Sebagai suatu Perusahaan, pers telah berkembang sebagai sebuah industri, bahkan ada yang mengatakan sebagai sebuah kepastian sebuah informasi. Dari sudut pandang ini, tidak berlebihan atau dapat dimengerti kalau disebut perusahaan pers sejak reformasi, motif pers sebagai perusahaan atau pers sebagai industri menjadi pendorong utama pertumbuhan pers di negara kita. Tentu masih ada pers yang diterbitkan, tidak secara langsung untuk memperoleh laba dalam makna ekonomi, tetapi laba kekuasaan yang diujungnya akan memberikan laba ekonomi. Didapati sejumlah perusahaan pers atau pers (terutama yang terbit di daerah) berkolaborasi dengan kekuasaan untuk memanfaatkan sumber daya dari kekuasaan dengan imbalan tertentu demi sebesar-besarnya laba perusahaan.
Perusahaan pers atau pers yang menempuh berbagai jalan lain demi sebesar-besarnya laba.
Pertama; ada perusahaan pers atau pers yang melakukan eksploitasi segala segi ketidakpuasan atau yang dapat membangkitkan ketidakpuasan masyarakat. Bahkan sadar atau tidak sadar menjalankan pendekatan konflik atau praktik pertentangan atas nama kebebasan pers. Sesuatu yang agak ganjil bahkan bertentangan dengan asas-asas demokrasi. Demokrasi (dan pers sebagai subsistem demokrasi), menolak segala bentuk pendekatan konflik sebagai cara memecahkan masalah. Ada pula perusahaan pers atau pers yang dengan sengaja memelihara cara berpikir awam yang irrasional dengan menyuguhkan hal-hal yang bertentangan dengan akal yang akan menghalangi kemajuan, seperti
manusia dapat berubah menjadi ular atau sebaliknya. Tidak kurang pula eksploitasi kegemaran sebagian masyarakat bergosip (gossip), seperti suguhan KDRT dalam makna keretakan dalam rumah tangga. Tingkah laku perusahaan pers atau pers semacam ini acap kali tidak dilakukan atas dasar prinsipil, tetapi sebagai cara memperoleh kesempatan yang lebih baik melalui hal-hal seperti meningkatkan rating dan lain-lain.
Kedua; ada perusahaan pers atau pers, demi keselamatan bisnis pers, menempuh kebijakan kehati-hatian yang tinggi. Kadang-kadang terkesan mengambang, bahkan membingungkan masyarakat. Perusahaan pers atau pers semacam ini sangat menyulitkan publik yang sedang dan sangat membutuhkan panduan menghadapi berbagai himpitan hidup (politik, sosial, dan ekonomi). Dua hal yang digambarkan di atas, sekedar gambaran pengaruh pers sebagai industri terhadap pers.
Sebagai wahana komunikasi massa, pelaksana kegiatan jurnalistik, penyebar informasi dan pembentuk opini, pers harus dapat melaksanakan asas, fungsi, kewajiban, dan peranannya demi terwujudnya kemerdekaan pers yang profesional berdasarkan prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum. Untuk mewujudkan kemerdekaan pers yang profesional maka disusunlah standar sebagai pedoman perusahaan pers agar pers mampu menjalankan fungsi
sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial, serta sebagai lembaga ekonomi :16
1. Yang dimaksud perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan atau menyalurkan informasi.
2. Perusahaan pers berbadan hukum perseroan terbatas dan badan-badan hukum yang dibentuk berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Perusahaan pers harus mendapat pengesahan dari Departemen Hukum dan HAM atau instansi lain yang berwenang.
4. Perusahaan pers memiliki komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
5. Perusahaan pers memiliki modal dasar sekurang-kurangnya sebesar Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah) atau ditentukan oleh Peraturan Dewan Pers.
6. Perusahaan pers memiliki kemampuan keuangan yang cukup untuk menjalankan kegiatan perusahaan secara teratur sekurang-kurangnya selama 6 (enam) bulan.
7. Penambahan modal asing pada perusahaan pers media cetak dilakukan melalui pasar modal dan tidak boleh mencapai mayoritas, untuk media penyiaran tidak boleh lebih dari 20 persen dari seluruh modal.
8. Perusahaan pers wajib memberi upah kepada wartawan dan karyawannya sekurang-kurangnya sesuai dengan upah minimum provinsi minimal 13 kali setahun.
9. Perusahaan pers memberi kesejahteraan lain kepada wartawan dan karyawannya seperti peningkatan gaji, bonus, asuransi, bentuk
16
Standar ini disetujui dan ditandatangani oleh sejumlah organisasi pers, pimpinan
perusahaan pers, tokoh pers, serta Dewan Pers di Jakarta, 6 Desember 2007. Sebelum disahkan, draft Standar Perusahaan Pers telah dibahas melalui serangkaian diskusi yang digelar Dewan Pers. Pembuatan Standar ini merupakan pelaksanaan fungsi Dewan Pers menurut Pasal 15 ayat (f) UU No.40/1999 tentang Pers yaitu "memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi wartawan"
kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih, yang diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama.
10. Perusahaan pers wajib memberikan perlindungan hukum kepada wartawan dan karyawannya yang sedang menjalankan tugas perusahaan.
11. Perusahaan pers dikelola sesuai dengan prinsip ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya semakin meningkat dengan tidak meninggalkan kewajiban sosialnya.
12. Perusahaan pers memberikan pendidikan dan atau pelatihan kepada wartawan dan karyawannya untuk meningkatkan profesionalisme.
13. Pemutusan hubungan kerja wartawan dan karyawan perusahaan pers tidak boleh bertentangan dengan prinsip kemerdekaan pers dan harus mengikuti Undang-Undang Ketenagakerjaan.
14. Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk media cetak ditambah dengan nama dan alamat percetakan. Pengumuman tersebut dimaksudkan sebagai wujud pertanggungjawaban atas karya jurnalistik yang diterbitkan atau disiarkan.
15. Perusahaan pers yang sudah 6 (enam) bulan berturut-turut tidak melakukan kegiatan usaha pers secara teratur dinyatakan bukan perusahaan pers dan kartu pers yang dikeluarkannya tidak berlaku lagi. 16. Industri pornografi yang menggunakan format dan sarana media massa
yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi bukan perusahaan pers.
17. Perusahaan pers media cetak diverifikasi oleh organisasi perusahaan pers dan perusahaan pers media penyiaran diverifikasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia.
Semua perusahaan Pers berkomitmen menerapkan standar kompetensi wartawan, dalam melakukan rekrutmen pekerja Pers untuk menghindari penyalahgunaan profesi dan meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan. setiap perusahaan media perlu wartawan kompeten untuk menyampaikan
informasi dengan benar, menghindari masalah terberat dari inkompetensi dan informasi yang disampaikan mendorong penjualan sirkulasi dan iklan dengan tujuan jangka panjang yaitu perusahaan berkembang.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari penjelasan dan pembahasan rumusan masalah di bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan antaralain;
Dalam ketentuan pasal 15 dari Undang-undang Nomor 11 Tahun1966 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 danUndang-undang Perubahan Kedua Undang-undang Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers
Perusahaan Pers terus memberikan edukasi terhadap SDM/ wartawan /redaktur dgn kode etik, agar dalam melakukan tugas jurnalistiknya sesuai dgn kode etik jurnalistik dan sesuai kode etik-kode etik tetang pers / jurnalistik (KEWI, UU Pers, UU PT dan etika-etika jurnalistik). Yakni dengan tetap menjaga kaidah-kaidah dalam melakukan peliputan agar terhindar dari delik pers. Sebab perusahaan pers sebagai penyelenggara penerbitan dan sebagai penanggung jawab dalam hal penerbitan hrus melihat asset-aset perusahaan. Karena delik pers bisa merugikan pertumbuhan penerbitan. Maka itu diberikan edukasi. Hal ini guna membantu melakukan terobosan jurnalistik di era persaingan industri penerbitan pers saat ini.
4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka timbulah saran-saran guna menjadi masukan dalam permasalahan yang telah dikaji antara lain sebagai berikut :
Diperlukan adanya revisi terhadap Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dengan memasukkan delik pers terhadap undang-undang tersebut sehingga pengaturan tentang delik pers dapat diatur secara khusus.
Perlunya ditingkatkan pengawasan publik terhadap kinerja Pers di Indonesia. Kebebasan pers yang bertanggungjawab harus diterapkan.