BAB IV EKSEKUSI BENDA JAMINAN YANG DIBEBANI HAK
C. Eksekusi Benda Jaminan yang Dibebani Hak Tanggungan
Pasal 59 Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUKPKPU), UU No. 37 Tahun 2004, menyatakan: “(1) Dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, Kreditor pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat 1 harus melakukan haknya tersebut dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah dimulainya insolvensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 ayat 1. (2) Setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kurator harus menuntut diserahkannya benda yang menjadi agunan untuk selanjutnya dijual sesuai dengan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, tanpa mengurangi hak kreditor pemegang hak tersebut atas hasil penjualan agunan tersebut. (3) Setiap waktu Kurator dapat membebaskan benda yang menjadi agunan dengan membayar jumlah terkecil antara harga pasar jumlah agunan dan jumlah utang yang dijamin dengan benda agunan tersebut kepada Kreditor yang bersangkutan.
Ketentuan Pasal 59 UUKPKPU ini bertentangan dengan Pasal 21 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT). Menurut Pasal 21 UUHT yang menentukan bahwa apabila pemberi Hak Tanggungan dinyatakan pailit, maka pemegang Hak Tanggungan tetap berwenang melakukan segala hak yang diperolehnya menurut
ketentuan UUHT. Dengan demikian berarti bahwa Pasal 59 UUKPKPU mengambil dengan sewenang-wenang hak dari kreditur pemegang hak tanggungan yang dijamin oleh UUHT. Keadaan yang demikian menunjukkan adanya konflik norma yang menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pelaku ekonomi khususnya pemegang hak jaminan antara UUKPKPU dengan UUHT yang mengatur tentang hak kreditur separatis.
Dengan adanya konflik norma diperlukan suatu asas untuk menyelesaikan yaitu lex specialis derogate legi generalis (Undang-Undang Khusus mengalahkan Undang-Undang yang umum). Asas ini menunjuk kepada 2 (dua) peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. Akan tetapi ruang lingkup materi muatan antara kedua peraturan perundang-undangan itu tidak sama, yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain merupakan pengaturan secara umum.151
Didalam konteks eksekusi objek jaminan hak tanggungan milik debitur yang telah dinyatakan pailit oleh suatu pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka ketentuan khusus (lex specialis) yang berlaku dalam pelaksanaan eksekusi tersebut adalah Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Didalam pelaksanaan eksekusi objek jaminan hak tanggungan milik debitur yang telah dinyatakan pailit oleh keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut maka proses eksekusi dilakukan dengan cara eksekusi lelang. Namun sebelum proses eksekusi lelang
151Peter Machmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, hal 99.
dilakukan, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 masih memberikan ruang yang cukup untuk sebuah perdamaian antara para pihak yang bersengketa dalam hal ini antara pihak kreditur dan debitur. Waktu yang disediakan untuk perdamaian adalah paling lambat 8 (delapan) hari sebelum rapat pencocokan piutang di kepaniteraan pengadilan setempat. Dan bisa ditunda sampai rapat berikut yangtanggalnya ditetapkan oleh Hakim Pengawas paling lambat 21 (dua puluhsatu).152
Untuk dapat mengusulkan agar perusahaan debitur pailitdilanjutkan maka harus berdasarkan ketentuan; disetujui oleh kredituryang mewakili lebih dari ½ (satu perdua) dari semua piutang yang diakuidan diterima dengan sementara, yang tidak dijamin dengan hak gadai,jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaanlainnya. Apabila ini terjadi, maka dengan sendirinya demi hukum hartapailit berada dalam keadaan insolvensi.153
Dalam hal pembagian hasil eksekusi, kreditur pemegang hak jaminan pada prinsipnya mendapat kedudukan didahulukan dibandingkandengan kreditur lainnya.
Kedudukan didahulukan diatur juga dalam Pasal 1133 ayat (1) KUH Perdatamenyebutkan bahwahak untuk didahulukan diantara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa, dari gadai dan dari hipotik. Dimanaapabila debitur wansprestasi (ingkar janji), kreditur pemegang hak tanggungan akan mempunyai hak yang didahulukan dalam pelunasan piutangnya dibandingkan dengan kreditur lain
152Pasal 147 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
153Pasal 180 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
yang tidak memegang haktanggungan. Sifat pemenuhan piutang yang didahulukan ini disebut dengan kreditur seperatis/preferen. Sebaliknya kreditur yang tidak mempunyai hak yang didahulukan, dimana diantara kreditur-kreditur ini mempunyai kedudukan yang samaantara yang satu sama lainnya yang tidak memegang hak tanggungan, disebut dengan kreditur konkuren.
Dalam hal pelaksanaan penjualan objek haktanggungan, kreditur pemegang hak tanggungan berdasarkan Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang KPKPU diberi tenggangwaktu dua bulan kreditur harus dapat menjual obyek hak tanggungan. Apabila dalam jangka waktu 2 ( dua ) bulan kreditur pemegang haktanggungan tidak dapat menjual obyek hak tanggungan, kreditur pemegang hak tanggungan harus menyerahkan obyek hak tanggungan kepada kurator untuk dijual dcngan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal185 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 Tentang KPKPU, danhasil penjualan obyek hak tanggungan akan dibayarkan kepada krediturpemegang hak tanggungan.154
Dengan ketentuan Pasal 59 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 37Tahun 2004 Tentang KPKPU ini telah membatasi wewenang kreditur pemegang hak tanggungan untuk melaksanakan hak-haknya berdasarkanPasal 20 ayat 1 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang HakTanggungan. Sebagai ketentuan yang tidak mengakui keberadaan hak separatis daripemegang hak tanggungan :
“Ketentuan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 56 ayat 3 danPasal 59, bukan saja rnenegaskan dan meperjelas sikap UUKepailitan yang tidak mengakui
154Pasal 59 ayat 2 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
hak separatis dari krediturpemegang hak jaminan (termasuk pemegang hak tanggungan, daripenulis), karena memasukkan benda-benda yang dibebani Hakjaminan sebagai harta pailit, tetapi juga sekaligus telah tidak mengakui dan merenggut hak kreditur pemegang hak jaminanuntuk dapat mengeksekusi sendiri hak jaminannya, yaitu dengancara menjual benda-benda yang telah dibebani Hak Jaminan itu.”
Seandainya obyek hak tanggungan yang dijual oleh kreditur pemegang hak tanggungan berdasarkan Pasal 20 ayat 1 Undarng-UndangNo. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan jauh dibawah harga pasar, maka sudah menjadi resiko kreditur pemegang hak tanggungan untuk menerima pelunasan sebagai kreditur konkuren.
Eksekusi hak tanggungan dapat ditunda eksekusinya apabila penundaan itu akan lebihmenguntungkan. Mungkin saja penundaan tersebut disebabkan oleh kesepakatan yang dibuat antara kreditur dan Kurator, namun perlu diingat kesempatan kreditur pemegang hak tanggungan hanya dua bulan, setelah lewat dua bulan kreditur pemegang hak tanggungan tidak berwenang lagiuntuk menjual obyek hak tanggungan.155Berdasarkan Pasal 59 ayat 3 Undang-undang Kepailitan ditentukan bahwa setiap waktu Kurator dapat membebaskan barang agunan dengan membayar kepada kreditor (kreditur pemegang hak tanggungan) yang bersangkutan jumlah terkecil antara harga pasar barang agunan dan jumlah hutang yang dijamin dengan barang agunan tersebut. Kurator mempunyai wewenang melunasi hutang debitur terhadap kreditur pemegang hak tanggungan sehingga obyek hak tanggungan berada
155Fuady, op.cit. hal 87.
dalam penguasaan kurator secara penuh, dengan ketentuan pembayaran kepada krediturpemegang hak tanggungan tersebut dengan harga yang terkecil.156.
Ketentuan ini akan menimbulkan permasalahan tentang pihak yang dapat menentukan harga pasar apakah kurator atau debitur, hal ini akan berkaitan dengan harga obyek hak tanggungan yang hendak dijual dalam perkara kepailitan (harga likuidasi/liquidation price) seringkali lebihrendah dibandingkan dengan apabila obyek hak tanggungan dijual dalamkeadaan normal (harga pasar/market price)
Apabila kurator benar-benar melaksanakan wewenangnya, misalnya dengan membayar kreditur sesuai dengan harga pasar yang lebih rendah dibandingkan dengan jumlah hutang, tentunya akan merugikan kreditur pemegang hak tanggungan.
Apabila ditelaah secara seksama tindakan kurator ini adalah bertujuan agar harta pailit yang ada dalam penguasaan kurator menjadi lebih besar, sehingga dapat diharapkan dapat menguntungkan kreditur secara umum (seluruh kreditur).
156Pasal 59 ayat 3 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dibahas dari Bab 1 hingga Bab 4 pada penelitian ini maka dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu antara lain:
1. Pengaturan hukum dalam pelaksanaan eksekusi benda jaminan yang telah dibebani hak tanggungan dimana debitur telah dinyatakan pailit termuat di dalam ketentuan Pasal 6 dan Pasal 21 UUHT No. 4 Tahun 1996 dan Pasal 56 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, dimana kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan berhak melakukan eksekusi terhadap objek jaminan hak tanggungan seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Akan tetapi hak preferen dari kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan tersebut menjadi tertunda dengan adanya masa penangguhan eksekusi tersebut selama 90 hari, berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang tersebut.
2. Prosedur dan tata cara pelaksanaan eksekusi benda jaminanan yang telah diikat dengan hak tanggungan apabila debitur telah dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap berdasarkan Undang-Undang KPKPU adalah sejak debitur dinyatakan pailit maka kreditur tetap memiliki hak preferen untuk melakukan eksekusi terhadap objek jaminan hak tanggungan tersebut seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Namun demikian kreditur pemegang
sertipikat hak tanggungan mengalami masa stay (masa menunggu) selama selama 90 (sembilan puluh) hari sebelum pelaksanaan eksekusi objek jaminan hak tanggungan tersebut dapat dilakukan oleh kreditur. Apabila objek jaminan hak tanggungan tersebut telah dieksekusi berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, maka dilakukan pelelangan terhadap objek jaminan hak tanggungan tersebut di badan pelelangan umum. Hasil pelelangan objek jaminan hak tanggungan tersebut terlebih dahulu diutamakan terhadap pembayaran utang debitur kepada kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan tersebut.
3. Kedudukan kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan apabila debitur telah dinyatakan pailit oleh suatu keputusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap adalah kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan dapat melakukan eksekusi terhadap haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Ketentuan ini konsisten dengan ketentuan Parate Executie dalam Hukum jaminan atas benda agunan yang dibebankan Hak Tanggungan, hipotik, gadai dan fidusia dan kreditur pemegang hak retensi. Kedudukan kreditur separatis pasca pailit tetap mengacu kepada Pasal 55 dan Pasal 244 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, yakni kreditur separatis ditempatkan diluar dari kepailitan karena sifat dari objek jaminan hak tanggungan yang memberi hak kepada kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan untuk mengkesekusi sendiri objek jaminannya.
B. Saran
Diharapkan adanya kepastian hukum perjanjian utang dengan objek hak tanggungan sebagai jaminan, oleh karena itu:
1. Pengaturan hukum tentang eksekusi objek jaminan hak tanggungan memiliki harmonisasi antara UUHT No. 4 Tahun 1996 dan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang KPKPU sehingga dalam pelaksanaan eksekusi oleh kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan tidak mengalami hambatan dan kendala sebagai kreditur preferen yang dijamin hak-haknya dalam UUHT No. 4 Tahun 1996.
2. Diharapkan prosedur dan tata cara pelaksanaan eksekusi objek jaminan hak tanggungan bagi kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan tidak mengalami prosedur yang berbelit-belit sehingga menyulitkan bagi kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan dalam memperoleh kembali piutangnya yang sudah dijamin oleh UUHT No. 4 Tahun 1996 meskipun debitur pemberi hak tanggungan tersebut telah dinyatakan pailit oleh suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
3. Hak-hak kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan dijamin sepenuhnya dalam prosedur pelaksanaan pengambilan kembali objek hak tanggungan yang telah berada di kekuasaan kurator dalam suatu budel pailit dan pemegang sertipikat hak tanggungan hendaknya tetap memiliki keleluasaan dalam mengeksekusi objek jaminan hak tanggungan saat debitur wanprestasi sebagai pelunasan piutangnya meskipun debitur telah berada dalam keadaan pailit dan insolvensi.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Aman, Edy Putra Tje, 2007. Kredit Perbankan Suatu Perbankan Yuridis, Liberty, Yogyakarta.
Asikin, Zainal, 2002. Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hutagalung, Arie S., 2002. Serba Aneka Masalah Tanah Dalam Kegiatan ekonomi, Suatu Kumpulan Karangan, Cetakan Kedua, Badan Penerbit Fakultas Hukum Uniersitas Indonesia, Depok.
Ibrahim, Jhonny, 2005. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Banyu Media, Malang.
Irawan, Bagus, 2010. Aepek-Aspek Hukum Kepailitan Perusahaan dan Asuransi, Alumni, Bandung.
Irham, 2011. Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Refika Aditama, Bandung.
Khoidin, M., 2012. Hukum Jaminan Hak-Hak Jaminan, Hak Tanggungan dan Eksekusi Objek Hak Tanggungan, Laksbang Justitia, Surabaya.
Lubis, M Solly, 1994. Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung.
Marwali, Rachman, 2012. Pembatalan APHT Akibat Tidak Berwenangnya Debitur Pemberi Hak Tanggungan, Bumi Aksara, Jakarta.
Marzuki, Meter Mahmud, 2008. Penganar Ilmu Hukum, Kencana Pranada Media Group, Jakarta.
___________, 2005. Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta.
Muljadi, Kartini, Gunawan Widjaja, 2005. Seri Hukum Harta Kekayaan Hak Tanggungan,Prenada Media, Jakarta.
___________, 2003. Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Mardjono, 2007. Hukum Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta.
Riswanto Yoga, 2010. Tata Cara Pengajuan Gugatan Permohonan Pailit ke Pengadilan Niaga, Rineka Cipta, Jakarta.
Sudiono Zainal, 2008. Seluk-Beluk Praktek Hukum Kepailitan, Pradnya Paramitha, Jakarta.
Saliman, Abdul R, Ahmad Jalis, 2004. Hermansyah, Esensi Hukum Bisnis Indonesia, Fajar Interpratama Offset, Jakarta.
Satrio, J., 2012. Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Hak Tanggungan,Citra Aditya Bakti, Bandung.
Sinamo, Nomensen, 2010. Metode Penelitian Hukum dalam Teori dan Praktek, Bumi Intitama Sejahtera, Jakarta.
Situmorang, Victor M. dan Cormentyna Sitanggang, 2010. Grose Akta dalam Pembuktian dan Eksekusi, Jakarta, PT. Rineka Cipta.
Sjahdeini, Sutan Remy, 2005. Hak Tanggungan Asas-Asas Ketentuan-Ketentuan Pokok dan Masalah-Masalah yang Dihadapi Oleh Perbankan, Airlangga University Press, Surabaya.
Soejono dan H Abdurrahman, 2010. Prosedur Pendaftaran Tanah, Jakarta, PT Rineka Cipta.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 2001. Penelitian Normatif, UI Press, Jakarta.
__________, 1986. Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.
Soemardjono, Maria SW, 1996. Hak Tanggungan dan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Subekti, R., 1991. Jaminan-Jaminan Untuk Memberikan Kredit Menurut Hukum Indonesia, Citra Aditya Bakti, Jakarta.
Subhan, M. Hadi, 2008. Hukum Kepailitan, Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan, Edisi Pertama, Cet. ke-1. Prenada Media Group, Jakarta.
Sudrajat, Sutardja, 2010. Pendaftaran Hak Tanggungan dan Penerbitan Sertifikatnya, Mandar Maju, Bandung.
Sulaiman, Robintan & Joko Prabowo, 2000. Lebih Jauh Tentang Kepailitan, Pusat Studi Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Jakarta.
Sumardjono, Maria. S.W, 2008. Prinsip Dasar dan Beberapa Isu Di Seputar Undang-Undang Hak Tanggungan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Sunarmi, 2009. Hukum Kepailitan, USU Press, Medan.
Sunggono, Bambang W., 2011. Metode Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Suriadi, Arya, 2011. Kepailitan di Negeri Pailit, Intermassa, Jakarta.
Sutarno, 2009. Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung.
Sutedi, Adrian, 2012. Hukum Hak Tanggungan,Sinar Grafika, Jakarta.
Titik Tejaningsih., 2015. Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor Separatis Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit, Disertasi Doktor (S-3) Ilmu Hukum Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Widjaja, Gunawan, 2003. Tanggung Jawab Dreksi Atas Kepailitan Perseroan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Wuisman, JJJ M, dengan penyunting M. Hisyam, 1996. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, (Jilid I), FE UI, Jakarta.
Yani, Ahmad dan Gunawan Wijaya, 2010. Kepailitan, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
B. Peraturan Perundang-Undangan
Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang hak tanggungan.
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) C. Wawancara
1. Wawancara dengan Syuhada, Anggota Tehnis Hukum Balai Harta Peninggalan Medan. Wawancara dilakukan pada hari Selasa tanggal 13 Desember 2016.