TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum
5. Electronic Road Pricing (ERP)
Sistem ERP sudah banyak diterapkan dibeberapa
negara sebagai strategi untuk mengatasi kemacetan di
perkotaan. Dalam sistem ERP membebankan sejumlah
biaya kepada pemilik kendaraan karan akan melewati kawasan pembatasan kendaraan sebab kendaraannya berpotensi mengakibatkan kemaceta pada waktu tertentu.
Tujuan dari ERP ini adalah mengurangi volume
kendaraan, mengurangi polusi, meningkatkan efesiensi kapasitas jalan, menghasilkan pendapatan yang biayanya digunakan untuk pembiayaan pembangunan angkutan umum, memperbaiki dan membangun jalan seta mengurangi dampak kemacetan. Tarif yang dibebankan dapat berdasarkan, waktu, jenis dan tipe kendaraan, atau jarak perjalanan, tergantung tujuan skema pajak yang akan diterapkan.Tersedianya teknologi baru yang memungkinkan pengumpulan pajak jalan raya bisa bisa dikenakan baik berdasarkan waktu, jarak maupun tempat merupakan faktor utama yang membuat pajak jalan solusi dalam memecahkan masalah kemacetan. Teknologi tersebut dapat mengumpulkan pajak dari pengemudi tanpa harus berhenti pada pintu tempat pembayaran. Melalui papan elektronik biaya dapat dikumpulkan, atau dengan kartu chip pada kendaraan , atau dengan teknik tradisional dengan membayar di stasiun. (Departemen
Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan
Darat,2004)
6. Penetapan Tarif Parkir
Parkir adalah bagian dari sistem transportasi dimana memberikan infrastruktur bagi kegiatan parkir. UU no 22 tahun 2009 yang mengatur tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan, parkir didefinisikan sebagai kegiatan berhenti kendaraan bermotor pada suatu lokasi tertentu
selama periode waktu tertentu. Terlihat dari definisi tersebut bahwa kegiatan parkir adalah kegiatan turunan yang menjadi konsekuensi setiap penggunaan kendaraan pribadi baik sepeda motor ataupun mobil. Hal tersebut terjadi karena setiap perjalanan kendaraan pasti akan berhenti, akhir dari perjalanan dapat di rumah atau di tempat aktivitas, yang menimbulkan kebutuhan parkir.
(Departemen Perhubungan Direktorat Jendral
Perhubungan Darat,2004)
Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi dipengaruhi oleh penyediaan ruang parkir yang berlebihan. Dimana semakin mudah seseorang mendapatkan ruang parkir maka semakin sering menggunakan kendaraannya. Sehingga penyediaan ruang parkir yang tidak terkendali akan menyulitkan pengendalian pergerakan kendaraan pribadi. Hal ini juga menyebabkan penurunan kinerja jalan dan lalu lintas. (Andrea Broaddus, 2010)
Dari permasalah parkir yang penyediaan ruang parkir berlebihan, maka diperlukan sistem kontrol terhadap ruang parkir untuk menurunkan penggunaan kendaraan pribadi. Ruang kota yang mahal dan terbatas dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih ekonomis. Perlu dilakukan kontrol terhadap parkir melalui aturan atau tarif parkir. Sistem pengendalian parkir ini
diperlukan untuk memaksimalkan pemanfaatan
infrastruktur transportasi yang terbatas.
Untuk pengendalian parkir melalui 3
pengendalian yaitu: pengendalian waktu, ruang, dan tarif parkir. Lalu lintas mempunyai fluktuasi volume yang mengikuti pola tertentu tiap harinya. Dari waktu ke waktu beban kapasitas jalan berbeda juga. Pengaturan waktu parkir diupayakan supaya kegiatan parkir tidak mengganggu beban puncak lalu lintas yang harus dilayani oleh ruas jalan. Kegiatan parkir pada daerah-daerah
dengan tarikan perjalanan orang mengikuti pola bangkitan dan tarikan tertentu. Kegiatan parkir pada daerah-darerah dengan tarikan perjalanan besar harus dikendalikan supaya masyarakat terdorong meninggalkan kendaraan pribadi. (Andrea Broaddus, 2010)
Dengan mengendalikan tingkat sewa parkir diharapkan dapat mengendalikan jumlah kendaraan yang menuju suatu lokasi. Pengendalian parkir harus dikombinasikan dengan pelarangan parkir di badan jalan (on street parking) yang disertai penegakan hukum yang ketat sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru. Dengan menerapkan jumlah ruang parkir maksimum yang dapat disediakan dalam desain bangunan baru, yang dikombinasikan dengan tarif progresif. Tarif progresif bertujuan untuk mengendalikan durasi perkir kendaraan. Selain mengurangi jumlah kendaraan juga bertujuan
untuk meningkatkan efektivitas ruang parkir.
(Departemen Perhubungan Direktorat Jendral
Perhubungan Darat,2004)
7. Pembatasan Kepemilikan Kendaraan Pribadi
Kepemilikan mobil di negara berkembang meningkat tajam, walaupun mobil termasuk barang mewah. Pajak penjualan kendaraan, bea impor, biaya dan pajak registrasi kendaraan juga mempengaruhi jumlah dan tipe kendaraan yang dibeli oleh masyarakat. Untuk kendaraan impor dalam rangka memproteksi produksi dalam negeri, banyak negara menerapkan tarif dan bea masuk. (Andrea Broaddus, 2010)
2.13 Analisis Multikriteria
Analisis Multikriteria merupakan metode yang dikembangkan dan digunakan dalam pengambilan keputusan dan dimaksudkan untuk bisa mengakomodasi aspek-aspek di luar kriteria ekonomi dan finansial juga bisa mengikut sertakan
berbagai pihak yang terkait dengan suatu proyek komprehensif dan scientific (kuantitatif maupun kualitatif). Pada analisis ini menggunakan persepsi stakeholder terhadap kritria-kriteria atau variabel-variabel yang dibandingkan dan pengambilan keputusan. Analisis multikriteria memiliki sejumlah kelebihan jika dibanding dengan proses keputusan informal yang saat ini sering digunakan. ( Rahayu dan Dwi, 2010)
Konsep yang dikembangkan dalam Analisis Multikriteria yaitu ( Rahayu dan Dwi, 2010):
Analisis sudah mempertimbangkan semua variabel
sekomprehensif mungkin dengan tetap menjaga proses ilmiah dari proses pengambilan keputusan yang dilakukan.
Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan
kepentingan pihak-pihak yang harus diakomodasi.
Penetapan pilihan dilakukan dengan memperhatikan
sejumlah tujuan dengan mengembangkan sejumlah kriteria yang terukur.
Scoring adalah referensi alternatif terhadap kriteria tertentu.
Pembobotan adalah penilaian relatif antara kriteria.
Dengan menggunakan analisis multikriteria, pemilihan metode dilakukan untuk menyiapkan pilihan metode yang tepat yang menjadi alternatif serta memberikan rekomendasi strategi TDM dengan dasar-dasar penentuan pemilihan yang ditinjau dari berbagai aspek sesuai metode pemilihan yang digunakan.
Metode Perbandingan Berpasang (Pair Wise
Comparison) meliputi perbandingan satu banding diantara tiap kriteria. Tim pakar diminta untuk membuat penilaian banding tingkat kepentingan relatif tiap kriteria yang diukur untuk pemilihan strategi alternatif TDM. Penilaian yang diukur untuk memberikan bobot relatif pada kriteria-kriteria. Pada Metode Perbandingan Berpasang ini memberikan analisis yang jauh lebih
baik bagi respon-respon yang diberikan oleh Tim Pakar. (Mendoza, 1999)
Tahapan kegiatan pengambilan keputusan Analisis Multikriteria, sebagai berikut( Rahayu dan Dwi, 2010):
Indikasi jumlah alternatif strategi TDM yang dipilih.
Meninjau dominasi suatu pilihan terhadap pilihan
lainnya, terjadi ketika kinerja suatu alternatif sama/lebih baik untuk semua kriteria terhadap alternatif lainnya.
Melakukan pembobotan, dengan menggunakan
Matriks Pair Wise Comparison.
Scoring kinerja tiap alternatif dengan memberikan penilaian terukur terhadap variabel kriteria secara kualitatif ataupun kuantitatif.
Mengalikan bobot setiap kriteria dengan score kinerja
alternatif pada kriteria tersebut.
Menjumlahkan nilai setiap kriteria sehingga didapat
nilai total suatu alternatif.
Me-ranking nilai tersebut sehingga didapat prioritas
alternatif.
Dengan melihat kondisi dan berbagai alternatif yang ada, maka dapat dilakukan pemilihan salah satu alternatif dari alternatif yang bisa diterapkan secara teknik untuk reaktivasi trem di koridor Utara-Selatan Surabaya.
27 BAB III
METODOLOGI