SUPREMASI HUKUM DALAM NEGARA
C. Elemen-Elemen Penggerak Supremasi Hukum dalam Negara Supremasi hukum tentunya tidak terlepas pada masalah sejauh
mana aparatur penegak hukum menjalankan fungsinya dengan baik. Bahkan dapat dikatakan hukum yang baik sekalipun jika tidak diiringi dengan aparat penegak hukum yang baik maka tidak akan ada manfaatnya bagi sebuah negara.
Satjipto Rahardjo mengutip ucapan Taverne, “Berikan pada saya jaksa dan hakim yang baik, maka dengan peraturan yang buruk sekalipun saya bisa membuat putusan yang baik”. Mengutamakan perilaku (manusia) daripada peraturan perundang-undangan sebagai titik tolak paradigma penegakan hukum, akan membawa kita untuk memahami hukum sebagai proses dan proyek kemanusiaan (Mahmud Kusuma, 2009; 74).
Pandangan Prof Satjipto Rahardjo tersebut kemudian dipertegas oleh Achmad Ali jika menengok pada kondisi hukum Indonesia dengan berpendapat bahwa kondisi sistem hukum nasional Indonesia sangat menyedihkan dan mengalami keterpurukkan yang luar biasa. Keter-purukan tersebut tidak akan berhasil diperbaiki apabila sosok-sosok
the dirty broom (sapu kotor) masih menduduki jabatan diberbagai
institusi hukum (Achmad Ali, 2001; 10-11). Tentunya yang terjadi apabila banyak penyimpangan negara hukum tidak akan mampu melahirkan kaidah keadilan secara nyata.
Keadilan merupakan salah satu kebutuhan dalam hidup manu-sia yang umumnya diakui di semua tempat di dunia ini. Apabila keadilan itu kemudian dikukuhkan ke dalam institusi yang nama-nya hukum, maka, seperti telah diuraikan di muka, institusi hukum itu harus mampu untuk menjadi saluran agar keadilan itu dapat diselenggarakan secara seksama dalam masyarakat. Beberapa ciri yang umumnya melekat pada institusi sebagai perlengkapan masya-rakat yang demikian itu adalah:
1. Stabilitas.
2. Merupakan pemberian kerangka social terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat.
3. Sehubungan dengan institusi sebagai penggerak secara sosial terhadap kebutuhan manusia itu maka institusi menampilkan wujudnya dalam bentuk norma-norma.
4. Jalinan antar institusi (Sadjipto Rahardjo, 1982;150-152). Untuk menjalankan pekerjaan seperti itu, hukum membu-tuhkan suatu kekuatan pendorong. Ia membumembu-tuhkan kekuasaan. Kekuasaan ini memberikan kekuatan kepadanya untuk menjalankan fungsi hukum, seperti misalnya sebagai kekuatan pengintegrasi atau pengkoordinasi proses-proses dalam masyarakat. Kita bisa meng-atakan, bahwa hukum tanpa kekuasaan akan tinggal sebagai keinginan-keinginan atau ide-ide belaka (Sadjipto Rahardjo, 1982; 160).
Secara keseluruhan karakteristik adanya penegak hukum se-bagai penggerak supremasi hukum maka dapat dihubungkan dengan adanya badan legislatif (dilaksanakan oleh parlemen), eksekutif (di-laksanakan oleh kepala negara), dan yudikatif (di(di-laksanakan oleh badan pengadilan), maka teori umum ketatanegaraan menyatakan bahwa pihak legislatif memunyai tugas utama untuk membuat undang-undang, pihak eksekutif bertugas untuk menjalankan undang-undang-undang, dan pihak yudikatif bertugas untuk mengadili pelanggar undang-undang. Namun demikian, teori umum ini banyak pengecualiannya, antara lain dalam bentuk-bentuk sebagal berikut:
1. Ada cabang kekuasaan negara yang menjalankan kewenangan-nya yang tergolong ke dalam bidang yang seharuskewenangan-nya termasuk ke dalam kewenangan bidang kekuasaan negara yang lain. Misal-nya kekuasaan kepala negara untuk memberikan grasi, amnesti,
abolisi, dan rehabilitasi kepada rakyatnya, yang sebenarnya sudah termasuk ke dalam kewenangan badan pengadilan. 2. Ada cabang kekuasaan negara yang menjalankan
kewenangan-nya secara bersama-sama dengan badan penyelenggara negara yang lain. Misalnya, diberbagai negara, kekuasaan pembuatan undang-undang dimiliki secara bersama-sama antara parlemen dengan pemerintah (eksekutif). Atau undang-undang yang harus ditandatangani oleh presiden ataupun bahkan presiden atau kepala negara memiliki kewenangan untuk memveto undang-undang yang dibuat oleh parlemen (Munir Fuady, 2009; 115).
Penggunaan hukum oleh kekuasaan tentunya tidak boleh dija-lankan secara serampangan. Terdapat hal ikhwal yang harus ditaati dalam menjalankan ketentuan-ketentuan yang idealnya perlu ditaati oleh para penegak hukum. Dalam hal penemuan hukum Pertama-tama ihwalnya selalu berkenaan dengan aturan-aturan hukum yang memuat perumusan-perumusan yang sangat umum untuk sejumlah kejadian yang pada dasarnya tidak terbatas. Formulasi-formulasi itu tidak selalu ditujukan pada kejadian-kejadian spesifik yang di dalam praktiknya dapat terjadi. Yang kedua adalah fakta-fakta seba-gaimana yang dihadapkan kepada hakim oleh salah satu pihak dalam sengketa yang bersangkutan. Fakta-fakta tersebut misalnya dapat dibantah oleh pihak yang lain. Karena itu ihwalnya adalah penting untuk menelusuri apakah fakta-fakta itu dalam kenyataan memang telah terjadi: fakta-fakta harus ditetapkan. Fakta-fakta tersebut tidak hanya harus ditetapkan atau dibuktikan, fakta-fakta tersebut juga harus diseleksi dan dinilai dalam konteks aturan-aturan hukum yang mungkin dapat diterapkan, sebelum orang dapat berbicara tentang penerapan hukum. Sebuah masalah yang terkait padanya yang dapat terjadi adalah bahwa terdapat lebih dan satu aturan yang dapat diterapkan pada sebuah kejadian konkret, bahwa tidak terdapat satupun aturan yang dapat diterapkan, atau bahwa sebuah aturan tidak jelas. Pertanyaan timbul bagaimana hakim dapat mencapai (menghasilkan) sebuah putusan. Pada telaah lebih jauh tampak bahwa penemuan hukum adalah suatu kegiatan yang majemuk. Ia ber-kenaan dengan hal memperoleh pengetahuan tentang fakta dan hukum, hal menetapkan dan menilai fakta-fakta, penafsiran aturan aturan hukum, hal menelusuri dan menimbang-nimbang
kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai, dan berkenaan dengan ikhtiar mencapai sebuah putusan hukum yang akseptabel atau yang adil (J.A Pointer, diterjemahkan oleh Arief Sidharta, 2008; 3).
Bahkan ajaran “stare decisis” mewajibkan hakim Inggris untuk mengikuti putusan-putusannya yang terdahulu dan putusan-putu-san dan peradilan tingkat yang lebih tinggi. Namun, ajaran ini pada paruh kedua abad duapuluh sudah tidak lagi begitu ketat mengikat (sudah cukup melunak). Hakim Inggris dan instansi tertinggi sudah sejak tahun 1966 tidak lagi menganggap dirinya terikat secara mutlak pada putusan-putusan yang telah dikeluarkannya di masa lalu. Se-kalipun begitu, berbeda dari praktik Belanda, instansi kehakiman (lembaga peradilan) lainnya di lnggris secara formal terikat pada putusan-putusannya terdahulu dan pada putusan-putusan lain yang dikeluarkan instansi setingkat ataupun yang lebih tinggi. Tidak keseluruhan putusan terdahulu itu yang mengikat, melainkan hanya (bagian) pertimbangan-pertimbangan yang menjadi landasan utama atau titik pijak bagi putusan yang dihasilkan, yang disebut “ratio
decidendi”. Pertimbangan-pertimbangan tersebutlah yang
membe-rikan “law quality” pada presiden. Pertimbangan-pertimbangan selebihnya yang sedang diberikan secara berlimpah dinamakan “obiter
dicta”. Jika suatu presiden memiliki “law quality” (kualitas sebagai
hukum), maka hakim wajib mengikutinya. Kasus-kasus yang serupa harus dinilai dan diadili atas dasar preseden. Preseden memperoleh karakter dan sebuah kaidah yang berlaku umum. Penyelesaian seng-keta aktual diderivasi (diturunkan) dan kaidah umum ini yang di-konstruksi berdasarkan putusan terdahulu, yakni preseden. Hanya jika fakta dan kasus baru yang dihadapkan kepadanya menunjukan perbedaan gamblang (mencolok), hakim tidak perlu mengikuti presiden tersebut. Dalam hal demikian, maka akan dikatakan bahwa hakim melakukan pembedaan atau penyimpangan (distinguishes) (J.A Pointer, diterjemahkan oleh Arief Sidharta, 2008; 114-115).