• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Konseptual

2.1.5. Electronic Government

2.1.5.4. Elemen Sukses e-Government

Menurut hasil kajian dan riset dari Harvard JFK School of

Government, (dalam Indrajit, 2002:15) bahwa untuk menerapkan

konsep-konsep digitalisasi pada sektor publik, ada 3 (tiga) elemen sukses yang harus dimiliki dan diperhatikan sungguh-sungguh, sebagai berikut:

1. Support.

Elemen pertama dan paling krusian yang harus dimiliki oleh pemerintah, adalah adanya keinginan baik atau political will, dari berbagai kalangan terutama dari pemerintah untuk benar-benar melaksanakan e-Government secara serius sesuai dengan kebutuhan pelayan publik. Tanpa adanya political will ini, mustahil berbagai inisiatif pembangunan dan pengembangan e-Government dapat berjalan mulus. Karena budaya birokrasi di Indonesia saat ini boleh dikata masih bekerja berdasarkan model manajemen top down, maka jelas dukungan implementasi program e-Government yang efektif harus

77 dimulai dan para pimpinan pemerintahan yang berada pada level tertinggi, sebelum merambat ke level-lvel yang ada di bawah. Yang dimaksud dengan dukungan di sini juga bukanlah hanya pada omongan semata, namun lebih jauh lagi dukungan yang diharapkan adalah dalam bentuk hal-hal sebagai berikut :

a. Political Will. Political wiil di sini artinya sejauh mana dukungan pemerintah dalam mengembangkan e-Government, berbagai inisiatif pembangunan dan pengembangan e-Government berupa kesepakatan kerangka e-Government sebagai salah satu kunci sukses negara atau pemda dalam mencapai visi dan misi bangsa atau daerahnya, sehingga harus diberikan prioritas tinggi.

b. Continuity. Kontinuitas di sini dimaksudkan sebagai keberlanjutan pelaksanaan Government yang mencakup perencanaan

e-Government dan pengalokasian sejumlah sumber daya (manusia,

finansial, waktu, informasi, dan lain-lain) di setiap tataran pemerintahan untuk membangun konsep ini dengan semangat lintas sektoral. Kontinuitas juga mencakup dibangunnya berbagai infrastruktur dan superstruktur pendukung pencipta lingkungan kondusif untuk mengembangkan e-Government (seperti adanya regulasi yang jelas, serta adanya penugasan yang jelas untuk lembaga-lembaga tertentu).

c. Sosialisation. Sosialisasi di sini dimaksudkan bahwa pemerintah harus memperkenalkan kegiatan e-Government serta membangun

78 kemitraan dan kolaborasi pengembangan e-Government yang dimaksud. Pelaksanaan sosialisasi konsep e-Government harus secara merata, kontinu, konsisten, dan menyeluruh kepada seluruh kalangan birokrat secara khusus dan masyarakat secara umum melalui berbagai cara kampanye yang simpatik

2. Capacity.

Yang dimaksud elemen kedua ini adalah adanya unsur kemampuan atau keberdayaan dan pemerintah setempat dalam mewujudkan impian e-Government terkait menjadi kenyataan. Ada tiga hal sebagai paling tidak harus dimiliki oleh pemerintah sehubungan dengan elemen kapasitas ini, yaitu:

a. Ketersediaan sumber daya manusia yang berkompeten dan memiliki kemampuan dalam mengelola dan mengakses dan menggunakan teknologi informasi sebagai prasyarat utama sistem e-Government. b. Ketersediaan infrastruktur teknologi informasi yang memadai karena

fasilitas ini merupakan pendukung yang sangat vital dalam keberhasilan penerapan konsep e-Government.

c. Ketersediaan sumber daya finansial (ketersediaan anggaran) dalam arti pemerintah harus mengalokasi anggaran yang memadai untuk kesuksesan pelaksanaan e-Government.

3. Value.

Value atau nilai merupakan manfaat atau keuntungan yang diperoleh dengan adanya sistem e-Government, khususnya mamfaat

79 yang akan diperoleh terutama masyarakat. Elemen pertama dan kedua merupakan dua buah aspek yang dilihat dari sisi pemerintah selaku pihak pemberi jasa (supply side). Berbagai inisiatif e-Government tidak akan ada gunanya jika tidak ada pihak yang merasa diuntungkan dengan adanya implementasi konsep tersebut; dan dalam hal ini, yang menentukan besar tidaknya manfaat yang diperoleh dengan adanya

e-Government bukanlah kalangan pemerintah sendiri, melainkan

masyarakat dan mereka yang berkepentingan (demand side).

Untuk itulah maka pemerintah harus benar-benar teliti dalam memilih prioritas jenis aplikasi e-Government apa saja yang harus didahulukan pembangunannya agar benar-benar memberikan manfaat (value) yang secara signifikan dirasakan oleh masyarakatnya. Salah dalam mengerti apa yang dibutuhkan masyarakat justru akan mendatang bumerang bagi pemerintah yang akan mempersulit meneruskan usaha mengembangkan konsep e-Government.

Perpaduan antara ketiga elemen terpenting di atas akan membentuk sebuah nexus atau pusat syaraf jaringan e-Government yang akan merupakan kunci sukses utama penjamin keberhasilan. Atau dengan kata lain, pengalaman memperlihatkan bahwa jika elemen yang menjadi focus sebuah pemerintahan yang berusaha menerapkan

e-Government berada diluar area tersebut (ketiga elemen pembentuk

nexus) tersebut, maka probabilitas kegagalan proyek tersebut akan tinggi.

80 2.1.5.5. Tujuan dan Manfaat e-Government

Secara singkat tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan

e-Government adalah untuk menciptakan customer online dan bukan in-line

(www.defkominfo.go.id). Aplikasi e-Government bertujuan memberikan pelayanan tanpa adanya intervensi pegawai institusi publik dan sistem antrian yang panjang hanya untuk mendapatkan suatu pelayanan yang sederhana. Penggunaan teknologi yang mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi dapat mengurangi korupsi dengan cara meningkatkan transparansi dan akuntabilitas lembaga publik.

Hal ini sejalan dengan pendapat Padget (2005: 94) yang menyatakan bahwa “...the goal is to provide access to information and to open up decisionmaking processes to citizens (e-participation) to

encourage a grass - roots engagement of citizens with democratic processes”. Penerapan e-Government dapat memperluas partisipasi

masyarakat. Masyarakat dimungkinkan untuk terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan/kebijakan oleh pemerintah. Selain itu, diharapkan dapat memperbaiki produktifitas dan efisiensi birokrasi serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pelaksanaan e-Government oleh pemerintah tidak lepas dari tujuan yang ingin dicapai. Tujuan penerapan e-Government menurut Anwar (2004:126) adalah:

81 1. Terciptanya hubungan secara elektronik antara pemerintah dengan masyarakat sehingga dapat mengakses berbagai informasi dan layanan dari pemerintah.

2. Melaksanakan perbaikan dan peningkatan pelayanan masyarakat ke arah yang lebih baik dari apa yang telah berjalan saat ini.

3. Menunjang good governance dan keterbukaan. 4. Meningkatkan pendapatan asli daerah

5.

E-Government memiliki banyak manfaat dalam menunjang

efektivitas dan efisiensi pelayanan publik. Ada tiga dimensi dalam melihat manfaat dari penerapan e-Government (Misuraca, 2007:57-58), yaitu dimensi ekonomi, sosial, dan pemerintahan.

1. Dimensi Ekonomi, dalam hal ekonomi, manfaat e-Government di