BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.7 Elemen dan Fungsi Konteks Sosial
Konsep komponen tutur yang dikembangkan Poedjosoedarmo (1985) merupakan pengembangan dari konsep yang disampaikan Dell Hymes. Menurutnya faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa disebut sebagai konsep memoteknik OOEMAUBICARA, yaitu (1) O1= orang ke satu, atau penutur (2) O2= orang ke-2 atau mitra tutur, (3) E= warna emosi O1, (4) M= maksud dan tujuan
percakapan, (5) A= adanya O3 dan barang-barang lain di sekeliling adegan percakapan, (6) U= urutan tutur, (7) B= bab yang dipercakapkan; pokok pembicaraan, (8) I= instrumen tutur atau sarana tutur, (9) C= citarasa tutur, (10) A= adegan tutur, (11) R= register tutur/genre, (12) A= aturan atau norma kebahasaan . Penjelasan setiap komponen dapat diringkas sebagai berikut.
(1) O= O1, yaitu pribadi si penutur. Pribadi si penutur berkaitan dengan dua hal, yaitu siapakah O1 dan dari manakah asal atau latar belakang O1. Siapakah O1 berkenaan dengan (i) bagaimanakah keadaan fisik O1, (ii) bagaimana keadaan mental O1, dan (iii) bagaiman kemahiran bahasa O1. Latar belakang si penutur menyangkut jenis kelamin, asal daerah, asal golongan kelas masyaraktnya, umur, jenis profesi, kelompok etnik, dan aliran kepercayaannya.
(2) O= O2. Orang kedua, yaitu orang yang diajak bicara oleh penutur atau mitra tutur. Faktor ini yang berkaitan dengan dua hal, yaitu anggapan O1 tentang seberapa tinggi tingkatan sosial O2 dan seberapa akrab hubungan O1 dan O2.
(3) E= warna emosi O1. Warna emosi O1 mempengaruhi bentuk tuturanya. Seorang yang sedang gugup, marah, sakit dan semacamnya akan melontarkan ujaran-ujaran yang kurang teratur, banyak frasa-frasa yang putus, maksud yang diungkapkan tidak terujarkan, dan sukar mengontrol pilihan tingkat tutur seperti frasa serta kata-katanya.
(4) M= maksud dan tujuan percakapan. Maksud dan kehendak O1 sangat mempengaruhi bentuk-bentuk tutur yang diujarkannya. Maksud O1 ini dapat mempengaruhi pemilihan bahasa, pemilihan tingkat tutur, ragam dialek, idiolek, pemilihan ungkapan-ungkapan tertentu, atau pemilihan unsur suprasegmental tertentu.
(5) A= adanya O3, yaitu kehadiran orang lain. Suatu ujaran dapat berganti bentuknya dari apa yang biasanya terjadi apabila ada seseorang yang kebetulan hadir pada adegan tutur. Pengubahan kode bahasa yang disebabkan oleh adanya O3 terjadi karena ingin mengikutsertakan O3 dalam pecakapan, ingin merahasiakan sesuatu agar O1 memberikan kesan kepada O3 bahwa O2 sebetulnya ialah orang yang terhormat dan tidak menggangu O3.
(6) U= urutan bicara. Urutan bicara berkenaan dengan siapa yangharus berbicara lebih dulu dan siapa yang harus berbicara kemudian. Dalam masyarakat ada yang emiliki aturan bahwa orang yang berstatus sosial lebih tinggai atau orang lebi tua harus berbicara lebih dulu. O1 atau penutur sebagai pengambil inisiatif berbicara dalam menentukan bentuk tuturnya daripada mitra tuturnya. O2 atau mitra tutur yang menanggapi tuturan O1 tidak sebebas O1 memilih bentuk tuturannya. Kode bahasa yang dipilih O2 tergantung pada penilaian terhadap hubungan yang ia inginkan terhadap o1 atau tergantung pada suasana kebahasaan yang ia ciptakan.
(7) B= bab yang dibicarakan. Bab yang dibicarakan mempengaruhi warna bicara. Hal ini tidak berarti bahwa setiap pokok pembicaraan harus dibahas dengan ragam bahasa tertentu. Namun, ada beberapa topik pembicaraan tertentu yang mengharuskan anggota masyarakat menggunakan kode bahasa tertentu apabila mereka akan membicarakannya.
(8) I= instrumen atau sarana tutur. Sarana tutur dapat mempengaruhi bentuk ujaran. Yang dimaksud dengan saran tutur ialah sarana yang dipakai untuk menyampaikan sarana tutur. Adanya bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan dismapaikan secara lngsung dengan menggerakkan alat-alat bicara mulut sedangkan bahasa tulis disampaikan dengan menggunakan hruf-huruf di atas kertas atau alat tulis. Pada kebanyakan masyarakat, bahasa tulis biasanya terikat pada ragam bahasa atau bahkan pada bahasa tertentu. Sarana-saran tutur, sperti telepon, handphone, email, dan sebagainya yang mempengaruhi ujaran seorang penutur.
(9) C= citarasa penutur. Nada suara bicara yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi O1 juga berpengaruh pada ragam tutur yang diucapkan oleh O1. Dalam hal ini sering dibedakan ragam bahasa santai, ragam bahasa formal, dan ragam bahasa indah.
(10) A= adegan tutur. Adegan tutur terkait dengan tempat, waktu, dan peristiwa (termasuk kualitas suprasegmental tutur dan pilihan pokok pembicaraan). Adegan tutur mempengaruhi penutur dalam menentukan
bentuk-bentuk ujaran. “percakapan di dalam masjid, gereja, dan tempat-tempat ibadah lainnya, rumah sakit, kantor pengadilan biasanya tidak terlalu keras, dan orang biasanya tidak bersenda gurau. Percakapan harus sopan, serius, dan khidmat.
(11) R= register atau bentuk wacana. Di dalam masyarakat, terdapat beberapa macam wacana yang bentuknya sudah mapan. Wacana-wacana seperti surat-menyurat dinas, perundang-undangan, percakapan dengan telepon, telegram, pidato pembukaan atau penutup suatu lokakarya, seminar, konferensi atau pidato seremonial lainnya, atur-atur kenduri, ujub dan doa kenduri, tajuk rencana surat kabar, mempunyai struktur yang kurang lebih mapan dan diketahui oleh anggota masyarakat banyak. Bentuk wacana seperti pidato akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang lazim, misalnya dimulai dengan sapaan, salam, introduksi, isi pidato, dan penutup.
(12) A= aturan atau norma kebahasaan lainnya. Aturan kebahasaan lainnya bersangkutan dengan norma-norma kebahasaan yang khusus berlaku pada suatu masyarakat bahasa. Misalnya kejelasan dalam berbicara, topik yang dibicarakan harus menarik, tidak menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, menghindari kata-kata yang dianggap tabu dan sebagainya. Aturan-aturan kebahsaan dapat mempengaruhi O1 dalam menentukan bentuk tuturannya.
Rahardi (2010) dalam bukunya Kajian Sosiolinguistik menyatakan ada tiga belas komponen sebuah tuturan teori Poedjosoedarmo. Ketiga belas komponen itu disebutkan satu persatu sebagai berikut: 1) pribadi si penutur atau orang pertama, 2) anggapan penutur terhadap kedudukan sosial dan relasinya dengan orang yang diajak bicara, 3) kehadiran orang ketiga, 4) maksud dan kehendak si penutur, 5) warna emosi si penutur, 6) nada suasana bicara, 7) pokok pembicaraan, 8) urutan bicara, 9) bentuk wacana, 10) sarana tutur, 11) adegan tutur, 12) lingkungan tutur, 13) norma kebahasaan lainnya.
Pribadi si penutur atau orang pertama menentukan kuantitas tuturan yang disampaikan seseorang. Seorang penutur atau orang pertama tuturan diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, dan relatif memadai atas informasi yang dibutuhkan mitra tutur.Terdapat dua hal penting pada penutur orang pertama, yaitu pertama adalah siapakah kejatian atau identitas orang pertama, dan yang kedua adalah dari manakah asal-usul penutur itu. Identitas orang pertama akan ditentukan oleh tiga hal, yakni (1) keadaan fisiknya, (2) keadaan mentalnya, (3) kemampuan berbahasanya berkaitan dengan keadaan fisiknya, misalnya orang yang lindahnya kurang panjang, orang yang penakut, pemalu, mudah merasa gerogi tentu akan membentuk tuturan yang berbeda dengan orang yang pemberani, tidak mudah gerogi, dan semacamnya. Jadi dalam tuturan siapa orang yang bertutur sangat menentukan tuturan yang akan dimunculkan.
Masalah latar belakang penutur dikaitkan dengan masalah jenis kelamin, daerah asal, suku, umur, golongan kelas dalam masyarakat, dan barangkali agama
atau kepercayaannya. Seorang yang jenis kelamin pria akan menggunakan tuturan yang berbeda dengan wanita. Seorang wanita kecenderungan untuk membicarakan tentang kecantikan, perhiasan, pakaian, masalah rumah tangga, dan semacamnya sedangkan pria kecenderungan membicarakan olah raga, politik, dan semacamnya (Rahardi, 2010). Selain itu, orang atau masyarakat golongan atas bertutur dengan cara yang berbeda dengan orang atau masyarakat golongan bawah. Leech (1983) menyatakan bahwa jarak sosial antara penutur dan mitra tutur menentukan pilihan tuturan yang digunakan dalam berkomunikasi.
Kelas sosial (social class) mengacu kepada golongan masyarakat yang mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta, dan sebagainya (Sumarsono, 2014:43). Seorang individu mungkin mempunyai status sosial yang lebih dari satu. Misalnya si A seorang bapak di keluarganya, yang juga berstatus sosial sebagai dosen. Di negara-negara industri, kelas buruh sebagai kelas terendah sendangkan seorang sarjana masuk kelas sosial golongan terdidik. Kelas sosial terbagi dalam kelas bawah, menengah, atas; kelas atas dan menengah pun dibagi menjadi dua golongan, menjadi kelas atas-atas dan kelas atas-bawah, kelas menegah-atas dan menengah-bawah. Kasta biasanya dianggap sejenis dengan kelas sosial tetapi ada yang membedakan. Pada kasta, orang tidak boleh seenaknya bebas memasuki golongan lainnya. Orang yang dilahirkan pada kasta brahmana pasti harus menjadi kasta itu dan tidak boleh masuk menjadi anggota kasta sudra . Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa konteks sosial terbentuk dari hubungan horisontal, yakni hubungan dalam komunikasi antara
penutur dan mitra tutur dengan faktor penentu solidaritas. Misalnya pada tingkatan universitas, yakni mahasiswa dengan mahasiwa atau dosen dengan dosen.
2.7.2 Hakikat Fungsi Konteks Sosial
Tarigan (1987) menyatakan bahwa konteks adalah latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh pembicara atau penulis dan penyimak atau pembaca serta yang menunjang interpretasi penyimak atau pembaca terhadap apa yang dimaksud pembicara atau penulis dengan suatu ucapan tertentu.
Rahardi (2005) mendefinisikan konteks sebagai semua latar belakang pengetahuan yang diasumsikan sama-sama dimiliki penutur dan mitra tutur serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan penutur itu dalam proses bertutur. Menurutnya, konteks yang dimaksud adalah konteks situasi yang mewadahi bahasa tersebut. Konteks yang dimaksud dapat mencakup dua hal, yakni konteks yang bersifat sosial dan konteks yang bersifat sosietal (Rahardi, 2009). Secara pragmatik dapat dipandang sebagai konteks yang antara lain meliputi identitas partisipan, parameter waktu dan tempat peristiwa pertuturan (Zamzani, 2007).
Konteks sosial berkaitan dengan kelas sosial. Kelas sosial (sosial class) mengacu kepada golongan masyarakat yang mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta, dan sebagainya. Misalnya si A adalah seorang bapak di keluarganya, yang juga berstatus sosial sebagai guru. Jika dia guru di sekolah negeri , dia juga masuk ke dalam kelas pegawai negeri. Jika dia seorang sarjana, dia bisa masuk kelas sosial golongan “terdidik”. Tahun 1966, William Labov menerbitkan hasil penelitiannya
tentang tutur kota New York yang berjudul The Social Stratification of English in New York City (Lapisan Sosial Bahasa Inggris di Kota New York). Labov, dalam penelitiannya membuktikan bahwa seseorang individu dari kelas sosial tertentu, umur tertentu, dan jenis kelamin tertentu akan menggunakan variasi bentuk tertentu dalam situasi tertentu. Tidak hanya itu, Labov juga membagi kelas sosial menjadi empat kelas, yaitu kelas menengah bawah, kelas pekerja, kelas menengah, dan kelas menengah atas (Sumarsono, 2017: 49).
Berdasarkan pengertian beberapa ahli di atas peneliti berkesimpulan bahwa konteks sosial adalah keseluruhan latar belakang sosial yang dimiliki penutur dan mitra tutur dalam membangun interaksi di masyarakat. Dasar kemunculan konteks sosial adalah solidaritas (Solidarity) (Rahardi, 2009).
Setiap tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur tidak hanya bertujuan menjalin komunikasi tetapi juga menyampaikan maksud. Gagasan yang tidak dapat diwakili oleh kata-kata padahal ingin diungkapkan oleh penutur itulah yang dimaksud dengan konteks. Fungsi konteks dalam tuturan didasarkan pada latar belakang pemahaman yang sama. Dasar pemahaman yang sama dalam artian penutur dan mitra tutur memiliki persepsi yang sama terkait hal yang dibicarakan sehingga tidak menghambat proses komunikasi.
26