Tercapai kesepakatan antara PT. Berkah Karya Bersama dengan Siti Hardiyanti Rukmana, PT. Tridan Satriaputra Indonesa, PT. Citra Lamtaro Gung Persada, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Niken Wijayanti, Mohamamd Jarman, dan juga PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia dalam Investment Agreement. Adapun kewajiban dari PT. Berkah Karya Bersama saat itu adalah diwajibkan untuk melaksanakan pembiayaan dan restrukturisasi utang-utang PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia dengan batas pengeluaran sampai dengan USD 55,000,000 dan untuk itu PT. Berkah Karya Bersama berhak atas 75% (tujuh puluh lima persen) saham penyertaan pada PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia melalui pengeluaran saham baru.
Setelah PT. Berkah Karya Bersama memulai menjalankan Investment Agreement, PT. Berkah Karya Bersama menemukan bahwa utang PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia telah dipegang oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan harus diselesaikan beserta utang grup dari Siti Hardiyanti Rukmana (yaitu utang penyelesaian utang debitor grup dan utang penyelesaian kewajiban pemegang saham). Hal ini dikarenakan katentuan single obligor concept dimana penyelesaian utang harus diselesaikan secara satu bundle dan tidak dapat dipecah-pecah. Saat itu PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia juga memiliki utang pajak
dan membutuhkan berbagai alat dan program untuk menyehatkan kembali PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia.
Oleh karena adanya perubahan ini, maka dibuatlah Supplemental Agreement yang memberikan batasan kewajiban PT. Berkah Karya Bersama hanya sampai dengan USD 55,000,000 sedangkan selebihnya merupakan kewajiban pemegang saham lama/terdahulu dari PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana, PT. Tridan Satriaputra Indonesa, PT. Citra Lamtaro Gung Persada, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Niken Wijayanti, Mohamamd Jarman.
Sebagai jaminan kepastian hukum bagi PT. Berkah Karya Bersama yang akan menanamkan modalnya untuk pembiayaan dan restrukturisasi utang-utang PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, maka Siti Hardiyanti Rukmana, PT. Tridan Satriaputra Indonesa, PT. Citra Lamtaro Gung Persada, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Niken Wijayanti, Mohamamd Jarman menerbitkan surat kuasa tertanggal 7 Februari 2003 dan surat kuasa tertanggal 3 Juni 2003 yang tidak dapat ditarik kembali (irrevocable of power if attorney) untuk pelaksanaan Invetment Agreement dan Supplemental Agreement.
Adapun surat kuasa tersebut dibuat untuk melaksanakan Investment Agreement dan Supplemental Agreement yang diantaranya memberikan kuasa kepada PT. Berkah Karya Bersama untuk meminta diadakannya RUPS PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, menghadiri RUPS PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia,
mengubah direksi dan dewan komisaris PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, mengubah Anggaran Dasar PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, menambah modal PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia dan melakukan hal lainnya.
Kewajiban-kewajiban restrukturisasi PT. Berkah Karya Bersama dilakukan dengan cara:
a. Penyelesaian Utang PUDG (Penyelesaian Utang Debitor Grup) kepada BPPN; b. Penyelsaian Utang PKPS (Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham) Bank
Yama kepada BPPN; c. Penyelesaian Utang Pajak;
d. Pemasukan Alat dan Program; dan e. Penyelesaian Utang Convertible Bonds.
Pada akhir tahun 2005, PT. Berkah Karya Bersama terkejut mengetahui bahwa Siti Hardiyanti Rukmana, PT. Tridan Satriaputra Indonesa, PT. Citra Lamtaro Gung Persada, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Niken Wijayanti, Mohamamd Jarman telah melanggar kewajibannya dalam Investment Agreement dan Supplemental Agreement untuk mengeluarkan 75% (tujuh puluh lima persen) saham di PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia.
Selanjutnya, pada bulan November 2013, PT. Berkah Karya Bersama selaku Pemohon telah mengajukan Permohonan Arbitrase terhadap Siti Hardiyanti Rukmana, PT. Tridan Satriaputra Indonesa, PT. Citra Lamtaro Gung Persada,
Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Niken Wijayanti, Mohamamd Jarman selaku Para Termohon, dan PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia selaku Turut Termohon. Permohonan Arbitrase tersebut diajukan sehubungan dengan wanprestasi/cidera janji yang dilakukan oleh Para termohon terhadap Investment Agreement tertanggal 23 Agustus 2002 dan Supplemental Agreement tertanggal 7 Februari 2003. Adapun wanprestasi yang telah dilakukan oleh Para Termohon adalah sebagai berikut:
1. Para Termohon mengingkari kewajibannya dengan mengklaim telah mencabut surat kuasa khusus tertanggal 3 Juni 2003; dan
2. Para Termohon mengingkari kewajibannya dengan melakukan RUPSLB tertanggal 17 Maret 2005 yang secara tegas bahwa Para termohon tidak ingin mengeluarkan 75% (tujuh puluh lima persen) saham di Turut Termohon kepada Pemohon.
Pada tanggal 12 Desember 2014, Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menjatuhkan putusan atas perkara nomor 547/XI/ARB-BANI/2013, yaitu atas sengketa wanprestasi/cidera janji tersebut. Dalam putusan tersebut, Majelis Arbitrase menyatakan menghukum Para Termohon untuk membayar semua utangnya kepada Pemohon sebesar Rp 510.000.000.000,- (lima ratus sepuluh miliar rupiah).
Para pihak yang membuat perjanjian wajib melaksanakan kewajiban yang timbul dari perjanjian tersebut. Perstasi adalah kewajiban yang harus dipenuhi
seorang debitor. Di dalam suatu perjanjian, prestasi adalah kewajiban kontraktual (contractual obligation). Kewajiban kontraktual tersebut dapat berasal dari:
a. Kewajiban yang ditentukan peraturan perundang-undangan; b. Kewajiban yang diperjanjikan para pihak dalam perjanjian; dan c. Kewajiban yang diharuskan oleh kepautusan dan kebiasaan.
Pemenuhan prestasi adalah hakikat dari suatu perjanjian. Kewajiban memenuhi prestasi dari debitor selalu disertai dengan tanggung jawab, artinya debitor mempertaruhkan harta kekayaannya sebagai jaminan pemenuhan utangnya kepada kreditor.
Dalam melaksanakan prestasi tersebut, ada kalanya debitor tidak dapat melaksanakan prestasi atau kewajibannya. Ada penghalang ketika debitor melaksanakan prestasi dimaksud. Tidak terpenuhinya kewajiban itu ada dua kemungkinan alasannya yaitu karena kesalahan debitor, baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian dan karena keadaan memaksa (force majeure, overmacht), sesuatu yang terjadi di luar kemampuan debitor, debitor tidak bersalah.
Apabila tidak terpenuhinya kewajiban prestasi disebabkan oleh kesalahan debitor, baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian, dan kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya, maka dikatakan bahwa debitor melakukan wanprestasi. Istilah lain dari wanprestasi dalam bahasa Indonesia adalah cidera janji atau ingkar janji.
Wanprestasi atau cidera janji adalah suatu kondisi dimana debitor tidak melaksanakan kewajiban yang ditentukan didalam perikatan, khususnya perjanjian (kewajiban kontraktual). Wanprestasi dalam hukum perjanjian mempunyai makna yaitu debitor tidak melaksanakan kewajiban prestasinya atau tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya sehingga kreditor tidak memperoleh apa yang diinginkan oleh pihak lawan.
Dari Pasal 1276 KUHPerdata dapat disimpulkan apabila seorang kreditor yang menderita kerugian karena debitor melakukan wanprestasi, kreditor memiliki alternatif untuk melakukan upaya hukum atau hak meminta pelaksanaan perjanjian, atau meminta ganti rugi, atau meminta pelaksanaan perjanjian sekaligus meminta ganti rugi, atau dalam perjanjian timbal balik, dapat meminta pembatalan perjanjian sekaligus meminta ganti rugi.
Ganti rugi yang dapat dituntut oleh kreditor disini berdasarkan Pasal 1234 KUHPerdata dapat berupa biaya-biaya yang telah dikeluarkan kreditor, rugi, atau bunga. Biaya yang dimaksud adalah semua pengeluaran atau ongkos yang telah secara riil dikeluarkan oleh pihak dalam perjanjian. Kemudian yang dimaksud rugi disini adalah kerugian yang secara nyata diderita menimpa harta benda kreditor. Kerugian terhadap harta benda tersebut terjadi akibat kelalaian debitor. Adapun yang dimaksud dengan bunga adalah kerugian terhadap hilangnya keuntungan yang diharapkan (windstderving) andai debitor tidak wanprestasi.
Dalam putusan BANI tersebut di atas, Majelis BANI menyatakan menghukum Para Termohon untuk membayar semua utangnya kepada Pemohon sebesar Rp 510.000.000.000,- (lima ratus sepuluh miliar rupiah). Utang sebagaimana yang dimaksud dalam putusan arbitrase tersebut timbul karena adanya Perjanjian Investasi atau Investment Agreement diantara para pihak dalam perjanjian tersebut.
Jika di dalam Putusan Nomor 238 PK/Pdt/2014 yang diselesaikan oleh badan peradilan umum adalah kasus yang dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, maka di dalam Putusan BANI atas perkara nomor 547/XI/ARB-BANI/2013 yang diselesaikan dihadapan BANI adalah kasus yang dikualifikasikan sebagai wanprestasi/cidera janji berdasar Pasal 1267 KUHPerdata.
Badan peradilan umum mengadili sengketa dalam perkara perbuatan melawan hukum dan bukan sengketa mengenai hak berdasarkan Investment Agreement tertanggal 23 Agustus 2002 yang berklausul arbitrase. Sehingga, Pengadilan Negeri berwenang memeriksa dan mengadili sengketa tersebut. Selanjutnya, BANI mengadili sengketa dalam perkara wanprestasi, yaitu sengketa mengenai hak berdasarkan Investment Agreement. Dengan demikian, kedua lembaga peradilan tersebut berwenang memeriksa dan mengadili sengketa yang diajukan kepadanya, karena perkara yang diajukan kepada badan peradilan umum dan BANI adalah berbeda, tidak memiliki objek pemeriksaan yang sama. Maka, kedua putusan tersebut dapat dieksekusi.