tidak merata dari segi jumlah spesies sehingga mendominansi habitat tersebut.
40
Gambar 8. Indeks Keanekaragaman (H ), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) di Karang Lebar
Hasil analisis terhadap indeks keseragaman di seluruh lokasi penelitian menunjukkan kisaran nilai antara 0,69 sampai 1,01. Nilai tertinggi indeks keseragaman ditemukan di Stasiun 1 dan nilai terendah ditemukan di Stasiun 8. Pada umumnya nilai indeks keseragaman memiliki korelasi positif terhadap indeks keanekaragaman. Hal ini dikarenakan semakin tinggi/rendah
keanekaragaman, maka keseragaman spesies ikan dari kemerataan jumlah individu semakin tinggi/rendah.
Hasil analisis terhadap indeks dominansi di seluruh lokasi penelitian menunjukkan kisaran nilai antara 0,02 sampai 0,13. Nilai tertinggi indeks
dominansi ditemukan di Stasiun 8 sedangkan nilai terendah ditemukan di Stasiun 1. Nilai indeks dominansi memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan nilai indek keanekaragaman dan keseragaman. Hal ini diakibatkan spesies yang berada di Staiun 8 tergolong homogen dan tidak merata dari segi jumlah spesies sehingga mendominansi habitat tersebut.
40
Gambar 8. Indeks Keanekaragaman (H ), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) di Karang Lebar
Hasil analisis terhadap indeks keseragaman di seluruh lokasi penelitian menunjukkan kisaran nilai antara 0,69 sampai 1,01. Nilai tertinggi indeks keseragaman ditemukan di Stasiun 1 dan nilai terendah ditemukan di Stasiun 8. Pada umumnya nilai indeks keseragaman memiliki korelasi positif terhadap indeks keanekaragaman. Hal ini dikarenakan semakin tinggi/rendah
keanekaragaman, maka keseragaman spesies ikan dari kemerataan jumlah individu semakin tinggi/rendah.
Hasil analisis terhadap indeks dominansi di seluruh lokasi penelitian menunjukkan kisaran nilai antara 0,02 sampai 0,13. Nilai tertinggi indeks
dominansi ditemukan di Stasiun 8 sedangkan nilai terendah ditemukan di Stasiun 1. Nilai indeks dominansi memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan nilai indek keanekaragaman dan keseragaman. Hal ini diakibatkan spesies yang berada di Staiun 8 tergolong homogen dan tidak merata dari segi jumlah spesies sehingga mendominansi habitat tersebut.
41
4.4 Uji Statistik Deskriptif Ekostruktur Ikan Terumbu dan Hidrodinamika Permukaan di Perairan Karang Lebar
Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui keterkaitan kondisi pergerakan massa air yang dikaitkan dengan ikan terumbu di Karang Lebar menggunakan beberapa pendekatan metode deskriptif, antara lain: indeks Kesamaan Bray-Curtis sertaCluster Analysis dan Analisis Koresponden (Correspondence Analysis). 4.4.1 Pengelompokkan Komunitas Ikan Terumbu
Karakteristik yang menjabarkan ekostruktur ikan terumbu di perairan Karang Lebar dapat dilihat dari dua aspek, yaitu: aspek lokasi penelitian dan aspek famili ikan yang ada di dalam perairan tersebut. Karakteristik kesamaan berdasarkan famili ditunjukkan padaGambar 9.,sedangkan karakteristik kesamaan berdasarkan lokasi penelitian ditunjukkan padaGambar 10.
Hasil analisis koefisien kesamaan Bray-Curtis dan kluster pada grafik dendogram dengan pemotongan skala 0,51 yang menghasilkan 10 kelompok famili yang dihasilkan oleh analisis perhitungan indeks Bray-Curtis diSub Bab 3.4.2yang menghasilkan memiliki kesamaan karakteristik padaGambar 9. a. Kelompok Ikan Terumbu 1
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Holocentridae. Genus ikan yang termasuk Famili Holocentridae adalahSargocentrondan Myripristis.
b. Kelompok Ikan Terumbu 2
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Famili
Gambar 9. Dendogram Pengelompokkan Berdasarkan Famili Ikan Terumbu di Perairan Karang Lebar Gambar 9. Dendogram Pengelompokkan Berdasarkan Famili Ikan Terumbu di Perairan Karang Lebar Gambar 9. Dendogram Pengelompokkan Berdasarkan Famili Ikan Terumbu di Perairan Karang Lebar
43
c. Kelompok Ikan Terumbu 3
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Monacanthidae dan Siganidae. Genus ikan terumbu pada Famili Monacanthidae adalah
Acreichtysdan Famili Siganidae adalahSiganus. d. Kelompok Ikan Terumbu 4
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Pomacanthidae, Scaridae, Serranidae, Mullidae, Nemipteridae, Chaetodontidae, Pomacentridae, Labridae, Caesionidae. Genus ikan terumbu pada kelompok 4 adalahAbudefduf, Amblyglyphidodon, Amphiprion, Bodianus, Cephalopolis, Chaetodon,
Chaetodontoplus, Cheilinus, Cheiloprion, Chelmon, Clorurus, Choerodon, Chromis, Crysiptera, Cirrhilabrus, Coris, Dascyllus, Diproctacanthus, Dischitodus, Epinephelus, Gomphosus, Halichoeres, Hemyglyphidodon, Heniochus, Labroides, Neoglyphidodon, Neopomacentrus, Parupaneus,dan Thalassoma.
e. Kelompok Ikan Terumbu 5
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Lutjanidae. Genus ikan terumbu pada Kelompok 5 adalahLutjanus.
f. Kelompok Ikan Terumbu 6
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Gobiidae, Cirrhitidae dan Blenniidae. Genus ikan terumbu pada Kelompok 6 adalah Escenius, Paracirrhites, Meiacanthus, Istigobius, Valenciennea, Corythoicthys, danGnatholepis.
44
g. Kelompok Ikan Terumbu 7
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Scorpaenidae dan Haemulidae. Genus ikan terumbu pada Kelompok 7 adalahScorpaenopsisdan Plectorhinchus.
h. Kelompok Ikan Terumbu 8
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Apogonidae. Genus ikan terumbu pada Kelompok 8 adalahApogon.
i. Kelompok Ikan Terumbu 9
Famili ikan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Syngnathidae dan Malacanthidae. Genus ikan terumbu pada Kelompok 9 adalahRemoradan Corythoicthys.
j. Kelompok Ikan Terumbu 6
Famili ikan yang termasuk dalam kelompok ini adalah Centriscidae (Shrimphfishes), Lethrinidae dan Acanthuridae. Genus ikan terumbu pada Kelompok 6 adalahAeoliscus, CtenochaetusdanLethrinus.
Menurut Fish Base (2004) pada umumnya Kelompok 3 berada di perairan laut dangkal di daerah terumbu karang, walaupun ada beberapa spesies ikan dari Famili Syngnathidae di daerah payau. Meskipun ikan terumbu di Kelompok 1 ini memiliki perbedaan dari segi fisiologi, Kelompok 3 memiliki ciri kesamaan yang khusus dalam hal diet, yaitu merupakan pemakan invertebrata bentik.
Kelompok 4 merupakan pengelompokkan ikan terumbu terbanyak dan membentuk suatu jaring makanan di dalamnya. Hal ini dikarenakan tiap famili ikan terumbu memiliki beragam spesies yang berbeda komposisi jejaring
45
makanannya. Secara ringkas ditunjukkan padaTabel 4. mengenai tingkatan jejaring makanan untuk tiap famili ikan dari kelompok 4.
Tabel 4.Trophic Levelpada Tiap Famili Ikan Terumbu di Kelompok 4
No Famili Trophic Level
1 Pomacentridae Omnivora dan Planktivora
2 Labridae Pemakan invertebrata bentik, Planktivora dan Karnivora 3 Caesionidae Planktivora
4 Chaetodonthidae Koralivora 5 Nemipteridae Karnivora 6 Mullidae Detritivora 7 Serranidae Karnivora
8 Scaridae Herbivora dan Koralivora 9 Pomacanthidae Planktivora
Pada umumnya pengelompokkan famili ikan terumbu didasari oleh kebiasaan ikan terumbu, kondisi habitat, kelimpahan di alam, dan kondisi perairan. Famili ikan terumbu yang tergabung pada Kelompok 4 adalah Pomacentridae dan Labridae. Menurut Allen dan Steene (1987) bahwa kedua famili ini selalu dijumpai di tiap perairan terumbu karang, karena kedua famili tersebut memiliki sifat teritorial dan berlindung dari predator. Pengelompokkan famili Caesionidae, Chaetodonthidae, Nemipteridae, Mullidae, Serranidae, Scaridae dan Pomacanthidae didasari oleh kelimpahan spesies pada famili tersebut yang tersensus di masing-masing stasiun di Karang Lebar. Famili ikan terumbu yang tergabung pada Kelompok 7, berdasarkan jejaring makanannya tergolong sebagai pemangsa atau karnivora. Pengelompokkan famili ikan untuk Kelompok 5, 9 dan 10 secara umum tergolong ikan pemakan invertebrata bentik, planktivora dan detritivora
Hasil perhitungan indeks kesamaan Bray-Curtis secara pengelompokkan berdasarkan lokasi pengamatan didapatkan skala pemotongan dendogram sebesar 0,81 yang ditampilkan padaGambar 10,sehingga hanya stasiun 7 yang tidak
46
memiliki kesamaan karakteristik komunitas ikan terumbu. Parameter yang dianalisis untuk menakar kesamaan komunitas ikan terumbu antar lokasi ini berupa kelimpahan ikan terumbu yang dipengaruhi oleh kondisi gerak massa air di Karang Lebar. Hasil dendogram yang ditunjukkan berdasarkan nilai indeks kesamaan Bray-Curtis padaGambar 10. memiliki beberapa kelompok yang memiliki kesamaan.
Kelompok 1 merupakan kelompok yang memiliki nilai indeks kesamaan yang tinggi pada Stasiun 2 dan 9, kelompok 2 memiliki nilai indeks kesamaan di daerah stasiun 4 serta Stasiun 1, nilai indeks kesamaan kelompok 3 pada Stasiun 3 dan Stasiun 6. Stasiun 5 dan 8 memiliki kesamaan karakteristik dengan stasiun lain yang relatif kecil sehingga hampir mendekati skala pemotongan Bray-Curtis. Secara umum keterkaitan yang terjadi di tiap stasiun pada perairan Karang Lebar berdasarkan parameter massa gerak air yang merambat di perairan dangkal dan mempengaruhi habitat komunitas ikan terumbu yang secara langsung memberikan pengaruh terhadap ekostruktur famili ikan yang ditemukan di perairan Karang Lebar. PadaTabel 5. menunjukkan kondisi perairan dangkal yang mendapatkan pengaruh langsung dari pergerakan massa air (gelombang dan arus permukaan), khususnya ekosistem terumbu karang.
Karakteristik nilai indeks kesamaan pada kelompok 1 erat kaitannya dengan kondisi batimetri perairan yang memiliki karakteristik pergerakan massa air menuju ke daerah perairan yang dalam, karakteristik batimetri pada kelompok 2 hampir sama dengan kelompok 1, tetapi pada Stasiun 4 topografi batimetri yang dapat merubah energi pergerakan massa air berada di daerah tubir dan Stasiun 1 menuju laut lepas sehingga distribusi plankton, larva dan lainnya berkurang.
Gambar 10. Dendogram Pengelompokkan Lokasi Berdasarkan Tingkat Spesies Pengamatan Ikan Terumbu di Perairan Karang Lebar, Jakarta Utara
Gambar 10. Dendogram Pengelompokkan Lokasi Berdasarkan Tingkat Spesies Pengamatan Ikan Terumbu di Perairan Karang Lebar, Jakarta Utara
Gambar 10. Dendogram Pengelompokkan Lokasi Berdasarkan Tingkat Spesies Pengamatan Ikan Terumbu di Perairan Karang Lebar, Jakarta Utara
48
Kesamaan karakter pada kelompok 3 ini dapat dilihat pula berdasarkan ikan terumbu yang ditemukan. Karakteristik kelompok 1 memiliki hubungan kesamaan dengan kelompok 2, melihat dari kondisi batimetri pada kedua kelompok tersebut yaitu topografi batimetri yang dilalui gelombang dan arus timur bergerak di kondisi perairan tubir yang ke arah perairan dalam, sehingga ikan yang ditemukan relatif kecil dari segi kelimpahan.
Tabel 5.Kondisi Habitat Ikan Terumbu di Karang Lebar Stasiun
Kondisi Ekosistem
1 Substrat pasir yang di penuhi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori buruk, dihuni oleh makro benthik dan karang lunak, makro alga mendominasi, kompetisi ruang antara karang keras dan alga 2 Substrat pasir yang di penuhi patahan karang, penutupan karang keras
termasuk kategori sedang, dihuni oleh karang lunak dan bentik terumbu lainnya, terjadi kompetisi ruang antara karang keras dan alga
3 Substrat pasir yang di penuhi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori baik, dihuni oleh karang lunak dan bentik terumbu lainnya, adanya makro alga yang secara berkala akan mengalami kompetisi ruang
4 Substrat pasir yang di penuhi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori sedang, berpotensi terjadinya kompetisi ruang antara karang keras dan alga
5 Substrat bebatuan dan pasir ditutupi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori sedang, makro alga mendominasi serta dihuni oleh karang lunak dan bentik terumbu lainnya, berpotensi terjadinya kompetisi ruang antara karang keras dan alga
6 Substrat bebatuan dan pasir ditutupi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori sedang, makro alga mendominasi serta dihuni oleh karang lunak dan bentik terumbu lainnya, berpotensi terjadinya kompetisi ruang antara karang keras dan alga
7 Substrat bebatuan dan pasir ditutupi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori sangat buruk, makro alga mendominasi serta dihuni oleh bentik terumbu lainnya, akibat kompetisi ruang
8 Substrat pasir yang di penuhi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori sedang, dihuni oleh karang lunak dan bentik terumbu lainnya, terjadi kompetisi ruang antara karang keras dan alga
9 Substrat bebatuan dan pasir yang ditutupi patahan karang, penutupan karang keras termasuk kategori sedang, berpotensi terjadinya kompetisi ruang antara karang keras dan alga
49
4.4.2 Keterkaitan antara Komunitas Ikan Terumbu dengan Hidrodinamika Permukaan Laut
Hasil analisis koresponden (Correspondence Analysis) mengenai kondisi ekostruktur ikan terumbu yang dipengaruhi pergerakan massa air berupa
gelombang dan arus permukaan di perairan Karang Lebar yang ditampilkan pada Gambar 11.
Gambar 11.Analisis Koresponden Hubungan antara Gelombang dan Arus Permukaan Terhadap Ikan Terumbu di Tiap Stasiun Hasil analisis koresponden yang ditampilkanGambar 11. menunjukkan bahwa hubungan pergerakan massa air dan indeks ekologi ikan terumbu terpusat pada dimensi 1 dan 2. Akar ciri (eigenvalue) dan ragam masing-masing sumbu adalah 0,00211 (72,69%) dan 0,00070 (23,91%) dengan informasi maksimum dari kedua dimensi tersebut sebesar 96,61%. Berdasarkan besarnya akar ciri dan ragam yang berada pada dimensi 1, kondisi keterkaitan antar parameter terhadap stasiun penelitian dapat dikaji berdasarkan sumbu x/zonal dan melihat hasil perhitungan analisis korespondensi Cos2dimensi 1 yang berada diLampiran 5..
50
Hal tersebut menunjukkan bahwa pada dimensi 1 dapat menggambarkan tingkat keterkaitan yang erat antar parameter dalam hal memberikan kontribusi
penyebaran ikan terumbu di tiap stasiunnya.
Berdasarkan analisis korespondensi pada dimensi 1, parameter arus,
gelombang, keanekaragaman, keseragaman, dan biomassa memberikan kontribusi yang lebih kuat di Stasiun 1, 4, 5, dan 7 dibandingkan Stasiun 2, 3, 6, 8, dan 9. Kesamaan karakter kondisi arus dan gelombang di Stasiun 1, 4, 5, dan 7
menggambarkan kondisi habitat (bentik terumbu) dengan kategori sedang sampai sangat buruk, sehingga secara umum mampu mengubah struktur penyebaran biomassa ikan terumbu yang berada di Stasiun 1, 4, 5, dan 7 lebih rendah dibandingkan Stasiun 2, 3, 6, 8, dan 9. Secara umum nilai keanekaragaman dan keseragaman di Stasiun 1, 4, 5, dan 7 lebih besar dibandingkan Stasiun 2, 3, 6, 8, dan 9. Parameter kelimpahan dan kekayaan jenis pada dimensi 1 memberikan