BAB 4. STABILITAS KEUANGAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN UMKM
4.10. Eksposure Korporasi pada Stabilitas Sistem Keuangan
100 200 300 400 500 600 700 800
I II III IV I II III IV I II III IV
2014 2015 2016
(Rp miliar) Aset DPK Kredit
100 200 300 400 500 600
I II III IV I II III IV I II III IV
2014 2015 2016
(Rp miliar) Tabungan Deposito DPK
14.62 17.95 19.03 18.00 21.37 25.24 25.68 21.07 20.21 22.19 21.46 18.18 -5 10 15 20 25 30
I II III IV I II III IV I II III IV
2014 2015 2016 (%) Tabungan, 16,36% Deposito, 83,64%
79 4.10.1 Dana Pihak Ketiga Korporasi
Secara umum dana pihak ketiga yang bersumber dari korporasi di perbankan masih mengalami pertumbuhan pada triwulan IV 2016. Pada triwulan laporan, tercatat dana pihak ketiga korporasi mengalami pertumbuhan sebesar 25,66% (yoy) atau secara nominal sebesar Rp1,80 triliun setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 13,59% (yoy). Pertumbuhan dana pihak ketiga korporasi utamanya didorong oleh pertumbuhan deposito dan giro. Tercatat deposito korporasi pada triwulan IV 2016 tumbuh sebesar 54,76% (yoy) atau secara nominal sebesar Rp645,13 juta. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,63% (yoy). Sejalan dengan deposito, giro korporasi juga mengalami pertumbuhan. Tercatat giro korporasi tumbuh sebesar 43,19% (yoy) atau senilai Rp1,06 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 13,59% (yoy). Disisi lain, komponen tabungan mengalami kontraksi 67,57% (yoy), terkontraksi lebih dalam dari triwulan III 2016 yang terkontraksi 12,83% (yoy). Pertumbuhan giro dan deposito yang terjadi pada komponen dana pihak ketiga korporasi ini sehubungan dengan peningkatan performa korporasi di triwulan IV 2016 yang didorong oleh perbaikan ekonomi domestik dan peningkatan harga komoditas dunia. Peningkatan pendapatan tersebut sebagian besar juga dikonversikan kedalam penempatan dana jangka panjang. Dilain pihak, kontraksi tabungan korporasi di akhir tahun ditengarai karena adanya pemenuhan kewajiban jangka pendek korporasi.
Grafik 4.14 Nominal DPK Korporasi Grafik 4.15 Pertumbuhan DPK Korporasi
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia
Secara umum pangsa dana pihak ketiga korporasi tidak memiliki eksposure yang signifikan terhadap dana pihak ketiga secara keseluruhan di Bangka Belitung. Tercatat pangsa DPK korporasi pada triwulan IV 2016 adalah sebesar 11,34%. Komposisi dana pihak ketiga
200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2013 2014 2015 2016
DPK GIRO TABUNGAN DEPOSITO
(Rp miliar) (1.00) (0.50) 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2013 2014 2015 2016
gDPK gGIRO gTABUNGAN gDEPOSITO
80
korporasi secara umum masih didominasi oleh komponen giro sebesar 59,32%, kemudian deposito dan tabungan masing masing 35,81% dan 4,87%.
Pada triwulan I 2017, diperkirakan DPK dari sektor korporasi tetap akan mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan DPK korporasi diawal tahun 2017 didorong oleh beberapa faktor diantaranya efek lanjutan dari peningkatan harga komoditas dan perbaikan pertumbuhan ekonomi domestik, serta perbaikan performa dunia usaha sehubungan dengan dikeluarkannya paket kebijakan pemerintah untuk mendukung iklim dunia usaha di Bangka Belitung.
Grafik 4.16 Pangsa DPK Korporasi Grafik 4.17 Komposisi DPK Korporasi
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia
4.10.2 Kredit Korporasi
Sejalan dengan pertumbuhan kredit secara umum, pada triwulan IV 2016 penyaluran kredit korporasi mengalami kontraksi yang menurun dari 17,96% (yoy) menjadi 1,61% (yoy) atau secara nominal Rp6,40 triliun. Penipisan kontraksi ini terutama didorong oleh penyaluran kredit industri pertambangan dan penggalian yang mengalami pertumbuhan positif menjadi 12,19% (yoy) dari kontraksi sebesar 15,37% (yoy) dari triwulan sebelumnya. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki pangsa terbesar dalam penyaluran kredit korporasi yaitu sebesar 58,50% pada triwulan laporan. Selain itu, pertumbuhan positif juga terjadi pada penyaluran kredit korporasi ke sektor industri pengolahan yang tumbuh 7,90% (yoy) setelah terkontraksi 0,11% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan terbesar terjadi pada penyaluran kredit ke sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum. Sektor tersebut bertumbuh secara signifikan di angka 45,47% (yoy) dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 9,55% (yoy).
Berdasarkan jenis penggunaan, seluruh komponen penyaluran kredit korporasi mengalami perbaikan pertumbuhan kearah pertumbuhan positif. Kredit modal kerja untuk kredit korporasi tercatat mengalami pertumbuhan positif menjadi 4,15% (yoy) atau secara
9.89%10.47%10.27%11.50%9.13% 9.57% 8.24% 8.64% 6.99% 8.98% 7.49%10.07%9.99% 7.43% 8.10%11.34% 90.11% 89.53% 89.73% 88.50% 90.87% 90.43% 91.76% 91.36% 93.01% 91.02% 92.51% 89.93% 90.01% 92.57% 91.90% 88.66% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2013 2014 2015 2016 Korporasi Lainnya 67.50% 73.91% 51.57% 52.86% 54.75% 67.19% 72.44% 58.67% 45.75% 51.84% 60.64% 52.06% 71.23% 66.58% 63.71% 59.32% 4.92% 4.64% 5.17%9.02% 11.80% 7.34% 5.11% 5.55% 10.90% 5.75% 8.57% 18.87% 5.75% 6.57% 6.58% 4.87% 27.57% 21.46% 43.25% 38.11% 33.45% 25.47% 22.44% 35.78% 43.35% 42.41% 30.78% 29.08% 23.02% 26.85% 29.71% 35.81% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2013 2014 2015 2016
81 nominal adalah sebesar Rp5,18 triliun, dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi 15,56% (yoy). Sejalan dengan kredit modal kerja, kredit konsumsi juga mulai mengalami pertumbuhan positif menjadi senilai Rp4,61 miliar atau sebesar 11,80% (yoy) dari triwulan sebelumnya yang juga mengalami kontraksi sebesar 66,90% (yoy). Seiring dengan kedua komponen kredit tersebut, kredit investasi juga mulain mengalami penipisan kontraksi menjadi sebesar 20,40% (yoy) atau secara nominal mencapai Rp1,21 triliun, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi 26,23% (yoy).
Grafik 4.18 Pertumbuhan Kredit Korporasi Grafik 4.19 Pangsa Penggunaan Kredit Korporasi
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia
Kredit korporasi sebagian besar disalurkan ke sektor pertambangan dan penggalian sebanyak 58,50%, sektor industri pengolahan 15,56% dan perdagangan besar dan eceran 8,82%. Berdasarkan penggunaan, kredit korporasi masih didominasi untuk modal kerja 80,16% dan investasi 19,80%. Mulai membaiknya penyaluran kredit korporasi ditengarai akibat adanya perbaikan pada iklim dunia usaha domestik. Perbaiknya iklim usaha tersebut setidaknya disebabkan oleh (1) mulai membaiknya harga komoditas timah yang menggerakan sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan, (2) telah diimplementasikannya paket kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mendukung iklim dunia usaha, serta (3) pelonggaran kebijakan moneter yang berdampak pada penyaluran kredit ke korporasi.
Grafik 4.20 Pangsa Kredit Korporasi Per Jenis Penggunaan Grafik 4.21 Perkembangan NPL Kredit Korporasi
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia
Kredit bermasalah korporasi (NPL) mengalami peningkatan pada triwulan IV 2016 dari 4,69% menjadi 4,74%. Rasio tersebut masih dibawah ambang batas rasio NPL 5,00%. Beberapa sektor yang masih menunjukkan peningkatan risiko kredit, diantaranya sektor konstruksi sebesar
Modal Kerja 80,93% Investasi 18,99% -100% -80% -60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2013 2014 2015 2016
KREDIT MODAL KERJA INVESTASI KONSUMSI gKREDIT (RHS) gMODAL KERJA (RHS) gINVESTASI (RHS) gKONSUMSI (RHS)
(Rp miliar) (%) PERTANIAN, PERBURUAN DAN KEHUTANAN, 0.79% PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN, 58.50% INDUSTRI PENGOLAHAN, 15.56% LISTRIK, GAS DAN AIR,
3.93% KONSTRUKSI, 2.50% PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN, 8.82% PENYEDIAAN AKOMODASI DAN PENYEDIAAN MAKAN MINUM, 2.80% TRANSPORTASI, PERGUDANGAN DAN KOMUNIKASI, 1.15%
REAL ESTATE, USAHA PERSEWAAN, DAN JASA
PERUSAHAAN, 4.52% LAINNYA, 1.44% 0 5 10 15 20 25 30
I II III IV I II III IV I II III IV
2014 2015 2016
PERTANIAN, PERBURUAN DAN KEHUTANAN PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN
KONSTRUKSI PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN
PENYEDIAAN AKOMODASI DAN PENYEDIAAN MAKAN MINUM TRANSPORTASI, PERGUDANGAN DAN KOMUNIKASI
REAL ESTATE, USAHA PERSEWAAN, DAN JASA PERUSAHAAN NPL
82
26,08%, transportasi, pergudangan dan komunikasi 23,66%, perdagangan besar dan eceran 18,63%, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan 9,31%, serta pertanian, perburuan dan kehutanan 4,74%. Peningkatan rasio kredit bermasalah korporasi tersebut disebabkan oleh restrukturisasi kredit yang terjadi pada tahun 2016.
Pada triwulan I 2017, pertumbuhan kredit korporasi diprediksi masih akan tumbuh positif seiring dengan peningkatan harga komoditas, perbaikan iklim usaha dan pelonggaran suku bunga yang diharapkan akan mendorong jumlah permintaan kredit dan kemampuan membayar oleh debitur.