BAB IV ANALISIS PERAN ELITE AGAMA DALAM
A. Elite Agama sebagai Pimpinan dan Anutan
Dalam suatu struktur sosial selalu terdapat dua kelompok masyarakat yang jenis peranannya berbeda, yakni kelompok masyarakat berjumlah kecil dan terpilih yang berperan memimpin serta sejumlah besar masyarakat lainnya yang dipimpin. Keduanya merupakan komponen yang selalu ada dan tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, serta selalu menjalin komunikasi timbal balik. Apabila yang memimpin menjalankan tugas dan kewajiban sesuai dengan kedudukan dan hak, sedangkan yang dipimpin bertingkah laku sejalan dengan pimpinan. Dari sini, maka terciptalah peranan timbal balik. Hal demikian sebagaimana ditemukan dalam komponen masyarakat desa Kranji.
Sekelompok masyarakat berjumlah kecil yang berperan memimpin inilah yang oleh Talcott Parsons disebut actor, dimana actor merupakan kumpulan beberapa status dan peran. Status, mengacu pada posisi struktural di dalam sistem sosial, sementara peran adalah apa yang dilakukan actor dalam posisinya itu. Sejauh mana peranan actor mampu menunjukkan hasil-hasil yang memadai, sedikit banyaknya tergantung pada sifat-sifat kepemimpinan
80
yang melekat pada diri actor.124 Dalam hal ini, actor yang dimaksud adalah elite agama di desa Kranji.
Status, yakni posisi atau kedudukan elite agama di desa Kranji adalah sebagai pimpinan dan anutan masyarakat. Bahkan, otoritas elite agama di desa Kranji melebihi pemerintah desa. Dalam arti, segala hal yang telah menjadi keputusan elite agama adalah hal yang sifatnya mutlak. Utamanya dalam kehidupan sosial yang bersinggungan dengan masyarakat, pemerintah desa sekalipun tidak bisa melawan. Dengan demikian, bagi masyarakat desa Kranji kedudukan elite agama bukan saja pemberi legitimasi perihal persoalan keagamaan. Namun, elite agama juga bertindak sebagai pemberi kebijakan dalam rangka menciptakan masyarakat yang sejahtera. Hal demikian senada dengan gagasan Suzanne Keller, yang menyatakan bahwa pada suatu waktu elite agama merupakan pengadil tertinggi dari pikiran dan perbuatan manusia.125
Kaitannya dengan bentukan elite agama di desa Kranji. Umumnya, setelah sekelompok penduduk mencapai jumlah tertentu, ia menghendaki semacam organisasi dan berdirinya aturan-aturan yang tepat serta peranan- peranan yang ditunjang oleh suatu sistem kepercayaan untuk memenuhi kebutuhan materi dan rohaninya. Sekali tersusun demikian, tanggung jawab untuk kehidupan bersama diteruskan bukan pada semua, tetapi hanya pada sebagian anggota, terutama pada kepala-kepalanya, dewa-dewanya serta
124
Talcott Parsons,Societies, 11.
125
81
penguasa-penguasa, yaitu elite istimewa.126Demikian pula yang terjadi di desa Kranji.
Hilangnya legitimasi masyarakat terhadap elite agama di desa Kranji bisa terjadi jika elite agama yang bersangkutan melakukan hal-hal yang dianggap menciderai citra agama maupun kehormatannya sebagai elite agama. Hal demikian, senada dengan konsep elite sebagaimana digagas oleh Suzanne Keller mengenai beberapa hal yang menjadi pembeda antara elite dengan kelas penguasa, salah satunya adalah hilangnya keahlian yang dimiliki elite.127
Elite agama di desa Kranji dapat dikategorikan sebagai golongan ulama, yang mempunyai kedudukan tinggi berkat pengetahuan keagamaan mereka. Dalam sejarahnya, kaum ulama merupakan suatu bagian yang amat berpengaruh dalam masyarakat Islam Abad Pertengahan. Dalam banyak tradisi Nabi Muhammad saw., mereka dianggap sebagai pengganti- penggantinya. Sikap masyarakat Islam Abad Pertengahan terhadap mereka telah diungkapkan dengan sangat teliti oleh seorang ahli sejarah sezaman dengan kata-kata berikut:
Semua orang mengetahui bahwa di bawah tingkatan rasul atau nabi terdapat orang- orang yang dilimpahi kepercayaan penuh. Nabi Muhammad saw. telah
bersabda: “Ulama adalah pengganti nabi”. Dunia terus ada ini karena
kesalehan orang-orang yang berilmu. Hukum syariat diusahakan terlaksana oleh mereka dan segala sesuatu yang tidak sah dan tidak didukung oleh syariat disingkirkan oleh mereka. Agama Allah tegak teguh disebabkan oleh
mereka. Nabi saw. bersabda: “Raja dan bangsawan yang paling baik adalah
yang mendatangi pintu ulama”. Kehormatan dan kedudukan ulama lebih unggul dibandingkan dengan yang lain.128
126
Keller,Penguasa dan Kelompok Elite, 3.
127
Ibid., 83.
128
Saletore, “Ulama”, dalam Sartono Kartodirdjo, Elite dalam Perspektif Sejarah
82
Jika dilihat dari struktur masyarakatnya, desa Kranji merupakan tipe masyarakat yang di dalamnya nilai-nilai agama sangat berpengaruh. Hal ini sejalan dengan kategorisasi yang diciptakan oleh Elizabeth K. Nottingham. Dalam masyarakat model ini, agama dan magic penting dan berpengaruh dalam kehidupan, terutama dalam menghadapi stress. Karena tidak adanya kepentingan yang kontradiktif dan menyatu-padunya agama dalam hampir semua aspek kehidupan sosial, memberi pengaruh kuat untuk menyatukan dan menstabilkan masyarakat. Bagi individu, agama banyak berpengaruh dalam keseluruhan proses sosialisasi. Sosialisasi ditandai oleh upacara-upacara keagamaan dalam peristiwa kelahiran, perkawinan dan dalam fase-fase peralihan penting lainnya dalam siklus kehidupan individu.129
Dengan meleburnya agama dalam segala aspek kehidupan sosial masyarakat desa Kranji, maka elite agama muncul dengan berbagai peranannya. Adanya elite agama di desa Kranji merupakan bentuk legitimasi masyarakat atas kemampuan seseorang serta ketaatan dalam menjalankan syariat agama, bukan karena faktor kelahiran maupun kekayaan. Selain itu, prestise dan pengaruhnya dalam kehidupan keagamaan masyarakat juga merupakan faktor yang harus dimiliki oleh seorang elite agama. Karena kenyataan yang terjadi pada masyarakat desa Kranji, tingginya kemampuan dan ketaatan dalam beragama yang dimiliki seseorang akan “terkalahkan” oleh mereka yang memiliki peranan di masyarakat. Kendati demikian, legitimasi masyarakat desa Kranji untuk elite agama juga menutup kemungkinan bagi
129
83
mereka yang memiliki peranan di masyarakat, namun tidak memiliki kemampuan dan ketaatan beragama yang baik.
Peran, didapat dari status elite agama sebagai pimpinan dan anutan masyarakat desa Kranji. Adapun dari status sebagaimana dipaparkan di atas, peranan elite agama di desa Kranji, yakni sebagai penasihat, penengah, penentu kebijakan, pemelihara dan pengawas kebijakan, pelindung masyarakat, pencipta keadilan serta penyelamat. Beberapa peranan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, dengan statusnya sebagai pimpinan dan anutan masyarakat, elite agama di desa Kranji merupakan orang tertinggi dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, ia harus berwawasan luas agar dapat menampung dan menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi masyarakat, serta berpandangan jauh ke depan. Artinya, apa yang diucapkannya akan selalu terbukti kebenarannya di masa yang akan datang. Dalam hal ini, elite agama berperan sebagai penasihat atau dapat juga dikatakan sebagai orang tua yang berkewajiban memberi nasihat kepada anaknya.
Kedua, sebagai pimpinan dan anutan masyarakat, elite agama di desa Kranji harus senantiasa dipenuhi keindahan dan kebaikan yang patut diteladani, yang mampu menerangi kegelapan, yakni mampu menciptakan suasana sejahtera, aman, tenteram dan damai. Di samping itu juga suci dan tidak pernah ternoda oleh perilaku menyimpang. Kalaupun menyimpang, masih dalam batas-batas yang wajar sesuai dengan penghargaan istimewa yang dimilikinya. Dalam hal ini, peran elite agama di desa Kranji adalah
84
sebagai pencipta suasana sejahtera, aman, tenteram dan damai, yang antara lain dapat dilihat pada sebuah kasus keretakan hubungan persaudaraan akibat berebut warisan dari orang tua mereka. Dalam masyarakat desa Kranji, kasus semacam ini acapkali terjadi. Di sini lah peran elite agama diperlukan sebagai pihak penengah.
Ketiga, status elite agama sebagai pimpinan dan anutan masyarakat juga membuatnya harus mampu memberikan dorongan dan kekuatan serta semangat kepada masyarakat agar selalu bergairah dalam menjalani liku-liku kehidupan. Ia juga harus berwibawa agar masyarakat taat dan patuh kepadanya. Ia harus berpengetahuan luas, baik pengetahuan keduniaan maupun keakhiratan. Sebab, ia merupakan tempat bertanya bagi masyarakat. Ia dapat menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengatasi berbagai masalah yang menyangkut kepentingan masyarakat. Di sini, elite agama kembali berperan sebagai penentu kebijakan dan pengambil keputusan.
Keempat, sebagai pimpinan dan anutan masyarakat, elite agama di desa Kranji juga harus mampu memelihara dan menjadi pengawas kebijakan yang telah ditetapkan. Peran elite agama di desa Kranji sebagai pemelihara dan pengawas kebijakan dapat terlihat dari adanya istighotsah bersama pada dua tahun terakhir kegiatan Petik Laut. Sebagaimana perkataan Bapak Husnul Wafiq:
Saat itu saya, Kiyai Sjafi’ dan Kiyai Hasan duduk bersama dalam satu majelis. Setelah berbincang-bincang, Kiyai Sjafi’ mengintruksikan diadakan
istighotsahbersama pada kegiatan Petik Laut di sini. Alhamdulillah, sampai saat ini kegiatan tersebut berjalan dengan lancar. Masyarakat pun antusias mengikutinya. Beliau-beliau inilah yang memandu kegiatan tersebut.130
130
85
Kelima, elite agama sebagai pimpinan dan anutan masyarakat juga harus menjadi tempat yang aman dan tenang bagi masyarakat. Seperti pernyataan KH. Hasan Nawawi, “Saya ini merupakan tempat curahan isi hati dan menampung keluhan masyarakat. Oleh karena itu, saya harus mampu memberikan rasa aman dan tenang kepada masyarakat dan memegang teguh rahasia pribadinya.”131 Di sini, terlihat bahwa elite agama memainkan peranan sebagai pelindung bagi masyarakatnya.
Keenam, sebagai pimpinan dan anutan masyarakat, elite agama harus berlaku adil bagi seluruh warga masyarakat. Ia tidak boleh memihak pada satu golongan atau kelompok, atau orang-orang tertentu. Ia harus menempatkan diri di atas semua golongan. Selain itu, elite agama juga harus bersih lahir dan batin. Bersih lahir, maksudnya ia selalu menunjukkan perilaku terpuji dan tidak dikuasai hawa nafsu, misalnya marah, mencaci-maki, dengki dan sejenisnya. Sementara bersih batin, maksudnya ia mempunyai kemampuan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam hal ini, elite agama menunjukkan peranannya sebagai pencipta keadilan, kedamaian dan kesejahteraan.
Dan ketujuh, selain beberapa peraran di atas, sebagai pemimpin dan anutan masyarakat, elite agama juga harus memiliki “kesakralan”. Umumnya, masyarakat desa Kranji percaya bahwa dengan “kesakralan” seorang elite agama, ia dapat menolak segala macam bencana, baik yang sedang terjadi maupun yang mungkin akan terjadi, seperti serangan wabah penyakit. Dengan
131
86
“kesakralannya” elite agama dapat memainkan berbagai peranan. Tidak saja sebagai pemimpin yang disegani, tetapi sebagai penyelamat, dukun dan peramal.
Peranan-peranan yang dimainkan oleh elite agama di desa Kranji sebagaimana telah diulas di atas, berkaitan erat dengan integrasi nilai dan norma-norma sosial keagamaan. Dalam melakukan peranannya elite agama di desa Kranji berlandaskan nilai dan norma-norma sosial keagamaan yang terintegrasi. Sebaliknya, integrasi nilai dan norma-norma sosial keagamaan turut terpelihara melalui peranan yang dimainkan oleh elite agama.
B. Elite Agama dan Pembentukan Pola Kehidupan Keagamaan
Keberhasilan elite agama di desa Kranji sebagai pimpinan dan anutan masyarakat antara lain karena pada diri mereka mengandung pengertian “wakil” yang dirasakan oleh masyarakat. Kepatuhan masyarakat terhadap elite agama didasarkan atas kesetiaan, kecintaan dan lebih diperkuat lagi dengan norma adat bahwa elite agama adalah pembawa ajaran kebenaran.
Peran elite agama dalam menciptakan keharmonisan masyarakat desa Kranji relatif besar. Komitmen mereka dalam membangun kehidupan yang damai dan sejuk, menunjukkan adanya kemauan yang keras untuk menempatkan perbedaan paham sebagai pondasi dalam merajut kehidupan yang harmonis. Peran yang diartikulasikannya mampu mengkonstruksi suatu formulasi kerukunan sosial yang benar-benar religius, humanis dan pluralis.
87
Demikian pula, untuk menganalisis dampak peran elite agama dalam pembentukan pola kehidupan keagamaan masyarakat desa Kranji, tentu tidak terlepas dari tindakan yang dilakukan elite agama. Dalam hal ini menggunakan teori sistem tindakan sosial (social action) yang dikembangkan oleh Talcott Parsons, meliputi:
1. Sistem Budaya
Dilihat dari tindakan yang dilakukan elite agama di desa Kranji dalam pembentukan pola kehidupan keagamaan masyarakat, tidak terlepas dari budaya yang berlaku. Dalam hal ini, elite agama menjadi penerima pasif. Artinya, sebagaimana gagasan Parsons, bahwa budaya (norma dan nilai) menjadi bagian dari “kesadaran” actor. Akibatnya, dalam mengejar kepentingan mereka sendiri, actorsebenarnya mengabdi pada kepentingan sistem sebagai satu kesatuan.132 Misalnya, sebagaimana diungkapkan oleh KH. Hasan Nawawi, bahwa dari segi interaksi antar masyarakat Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di desa Kranji, keharmonisan yang senantiasa terjaga tidak terlepas dari peran ulama sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, KH. Hasan Nawawi dan beberapa orang petinggi desa Kranji lainnya berkomitmen untuk senantiasa menjaga keharmonisan yang telah tercipta dengan senantiasa merajut tali silaturrahim di antara mereka.133
Terkait hal tersebut, masyarakat desa Kranji secara internal tetap meyakini kebenaran paham keagamaan yang diyakini masing-masing, sementara secara eksternal mereka juga mengakui dan menghargai paham
132
Ritzer,Teori Sosiologi Modern, 125.
133
88
keagamaan kelompok lain. Dengan kata lain, mereka meyakini kebenaran pemahaman keagamaannya dan pada saat yang sama memberikan penghormatan atas kebenaran pemahaman keagamaan kelompok lain atau bersikap bahwa kelompok lain perlu diapresiasi. Selain itu, juga adanya rasa kepemilikan budaya yang sama diantara mereka sebagai budaya warisan leluhur yang sudah turun-temurun, seperti budaya gotong royong dan kepemimpinan akomodatif. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama yang baik antar sesamma masyarakat.
2. Sistem Sosial
Dalam hal ini, tindakan yang dilakukan elite agama di desa Kranji tidak terlepas dari status dan peran sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya.
3. Sistem Kepribadian
Hal ini sebagaimana terdapat dalam argumentasi yang diberikan elite agama di desa Kranji terkait dengan perbedaan paham keagamaan yang ada pada masing-masing kelompok, yang dalam hal ini adalah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sebagaimana pernyataan KH. Hasan Nawawi:
Semua yang diyakini manusia itu baik dan benar bagi masing-masing individu. Begitu pula apa yang saya yakini belum tentu benar dan baik bagi orang lain. Oleh karena itu, tidak ada yang berhak menyalahkan keyakinan seseorang kecuali Allah swt. Kita harus menghargai perbedaan itu. Yang
89
terpenting adalah kita hidup untuk melakukan kebaikan dan saling tolong menolong.134
Begitu juga pendapat KH. Achmad Sjafi’ Ali. Ia menyatakan, bahwa perbedaan “wadah” keagamaan di desa Kranji, menurutnya adalah semata karunia Allah swt. Karena Allah lah yang menciptakan akal sehingga manusia dapat memilih dan memilah apa saja yang terbaik untuk dirinya. Perbedaan adalah rahmat dan harus senantiasa dijaga agar tetap dapat menjadi kekuatan yang menguatkan, bukan malah menjadi kekuatan yang menghancurkan. Oleh karena itu, sebisa mungkin silaturrahim antar “wadah” itu harus senantiasa dijalin. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memberikan uswahatau teladan kepada masyarakat tentang indahnya keharmonisan dengan sikap ramah dan saling menghormati setiap perbedaan yang ada.135
Sikap semacam ini senada dengan gagasan Komaruddin Hidayat tentang pluralisme yang berpandangan bahwa pluralitas dalam beragama dipandang sebagai suatu realitas niscaya yang masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat misionaris atau dakwah dianggap tidak relevan.136 Sejalan dengan itu, Budhy Munawar Rachman berpendapat bahwa pluralitas itu merupakan kenyataan sosiologis yang tidak terbantahkan. Oleh karena itu, untuk mengatur pluralitas diperlukan pluralisme. Hal itu karena, tidak bisa dipungkiri bahwa pluralitas mengandung bibit perpecahan dan permusuhan. Oleh karena itu pula
134
Hasan Nawawi,Wawancara, Kranji, 16 April 2017.
135
Achmad Sjafi’ Ali,Wawancara, Kranji, 15 April 2017.
136
90
dalam konteks pluralitas inilah diperlukan sikap toleran, keterbukaan dan kesetaraan. Pluralisme itu pula yang memungkinkan terjadinya kerukunan, kedamaian dan keharmonisan dalam masyarakat yang pluralis, bukan konflik, permusuhan dan kekerasan.137
4. Sistem Perilaku
Dalam hal ini, tindakan yang dilakukan elite agama di desa Kranji mengerucut pada beberapa gagasan sebagai berikut:
a. Membalas kejahatan dengan kebaikan
Dalam interaksi antar masyarakat, pembinaan yang dikembangkan oleh KH. Achmad Sjafi’ Ali dan KH. Hasan Nawawi adalah dengan “meredam” atau menengahi jika ada perbedaan dan pertentangan yang berakibat pada permusuhan. Karena itu, kedua elite agama ini menyarankan agar setiap orang dapat membalas keburukan yang dilakukan seseorang terhadap diri kita dengan balasan kebaikan. sebagaimana diutarakan oleh Bapak H. Alimin:
Kiyai Sjafi’ karo Kiyai Hasan iku wong apik, sopan, ilmune duwur. Dadi
wong-wong podo seneng takok nang Kiyai Sjafi’ karo Kiyai Hasan. Lek ono sing takok nang Kiyai Sjafi’ karo Kiyai Hasan biasae diwenehi nasihat sing apik-apik, senajan wong liyo jahat karo awak dewe, kudu tetep dibales keapikan138 (Kiyai Sjafi’ dan Kiyai Hasan adalah orang yang baik, sopan dan tinggi ilmunya. Jadi orang-orang
suka bertanya kepada Kiyai Sjafi’ dan Kiyai Hasan. Jika ada yang
bertanya kepada Kiyai Sjafi’ dan Kiyai Hasan biasanya mereka memberikan nasihat yang baik-baik, sekalipun orang lain berbuat jahat kepada kita, tetap harus dibalas dengan kebaikan).”
137
Budhy Munawar Rachman, Argumen Islam untuk Pluralisme (Jakarta: Gramedia, 2010), 6.
138
91
Balasan yang baik atas perbuatan buruk dapat ditemukan argumen historisnya pada kehidupan Rasulullah saw. sebagaimana dalam sejarah Islam, Rasulullah selalu mendapatkan tantangan, gangguan dan permusuhan dari komunitas kafir Quraisy. Namun, dengan teladan yang baik, maka musuh-musuh Islam tersebut sebagian akhirnya tunduk pasrah mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw.139 Islam juga mengajarkan umatnya agar mencintai musuh dan berdoa memohon kebaikan bagi mereka. Oleh karena cinta Tuhan tidak pilih kasih, maka manusia sebaiknya meniru sifat Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, ibarat matahari yang tidak pilih kasih dalam memancarkan cahayanya untuk kehidupan alam semesta. Sebagaimana dalam al-Qur’an, terdapat larangan untuk membunuh, karena pembunuhan adalah perbuatan keji. Manusia yang membunuh manusia lain seakan-akan membunuh umat manusia di muka bumi. Sementara orang yang menanam kebaikan seakan-akan memberikan kebaikan pada semua makhluk hidup.140
Selain itu, sebagaimana pepatah bahasa mengatakan air susu dibalas dengan air tuba, kebaikan yang diberikan dicampakkan dengan keburukan. Baik dan buruk perbuatan manusia pasti mendapatkan balasan bagi yang melakukan. Sama halnya orang yang melakukan, menanam kebajikan juga pasti akan memperoleh manfaat yang luar
139
Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah (Jakarta: Mitra Kerjaya Indonesia, 2010), 102.
140
92
biasa, sebaliknya orang yang menanam keburukan pasti juga memperoleh akibat dari perbuatan dirinya sendiri. Hal ini dikenal dalam ajaran Hindu dengan hukum sebab akibat yang pasti berpengaruh, atau disebut dengan istilah hukum karma pala.141 Oleh karena itu, jika seseorang tidak ingin disakiti orang lain, maka janganlah menyakiti orang lain, sebaliknya perbanyaklah berbuat kebajikan karena itu menjadi kualitas pada diri manusia. Jika seseorang ingin dihargai, maka hargailah orang lain, karena hal itu menunjukkan harga dirinya. Dan jika tidak mau dihina, maka jangan pula menghina orang lain.
b. Bekerja sama dan menjalin silaturrahim
Secara substansial, silaturrahim merupakan langkah yang positif untuk membangun hubungan yang baik dengan siapapun. Karena dalam silaturrahim ada semangat persaudaraan dan keakraban antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula yang senantiasa dikembangkan oleh elite agama di desa Kranji. Dalam wujud kehidupan nyata, dalam pergaulan sehari-hari masyarakat desa Kranji saling mengunjungi, tolong menolong ketika mendapatkan musibah dan kesulitan hidup serta saling memberi motivasi dalam konteks kehidupan dan kemanusiaan. Sebagaimana ungkapan KH. Achmad Sjafi’ Ali, “Saya pun berhubungan baik dengan mereka, begitu pula
141
93
mereka menyambut dengan begitu hangatnya. Karena kita adalah saudara. Dan semoga tidak akan pernah ada yang mengusik persaudaraan kita.”142
Sikap saling menghormati tersebut juga terlihat, misalnya ketika ada acara undangan khitanan, pernikahan, takziyah orang meninggal, menjenguk orang sakit dan berbagai macam hajatan lainnya. Warga masyarakat saling mengundang satu dengan lainnya.
Pengalaman historis interaksi masyarakat di desa Kranji memunculkan local wisdomuntuk mewujudkan pluralitas bersendikan tradisi. Kearifan budaya interaksi komunal ini telah melahirkan adat istiadat yang dilestarikan oleh masyarakat secara turun temurun. Mereka mampu belajar dari sejarah interaksi sosial para pendahulunya dengan tidak menyentuh hal-hal sensitif yang bisa “mengoyak” sendi- sendi dasar kerukunan yang telah terbangun selama ini. Hasil nyata yang bisa dinikmati sekarang adalah masing-masing kultur dan ekspresi religiusitas yang dikembangkan oleh masing-masing kelompok dapat sama-sama hidup dan berkembang. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan antar kelompok yang dapat memicu konflik dapat diminimalisir semaksimal mungkin, sehingga pada gilirannya dapat menumbuhkan konsistensi ke arah saling memahami dan menghargai.
142
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari seluruh pemaparan yang dituangkan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bagian ini penulis memberikan kesimpulan sebagai inti dari seluruh uraian penelitian tentang peran elite agama dalam pembentukan pola kehidupan keagamaan masyarakat desa Kranji Paciran Lamongan. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1. Dengan statusnya sebagai pimpinan dan anutan masyarakat, elite agama di