AHLI PEMOHON
I. DALAM EKSEPSI
1.1. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
Menurut Termohon, Mahkamah Konstitusi tidak berwenang memeriksa, mengadili dan memutus perkara perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nabire tahun 2020, yang diajukan oleh Pemohon dengan alasan sebagai berikut:
Permohonan Pemohon Tidak Menjelaskan Hasil Penghitungan Suara yang Benar Menurut Pemohon
1. Bahwa perselisihan hasil pemilihan merupakan perselisihan antara KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota dan peserta pemilihan mengenai penetapan perolehan suara hasil pemilihan sebagaimana ketentuan dalam Pasal 156 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (UU 10/2016) jo Pasal 2 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 6 Tahun 2020 tentang Tata Beracara dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota (PMK 6/2020) pada pokoknya menentukan yang menjadi objek dalam perkara perselisihan hasil Pemilihan adalah Keputusan Termohon mengenai penetapan
perolehan suara hasil Pemilihan yang signifikan dan dapat mempengaruhi penetapan calon terpilih;
2. Bahwa merujuk ketentuan Pasal 157 ayat 3 UU 10/2016 menyatakan bahwa perkara perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil Pemilihan diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan Peradilan Khusus. Kemudian Pasal 157 Ayat 4 UU 10/2016 menyatakan bahwa Peserta Pemilihan dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten dan Kota kepada Mahkamah Konstitusi;
3. Bahwa Mahkamah-pun telah mengatur syarat kumulatif mengenai permohonan yang diajukan oleh peserta pemilihan dalam mengajukan pembatalan atas penetapan perolehan hasil akhir yang telah ditetapkan oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten dan Kota sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (3) huruf (b) angka (4) Peraturan Mahkamah Konstitusi No.6 Tahun 2020 yang pada pokoknya menyatakan bahwa Permohonan Pemohon paling kurang memuat penjelasan tentang kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon dan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon;
4. Pemohon tidak bisa menjelaskan berapa perolehan suara yang benar menurut Pemohon. Hal tersebut diakui sendiri melalui keterangan Pemohon dalam dalil permohonannya pada halaman 4 angka (2) yang pada pokoknya menyatakan Pemohon belum dapat menguraikan penghitungan suara yang benar menurut Pemohon. Keterangan tersebut jelas sebagai bentuk pengakuan dipersidangan tentang syarat yang tidak bisa dipenuhi oleh Pemohon dalam menjelaskan hasil penghitungan suara yang salah menurut Termohon dan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon;
5. Bahwa dalil yang seharusnya diuraikan dalam setiap permohonan paling tidak memuat penjelasan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon adalah dalil yang disyaratkan dalam Pasal 8 ayat (3) huruf (b) angka (4) PMK No. 6 Tahun 2020, sehingga dengan sendirinya menegaskan bahwa permohonan Pemohon bukanlah kewenangan
Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo, atas hal tersebut sudah seharusnya permohonan Pemohon untuk ditolak dan dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvankelijke verklaard).
6. Bahwa berdasarkan fakta dan dasar pengaturan sebagaimana tersebut di atas dan dengan segala kerendahan hati, Termohon memohon kebijaksanaan Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menyatakan tidak berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Nabire Tahun 2020 dalam perkara Nomor: 101/PHP.BUP-XIX/2021 yang dimohonkan oleh Pemohon.
Petitum Pemohon Tidak Diatur Dalam Hukum Acara Mahkamah Konstitusi (PMK 6/2020)
7. Dalam Petitum angka 4 halaman 9 Pemohon meminta kepada Mahkamah Konstitusi menetapkan perolehan suara yang benar menurut Mahkamah Konstitusi. Kemudian Petitum pada angka 5 halaman 9 Pemohon juga meminta kepada Mahkamah untuk menonaktifkan kelima anggota PPD Distrik Dipa. Terhadap kedua dalil Petitum tersebut adalah dalil yang tidak benar, mengada-ada dan tidak berdasar, karena faktanya kedua petitum yang dimohonkan oleh Pemohon tidak diatur dalam PMK 6/2020 tentang Tata Beracara dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota;
8. Bahwa ketentuan Pasal 8 Ayat (3) Huruf (b) Angka 5 PMK 6/2020 yang pada pokoknya mengatur bahwa Petitum, memuat permintaan untuk membatalkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan yang ditetapkan oleh Termohon dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon;
9. Terhadap petitum yang tidak sesuai dengan hukum acara Mahkamah Konstitusi merupakan permohonan yang secara jelas dan nyata melanggar ketentuan dalam PMK No. 6 Tahun 2020, sehingga atas petitum tersebut dengan sendirinya harus ditolak dan dinyatakan tidak dapat diterima;
10. Bahwa berdasarkan fakta dan dasar pengaturan sebagaimana tersebut di atas dan dengan segala kerendahan hati, Termohon memohon
kebijaksanaan Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menyatakan tidak berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Nabire Tahun 2020 dalam perkara Nomor: 101/PHP.BUP-XIX/2021 yang dimohonkan oleh Pemohon.
1.2. PERMOHONAN PEMOHON TIDAK JELAS (OBSCUUR LIBEL)
Menurut Termohon, Permohonan Pemohon tidak jelas dengan alasan sebagai berikut:
Dalil Pemohon Tidak Berdasarkan Fakta Hukum dan Mengaburkan Fakta Hukum
11. Bahwa Pemohon dalam permohonannya telah menguraikan dalil-dalil yang tidak berdasarkan fakta hukum yang sesungguhnya, bahkan secara jelas dan nyata-nyata telah mengaburkan fakta hukum yang terjadi dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Nabire.
12. Dalil Pemohon yang mengatakan Termohon telah melakukan pelanggaran yang berat dan serius dalam penyelenggaraan pemilihan di Kabupaten Nabire yang mencederai demokrasi dan merampas hak pilih warga di TPS-TPS yang secara signifikan mempengaruhi keterpilihan pasangan calon adalah dalil yang tidak benar, tidak jelas dan tuduhan yang hanya berdasarkan asumsi belaka. Faktanya, tidak ada satupun putusan dan/atau sanksi dari Lembaga pengawas pemilu, baik Bawaslu, DKPP maupun putusan pengadilan pidana pemilu yang telah berkekuatan hukum tetap yang menyatakan Termohon telah melakukan pelanggaran berat dan serius terkait hal tersebut.
13. Dalil Pemohon yang menyatakan pemberian suara 100% untuk pasangan calon nomor urut 2 tanpa pencoblosan adalah dalil yang tidak jelas dan upaya Pemohon untuk mengaburkan fakta tentang sistem noken, ikat suara ataupun kesepakatan yang masih terus digunakan di Kabupaten Nabire. Bahwa terkait dengan pemungutan suara yang masih menggunakan sistem tersebut adalah sah dan sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 230 Peraturan Komisi Pemilihan Umum
Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2019 tentang Pemungutan Dan Penghitungan Suara Dalam Pemilihan Umum dan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 47-81/PHPU.AVII/2009 tanggal 30 September 2009 jo Putusan MK No.14/PHPU.D-XI/2013 tanggal 11 Maret 2013 jo Putusan MK No. 31/PUU-XII/ 2014, tanggal 11 Maret 2015.
14. Dalil Pemohon yang menyatakan penyelenggaraan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Nabire tidak ada satupun Distrik atau Kampung yang menggunakan sistem noken, ikat suara ataupun kesepakatan adalah dalil yang tidak berdasarkan fakta hukum. Karena fakta yang sesungguhnya terjadi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Nabire telah menggunakan sistem noken, ikat suara atau kesepakatan sejak tahun 2004 hingga saat ini, bahkan Pemilihan Anggota Legislatif dan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019-pun masih menggunakan sistem a quo; (Bukti T – 21, Bukti T – 42 dan Bukti T – 43)
15. Bahwa berdasarkan fakta dan dasar pengaturan sebagaimana tersebut di atas dan dengan segala kerendahan hati, Temohon memohon kebijaksanaan Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menyatakan tidak berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Nabire Tahun 2020 dalam perkara Nomor: 101/PHP.BUP-XIX/2021 yang dimohonkan oleh Pemohon.
Pemohon Menggunakan Aturan Hukum yang Tidak Jelas, Keliru dan Salah
16. Bahwa dalil Pemohon pada halaman 11 permohonan a quo pada pokoknya menyatakan tentang prosedur penyelenggaraan pemungutan suara sistem noken diatur dalam PKPU No. 7 Tahun 2019 adalah dalil yang tidak benar, karena faktanya ketentuan a quo diatur dalam PKPU No. 3 Tahun 2019.
17. Bahwa ketentuan PKPU No. 7 Tahun 2019 sama sekali tidak mengatur tentang sistem noken, ikat suara atau kesepakatan, melainkan mengatur tentang PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN KOMISI PEMILIHAN
UMUM NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG TAHAPAN, PROGRAM, DAN