• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elite NU dalam Budaya Arek; Budaya Campuran

PEMETAAN ELITE NU JAWA TIMUR

D. Tipologi Elite NU Jawa Timur 1. Elite NU Madura

5. Elite NU dalam Budaya Arek; Budaya Campuran

Selain keempat budaya yang membentuk elite NU Jawa Timur, masih terdapat satu budaya lagi, yakni perpaduan antara komunitas mataraman, pesisir, Madura dan pendalungan di berbagai kota di pusaran Jawa Timur, kemudian membentuk subkultur baru yang disebut “Arek”. Dari segi bahasa dan gaya hidup seharí-hari, budaya arek berbeda dan tidak mau disamakan dengan berbagai budaya lain di Jawa Timur. Mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai kelompok masyarakat terbuka, elegan, toleran dan apa adanya (opo ono’e).

Budaya Arek terletak dalam wilayah budaya Jawa Timur berada di sisi timur Kali Brantas. Kawasan budaya Arek meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, dan Malang. Kediri dan Blitar dibatasi oleh Pare ke timur memiliki khazanah budaya Arek.388

Meski tidak bersifat matematis, ke delapan wilayah tersebut-aliran Kali Brantas ke timur- menentukan lahirnya budaya Arek. Surabaya dan Malang menjadi pusat budaya Arek karena memiliki beberapa kesamaan. Bahkan, pemerintahan kolonial Belanda memperlakukan konstruksi arsitekturnya secara sama dalam beberapa hal. Misalnya, bentuk bangunan dan nama daerah. Gresik dan Sidoarjo dapat dikatakan memiliki identitas budaya yang relatif sama dengan Surabaya.389

Sejak abad ke-4 M hingga 9 M, hubungan antar wilayah budaya tersebut sangat dekat karena aliran Kali Brantas lebih lebar dibandingkan ketika memasuki abad ke-10, ke-13 (sebelum letusan Gunung Kelud sekitar 22 kali atau selama 431 tahun) hingga sekarang. Aliran Kali Brantas bisa dilewati puluhan bahkan ratusan perahu maupun gethek-gethek (rakit) besar. Saat itu, Surabaya masih terdiri atas puluhan pulau yang

dikelilingi sungai-sungai besar dan kecil.

Di samping itu, khusus di Surabaya sejak abad ke-9 M, terdapat pula tiga pelabuhan penting. Yakni, Dadoengan (yang terbesar, dekat Wonokromo), Medang (sekarang Kendangsari Industri) dan Koeti (sekarang Kutisari) merupakan pelabuhan yang agak kecil yang berada dalam satu pulau yang bernama Landtong (Belanda: daratan/pulau yang berbentuk lidah). Setelah pemadatan tanah, Surabaya mulai dikenal sebagai pelabuhan yang memiliki potensi ekonomi yang besar di muara Kali Brantas.390

388 Sugeng Adipitoyo, ”Orang Jawa Sub-Etnik Surabaya”, dalam Ayu Sutarto, Setya Yuwana Sudikan, (ed.),

Pemetaan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur;Sebuah Upaya Pencarian Nilai-Nilai Positif (Jember:Biro Mental

Propinsi dan Yayasan Kompyawisda Jatim, 2008), 112.

389 Autar Abdillah, “Perjalanan Panjang Budaya Arek”, Jawa Pos, 30 Oktober 2007

Menurut Akhudiat, budayawan Jawa Timur, budaya “Arek” merupakan hibridasi budaya Majapahit, Islam, Mataram dan Moderen (Belanda). Pengaruh Majapahit terlihat dari penggunaan istilah “Adipati” oleh Sunan Ampel sebagai pemimpin Surabaya, bukan “Raja” sebagaimana dalam istilah Mataram. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada Majapahit. 391 Raden Rahmat atau Sunan Ampel juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Majapahit, lewat bibinya, Darawati, yang dinikahi Prabu Kerta Wijaya. Raden Rahmat mendapat perintah untuk memgamankan kawasan Ampel Denta di pesisir utara Surabaya pada abad 15, dan kemudian mendapat sebutan Sunan Ampel. Sebelum Raden Rahmat, di Surabaya sudah ada pejabat Majapahit yang beragama Islam berpangkat Adipati bernama Arya Lembu Sura di Glaga Arum (Peneleh) pada akhir abad 14 dan dilanjutkan oleh Raden Rahmat sebagai cucu menantunya pada pertengahan abad 15, kemudian dilanjutkan oleh keturunan Sunan Ampel pada abad 17.392

Dalam sejarah Regent Surabaya, para penguasa di Kadipaten Surabaya meliputi: Pangeran Rahmat, Pangeran Tundung Musuh, Pengeran Harya Lena, Pengeran Jabuk, Pangeran Wonokromo, Pengeran Surabaya, Pengeran Sanjaya, dan terakhir Pengeran Pekik. Mereka akhirnya dikalahkan dan digantikan penguasa Mataram dari Surakarta sampai berjumlah sebelas orang yang disebut “Umbul Sewelas”.

Di zaman Islam atau kebudayaan Jawa pesisiran inilah masuknya nilai-nilai Islam atau pembentukan karakter santri dalam budaya Arek dimulai. “Salah satu contoh kalau budaya Arek dipengaruhi budaya santri adalah waktu itu, Bioskop pada tahun 1930 baru bisa main setelah shalat maghrib. Demikian juga ludruk, salah satu kesenian penting dalam budaya Arek”, jelas Akhudiat.393 Nilai-nilai budaya Arek dari pengaruh Majapahit adalah nilai-nilai keagungan/penaklukan yang dianut oleh Majapahit terurai antara lain: adhigang (keunggulan), adhigung (keagungan), adhiguna (superioritas), rajasa (kepantasan), niratisaya (tak tertandingi), jaya (kemenangan) dan nirbaya (tak kenal takut). Budaya tersebut bertemu dengan nilai-nilai santri yang bersumber dari ajaran Islam, berdiri di atas perhormatan dan keseimbangan; kesabaran, keikhlasan, kerendah-hatian, keadilan, guyup, rukun, ridla, kesederhanaan, nrimo,

ngalah, ojo dumeh, dan sebagainya.394

Kontribusi Majapahit dalam penggunaan bahasa salah satu di antaranya adalah bahasa yang tidak memiliki tingkatan yang digunakan dalam wilayah bahasa Arek, yang sesuai dengan semangat egaliter dalam Islam. Misalnya budaya Islam sangat terlihat dalam pelajaran al-Qur’an yang diajarkan di Lembaga Pendidikan al-Qur’an sangat njawani dengan menggunakan huruf pegon Jawa.395

Internalisasi pembentukan karakter santri pada budaya Arek dalam prosesnya nanti melahirkan tokoh-tokoh nasional yang berhasil mengekspresikan nasionalisme yang religius. Di antaranya HOS Tjokroaminoto yang oleh pengikutnya dianggap

391 Akhudiat, Wawancara, 10 Nopember 2008.

392 Akhudiat, Masuk Kampung Keluar Kampung;Surabaya Kilas Balik (Surabaya:Henk Publica, 2008), 115-6.

393 Akhudiat, Wawancara, 10 Nopember 2008.

394 Akhudiat, Masuk Kampung, 117.

sebagai perwujudan Ratu Adil, dan sang orator ini mempunyai murid dan sekaligus menantu, Soekarno. Dokter Soetomo adalah salah satu pendiri Budi Utomo dan di Perkumpulan Surabaya (Pusura) berada di antara teman-teman yang santri, antara lain Kiai Mas Mansyur, H. Husein, H. Nawawi Amin. Kiai Mas Mansyur, Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya kemudian Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Yogyakarta adalah kelahiran Kampung Sawahan Surabaya. Bersama Soekarno, Moh. Hatta dan Ki Hadjar Dewantara merupakan empat serangkai pucuk pimpinan pada masa pendudukan Jepang, dan memprakarsai pendirian Majlis Islam ’Ala Indonesia (MIAI) dan akhirnya menjadi Masyumi. Sementara, Kiai Wahab dan Kiai Hasyim merupakan tokoh penting di balik pendirian NU di Bubutan Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Kedua tokoh ini banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh lain, baik di NU, Muhammadiyah maupun tokoh pergerakan nasional. Internalisasi santri sangat kuat dalam proses pembentukan budaya nasional.

Puncak dari perjuangan Arek melawan penjajah adalah ketika Kiai Hasyim mengumandangkan semangat nasionalisme dan patriotisme melalui resolusi jihad pada tanggal 10 Nopember 1945 dalam berjuang melawan Belanda. Teks tersebut di antaranya berbunyi;

”...Berperang menolak dan melawan penjajah itoe fardloe ain (yang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata atau tidak (bagi orang jang berada dalam djarak 94 km dari tempat dan kedoedoekan moesoeh). Bagi orang-orang yang berada di loear djarak lingkaran tadi, djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalau dikerdjakan sebagian sadja...)”.396

Dengan resolusi tersebut, maka serentak warga NU dengan segala kemampuan untuk melawan penjajah Belanda, yang kemudian hari bersejarah tersebut diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Menurut Akhudiat, batas antara yang ”Arek” dan ”bukan Arek” tergambar di peristiwa tersebut. ”Siapapun yang ikut melawan Belanda pada peristiwa 10 Nopember disebut dengan Arek”.397

Pada era moderen sekarang ini, Surabaya dan kawasan Arek berkembang secara pesat, baik dari sisi jumlah penduduk, perekonomian dan kehidupan sosialnya. Setelah industrialisasi masuk, wilayah ini menjadi menarik bagi pendatang, dan menjadikannya salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jatim. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari gula ekonomi yang tumbuh pesat. Meski luas wilayahnya hanya 17 persen dari keseluruhan luas Jatim, separuh (49 persen) aktivitas ekonomi Jatim ada di kawasan ini.

Budayanya merupakan sentuhan dari aneka kultur baik lokal maupun asing, membentuk komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, terbuka terhadap perubahan, mau mendengarkan saran orang lain, dan

396 Van Bruinessen, NU Relasi, 305.

mempunyai tekad menyelesaikan segala persoalan melalui cara yok opo enake.398 Dari persinggungan beberapa budaya kemudian melahirkan subkultur budaya ”Arek” dengan karakter solidaritas yang tinggi, guyub, demokratis, kerakyatan, dan anti feodalisme.

Masing-masing wilayah yang masuk kawasan Arek juga menguatkan semangat lokalitas yang menandai ciri masing-masing. Orang Surabaya menyebut memiliki karakteristik berbeda yang divisualisasikan lewat bahasa keseharian yang simpel, akrab dan (kadang) dianggap jorok oleh sebagian masyarakat. Meskipun berasal dari daerah lain di Jawa Timur, mereka yang bertempat tinggal menetap di Surabaya kemudian berdaptasi dengan budaya Arek yang cukup kuat lewat bahasa. Mereka yang berasal dari pedesaan (wong ndeso) melebur menjadi orang kota (wong kuto) dengan identitas kearekannya yang mulai mengental.399

Ada beberapa dialek khas yang menjadi penanda budaya Arek Surabaya dengan kawasan lain. Misalnya, Orang Suroboyoan lebih sering menggunakan partikel "rek" sebagai ciri khas mereka. Partikel ini berasal dari kata "arek", yang dalam dialek Surabaya menggantikan kata "bocah" (anak) dalam bahasa Jawa standar. Partikel lain adalah "seh" (e dibaca seperti e dalam kata edan), yang dalam bahasa Indonesia setara dengan partikel "sih". 400

Beberapa kosa kata khas Suroboyoan:

"arek" berarti "anak" (bahasa Jawa standar: bocah); "mari" berarti "selesai"; (bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan "wis mari tah?" yang berarti "sudah selesai kah?". Pengertian ini sangat berbeda dengan "mari" dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur dialek Suroboyoan, "mari" berarti "sembuh";"ladhing" berarti "pisau" (bahasa Jawa standar: peso); "dhukur" berarti "tinggi" (bahasa Jawa standar: dhuwur); "thithik" berarti "sedikit" (bahasa Jawa standar: sithik); "temen" berarti "sangat" (bahasa Jawa standar: banget); "pancet" berarti "tetap sama" ((bahasa Jawa standar: tetep); "iwak" berarti "lauk" (bahasa Jawa standar: lauk, "iwak" yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, "mangan karo iwak tempe", artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe); "mene" <e pertama diucapkan pepet> berarti "nanti" (bahasa Jawa standar: mengko), dan lain-lain.401

Di daerah lain masuk kawasan Arek memiliki ciri khas sebagai penanda identitas kearekannya. Misalnnya, masyarakat Malang yang lebih suka membalik bahasa atau istilah sebagai penguat identitas kelompoknya. Kata ”Ker” dan ”Ngalam” merupakan kebalikan dari kata ”Rek” dan ”Malang”. Melalui Klub Sepak Bola Arema,

398 Tim Litbang Infogue.com, “Kuali Peleburan Tlatah Jawa Timur”, dalam Infogue.com.

399 Wawancara dengan Cak Kadar, Surabaya.net/. 30 Juni 2008.

400 Sugeng Adipitoyo, “Valensi Sintaksis Bahasa Jawa Dialek Surabaya”; Laporan Penelitian (Yakarta:Depdiknas, 2002), 66-71.

401 Sugeng Adipitoyo, :Kedudukan dan Fungís Bahasa Jawa Diales Surabaya”, Majalah Prasasti, Vol. 3 (1992), 34. Lihat pula dalam Kamus Dialek Surabaya, dalam surabayacommunity.com.

istilah-istilah tersebut dipopulerkan dan menjadi penanda yang membedakan dengan Arek Suroboyo atau Arek Jombang.

Sama dengan Surabaya, budaya Arek Malang terbentuk oleh keragaman etnis dan latar belakang yang mendiami kota tersebut, sehingga membuat orang Malang lebih egaliter, terbuka, toleran, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Keterbukaan sikap masyarakat arek semakin terlihat setelah Kota Malang berkembang menjadi kota pendidikan, pariwisata, peristirahatan, dan militer. Pendatang yang berprofesi sebagai pelajar, karyawan, dan pedagang menambah keragaman budaya di wilayah yang dilintasi Sungai Brantas itu. Pendatang dan penduduk asli berbaur dan membentuk komunitas, seperti komunitas budaya, hobi, dan forum diskusi. Dari komunitas-komunitas itu terbentuklah budaya khas arek Malang. 402

BAB V

DISKUSI PARTISIPASI ELITE NU JAWA TIMUR PASCA ORDE BARU