• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERDAGANGAN ORANG (TRAFFICKING)

A. Eksistensi Kasus Trafficking di Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia yang merupakan gerbang penting bagi lalu lintas perdagangan orang dan sangat strategis. Bagian Utara provinsi ini berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan Negara Malaysia yang merupakan bagian dari segi tiga pertumbuhan Indonesia, Malaysia dan Thailand. Dengan letaknya yang sedemikian strategis dalam kaitannya dengan lintas orang dan barang membuat Provinsi Sumatera Utara sebagai provinsi yang dianggap strategis untuk dijadikan sebagai daerah suplier/sending area atau pengirim, daerah transit/penampungan dan tujuan atau penerima oleh para pelaku sindikat trafiking.

Provinsi Sumatera Utara saat ini berpenduduk lebih kurang 12 juta jiwa dengan berbagai permasalahan sosialnya. 83

Perdagangan orang / manusia bukan kejahatan biasa (extra ordinary), terorganisir (organized), dan lintas negara (transnational) sehingga dapat dikategorikan sebagai transnational organized Crime (TOC). Demikian canggihnya cara kerja perdagangan orang yang harus diikuti dengan perangkat hukum yang dapat

83 Biro Pemberdayaan Perempuan dan KB, Upaya Pencegahan dan penanggulangan perdagangan Orang di Sumatera Utara, (Jakarta,2005), hal 3

menjerat pelaku. Diperlukan instrumen hukum secara khusus yang meliputi aspek pencegahan, perlindungan, rehabilitasi, repratriasi, dan reintegrasi sosial.84

Kemiskinan dan tingginya angka pengangguran merupakan faktor penting yang dapat secara signifikan mendorong terjadinya tindak kejahatan trafficking, khususnya terhadap perempuan dan anak. Menurut data BPS adanya kecenderungan jumlah penduduk miskin terus meningkat terutama sejak terjadinya krisis multidimensi pada pertengahan tahun 1998. Pada tahun 2002 jumlah angka penduduk miskin di Indonesia mencapai 17, 6 %. Sedangkan di Sumatera Utara menurut data BPS pada tahun yang sama jumlah penduduk miskin berjumlah 1.883.89. jiwa atau setara dengan 15,84 % dari totol jumlah penduduk Sumatera Utara. 85

Sementara itu dari aspek ketenagakerjaan, persoalan trafficking cukup memiliki persinggungan yang besar. Artinya bahwa tingginya angka pengangguran dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan merupakan faktor yang dapat menstimulasi terjadinya tindak pidana trafiking. Kualitas tenaga kerja di Sumatera Utara sebagian besar tamatan SD atau tidak tamat SD sebesar 43,41 %. Sementara itu jumlah angkatan kerja pada tahun 2005 tercatat 5,5 juta orang. Dari jumlah itu tercatat 4,76 juta adalah pekerja, sedangkan sisinya sebesar758 ribu orang adalah pencari kerja atau mereka merupakan pengangguran terbuka. 86

84 Perdagangan Orang.www.profsuhaidi.web.id tanggal 10 Agustus 2010, pukul 20.00 Wib

85 Biro Pemberdayaan Perempuan dan KB, Op Cit hal 6

86 Ibid

Persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari terjadinya praktek trafficking adalah lemahnya struktur kehidupan keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.

Kehidupan keluarga, kondisi sosial masyarakat, rendahnya tingkat pendidikan, sulitnya lapangan kerja, ketidaktahuan akan hak dan informasi, gaya hidup konsumsitif, ketidakadilan gender, meningkatnya permintaan tenaga kerja perempuan dan anak merupakan titik lemah yang harus diperhatikan dan selayaknya merupakan gerbang besar terbukanya praktek trafficking.

Kasus trafficking dengan segala permasalahannya merupakan problemtika gunung es, yang kecil terlihat dari permukaan. Artinya kasus terjadinya kejahatan trafiking ini sesungguhnya terjadi dalam skala yang cukup besar dengan jumlah korban yang dari waktu ke waktu menunjukkan trend terjadinya peningkatan. Banyak faktor yang menyebabkan korban-korban kejahatan trafficking utamanya yang menimpa perempuan dan anak akhirnya tidak dapat ditangani karena korban tidak melapor. Ketidaktahuan prosedur hukum, takut aib keluar diketahui khlayak luas adalah merupakan sebab utama tidak tertanganinya korban-korban trafficking.87

Dengan letak Provinsi Sumatera Utara yang demikian strategis dalam masalah trafiking, provinsi ini memiliki peran ganda, yakni dapat merupakan daerah asal atau daerah pengirim (sending area) sekaligus sebagai daerah transit bahkan dapat pula berperan sebagai daerah tujuan. Aksesbilitas yang tinggi ke jalur-jalur perhubungan baik ke dalam negeri maupun ke luar negeri serta dengan kondisi Sumatera Utara

87 Biro Pemberdayaan Perempuan dan KB, Op Cit hal 8

yang semakin berkembang pesat, Provinsi Sumatera Utara dihadapkan dengan berbagai persoalan yang berhubungan dengan kejahatan perdagangan orang ini.88

Bentuk trafficking yang berkembang dan yang ditangani sebagian besar korban dijadikan sebagai pekerja portitusi, pelacuran perempuan dan anak. Modus operandi sebagian besar dilakukan melalui bujukan, iming-iming gaji besar. Modus yang paling berkembang adalah pelaku menebar perangkat kedalam zona-zona publik, seperti stasiun kereta api, terminal bus, pusat-pusat perbelanjaan, pelabuhan dan lain sebagainya, bahkan ke Desa /Kelurahan dan pinggiran kota. Tentang daerah sumber, transit dan tujuan perdagangan (trafficking) perempuan dan anak di Sumatera Utara dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 1 : Daerah Sumber, Translit Dan Tujuan Perdagangan (Trafficking) Perempuan dan Anak di Sumatera Utara.

Daerah Sumber Daerah Transit Daerah Penerima/

Tujuan

Sumber : Biro Pemberdayaan Perempuan Setdapropsu.

Posisi Provinsi Sumatera Utara sebagai daerah pengirim, para pelaku menjadikan beberapa negara tetangga sebagai daerah tujuan seperti Malaysia, Singapore, Thailand, Hongkong, dan lain sebagainya. Biasanya jalur-jalur ke luar

88 Ibid

negeri ini sulit untuk dideteksi karena berhimpitan masalahnya dengan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri. 89

Dalam berbagai kasus penanganan trafficking dapat terungkap dengan menggunakan penegakan dan penindakan hukum yang dilakukan oleh aparat Kepolisian. Dalam hal ini Kepolisian Daerah Sumatera Utara telah beberapa kali mengungkap kasus kejahatan trafficking ini dengan melibatkan berbagai pihak sebagai penampung dan perantara di luar negeri khususnya di Malaysia. Berikut ini dijelaskan pengungkapan kasus kejahatan trafficking yang menjadikan perempuan dan anak yang berasal dari Sumatera Utara sebagai korban pekerja sex komersial di Malaysia.90

Daerah asal korban tidak saja berasal dari Sumatera Utara tetapi korban juga dapat berasal dari Pulau Jawa yang direkrut dan dikumpulkan di Sumatera Utara untuk selanjutnya di kirim ke Malaysia melalui Perusahaan Jasa Ketenaga kerjaan Indonesia (PJTKI) baik yang legal maupun ilegal. Daerah asal lain Medan, Binjai, Langkat, Tebing Tinggi, Deli Serdang, Tebing Tinggi, Asahan, Tanjung Balai, Rantau Prapat, Tapanuli Selatan dan Nias.91

89 Biro Pemberdayaan Perempuan dan KB, Op Cit hal 16

90 Ibid, hal 17

91 Ibid