C. PDRB Sisi Pengeluaran
1. Pengeluaran Konsumsi
3.2. Ekspor Impor Luar Negeri
Perkembangan ekspor impor luar negeri Provinsi Jambi masih mengalami perkembangan yang baik. Berdasarkan dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB), ekspor Provinsi Jambi sebesar USD 113,24 juta sedangkan impor sebesar USD 16,64 juta pada triwulan laporan.11
Dengan kondisi tersebut, Provinsi Jambi mengalami net ekspor sebesar USD 96,60 juta, meningkat sebesar 5,65%
Grafik 1.49. Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi
ribu USD 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2007 2008 2009
Sumber: DSM, Bank Indonesia
Impor Ekspor Net
11
Data s.d. bulan November 2009 (Sumber: Direktorat Statistik dan Ekonomi Moneter, Bank Indonesia).
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
dibandingkan posisi yang sama periode triwulan sebelumnya yang mencapai USD 91,44 juta.12 Ekspor Provinsi Jambi masih didominasi oleh komoditas karet dan CPO.13
Sementara kelompok peralatan mesin dan transport masih mendominasi nilai impor Provinsi Jambi pada triwulan laporan.
Grafik 1.50. Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi
-20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2007 2008 2009
dalam Ribu USD
EKSPOR
CRUDE MATERIALS, INEDIBLE ANIMAL & VEGETABLE OILS&FATS
Grafik 1.51. Lima Komoditi Tertinggi Nilai Ekspor Provinsi Jambi
Ribu USD -10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2006 2007 2008 2009
23 - CRUDE RUBBER 25 - PULP AND WASTE PAPER 42 - FIXED VEGETABLE OILS & FATS 63 - WOOD AND CORK MANUFACTURES 32 - COAL, COKE AND BRIQUETTES LAINNYA
Pada triwulan laporan (Oktober-November 2009), ekspor ke luar negeri Provinsi Jambi meningkat sebesar 10,93% dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya (Juli-Agustus 2009), yaitu dari USD 102,08 juta menjadi USD
12
Net ekspor yang dimaksud disini adalah net ekspor bulan Oktober-November 2009 dibandingkan net ekspor bulan Juli-Agustus 2009.
13
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 113,24 juta. Berdasarkan komoditasnya, peningkatan ekspor pada triwulan laporan dipicu oleh ekspor karet mentah (crude rubber) sebesar USD 82,41 juta (72,78% dari total ekspor Provinsi Jambi). Membaiknya permintaan karet mentah dan CPO dari negara mitra dagang serta tren peningkatan harga internasional karet dan CPO memicu peningkatan nilai ekspor Provinsi Jambi.
Grafik 1.52. Perkembangan Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan Ribu USD -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2006 2007 2008 2009
C. UNITED STA TES OF A M ERICA SINGA PORE
M A LA Y SIA C. JA PA N
C. R.R.C C. SOUTH KOREA
LA INNY A
Grafik 1.53. Pangsa Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 1 2 3 4 5 6 7 8 910 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 91011 121 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2006 2007 2008 2009
C. UNITED STA TES OF A M ERICA SINGA P ORE M A LA YSIA C. JA P A N
C. R.R.C C. SOUTH KOREA
LA INNYA
Berdasarkan jenis komoditasnya, nilai ekspor tertinggi (Oktober-November 2009) dicapai oleh komoditas karet mentah (crude rubber) sebesar USD 82,41 juta atau 72,78% dari total ekspor non migas, sementara nilai ekspor lemak nabati dan minyak (fixed, vegetable oil and fats), serta kertas, kertas karton dan
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
olahannya (paper,paperboard&mfd thereof) masing-masing mencapai USD 15,56 juta (13,74% dari total ekspor non migas), dan USD 5,35 juta (4,73% dari total ekspor non migas).
Ekspor non migas lain yang cukup besar kontribusinya adalah komoditas pulp dan kertas (pulp and waste paper), serta buah-buahan dan sayur-sayuran (fruit and vegetables) yang masing-masing mencapai USD 4,40 juta (3,88%) serta USD 3,86 juta (3,41%). Berdasarkan struktur ekspor non migas Jambi, terlihat bahwa ekspor produk primer masih mendominasi terutama komoditas karet mentah, lemak nabati dan minyak, serta pulp dan kertas disusul produk buah-buahan dan sayur-sayuran.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor Provinsi Jambi sebagian besar ke negara-negara dikawasan Asia yang hampir setara dengan 67,65% total ekspor Provinsi Jambi. Penyumbang utama ekspor dari negara Asia adalah Jepang yang mencapai USD 20,19 juta (17,83%), diikuti dengan Singapura sebesar USD 18,66 juta (16,48%), dan Malaysia sebesar USD 14,25 juta (12,59%). Sementara ekspor ke negara Amerika Serikat sebesar USD 14,80 juta (13,07%) pada triwulan laporan.
Dari sisi impor (Oktober-November 2009), impor non migas mengalami peningkatan sebesar 56,29% (USD 5,99 juta) jika dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya (Juli-Agustus 2009) sehingga menjadi sebesar USD 16,64 juta. Pada triwulan laporan, impor terbesar terjadi pada sub kelompok mesin industri dan perlengkapannya (General industrial mach.) sebesar USD 3,73 juta (22,40% dari total impor Provinsi Jambi), diikuti oleh kendaraan bermotor untuk jalan raya (road vehicles) sebesar USD 3,16 juta (19,01%), lalu mesin industri tertentu/khusus (Mach.Special for Partic Inds.) sebesar USD 1,69 juta (10,14%) serta besi dan baja (iron and steel) sebesar USD 1,66 juta (9,99%). Peningkatan impor pada triwulan laporan disebabkan oleh meningkatnya sub kelompok mesin dan transport sebesar USD 3,91 juta (meningkat 75,62%).
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Grafik 1.54. Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi
0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2007 2008 2009
dalam Ribu USD
IMPOR
MACHINERY & TRANSPORT EQP CHEMICAL
Grafik 1.55. Lima Komoditi Tertinggi Nilai Impor Provinsi Jambi
Ribu USD -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2006 2007 2008 2009
71 - POWER GENERATING MACH. & EQP 72 - MACH.SPECIAL FOR PARTIC.INDS 74 - GENERAL INDUSTRIAL MACH.&EQP 59 - CHEM.MATERIALS& PRODUCTS,NES 56 - FERTILIZERS MANUFACTURED LAINNYA
Pangsa impor Provinsi Jambi pada periode triwulan laporan masih didominasi oleh kelompok peralatan mesin dan transport (machinery&transport
equipment) yang menguasai 54,60% dari nilai impor. Selain itu, kelompok
barang-barang manufaktur juga memberikan kontribusi impor sebesar 14,79% dari total impor Provinsi Jambi dengan komoditas utamanya adalah besi dan baja serta benang tenun, kain tekstil dan hasil-hasilnya masing-masing sebesar USD 1,66 juta dan USD 398,50 ribu.
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Grafik 1.56. Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Penjual
Ribu USD (5,000) -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2006 2007 2008 2009
C. CA NADA SINGA PORE M ALAY SIA C. HONGKONG
C. TAIWA N C. R.R.C LA INNY A
Grafik 1.57. Pangsa Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Penjual
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 12 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2006 2007 2008 2009
C. CA NA DA SINGA P ORE M A LA YSIA C. HONGKONG C. TA IWA N C. R.R.C LA INNYA
Berdasarkan negara penjual, impor Provinsi Jambi pada triwulan laporan terutama berasal dari Amerika sebesar USD 6,17 juta (37,09%), diikuti dengan Singapura sebesar USD 2,96 juta (17,82%) serta Hongkong sebesar USD 1,83 juta yang mencapai 10,99% dari total impor pada triwulan laporan (s.d. bulan November) sebesar USD 16,64 juta.
Boks 1.
MENATA DAN MEMPERKUAT PERBANKAN INDONESIA, MENYONGSONG PEMULIHAN EKONOMI DUNIA
Bankers’ Dinner merupakan tradisi tahunan sebagai momen refleksi dan
wahana komunikasi di antara kalangan perbankan. Di Provinsi Jambi, Bankers’ Dinner telah dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2010 bertempat di Kantor Bank Indonesia Jambi dengan jumlah undangan berkisar 80 orang, dan dihadiri antara lain oleh Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan, para Bupati di seluruh Provinsi Jambi, Muspida, instansi pemerintah daerah serta kalangan perbankan se-Provinsi Jambi. Agenda pertemuan tersebut adalah memberikan informasi mengenai arahan Gubernur Bank Indonesia pada tahun 2010 sera perkembangan ekonomi di Jambi yang disampaikan oleh Pemimpin Bank Indonesai Jambi.
Pertemuan perbankan tahun ini mengangkat tema “Menata dan Memperkuat Perbankan Indonesia, Menyongsong Pemulihan Ekonomi Dunia”. Arahan diawali dengan gambaran indikator ekonomi Indonesia tahun 2009 lalu. Selanjutnya, disampaikan pula pandangan-pandangan tentang prospek dan tantangan perekonomian ke depan, dan arahan diakhiri dengan bagaimana arah kebijakan moneter dan perbankan di Indonesia di tahun 2010.
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2009
Tahun 2009 yang diperkirakan akan menjadi tahun yang penuh tantangan dan ujian dimana sedang di puncak gelombang krisis ekonomi global ternyata dapat dilalui dengan baik oleh Negara Indonesia. Pertumbuhan ekonomi 2009 mencapai 4,3%, dan termasuk dalam kelompok sedikit negara yang masih bisa tumbuh positif. Di sisi harga, inflasi tahun 2009 tercatat hanya sebesar 2,78%, yang merupakan angka terendah selama 10 tahun terakhir. Di sisi eksternal, Neraca Pembayaran Indonesia mencapai surplus sekitar USD 12 miliar. Cadangan devisa akhir tahun 2009 tercatat sebesar USD 66,1 miliar, atau setara kemampuan mengimpor selama 6,6 bulan ditambah kemampuan membayar seluruh hutang luar negeri pemerintah. Perkembangan sektor eksternal yang positif ini secara fundamental mendorong penguatan nilai tukar rupiah. PROSPEK PEREKONOMIAN TAHUN 2010
Pada tahun 2010, prospek ekonomi domestik diperkirakan akan semakin membaik. Ekonomi diperkirakan akan tumbuh sekitar 5,2% di 2010 dan selanjutnya meningkat menjadi sekitar 6,0% pada 2011. Prospek pertumbuhan ini diperkirakan disebabkan oleh kondisi eksternal yang lebih kondusif dengan pulihnya ekonomi dunia. Namun, pemulihan global ini bergantung pada kesuksesan exit policy di negara-negara maju dan mitra dagang Indonesia. Sedangkan terkait prospek stabilitas harga,
tekanan inflasi di 2010 diperkirakan masih akan bersumber dari persoalan struktur pasar sejumlah komoditas makanan, distribusi, serta pengaruh harga internasional. TANTANGAN PEREKONOMIAN TAHUN 2010
Beberapa tantangan perekonomian Indonesia di tahun 2010 adalah: a. Mendorong peningkatan investasi.
Upaya ini membutuhkan ketersediaan infastruktur yang memadai, perbaikan iklim investasi. Selain itu karakteristik industri pengolahan yang sangat tergantung bahan baku impor dan berdaya saing rendah berpotensi menjadi hambatan peningkatan produksi dalam memenuhi kenaikan permintaan domestik maupun eksternal.
b. Keterbatasan transmisi kebijakan moneter.
Efektivitas transmisi kebijakan moneter melalui perbankan, baik untuk penurunan suku bunga maupun peningkatan kredit, masih perlu ditingkatkan. ARAH KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan moneter ke depan diarahkan untuk menjaga agar inflasi rendah dan stabil. Untuk tahun 2010, sasaran inflasi Bank Indonesia berada pada kisaran 5%±1%. Dalam jangka menengah, Bank Indonesia mengarahkan agar inflasi terus dalam tren yang menurun sehingga berada pada tingkat yang rendah sebanding dengan tingkat inflasi di negara kawasan, yang sudah berada pada kisaran 3%. Tingkat inflasi yang rendah dalam jangka menengah ini sangat relevan untuk menjaga daya saing perekonomian domestik, terutama dalam menghadapi ASEAN Economic Community pada tahun 2015.
Untuk mencapai target inflasi tersebut, Bank Indonesia berkomitmen untuk: a. Mengarahkan BI rate dalam takaran yang tepat secara konsisten, sehingga
inflasi dan ekspektasi inflasi tergiring ke target inflasi jangka menengah yang diinginkan sebagai jangkar.
b. Mengkombinasikan penggunaan respon suku bunga dan manajemen volatilitas nilai tukar untuk memitigasi shock yang dapat terjadi di perekonomian Indonesia.
c. Menjaga volatilitas nilai tukar yang terjadi di pasar dengan mengoptimalkan penggunaan instrumen moneter yang ada, disertai dengan aturan kehati-hatian untuk menghindari munculnya ketidakstabilan sistem keuangan.
d. Menjaga koridor suku bunga pasar uang dan lebih mengoptimalkan penggunaan berbagai instrumen moneter yang ada.
e. Mengintensifkan upaya-upaya pengendalian inflasi di daerah dengan memberdayakan Kantor Bank Indonesia untuk bekerja lebih aktif lagi sebagai penggerak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk mendorong peningkatan produksi dan kelancaran distribusi yang berperan menahan inflasi.
ARAH KEBIJAKAN PERBANKAN
a. Peningkatan ketahanan sistem perbankan yang akan ditempuh melalui penguatan pengaturan, pemantapan sistem pengawasan bank, penataan kembali tingkat kompetisi di industri perbankan Indonesia, serta pendalaman pasar keuangan.
b. Peningkatan intermediasi perbankan melalui penyempurnaan peraturan dan penyediaan infrastruktur pendukung. Peraturan yang akan disempurnakan diantaranya meliputi Giro Wajib Minimum (GWM), optimalisasi dan efisiensi kegiatan operasional bank, kemudahan persyaratan kegiatan devisa yang dapat mendorong pemberian kredit. BI juga akan mendorong terbentuknya institusi yang memiliki fungsi menyediakan basis data kredit per sektor dan per daerah, guna memudahkan bank dalam mengukur risiko.
c. Peningkatan peran perbankan syariah terhadap perekonomian nasional dan penguatan ketahanannya. Kebijakan untuk perbankan syariah ini akan ditempuh diantaranya dengan meningkatkan insentif untuk mendorong peningkatan modal, memfasilitasi pengembangan unit usaha syariah dan anak perusahaannya, serta memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan SDM perbankan syariah yang kompeten.
d. Peningkatan peran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam pembiayaan keuangan mikro dan penguatan ketahanannya. Kebijakan ini akan ditempuh diantaranya dengan, memberikan insentif untuk mendorong peningkatan modal, dan memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan SDM BPR yang kompeten, serta mempertegas posisi BPR sebagai community bank.
Kesehatan, efisiensi dan intermediasi optimal dari sektor perbankan merupakan kata-kata kunci. Kesehatan perbankan dengan berbagai sistem pengawasan, sementara efisiensi yang menghasilkan intermediasi yang optimal dicapai dengan mengadopsi berbagai skema insentif dan disinsentif yang digulirkan.
Untuk memaksimumkan efisiensi perbankan, Bank Indonesia akan melakukan
benchmarking terhadap biaya dana untuk kredit, biaya overhead, premi risiko dan
margin keuntungan. Dengan demikian bank dapat mencari area-area yang dapat ditingkatkan efisiensinya guna mendorong penetapan suku bunga kredit yang lebih wajar. Ini semua dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kewajaran pasar.
Di lain pihak, efisiensi industri perbankan juga akan ditingkatkan dengan melakukan pendalaman pasar keuangan. Misalnya dengan bekerja sama dengan sejumlah instansi lain untuk mengkaji dan mendorong instrumen pasar uang jangka pendek yang dapat menjadi kompetitor dari kredit jangka pendek perbankan. Dengan demikian diharapkan pasar keuangan (perbankan maupun non-perbankan) akan lebih
adil dan efisien, sehingga secara keseluruhan akan lebih menguntungkan perekonomian.
PERAN BANK SENTRAL SEBAGAI REGULATOR SISTEMIK
Pasca krisis global, kebutuhan akan adanya regulator sistemik yang mengawasi kesehatan dan stabilitas keseluruhan sistem keuangan semakin mengemuka. Peran institusi ini mencakup pengumpulan, analisis dan pelaporan informasi terkait interaksi signifikan di pasar dan risiko yang ada di antara lembaga keuangan; meneliti apakah ada lembaga keuangan yang menyebabkan sistem keuangan terekspos risiko sistemik; merancang dan mengimplementasikan aturan; serta melakukan koordinasi dengan lembaga regulator lainnya, termasuk otoritas fiskal, dalam mengelola krisis-krisis sistemik yang mungkin timbul.
Ada tiga alasan mengapa bank sentral dapat berperan sebagai regulator sistemik:
a. Bank sentral memiliki hubungan jual-beli sehari-hari dengan pelaku pasar sebagai bagian dari fungsi utamanya mengimplementasikan kebijakan moneter, sehingga tidak ada lembaga lain yang memiliki pengetahuan dan akses sejenis ke aliran utama sistem keuangan.
b. Tanggung jawab untuk mempertahankan stabilitas ekonomi makro sangat sejalan dengan peran untuk menjamin stabilitas sistem keuangan. Sejarah menunjukkan, berbagai krisis ekonomi di dunia selalu berhubungan dengan krisis keuangan, sehingga bank sentral secara alami memang harus mempertimbangkan interaksi antara sektor keuangan dan kebijakan moneter dalam melaksanakan tugasnya.
c. Fungsi lender of last resort memang ada di bank sentral. Dengan fungsi itu, bank sentral dapat menggunakan neracanya untuk menyediakan pendanaan darurat jangka pendek di masa krisis. Sebagai regulator sistemik, bank sentral akan mampu memperoleh informasi lapangan langsung dari lembaga-lembaga keuangan yang diawasi. Informasi ini dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat apakah suatu lembaga keuangan perlu diselamatkan.
BAB II
PERKEMBANGAN HARGA-HARGA
A. Kajian Umum
Inflasi Kota Jambi pada triwulan IV-2009 mencapai 0,58% (q-t-q), menurun dibandingkan triwulan III-2009 yang mengalami inflasi sebesar 2,37% (q-t-q). Inflasi yang terjadi di Kota Jambi pada triwulan laporan berasal dari meningkatnya laju inflasi dari kelompok kesehatan diikuti dengan kelompok makanan jadi.
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi
(5.00) -5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber: BPS Provinsi Jambi. Sejak Januari 2008 menggunakan IHK tahun dasar 2007=100
Bulanan (m-t-m) Triwulanan (q-t-q) Year to date (y-t-d) Year on year (y-o-y)
Inflasi Kota Jambi pada akhir periode triwulan IV-2009 sebesar 2,49% (y-o-y) meningkat dari triwulan sebelumnya 1,71% (y-(y-o-y) pada September 2009. Sementara, pergerakan inflasi bulanan yang tercatat di bulan Oktober, November dan Desember 2009 masing-masing sebesar 1,23%(m-t-m), minus 0,34%(m-t-m) dan minus 0,31%(m-t-m).
INFLASI
Inflasi yang terjadi pada triwulan laporan terutama berasal dari meningkatnya angka inflasi kelompok kesehatan serta makanan jadi sementara kelompok bahan makanan mengalami penurunan harga pada triwulan laporan (lihat tabel 2.1.).
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi
qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy
I Bahan Makanan -2.11 9.93 -2.73 -3.14 5.04 -1.18 -2.13 -2.12
II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 3.63 15.41 0.16 7.66 1.23 7.83 3.67 8.92
III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 3.74 11.55 -0.32 6.65 0.09 4.42 -0.06 3.44
IV Sandang 3.45 6.46 0.10 4.98 0.06 4.82 1.56 5.23
V Kesehatan 0.52 8.91 1.21 3.28 0.60 3.21 5.19 7.66
VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0.15 5.54 -0.10 2.17 6.79 7.72 1.30 8.23
VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -4.44 1.19 0.39 -6.57 1.95 -5.52 1.20 -1.02
INFLASI 0.26 9.16 -0.72 1.10 2.37 1.71 0.58 2.49
SumbSumber: BPS (diolah)
Triwulan IV-2009 Triwulan II-2009 Triwulan III-2009
KELOMPOK Triwulan I-2009
Meningkatnya biaya dokter dan bidan selama periode triwulan laporan memberikan sumbangan inflasi pada kelompok kesehatan. Sementara itu, menurunnya harga cabai merah, daging ayam ras, serta telur memicu deflasi pada kelompok bahan makanan.
Perkembangan inflasi tahunan Kota Jambi dan nasional pada triwulan laporan mengalami peningkatan setelah terus mengalami tren penurunan semenjak triwulan IV-2008. Pada triwulan laporan Inflasi Kota Jambi secara tahunan (y-o-y) adalah sebesar 2,49% lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 2,86%.
Grafik 2.2. Perkembangan Laju Inflasi Kota Jambi
8.43 7.66 5.12 4.67 4.49 8.468.96 7.25 9.65 6.67 7.52 16.50 15.12 16.10 16.35 10.66 12.62 9.92 10.96 7.42 5.69 13.99 13.68 11.57 9.16 1.10 1.71 2.49 7.12 6.836.20 5.06 5.11 6.83 6.27 6.40 8.81 7.40 9.06 17.11 15.74 15.53 14.55 6.6 6.52 5.77 6.95 6.59 8.17 11.03 12.14 11.06 7.92 3.65 2.83 2.86 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Persen
INFLASI
Grafik 2.3. Perbandingan Inflasi (y-o-y) Kota Jambi dan Kota sekitarnya
0 2 4 6 8 10 12 14 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2007 2008 2009 Y-O-Y
catatan: mulai bulan Juni 2008, angka inflasi menggunakan tahun dasar 2007
Bengkulu Jambi Padang Palembang Pekanbaru
Secara regional, tingkat inflasi di Jambi cukup tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Inflasi di Jambi lebih tinggi dibandingkan Padang (2,05%/y-o-y), Pekanbaru (1,94%/y-o-y), serta Palembang (1,85%/y-o-y) namun masih lebih rendah dibandingkan Bengkulu (2,88%/y-o-y).14
B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang
Dilihat per sub kelompok, inflasi tertinggi pada triwulan laporan adalah sub kelompok jasa perawatan jasmani serta sub kelompok sarana dan penunjang transpor.
14
INFLASI
Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Triwulanan (qtq) serta Tahunan (y-o-y) Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa
qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy
I. BAHAN MAKANAN -2.11 9.93 -2.73 -3.14 5.04 -1.18 -2.13 -2.12
a. PADI-PADIAN, UMBI-UMBIAN DAN HASILNYA -2.07 10.45 -1.53 -4.61 3.16 -3.37 4.87 4.32
b. DAGING-DAN HASIL-HASILNYA 5.51 15.62 7.68 2.10 -1.84 -2.87 -10.20 0.14
c. IKAN SEGAR -4.45 31.33 -12.43 2.69 10.11 -2.06 -0.10 -7.97
d. IKAN DIAWETKAN 1.37 29.76 -2.85 11.82 -0.34 -0.57 1.73 -0.15
e. TELUR, SUSU DAN HASIL-HASILNYA -1.48 5.63 0.33 1.82 2.57 -1.42 -0.63 0.76
f. SAYUR-SAYURAN -4.75 -2.83 3.36 -5.86 -0.11 0.84 8.57 6.78
g. KACANG-KACANGAN -6.51 5.05 -9.10 -8.49 -0.55 -8.97 2.94 -13.01
h. BUAH-BUAHAN -10.46 7.04 6.18 4.98 11.55 6.52 -3.72 2.12
i. BUMBU-BUMBUAN -5.19 -18.79 -15.27 -28.49 44.70 29.32 -25.32 -13.18
j. LEMAK DAN MINYAK 2.10 17.13 -1.03 1.80 -9.03 -16.44 2.46 -5.81
k. BAHAN MAKANAN LAINNYA -1.42 18.15 -0.90 -4.61 2.18 0.85 -5.26 -5.43
II. MAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK & TEMBAKAU 3.63 15.41 0.16 7.66 1.23 7.83 3.67 8.92
a. MAKANAN JADI 2.44 16.80 0.04 6.61 0.38 5.20 4.43 7.43
b. MINUMAN YANG TIDAK BERALKOHOL 13.88 19.08 0.08 16.43 5.89 23.24 3.78 25.24
c. TEMBAKAU DAN MINUMAN BERALKOHOL 1.07 10.53 0.47 5.43 0.44 5.78 1.92 3.96
III. PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BHN BAKAR 3.74 11.55 -0.32 6.65 0.09 4.42 -0.06 3.44
a. BIAYA TEMPAT TINGGAL 7.55 15.97 -0.59 9.80 0.39 7.65 0.31 7.66
b. BAHAN BAKAR, PENERANGAN DAN AIR 0.01 7.29 0.31 3.04 0.00 0.32 -0.84 -0.53
c. PERLENGKAPAN RUMAHTANGGA -2.19 6.74 -1.77 3.40 -1.11 2.25 1.16 -3.88 d. PENYELENGGARAAN RUMAHTANGGA 0.38 5.54 0.64 3.82 -0.31 1.67 -0.85 -0.14 IV. SANDANG 3.45 6.46 0.10 4.98 0.06 4.82 1.56 5.23 a. SANDANG LAKI-LAKI 0.09 2.40 0.00 0.71 1.12 1.83 -0.08 1.13 b. SANDANG WANITA 0.12 1.44 -0.46 0.32 1.34 1.48 -0.04 0.95 c. SANDANG ANAK-ANAK 0.26 0.80 1.15 -1.10 0.20 1.61 -0.05 1.57
d. BARANG PRIBADI DAN SANDANG LAINNYA 12.91 21.21 -0.09 20.09 -2.16 14.17 5.78 16.76
V. KESEHATAN 0.52 8.91 1.21 3.28 0.60 3.21 5.19 7.66
a. JASA KESEHATAN 0.00 15.88 0.00 0.00 0.00 0.00 7.11 7.11
b. OBAT-OBATAN 1.60 6.86 5.05 11.77 1.88 12.54 0.36 9.13
c. JASA PERAWATAN JASMANI 0.00 2.43 0.00 0.00 1.84 1.84 42.28 44.89
d. PERAWATAN JASMANI DAN KOSMETIKA 0.63 4.14 0.88 3.52 0.45 2.67 -0.28 1.68
VI. PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA 0.15 5.54 -0.10 2.17 6.79 7.72 1.30 8.23
a. JASA PENDIDIKAN 0.00 6.00 0.00 1.76 11.53 11.53 0.00 11.53
b. KURSUS-KURSUS / PELATIHAN 0.00 0.00 0.00 0.00 1.69 1.69 0.00 1.69
c. PERLENGKAPAN / PERALATAN PENDIDIKAN 0.83 9.17 0.62 8.28 -0.29 6.13 -0.03 1.14
d. REKREASI 0.07 3.46 -1.15 -0.79 0.00 -0.79 7.67 6.51
e. OLAHRAGA -0.01 -0.38 0.00 -0.38 4.74 4.34 1.12 5.90
VII TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN -4.44 1.19 0.39 -6.57 1.95 -5.52 1.20 -1.02
a. TRANSPOR -6.73 6.17 0.34 -10.35 2.40 -8.98 -0.28 -4.43
b. KOMUNIKASI DAN PENGIRIMAN 0.39 -12.40 0.00 1.07 0.00 1.07 0.00 0.39
c. SARANA DAN PENUNJANG TRANSPOR 1.42 3.56 1.77 5.40 3.58 6.81 15.02 22.96
d. JASA KEUANGAN 0.00 1.78 0.00 1.78 0.22 0.22 0.00 0.22
INFLASI (UMUM) 0.26 9.16 -0.72 1.10 2.37 1.71 0.58 2.49
SumbSumber: BPS (diolah)
Triwulan IV-2009 Triwulan II-2009 Triwulan III-2009
KELOMPOK/SUBKELOMPOK Triwulan I-2009
Berdasarkan komoditinya (Tabel 2.3.), penyumbang pembentukan inflasi terbesar adalah cabe merah; beras; tarif gunting rambut pria (Oktober 2009), pemeliharaan/service; batu bata; nasi (November 2009) serta beras; bayam; emas perhiasan (Desember 2009). Sementara itu deflasi yang dialami kota Jambi pada bulan November dan Desember 2009 dipicu oleh menurunnya harga cabe merah; daging ayam ras; dan beras (November 2009) serta cabe merah; daging ayam ras, dan batu bata (Desember 2009).
INFLASI
Tabel 2.3. Sumbangan Inflasi Bulanan (mtm) Kota Jambi Berdasarkan Komoditi Periode triwulan IV-2009
TW IV-2009 TW IV-2009
Sumbangan Sumbangan
OKTOBER OKTOBER
1 Cabe merah 0.7878 1 Daging ayam ras -0.1163
2 Beras 0.0755 2 Angkutan antar kota -0.0532
3 Tarif gunting rambut pria 0.0675 3 Telur ayam ras -0.0484
4 Pemeliharaan/service 0.0606 4 Bahan bakar rumah tangga -0.0432
5 Gado-gado 0.0604 5 Bawang merah -0.0245
6 Petai 0.0538 6 Wortel -0.0241
7 Ikan bakar 0.0517 7 Kelapa -0.0220
8 Cabe rawit 0.0453 8 Ikan tongkol -0.0193
9 Perbaikan ringan kendaraan 0.0391 9 Minyak goreng -0.0189
10 Rokok kretek/filter 0.0360 10 Emas perhiasan -0.0165
1.2777 -0.3864
NOVEMBER NOVEMBER
1 Pemeliharaan/Service 0.1018 1 Cabe Merah -0.5125
2 Batu Bata/Batu Tela 0.1006 2 Daging Ayam Ras -0.2052
3 Nasi 0.0923 3 Beras -0.0537
4 Bawang Merah 0.0762 4 Petai -0.0433
5 Empek-Empek 0.0580 5 Udang Basah -0.0395
6 Ongkos Bidan 0.0563 6 Ikan Patin -0.0352
7 Dokter Spesialis 0.0506 7 Ikan Dencis -0.0341
8 Emas Perhiasan 0.0375 8 Telur Ayam Ras -0.0338
9 Rekreasi 0.0373 9 Ikan Tongkol -0.0305
10 Bayam 0.0360 10 Pisang -0.0270
0.6466 -1.0148
DESEMBER DESEMBER
1 Beras 0.2648 1 Cabe Merah -1.1299
2 Bayam 0.1768 2 Daging Ayam Ras -0.0665
3 Emas Perhiasan 0.0722 3 Batu Bata/Batu Tela -0.0372
4 Kelapa 0.0688 4 Ketimun -0.0273
5 Telur Ayam Ras 0.0576 5 Kacang Panjang -0.0216
6 Udang Basah 0.0539 6 Cabe Rawit -0.0212
7 Gula Pasir 0.0532 7 Pisang -0.0153
8 Ikan Tongkol 0.0385 8 Petai -0.0151
9 Ikan Dencis 0.0368 9 Jeruk -0.0147
10 Minyak Goreng 0.0342 10 Ikan Nila -0.0119
0.8568 -1.3607
Sumber : BPS (diolah)
10 KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI
Sumbangan 10 Komoditas
Sumbangan 10 Komoditas
Sumbangan 10 Komoditas
10 KOMODITAS PENYUMBANG DEFLASI
Sumbangan 10 Komoditas
Sumbangan 10 Komoditas
Sumbangan 10 Komoditas
1. Kelompok Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada triwulan IV tahun 2009 mengalami deflasi sebesar -2,13% (q-t-q). Berdasarkan sub kelompoknya, deflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar -25,32% (q-t-q) serta sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar -10,20% (q-t-q).
INFLASI
Grafik 2.4. Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng
2244 2136 2578 8583 8000 7935 3500 4500 5500 6500 7500 8500 9500 10500 11500 12500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2006 2007 2008 2009 (Rp/Kg)
Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi
(Ringgit/Ton)
CPO internasional (aksis kiri) Minyak goreng lokal (aksis kanan)
Pada triwulan laporan, harga crude palm oil (CPO) internasional kembali mengalami peningkatan. Selama triwulan IV-2009, harga CPO meningkat 20,69%. Namun demikian, kenaikan harga CPO ini belum diikuti oleh meningkatnya harga minyak goreng lokal. Harga minyak goreng lokal berdasarkan data dari Disperindag turun 0,80% dari triwulan lalu. Kondisi tersebut dipicu oleh tercukupinya produksi minyak goreng dari dalam provinsi Jambi serta diadakannya pasar murah untuk komoditi ini. Namun demikian, jika harga CPO internasional terus meningkat dikhawatirkan akan ikut mempengaruhi harga minyak goreng lokal.
Sementara, perkembangan harga tepung terigu merek Segitiga Biru relatif stabil yaitu di harga Rp7.500/kg. Meningkatnya harga gandum, yang merupakan bahan baku tepung terigu, di pasar internasional sebesar 18,51% menjadi $541,5/bushel pada triwulan laporan belum diikuti dengan peningkatan harga tepung terigu di Jambi.15
15
INFLASI
Grafik 2.5. Perkembangan Harga Tepung Terigu
471 457.5 7467 7650 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000 8500 0 200 400 600 800 1000 1200 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9 2006 2007 2008 2009 (Rp/Kg)
Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi
(USD/Bushel)
Wheat/Gandum (aksis kiri) Tepung Terigu lokal (aksis kanan)
Perkembangan harga sub kelompok bumbu-bumbuan pada triwulan laporan mengalami penurunan sebesar 25,32% (q-t-q) terutama dipengaruhi oleh menurunnya harga cabe merah. Harga cabe merah yang terus meningkat sampai dengan bulan Oktober lalu kemudian mengalami penurunan harga yang cukup signifikan di bulan November dan Desember. Membaiknya pasokan cabe merah di akhir tahun memicu menurunnya harga cabe pada triwulan laporan.
Grafik 2.6. Perkembangan Harga Cabe Merah dan Bawang
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2006 2007 2008 2009
Sumber: Disperindag Provinsi Jambi
(Rp/kg)
Cabe Merah Keriting Cabe merah Biasa Bawang Putih Bawang Merah
Sub kelompok daging dan hasil-hasilnya mengalami deflasi sebesar 10,20% (q-t-q) serta inflasi 0,14% (y-o-y). Menurunnya permintaan pasca hari
INFLASI
besar keagamaan menyebabkan turunnya harga daging terutama daging ayam dan telur. Selama triwulan IV-2009, daging ayam ras merupakan salah satu dari dua komoditi penyumbang deflasi terbesar. Sementara pergerakan harga daging sapi relatif stabil selama triwulan laporan.
Grafik 2.7. Perkembangan Harga Jagung Grafik 2.8. Perkembangan Harga Daging
347.75 344 414.5 3500 3500 3500 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 0 100 200 300 400 500 600 700 800 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2006 2007 2008 2009 (Rp/Kg)
Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi
(USD/Bushel)
Jagung internasional (aksis kiri) Jagung pipilan kering (aksis kanan)
45000 50000 55000 60000 65000 70000 0 8000 16000 24000 32000 40000 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2006 2007 2008 2009 (Rp/Kg)
Sumber: Disperindag Provinsi Jambi
(Rp/Kg)
Ayam Kampung (aksis kiri) Daging Ayam Broiler (aksis kiri) Daging Sapi Murni (aksis kanan)
Grafik 2.9. Perkembangan Harga Beras16
12.23 13.315 14.565 6000 6000 6000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 0 5 10 15 20 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2006 2007 2008 2009 (Rp/Kg)
Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi
(USD/CWT)
Beras internasional (aksis kiri) lokal IR 64 (aksis kanan)
2. Kelompok Makanan Jadi
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan IV-2009 mengalami inflasi sebesar 8,92% (y-o-y) dengan laju inflasi triwulanan sebesar 3,67% (q-t-q). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi tercatat pada sub kelompok makanan jadi sebesar 4,43% (q-t-q), diikuti sub