BAB IV PEMBAHASAN
H. Emergency Responses Prosedure
Keadaan darurat adalah suatu keadaan yang dapat mengancam atau menghambat jalannya aktivitas perusahaan. Manajemen puncak perlu menyadari pentingnya perencanaan persiapan keadaan darurat. Dalam prosedur ini perlu adanya indentifikasi dan evaluasi jenis serta skala keadaan darurat yang mungkin dapat terjadi(Syukri Sahap, 1997)
Emergency Responses Prosedur adalah kebijakan dari manajemen untuk menghadapi keadaan darurat dan kedudukan seperti bencana alam, kecelakaan dan kerusuhan. Tujuan dari prosedur ini adalah untuk mencegah kerugian baik berupa materi maupun korban manusia.
Prosedur keadaan darurat yang dilaksanakan di RSUI Kustati adalah :
1. Ditetapkannya juklak koordinasi penanggulangan bencana yaitu prosedur
tindakan jika terjadi keadaan darurat.
2. Penyediaan sarana komunikasi berupa telepon.
3. Ditetapkannya alur pelaporan jika terjadi keadaan darurat.
4. Dipasang petunjuk arah pintu keluar.
5. Disediakan peralatan untuk mengatasi keadaan darurat.
commit to user
Pelaksanaan prosedur tersebut sudah sesuai dengan Permenaker No. Per 05/MEN/1996 tentang SMK3.
I. Limbah Rumah Sakit
Limbah adalah bahan buangan yang pada suatu saat kehadirannya pada suatu saat tidak dikendaki lingkungan karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah mengandung bahan pencemar yang mempunyai sifat racun dan bahaya. Limbah ini dikenal dengan limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya). Bahan ini dirumuskan sebagai bahan yang dalam jumlah relatif kecil tetapi mempunyai potensi pencemar atau merusak lingkungan kehidupan dan sumber daya (Ginting Perdana, 1992)
Limbah rumah sakit adalah semua bahan buangan yang berasal dari rumah sakit yang mengandung mikroorganisme pathogen, bahan kimia beracun dan radioaktif (Kepmen LH, 1995)
Limbah di RSUI Kustati dibedakan menjadi tiga macam yaitu cair, gas dan padat. Limbah tersebut berasal dari seluruh rangkaian kegiatan yang ada di rumah sakit.
Pihak rumah sakit telah berusaha untuk mengelola limbah rumah sakit yang dihasilkan dengan baik. Limbah cair disalurkan melalui saluran tertutup dan dialirkan menuju IPAL untuk diolah dengan menggunakan sistem anaerobik. Hasil pengolahan limbah kemudian diperiksa secara rutin oleh BTKL Yogyakarta setiap enam bulan satu kali.
commit to user
Tabel 10. Hasil pengolahan limbah cair dibandingkan dengan standar
No Parameter Satuan Hasil Kadar
maksimal
Keterangan
1. Suhu OC 28 30 Sesuai Standar
2. BOD mg/L 10,1 30 Sesuai Standar
3. COD mg/L 40 80 Sesuai Standar
4. TSS mg/L 36 30 Tidak Sesuai
Standar
5. Detergen mg/L 0,5258 - -
6. Phenol mg/L 5,5751 0.52 Tidak Sesuai
Standar
7. Ph - 7,8 6-9 Sesuai Standar
(Sumber : Dokumen rumah sakit)
Limbah padat yang dihasilkan terdiri atas dua jenis, yaitu limbah padat medis dan limbah padat non medis. Untuk masing-masing jenis limbah telah dikelola dengan cara terpisah untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang dan untuk mempermudah pengelolaan. Untuk masing-masing jenis limbah dikelola melalui empat tahapan proses yaitu tahap pemisahan, penampungan, pengangkutan dan pengolahan.
Pada tahap pemisahan limbah padat dipisahkan sesuai dengan jenisnya masing-masing yaitu antara limbah padat medis dan non medis. Selanjutnya limbah padat akan ditampung dalam tempat sampah yang dilapisi plastik warna merah untuk limbah medis dan plastik hitam untuk limbah non medis. Untuk selanjutnya limbah padat tersebut diangkut dengan troly kemudian dengan gerobak setelah dipindahkan dalam kontainer. Pada tahap akhir limbah padat
commit to user
medis dibakar dalam incenerator dan limbah padat non medis langsung dibuang di TPS Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta.
Untuk gas yang dihasilkan disalurkan secara langsung ke udara bebas
malalui exhause fan. Dengan adanya sistem tersebut limbah gas yang dihasilkan
tidak mengganggu masyarakat rumah sakit dan masyarakat sekitar rumah sakit. Dengan adanya sistem pengelolaan limbah di RSUI Kustati, maka hal ini berarti belum sesuai dengan Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004
tentang Penanganan Sampah Rumah Sakit dan Permenkes No.
986/Menkes/PER/XI/1992 pasal 6 tentang Upaya Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
J. Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
Penyehatan lingkungan rumah sakit adalah segala upaya untuk menyehatkan dan memelihara lingkungan rumah sakit dan pengaruhnya bagi manusia (Permenkes, 1992)
Menurut Permenkes No. 986 tahun 1992 upaya penyehatan lingkungan rumah sakit meliputi :
1. Penyehatan bangunan dan ruang termasuk pencahayaan, penghawaan dan
kebisingan
2. Penyehatan makanan dan minuman.
3. Penyehatan air termasuk kualitasnya.
4. Penanganan sampah dan limbah.
commit to user
6. Pengendalian serangga dan tikus.
7. Sterilisasi dan desinfektan.
8. Perlindungan radiasi.
9. Penyuluhan kesehatan lingkungan.
Upaya penyehatan lingkungan rumah sakit yang telah dilaksanakan di RSUI Kustati adalah :
1. Pengendalian Binatang Pengganggu
Pihak rumah sakit telah mrngadakan upaya-upaya untuk mengendalikan binatang pengganggu yang ada. Usaha tersebut meliputi penyemprotan, pemasangan ram nyamuk, menjaga kebersihan ruangan, pengurasan bak air dan lain-lain. Usaha yang dilakukan selama ini sudah cukup efektif dan sudah banyak mengurangi populasi binatang pengganggu yang ada.
Prosedur pengendalian binatang pengganggu tersebut berarti sudah sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Pengendalian Binatang Penggangu(tikus dan serangga)
2. Sterilisasi Ruang dan Bangunan
Upaya yang telah dilaksanakan untuk membebashamakan objek dari kontaminasi pathogen di RSUI Kustati adalah dengan cara sterilsasi ruang dan peralatan. Sterilsasi peralatan dilakukan terhadap peralatan medis khususnya peralatan yang digunakan dalam kegiatan operasi. Sterilsasi dilaksanakan dengan
menggunakan autoclave pada suhu sekitar 120OC. Sterilisasi ruang dilaksanakan
untuk membebashamakan ruang dari adanya kuman pathogen. Sterilisasi ini dilaksanakan dengan alat UV Lime selama dua jam.
commit to user
Prosedur sterilsasi di RSUI Kustati terhadap instrumen telah sesuai dengan Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 bagian VIII tentang Sterilisasi 3. Penyehatan Air Minum dan Air Bersih
Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air minum sesuai dengan Permenkes No.416 tahun 1990 dan langsung dapat langsung diminum. Sedangkan air bersih adalah air yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan Permenkes No.416 tahun 1990 dan dapat diminum jika sudah dimasak(Kepmenkes RI No.1204/MENKES/X/2004)
Pihak rumah sakit telah mengadakan upaya-upaya untuk menjaga kualitas air yang digunakan agar kualitasnya memenuhi standar. Adapun usaha yang telah
dilakukan adalah klorinasi, pengurasan penampungan air. dan
destilasi(penyulingan)Untuk mengetahui kualitas air yang digunakan maka diadakan pemeriksaan terhadap air yang digunakan dengan jadwal 6 bulan satu kali. Akan tetapi program ini belum berjalan dengan rutin.
Prosedur terhadap penyehatan air bersih dan air minum di RSUI Kustati Surakarta belum semuanya sesuai denan peraturan yang ada yaitu Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 bagian III tentang Tata Cara Penyehatan Air Rumah Sakit.
4. Pembersihan Ruangan dan Bangunan
Pembersihan ruang dan bangunan sudah dilaksanakan dengan rutin. Kegiatan pembersihan ini meliputi kegiatan pengepelan dengan desinfektan,
commit to user
penyapuan, pembersihan kaca, plafon, pengurasan WC dan kamar mandi. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas yang telah dijadwal dengan baik.
Prosedur pembersihan terhadap ruang dan bangunan di RSUI Kustati Surakarta sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Pemeliharaan Ruang dan Bangunan Rumah Sakit.
5. Pengelolan Linen
Pihak rumah sakit telah mengadakan usaha untuk mengelola linen yang dihasilkan. Linen yang ada dikelola secara terpisah antara linen infeksius dan non infeksius. Pada tahap pencucian linen digunakan bahan kimia seperti kaporit,
sabun, rizol dan H2O2. Setelah dicuci linen dijemur dan disetrika sebelum
didistribusikan.
Prosedur penyehatan lingkungan rumah sakit di RSUI Kustati Surakarta
sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Kepmenkes RI
No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit.
K. Konstruksi Bangunan
Konstruksi bangunan di RSUI Kustati sudah diupayakan agar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Untuk ukuran beberapa meja kerja dan pemasangan saklar listrik ada yang kurang sesuai dengan peraturan. Hal ini karena adanya penyesuaian dengan ukuran antropometris tenaga kerja di unit terkait.
commit to user
Prosedur tentang konstruksi bangunan di RSUI Kustati Surakarta sudah
sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Kepmenkes RI
No.1204/MENKES/SK/X/2004 Lampiran I bagian C poin I tentang Tata Laksana Pemeliharaan Konstruksi Bangunan Rumah Sakit
commit to user BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Faktor dan Potensi Bahaya
Faktor bahaya yang ada di RSUI Kustati meliputi faktor kebisingan, penerangan, suhu dan kelembaban, radiasi, bahan kimia dan kontaminasi dengan mikroorganisme pathogen. Pihak rumah sakit mengadakan upaya-upaya untuk menanggulangi faktor bahaya yang ada.
Kebisingan, penerangan dan kelembaban sebagaian sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku dan sebagaian masih kurang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Potensi bahaya yang ada adalah kebakaran dan kecelakaan kerja. Pihak rumah sakit juga sudah mengadakan upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja di rumah sakit.
2. SMK3
Di RSUI Kustati sudah menerapkan SMK3. Hal ini ditetapkan oleh Direktur RSUI Kustati dalam bentuk kebijakan tentang penerapan pelayanan keselamatan kerja, kebakaran dan kewaspadaan bencana. Selain itu juga ditetapkan protap-protap pelaksanaan K3RS, tersedianya SDM (PK3RS dan ahli K3), sarana dan fasilitas, program kerja, evaluasi dan pengendalian mutu.
commit to user
Hal ini sudah sesuai dengan Kepmen No.Kep05/MEN/1996 tentang SMK3 dan UU No 13 Tahun 2003 pasal 87 ayat 1 tentang Kewajiban Pengurus Menerapkan SMK3 yang terintegrasi dalam manajemen perusahaan secara keseluruhan dan Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 Lampiran II tentang Kualitas Tenaga Dibidang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
3. PK3RS
Di RSUI Kustati sudah terbentuk badan PK3RS, akan tetapi untuk saat ini kepengurusan PK3RS kurang berjalan dengan optimal. Hal ini karena ketua PK3RS sedang menempuh pendidikan.
4. Pelayanan Kesehatan Kerja
Pelayanan kesehatan yang ada adalah berupa pemeriksaan awal, berkala dan khusus. Prosedur ini sudah sesuai dengan Permenaker No.Per 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan kerja.
Pihak rumah sakit belum menyediakan poliklinik khusus tenaga kerja. Tenaga kerja yang sakit akan diperiksa oleh dokter yang sedang jaga di klinik pasien dan akan mendapatkan obat secara gratis. Hal ini kurang sesuai dengan Permenkertran No. Per 01/MEN/1976 tentang Dokter Perusahaan.
Bentuk pelayanan yang lain adalah dengan mengikutsertakan seluruh karyawan rumah sakit kedalam program JAMSOSTEK. Prosedur ini sudah sesuia dengan UU No.3 tahun 1992 tentang JAMSOSTEK.
commit to user
Prosedur pelayanan kesehatan di RSUI Kustati sudah sesuai denan Permen No. Per 03/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
5. Pelayanan Gizi Rumah Sakit
Pelayanan gizi di RSUI Kustati terdiri dari pelayanan gizi terhadap tenaga kerja dan pasien rumah sakit. Untuk menjaga kualitas makanan dan minuman yang disajikan maka telah diadakan penyehatan terhadap makanan dan minuman yang disajikan. Prosedur sudah sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Penyehatan Makanan dan Minuman.
6. Ergonomi
Pihak rumah sakit telah mengadakan upaya untuk menyerasikan hubungan antara alat kerja, tenaga kerja, lingkungan kerja dan proses kerja. Usaha yang telah dilaksanakan adalah dengan pembagian shift kerja, penyesuaian alat kerja dan protap prosedur kerja yang eronomis.
7. Keselamatan Kerja
Usaha keselamatan kerja yang telah dilaksanakan adalah denan menyediakan APD bagi tenaga kerja, penyediaan tangga sebagai jalur menyelamatkan diri dan penyediaan alat keselamatan bagi pasien. Tingkat kepatuhan tenaga kerja untuk selalu memakai APD saat bekerja masih perlu
commit to user
ditingkatkan. Prosedur tersebut sudah sesuai dengan UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
8. Limbah
Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat, cair dan gas. Telah ada upaya dari pihak rumah sakit untuk mengelola limbah rumah sakit yang dihasilkan.
Prosedur pengelolaan limbah di RSUI Kustati sudah sesuai dengan Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Sakit
9. Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
Usaha penyehatan lingkungan rumah sakit yang telah dilaksanakan adalah pengendalian binatang pengganggu, sterilisasi ruang dan peralatan medis, penyehatan air dan pengelolan linen. Untuk program pemeriksaan kualitas air belum dapat dilaksanakan secara rutin.
10.Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
Usaha penyehatan lingkungan rumah sakit yang telah dilaksanakan adalah pengendalian binatang pengganggu, sterilisasi ruang dan peralatan medis, penyehatan air dan pengelolan linen. Untuk program pemeriksaan kualitas air belum dapat dilaksanakan secara rutin.
commit to user
Prosedur tersebut belum sesuai dengan Kepmenkes RI
No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
11.Konstruksi Bangunan
Konstruksi bangunan di RSUI Kustati sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu Kepmenkes RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Konstruksi Bangunan Rumah Sakit.
B. Saran
Setelah mengadakan penelitian tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja serta sanitasi di RSUI Kustati Surakarta, penulis bermaksud memberikan saran kepada pihak rumah sakit khususnya bagian K3RS. Saran tersebut dapat digunakan sebagai bahan masukan dan perimbangan meningkatkan pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit tersebut.
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah :
a. Hendaknya pihak K3RS mengadakan peningkatan dalam upaya menurunkan
intensitas kebisingan di rumah sakit tersebut dengan pemberian barier atau pengahalang dapat berupa tumbuhan yang ditaruh dipot
b. Hendaknya pihak K3RS mengadakan peningkatan dalam upaya meningkatkan
intensitas penerangan di tempat kerja dengan penambahan lampu jenis TL.
c. Hendaknya pihak rumah sakit mengaktifkan kembali peran PK3RS dalam
commit to user
d. Hendaknya pihak rumah sakit menyediakan poliklinik khusus karyawan
dengan seorang dokter yang bersertifikat K3.
e. Hendaknya pihak K3RS mengadakan peningkatan dalam upaya penyuluhan
tentang pemakaian APD bagi karyawan dan dapat pula dilaksanakan dengan cara yang lain, sehingga kepatuhan karyawan terhadap pemakaian APD cukup baik.
f. Hendaknya pihak rumah sakit mengadakan pengurasan terhadap IPAL,