A. Hasil Penelitian
3. Elastisitas Permintaan Telur Ayam Ras di Sukoharjo
1 2 3 4 5 6 7 8 9 N1 (+) = 9 N2 (-) = 7 r (Run) = 9 Dari tabel nilai kritis run diperoleh F1 = 4 dan F2 = 14 Hipotesis : Ho = (+) dan (-) terjadi dalam urutan random
Hi = (+) dan (-) menyimpang dari kerandoman Keputusan pada α = 0,05 adalah :
· F1 < r < F2 maka Ho diterima, artinya tidak terjadi autokorelasi · r < F1 atau r ≥ F2 maka Ho ditolak, artinya terjadi autokorelasi Hasil analisis : F1 < r < F2
4 < 9 < 14, artinya menerima Ho
Dengan diterimanya Ho berarti autokorelasi tidak terjadi pada persamaan regresi yang diduga.
Karena tidak ditemukan adanya penyimpangan terhadap asumsi klasik persamaan regresi maka penaksir-penaksir yang didapatkan merupakan penaksir OLS yang terbaik, linier, dan tidak bias atau bersifat BLUE.
Dari hasil analisis data maka persamaan regresi yang didapatkan adalah sebagai berikut :
Ln Qdt = -13,968 + 0,104 LnX1 - 0,336 LnX2 -0,222 LnX3 + 0,273 LnX4 + 2,055 LnX5 + 0,240 LnX6
Fungsi permintaan tersebut kemudian dikembalikan ke bentuk asal sehingga bentuknya menjadi :
Qdt = -13,968 X1t0,104 X2t- 0,336 X3t -0222 X4t0,273 X5t2,055 X6t0,240
3. Elastisitas Permintaan Telur Ayam Ras di Sukoharjo
Untuk mengetahui derajat kepekaan dari fungsi permintaan terhadap perubahan harga dapat diketahui dengan melihat dari nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel bebasnya. Karena salah satu ciri menarik dari model logaritma berganda ini adalah bahwa nilai koefisien regresi bi merupakan nilai elastisitasnya. Jadi dengan model ini, nilai
commit to user
elastisitasnya merupakan nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel bebasnya.
Koefisien elastisitas diperhitungkan hanya pada variabel-variabel bebas yang secara individual berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas. Pada model fungsi permintaan yang menggunakan persamaan logaritma berganda, nilai elastisitasnya ditunjukkan oleh koefisien regresi dari masing-masing variabel bebasnya.
Hasil analisis elastisitas permintaan telur ayam ras di Kabupaten Sukoharjo dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 22. Nilai Elastisitas Permintaan Telur Ayam Ras di Kabupaten Sukoharjo
Variabel Nilai elastisitas
Harga Silang Pendapatan Harga telur ayam ras (X1)
Harga telur itik (X2)
Harga daging ayam ras (X3) Harga beras (X4)
Pendapatan per kapita (X6)
0,104 -0,336 -0,222 2,055 0,240 Sumber: Lampiran 7
Telur merupakan bahan makanan sumber protein hewani yang penting dan memiliki harga yang relatif murah dibanding dengan bahan makanan sumber protein hewani yang lain seperti daging dan susu serta dapat dijangkau oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Selain itu, telur ayam ras mudah diperoleh baik di pasar tradisional, pasar swalayan, maupun warung-warung baik secara kiloan ataupun eceran/butiran. Telur ayam ras dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama dan dapat bertahan selama 2 minggu atau lebih dalam temperatur kamar asalkan kulitnya tidak retak dan tercemar oleh kotoran ayam, sehingga dapat digunakan sebagai persediaan makanan yang dibutuhkan sewaktu-waktu. Sebagai bahan makanan, telur dapat dikonsumsi secara langsung dan tidak langsung. Bagi konsumen rumah tangga sebagian besar telur ayam ras dikonsumsi langsung misalnya untuk lauk pauk atau bahan dasar campuran kue dan olahan masakan lainnya. Sedangkan bagi konsumen
commit to user
non rumah tangga/industri telur digunakan sebagai bahan dasar industri pangan atau non pangan (konsumsi tak langsung).
Nilai elastisitas permintaan tersebut dapat dijelaskan berikut ini : a. Elastisitas harga (EQ,P)
Dari hasil analisis diketahui besarnya elastisitas harga telur ayam ras sebesar 0,104. Nilai elastisitas bertanda positif menunjukkan bahwa variabel harga telur ayam ras memiliki hubungan yang sebanding dengan permintaan telur ayam ras. Artinya jika harga telur ayam ras naik 1% maka permintaan telur ayam ras akan naik juga sebesar 0,104 %, begitu juga sebaliknya. Permintaan telur ayam ras bersifat inelastis karena nilai koefisien elastisitasnya kurang dari 1, yang artinya bahwa persentase perubahan jumlah yang diminta lebih kecil dari perubahan harga.
Harga yang naik diikuti dengan permintaan yang naik pula. Hal ini karena kesadaran akan nilai gizi dan kesejahteraan masyarakat yang mulai meningkat sehingga pola konsumsi tidak akan terpengaruh dengan kenaikan harga. Dengan kenaikan harga yang relatif kecil, konsumen cenderung tetap memilih telur ayam ras dibanding mengganti dengan barang lain yang kandungan gizi lebih rendah dari telur ayam ras.
Dapat pula diartikan bahwa harga telur ayam ras tidak terlalu berpengaruh pada permintaannya. Sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat maka pola konsumsinya juga berubah. Sebagian besar masyarakat sudah menjadikan telur ayam ras sebagai barang kebutuhan pokok sehari-hari karena dapat dinikmati oleh berbagai golongan maupun tingkat pendapatan, mempunyai gizi yang cukup tinggi, mudah pengolahannya dan dapat untuk campuran berbagai masakan, selain itu mudah memperolehnya dan dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama (2 minggu) sehingga dapat dipergunakan sewaktu-waktu. Sehingga permintaan akan telur ayam ras ini akan selalu ada setiap harinya.
commit to user b. Elastisitas silang (EQ,P’)
1) Harga Telur Itik
Pada penelitian ini diketahui bahwa telur itik berpengaruh yang nyata terhadap permintaan telur ayam ras sebesar 0,336 % dan bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa permintaan telur ayam ras berbanding terbalik dengan harga telur itik, bahwa apabila harga telur itik naik sebesar 1% maka permintaan telur ayam ras akan turun 0,336% atau sebaliknya. Tanda negatif pada nilai elastisitasnya menunjukkan bahwa telur itik merupakan barang komplementer dari telur ayam ras. Hal ini bisa disebabkan karena perilaku konsumen yang tidak memilih telur itik sebagai barang subtitusi apabila terjadi kenaikan harga pada telur ayam ras, melainkan memilih komoditi lain yang harganya jauh lebih murah walaupun kandungan gizi di dalamnya juga lebih sedikit dari telur.
Pada dasarnya telur itik mempunyai manfaat dan kegunaan yang sama dengan telur ayam ras yaitu dapat digunakan sebagai lauk pauk ataupun bahan campuran masakan olahan lainnya. Adanya kesamaan tersebut menyebabkan konsumen mempunyai alternatif pemilihan dalam memenuhi kebutuhannya, sebagian masyarakat lebih memilih menggunakan telur itik misalnya untuk berbagai masakan (telur itik dianggap lebih lezat dan lebih tahan lama) atau untuk memekarkan/mengembangkan kue yang diperlukan adalah kuning telur yang banyak (pada telur itik mengandung kuning telur yang lebih banyak dibandingkan pada telur ayam ras) sedangkan putih telurnya berfungsi untuk menyatukan butiran-butiran gandum serta hasilnya lebih bagus daripada menggunakan telur ayam ras.
2) Harga Daging Ayam Ras
Berdasarkan analisis uji–t harga daging ayam ras berpengaruh nyata terhadap permintaan telur ayam ras sebesar 0,222 dan juga bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa permintaan
commit to user
telur ayam ras berbanding terbalik dengan harga daging ayam ras sehingga apabila harga daging ayam ras naik sebesar 1% maka permintaan telur ayam ras turun sebesar 0,222% atau sebaliknya.
Nilai elastisitas silang yang negatif berarti daging ayam ras merupakan barang komplementer dari telur ayam ras dan memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan permintaan telur ayam ras di Kabupaten Sukoharjo. Apabila terjadi kenaikan harga daging ayam ras biasanya diikuti kenaikan harga telur ayam ras. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan harga pakan yang menyebabkan biaya produksi naik dan harga di tingkat peternak pun juga sudah mengalami kenaikan. Maka kenaikan harga daging ayam ras ini akan mengakibatkan penurunan permintaan telur ayam ras.
3) Harga Beras
Dari hasil analisis uji–t dapat diketahui harga beras berpengaruh nyata terhadap variasi permintaan telur ayam ras di Kabupaten Sukoharjo yaitu sebesar 2,055. Hal ini berarti permintaan telur ayam ras berbanding lurus dengan harga beras sehingga bahwa apabila harga telur ayam ras naik sebesar 1% maka permintaan beras naik 2,055% atau sebaliknya.
Nilai elastisitas silang yang positif berarti harga beras merupakan barang substitusi dari telur ayam ras dan memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan permintaan telur ayam ras di Kabupaten Sukoharjo. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih menggunakan beras yang dimasak menjadi nasi sebagai makanan pokok, begitu pula dengan masyarakat Kabupaten Sukoharjo biasanya menggunakan beras sebagai makanan pokok sehari-hari dan salah satu pelengkap yang digunakan untuk lauk pauk adalah telur ayam ras. Apabila harga beras naik maka permintaan telur ayam ras juga naik. Hal ini biasanya terkait dengan kondisi perekonomian yang ada, dimana harga bahan
commit to user
pokok naik maka barang-barang lain juga akan ikut beranjak naik meskipun masyarakat akan lebih memilih mengalokasikan pendapatan yang diperolehnya untuk membeli beras terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lainnya. Dengan kenaikan harga-harga tersebut konsumen tetap akan membeli telur ayam ras karena harganya dinilai masih lebih rendah bila dibandingkan dengan bahan pangan sumber protein hewani lainnya.
c. Elastisitas pendapatan
Dari hasil analisis diketahui besarnya elastisitas pendapatan adalah 0,240. Ini berarti bahwa jika terjadi kenaikan pendapatan sebesar 1% maka akan mengakibatkan bertambahnya jumlah permintaan telur ayam ras sebesar 0,240 %, begitu juga sebaliknya. Angka elastisitas pendapatan yang kurang dari satu dan bertanda positif menunjukkan bahwa telur ayam ras termasuk barang normal (inelastis). Artinya apabila pendapatan meningkat maka permintaan telur ayam ras juga meningkat, akan tetapi persentase perubahan permintaan lebih kecil daripada perubahan pendapatan. Karena nilai elastisitas kurang dari 1. Nilai elastistas pendapatan menunjukkan bahwa perubahan pendapatan hanya berpengaruh kecil terhadap permintaan telur. Dikarenakan telur bukan merupakan bahan pangan pokok, sehingga apabila ada kenaikan pendapatan akan dialokasikan pada kebutuhan yang lebih utama.
Pendapatan merupakan faktor yang penting dalam menentukan variasi permintaan terhadap berbagai jenis barang karena besar kecilnya pendapatan dapat menggambarkan daya beli konsumen. Bila terjadi perubahan dalam pendapatan maka akan menimbulkan perubahan dalam mengkonsumsi berbagai jenis barang.
Dari hasil analisis uji - t diketahui bahwa pendapatan per kapita berpengaruh nyata dan berhubungan positif terhadap permintaan telur ayam ras di Kabupaten Sukoharjo. Hal ini berarti pendapatan per
commit to user
kapita berbanding lurus dengan permintaan telur ayam ras. Keadaan tersebut dapat dijelaskan dengan melihat koefisien regresi yang juga merupakan nilai elastisitasnya sebesar 0,240. Nilai elastisitas yang positif menunjukkan bahwa jika pendapatan per kapita naik sebesar 1% maka permintaan telur ayam ras akan naik sebesar 0,240 %, begitu pula sebaliknya.
Elastisitas pendapatan yang berkisar antara nol sampai satu berarti termasuk inelastis. Sifatnya yang inelastis menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada pendapatan per kapita hanya akan menyebabkan perubahan yang kecil terhadap permintaan telur ayam ras di Kabupaten Sukoharjo.
Dalam kondisi pendapatan yang terbatas, sebagian besar dari pendapatan akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokok terlebih dahulu dalam hal ini adalah beras (sebagai kebutuhan pangan paling pokok) sehingga jika pendapatan per kapita meningkat dan kebutuhan pokok sudah terpenuhi maka konsumsi bahan pangan lainnya termasuk sumber protein hewani (telur ayam ras) semakin meningkat. Telur ayam ras termasuk barang normal yang inelastis karena termasuk dalam kategori bahan pangan. Namun, apabila pendapatan semakin meningkat dan kebutuhan akan pangan sudah terpenuhi maka orang akan mengalokasikan pendapatannya untuk kebutuhan non pangan (kebutuhan sekunder dan tersier). Hal ini sesuai dengan Hukum Engel yang menyatakan bahwa persentase pendapatan yang dibelanjakan untuk pangan cenderung turun jika pendapatan semakin meningkat, atau dapat diartikan pula pangan merupakan kebutuhan pokok yang konsumsinya naik kurang cepat dibandingkan dengan pendapatan.
commit to user
78