• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di samping data dasar yang telah dikemukan di atas, model keseimbangan umum juga membutuhkan data parameter elastisitas. Idealnya parameter diperoleh dari estimasi ekonometrika, karena keterbatasan data maka sebagian besar nilai parameter tersebut diperoleh dari hasil studi terdahulu baik studi yang dilakukan di Indonesia maupun studi yang dilalukan di negara lain.

Parameter elastisitas yang digunakan dalam model ini adalah elastisitas Armington, elastisitas substitusi tenaga kerja, elastisitas substitusi faktor primer, elastisitas ekspor dan elastisitas pengeluaran. Idealnya, parameter-parameter pada di dalam model CGE seharus diestimasi secara ekonometrik dengan menggunakan data time series yang tersedia, namun demikian karena alasan keterbatasan data, maka parameter-parameter tidak diestimasi melalui ekonometrik. Seperti kebanyakan dalam model CGE, dimana paramater-parameter tersebut umumnya, diperoleh dari berbagai studi yang dianggap relevan. Hal yang sama juga dilakukan dalam studi ini, dimana nilai parameter dari hasil penelitian terdahulu dan beberap diantaranya mengikuti database model INDOF. Berikut akan dijelaskan masing-masing besaran elastisitas yang digunakan dalam model.

5.4.1. Elastisitas Armington

Berdasarkan pada toeri Armington bahwa komoditi dapat dibedakan berdasarkan tempat dan pusat. Menurut Armington produksi barang domestik dan barang impor merupakan barang yang bersubstitusi secara tidak sempurna. Pada model GTAP, nilai yang sama pada elastisitas Armington digunakan untuk semua pelaku pada semua wilayah, yang diperoleh dari penelitian Jomini, et. al (1991), dimana nilai elastisitas tersebut berkisar 2, kecuali untuk industri pakaian dan kulit yang mempunyai nilai elastisitas 4.4 (Dixon, et.al, 1982) dan didalam model ORANI juga menggunakan nilai elastisitas pada kisaran tersebut. Nilai elastisitas Armington untuk input antara, konsumsi dan investasi terpusat pada nilai 2 yang berasal dari model ORANI di perekonomian Australia (Dixon, et.al, 1982 dalam Oktaviani, 2000). Demikian pula halnya dengan penelitian Trewin dan Erwidodo (1995) dalam Oktaviani, (2000) untuk model Indonesia menggunakan nilai elastisitas sama dengan 2. Dalam penelitian ini elastisitas Armington untuk setiap komoditi mengikuti model GTAP, yang ditampilkan pada Tabel 18.

5.4.2. Elastisitas Substitusi

Elastisitas substitusi input primer menunjukkan bagaimana respon input pada setiap sektor akibat adanya perubahan harga inputnya. Elastisitas substitusi yang digunakan pada model CGE adalah fungsi produksi CES, dimana faktor primer disubstitusi sesamanya dengan elastisitas substitusi yang konstan, nilai yang sama untuk semua faktor yang berpasangan. Nilai parameter elastisitas substitusi yang digunakan dalam model ini adalah sebesar 0.5. Nilai ini juga telah digunakan pada model ORANI, ORANI-F dan ORANI-G (Dixon et al., 1982;

Horridge et al., 1993; Horridge et al., 1997) yaitu model dari struktur perekonomian Australia. Nilai yang sama juga digunakan untuk model Filipina (Buetre, 1996). Nilai yang sama juga digunakan oleh Vincent et al. (1990) dalam Oktaviani, (2000) untuk model Papua New Guinea, kecuali untuk sektor pertanian elastisitas substitusi digunakan sebesar 0.65 dan perikanan sebesar 1.65. Nilai elastisitas substitusi dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 18.

Dalam model INDOF tenaga kerja diklasifikasi menjadi 4 jenis pekerja. Dalam model ini tenaga kerja diklasifikasikan kedalam 2 tipe pekerja, yaitu pekerje terdidik (skilled) dan tidak terdidik (unskilled). Nilai elastisitas substitusi tenaga kerja menunjukkan respon tenaga kerja pada berbagai jenis pekerjaan akibat adanya perubahan tingkat upah. Tidak ada penelitian khusus yang telah dilakukan untuk memperkirakan elastisitas substitusi antara tipe pekerja tersebut di Indonesia, sehingga nilai elastisitas substitusi antara jenis pekerja di Indonesia diadopsi dari model INDOF, dimana nilai yang ditetapkan adalah sebesar 0.5. Nilai elastisitas substitusi tenaga kerja di masing-masing sektor yang digunakan dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 18.

5.4.3. Elastisitas Permintaan Ekspor

Indonesia diasumsikan merupakan negara kecil di pasar dunia. Dengan asumsi ini, elastisitas permintaan ekspor yang diperkirakan menjadi tinggi, dimana volume ekspor Indonesia tidak mempengaruhi harga di pasar dunia. Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa nilai elastisitas permintaan ekspor adalah 10 yang mengikuti nilai yang terdapat pada model INDOF (Oktaviani, 2000). Nilai parameter tersebut secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Parameter Elastisitas yang Digunakan dalam Model

No Sektor Armington Substi-

tusi TK Permintaan Ekspor Substitusi Input Primer 1 Padi 2.20 0.50 -10.00 0.56 2 Tanaman Pangan 2.20 0.50 -10.00 0.56 3 Perkebunan 2.20 0.50 -10.00 0.56 4 Peternakan 2.20 0.50 -10.00 0.56 5 Kehutanan 2.80 0.50 -10.00 0.56 6 Perikanan 2.80 0.50 -10.00 0.56 7 Pertambangan 2.20 0.50 -10.00 0.56

8 Industri Makanan dan Minuman 2.20 0.50 -10.00 1.12

9 Ind. tekstil, pakaian dan kulit,

permintalan 2.20 0.50 -10.00 1.12

10 Ind kayu, bambu, rotan, kertas

dan karton 2.80 0.50 -10.00 1.12

11 Industri kimia, pupuk

dan pestisida 2.20 0.50 -10.00 1.12

12 Pengilangan minyak bumi 2.20 0.50 -10.00 1.12

13 Industri barang karet dan plastik 2.20 0.50 -10.00 1.12

14 Ind. barang-barang dari mineral

bukan logam 2.20 0.50 -10.00 1.12

15 Industri semen 2.20 0.50 -10.00 1.12

16 Ind. besi dan baja, logam

dasar bukan besi 2.20 0.50 -10.00 1.12

17 Ind. alat angkutan, listik,

mesin dan alatnya 2.20 0.50 -10.00 1.12

18 Listrik, gas dan Air Bersih 1.90 0.50 -10.00 1.26

19 Bangunan 1.90 0.50 -10.00 1.26

20 Perdagangan 1.90 0.50 -10.00 1.26

21 Restoran dan hotel 1.90 0.50 -10.00 1.26

22 Angkutan 1.90 0.50 -10.00 1.68

23 Komunikasi 1.90 0.50 -10.00 1.68

24 Jasa Keuangan dan Perusahaan 1.90 0.50 -10.00 1.68

25 Pemerintahaan umum dan

Pertahanan 1.90 0.50 -10.00 1.26

26 Jasa Pendidikan Pemerintah 1.90 0.50 -10.00 1.26

27 Jasa Kesehatan Pemerintah 1.90 0.50 -10.00 1.26

28 Jasa Pendidikan Swasta 1.90 0.50 -10.00 1.26

29 Jasa Kesehatan Swasta 1.90 0.50 -10.00 1.26

30 Jasa Lainnya 1.90 0.50 -10.00 1.26

Sumber: Oktaviani, (2000)

5.4.4. Elastisitas Pengeluaran

Seperti yang telah dikemukan sebelumnya, bahwa penelitian ini untuk menangkap bagaimana dampak investasi sumberdaya manusia yang diproksi oleh peningkatan produktivitas tenaga kerja dan transfer pendapatan ke rumahtangga

terhadap distribusi pendapatan dan kemiskinan. Sehingga dalam penelitian ini rumahtangga dibagi ke dalam delapan kelompok rumahtangga. Klasifikasi rumahtangga tersebut mengikuti pengelompokan SNSE tahun 2003.

Tabel 19. Parameter Elastisitas Pengeluaran Rumahtangga yang digunakan dalam Model

(%)

Rumahtangga Perdesaan Rumahtangga Perkotaan No Sektor 1 2 3 4 5 1 2 3 1 Padi 0.94 0.94 0.89 0.90 0.96 0.69 0.68 0.67 2 Tanaman Pangan 0.94 0.94 0.89 0.90 0.96 0.69 0.68 0.67 3 Perkebunan 0.94 0.94 0.89 0.90 0.96 0.69 0.68 0.67 4 Peternakan 1.77 1.94 1.83 1.85 1.98 1.84 1.80 1.78 5 Kehutanan 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64 6 Perikanan 0.99 1.08 1.02 1.04 1.11 1.06 1.03 1.02 7 Pertambangan 0.54 0.59 0.55 0.56 0.60 0.94 0.92 0.91 8 Industri Makanan dan Minuman 0.69 0.76 0.71 0.72 0.77 1.24 1.21 1.20

9 Ind. tekstil, pakaian

dan kulit, permintalan 1.10 1.21 1.14 1.16 1.23 0.83 0.81 0.81

10 Ind kayu, bambu,

rotan, kertas dan karton 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

11 Industri kimia, pupuk

dan pestisida 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

12 Pengilangan minyak

bumi 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

13 Industri barang karet

dan plastik 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

14 Ind. barang-barang dari

mineral bukan logam 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

15 Industri semen 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

16 Ind. besi dan baja,

logam dasar bukan besi 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

17 Ind. alat angku., listik

mesin dan alatnya 0.66 0.73 0.69 0.70 0.74 0.66 0.64 0.64

18 Listrik, gas dan air

bersih 0.54 0.59 0.55 0.56 0.60 0.94 0.92 0.91

19 Bangunan 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

20 Perdagangan 0.95 1.04 0.98 0.99 1.06 1.29 1.26 1.25

21 Restoran dan hotel 1.31 1.43 1.35 1.37 1.46 1.05 1.03 1.02

22 Angkutan 0.98 1.07 1.01 1.03 1.10 1.00 0.98 0.97

23 Komunikasi 1.31 1.43 1.35 1.37 1.46 1.05 1.03 1.02

24 Jasa Keuangan dan

Perusahaan 0.66 0.72 0.68 0.69 0.74 0.64 0.62 0.62

25 Pemerintahaan umum

dan pertahanan 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

26 Jasa Pend. Pemerintah 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

27 Jasa Kes. Pemerintah 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

28 Jasa Pend. Swasta 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

29 Jasa Kes. Swasta 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

30 Jasa Lainnya 0.99 1.09 1.03 1.04 1.11 1.37 1.34 1.33

Dengan demikian, elastisitas pengeluaran rumahtangga dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan jenis rumahtangga. Besaran nilai elastisitas pengeluaran masing-masing rumahtangga berdasarkan sektor mengikuti nilai yang terdapat dalam model WAYANG (Wittwer, et. al, 2002). Nilai elastisitas pengeluaran rumahtangga ditampilkan pada Tabel 19.

5.4.5. Parameter Investasi

Nilai parameter investasi (BETA_Ri) menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengembalian modal dengan jumlah modal pada setiap industri. Nilai parameter investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5, mengikuti parameter investasi yang terdapat pada model ORANI-F yang digunakan untuk perekonomian Australia (Horridge, et al., 1993).

5.4.6. Tingkat Depresiasi

Tingkat depresiasi yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti model INDOF, yaitu sebesar 10 persen (Oktaviani, 2000). Sedangkan besaran faktor depresiasi adalah 0.9 persen (hal ini diperoleh dari tingkat depresiasi dikurangi 1). Nilai yang sama juga digunakan oleh Buetre (1996) pada model Filipina.

5.4.7. Elastisitas Upah dan Trend Tenaga Kerja

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah recursive dynamic model. Sebuah recursive dynamic model membutuhkan data elastisitas upah dan data data aktual/trend tenaga kerja. Nilai parameter untuk elastisitas upah tidak ada dalam hasil penelitian di Indonesia. Oleh karena itu, nilai elastisitas upah

tenaga kerja diadopsi dari model ORANIGRD (Horridge, 2002) untuk perekonomian Australia, yaitu sebesar 0.5 sedangkan data trend/aktual tenaga kerja yang digunakan adalah 1.0896.

5.4.8. Rasio Investasi Modal

Nilai rasio investasi modal pada model ORANI-F (Horridge et. al. 1993) didapatkan 0.7, dimana pada model Filipina (Buetre, 1996) diasumsikan rasio investasi modal sebesar 0.13. Dalam penelitian ini rasio investasi modal ditentukan sebesar 0.1375. Dengan menggunakan angka 0.1375, persentase perubahan GDP riil dan investasi hampir sama dengan perubahan aktualnya.

Dokumen terkait