BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian Kuantitatif
1. Emotional Abuse
yang lebih bersifat psikologis dibandingkan bersifat fisik, walaupun pasangan tidak memiliki kontrol kemungkinan terjadinya emotional abuse tetap ada.
Emotional abuse pada hubungan pacaran adalah tingkah laku non fisik atau sikap yang dilakukan pelaku untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan orang lain. Pelaku emotional abuse sering kali tidak bermaksud dan tidak menyadari akan tingkah lakunya yang menyakiti pasanganya (Engel, 2002). Di sisi lain menurut Murray (2007), emotional abuse dalam berpacaran yaitu tipe kekerasan berfokus pada kontrol dan kekuatan yang paling merusak, yang dapat memicu timbulnya kekerasan fisik dan seksual. Pelaku emotional abuse sering kali tidak bermaksud dan tidak menyadari akan tingkah lakunya yang menyakiti pasanganya.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah tingkah laku non fisik atau sikap yang dilakukan pelaku untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan orang lain.dengan tujuan untuk mengontrol diri korban.
2. Faktor emotional abuse pada hubungan berpacaran
Engel (2002) menyatakan ada dua faktor yang mempengaruhi emotional abuse dalam hubungan berpacaran yaitu:
a. Pola asuh dari orang tua
Hampir setiap orang yang secara emosional kasar memiliki sejarah pola pengasuhan yang salah di masa kecil dan seseorang yang dibesarkan di rumah tangga atau lingkungan kasar akan menjadi menjadi orang yang memiliki emotional abuse secara tidak sadar (Engel, 2002).
b. Pengalaman masa lalu yang sebelumnya pernah menjadi korban kekerasan Murray (2007) juga menambahkan faktor yang mempengaruhi emotional abuse dalam berpacaran yaitu peran orang tua karena sebagai contoh dalam mendidik harus mampu berpikir objektif untuk mengetahui kebutuhan akan kata-kata dan perilaku yang diperlukan oleh anak karena dapat menjadi salah satu faktor yang membentuk karakteristik anak.
3. Aspek-Aspek Emotional Abuse pada hubungan berpacaran
Aspek emotional abuse yang dialami oleh pasangan yang menjalin hubungan berpacaran (Engel, 2002), yaitu:
a. Dominasi
Usaha untuk mengontrol tingkah laku orang lain. Perilaku dominasi termasuk memantau waktu dan aktivitas pasangan, membatasi sumber daya (keuangan, telepon), membatasi kegiatan sosial, mengisolasi pasangan dari keluarga atau teman-temannya, mengganggu peluang (pekerjaan, pendidikan, perawatan medis), kecemburuan berlebihan dan posesif, melempar benda, mengancam untuk menyakiti pasangan atau anak pasangan, keluarga, teman, hewan peliharaan, atau properti,menyalahgunakan anak-anak pasangan, orang
tua, atau hewan peliharaan di depannya dan memaksa atau memaksa pasangan untuk melakukan aktivitas ilegal.
b. Serangan verbal (Verbal Assaults)
Serangan verbal mencakup kata-kata yang mengecilkan, merendahkan, mengkritik, mempermalukan, mengejek, mengancam, menanyakan terus menerus, memarahi, menyalahkan menggunakan kata-kata kasar atau mengekspresikan kebencian.Pelecehan semacam ini sangat merusak selfesteem seseorang dan citra diri. Sama seperti kekerasan fisik yang menyerang tubuh, pelecehan verbal menyerang pikiran dan jiwa, menyebabkan luka yang sangat sulit untuk disembuhkan.
c. Pengharapan yang salah (Abusive expectation):
Mendapatkan tuntutan yang tidak masuk akal dari pasangan.Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi oleh pasangan, karena pelaku tidak pernah puas dengan apapun yang dilakukanya.Seperti menuntut seks terus-menerus, atau meminta pasangan untuk menghabiskan seluruh waktunya dengan anda.
d. Pemerasan emosi (emotional blackmail)
Pelaku secara sadar atau tidak memaksa pasanganya untuk mengikuti kehendaknya dengan memanipulasi ketakutan, rasa bersalah atau kasih sayang dari pasanganya tersebut. Pemerasan emosional mencakup satu pasangan yang mengancam untuk mengakhiri sebuah hubungan jika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dan satu pasangan menolak atau menjauhkan diri dari pasangannya sampai dia menyerah pada tuntutannya.
e. Respon tidak terduga
Perubahan suasana hati yang cepat dan drastis, ledakan emosi secara tiba-tiba tanpa ada sebab yang jelas, dan respon yang tidak konsisten untuk stimulus yang sama.
f. Selalu ingin menciptakan konflik atau krisis
Sengaja selalu memulai pertengkaran, selalu bermasalah dengan orang lain, senang berada dalam situasi „drama‟, dan senang dalam membuat kekacauan.
g. Pembunuhan karakter
Membesar-besarkan kesalahan, mengkritk dan mempermalukan pasangan di depan orang lain, mengecilkan prestasi pasangan. Perilaku ini dapat menyebabkan merusak reputasi pribadi dan profesional seseorang, menyebabkan mereka kehilangan teman, pekerjaan, atau bahkan keluarga mereka
h. Gaslighting
Pelaku menggunakan berbagai cara untuk membuat pasanganya meragukan presepsi, ingatan dan kewarasanya sendiri.atausebagai cara untuk membenarkan perilaku mereka yang tidak pantas, kejam, atau kasar.
i. Pelecehan seksual
Pendekatan secara seksual yang dapat diterima, tingkah laku yang tidak diharapkan atau tidak dapat diterima; misalnya memaksa berhubungan seksual, menyentuh bagian-bagian tubuh dengan kasar atau tidak sopan.
4. Dampak Emotional Abuse pada hubungan berpacaran
Perasaan yang timbul dalam diri orang yang terlibat dalam melakukan emotional abuse adalah ketakutan, kemarahan, rasa bersalah dan rasa malu. Selain itu dampak psikologis yang akan dirasakan yaitu rasa cemas, takut yang berlebihan dan labilnya emosi (Engel, 2002).
Dampak emotional abuse yang dialami oleh korban adalah depresi, berkurangnya motivasi, kebingungan, kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan, rendahnya kepercayaan diri, perasaan gagal atau tidak berarti, keputusasaan, menyalahkan diri sendiri dan mengacuhkan diri sendiri (Engel, 2002).
C. Dewasa Awal
1. Pengertian Dewasa Awal
Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. Saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif Hurlock (1980). Orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dewasa lainnya. Menurut Hurlock (1980) masa dewasa adalah masa pencarian yang penuh dengan masalah dan ketegangan emotional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru.
Selain itu, masa dewasa awal merupakan masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang menyisakan sedikit waktu untuk hal lainnya (Santrock, 2002).
2. Ciri-ciri Masa Dewasa Awal
Hurlock (1980) menguraikan secara ringkas ciri-ciri dewasa yang menonjol dalam masa-masa dewasa awal sebagi berikut :
a. Masa dewasa dini sebagai masa pengaturan
Masa dewasa awal merupakan masa pengaturan. Pada masa ini individu menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa. Yang berarti seorang pria mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditangani sebagai kariernya, dan wanita diharapkan mulai menerima tanggung jawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
b. Masa dewasa dini sebagai usia repoduktif
Orang tua merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orang tua pada waktu saat ia berusia dua puluhan atau pada awal tiga puluhan.
c. Masa dewasa dini sebagai masa bermasalah
Dalam tahun tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang. Masalah-masalah baru ini dari segi utamanya berbeda dengan dari masalah-masalah yang sudah dialami sebelumnya.
d. Masa dewasa dini sebagai masa ketegangan emosional
Pada usia ini kebanyakan individu sudah mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi secara baik sehingga menjadi stabil dan lebih tenang.
e. Masa dewasa dini sebagai masa keterasingan sosial
Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karir, sehingga keramahtamahan masa remaja diganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa.
f. Masa dewasa dini sebagai masa komitmen
Setelah menjadi orang dewasa, individu akan mengalami perubahan, dimana mereka akan memiliki tanggung jawab sendiri dan memiliki komitmen-komitmen sendiri.
g. Masa dewasa dini sering merupakan masa ketergantungan
Meskipun telah mencapai status dewasa, banyak individu yang masih tergantung pada orang-orang tertentu dalam jangka waktu yang berbeda-beda.Ketergantungan ini mungkin pada orang tua yang membiayai pendidikan.
h. Masa dewasa dini sebagai masa perubahan nilai
Perubahan karena adanya pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dan nilai-nilai itu dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Perubahan nilai ini disebabkan karena beberapa alasan yaitu individu ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, individu menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan dan perilaku.
i. Masa dewasa dini masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru.
Masa ini individu banyak mengalami perubahan dimana gaya hidup baru paling menonjol dibidang perkawinan dan peran orangtua.
j. Masa dewasa dini sebagai masa kreatif
Orang yang dewasa tidak terikat lagi oleh ketentuan dan aturan orang tua maupun guru-gurunya sehingga terbebas dari belenggu dan bebas untuk berbuat apa yang mereka inginkan. Bentuk kreatifitas ini tergantun dengan minat dan kemampuan individual.
D. Emotional abuse pada dewasa awal yang berpacaran ditinjau dari pola asuh orang tua.
Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru (Hurlock, 1980). Biasanya masa dewasa awal merupakan waktu perubahaan dramatis dalam relasi personal ketika orang-orang membentuk, menegoisasikan kembali atau mempererat ikatan yang didasarkan pada pertemanan, cinta dan seksualitas (Papalia, 2011). Dewasa awal mencari keintiman emosional dan fisik kepada teman sebaya atau pasangan romantis. Pasangan romantis atau yang biasa disebut pacaran merupakan awal hubungan yang dijalin para dewasa awal. Mereka berpacaran sering dengan lebih satu orang dan berganti-ganti pacar untuk menentukan pasangan hidup yang dirasanya cocok baginya (Hurlock, 1980).
Pasangan yang berhasil memperoleh cinta dari pasangan akan menghasilkan kesenangan dan kenyamanan. Namun, tidak semua dewasa awal berhasil dalam menjalin baik dalam hubungan pacaran. Pasangan yang gagal menjalin hubungan biasanya akan menimbulkan permasalahan contohnya adanya tindakan kekerasan (Benokraitis, 1996). Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2018 Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa ada 1.873 kasus kekerasan dalam pacaran. The National Clearinghouse on Family Violence and Dating Violence (2006) mengemukakan kekerasan dalam pacaran adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukankepada pasangan, sewaktu berpacaran. Studi menunjukkan bahwa kekerasan dalam berpacaran dapat terjadi pada siapa saja, tanpa memandang usia, ras, orientasi seksual, status sosio-ekonomi atau lokasi tempat tinggal. Hal itu terjadi pada hubungan remaja dan dewasa.
Bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran yaitu emotional abuse, kekerasan fisik dan kekerasan seksual (Murray, 2007). Sebelum terjadinya kekerasan fisik dan seksual dalam suatu hubungan, sering kali diawali terlebih dahulu oleh emotional abuse (Murray, 2007). Hal ini merupakan proses terjadinya kekerasandan bentuk kekerasan yang paling sering dijumpai adalah emotional abuse (Dinastuti, 2008). Emotional abuse merupakan suatu bentuk kekerasan yang menyelinap dimasyarakat yang bila dibiarkan akan menjadi kekerasan fisik (Engel, 2002). Menurut Engel (2002) emotional abuse adalah tingkah laku non fisik atau sikap yang dilakukan untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan orang lain.
Emotional abuse ini sendiri memiliki dampak bagi pelaku dan korbannya.
Dampak yang akan di alami pelaku emotional abuse adalah ketakutan, merasa bersalah dan malu (Engel, 2002). Hal ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan Noviolieta (2015), dampak psikologis yang dirasakan pelaku emotional abuse yaitu perasaan bersalah, malu takut dan menyesal. Selain itu, Kelly (2009)
takut, merasa inferior dan menyalahkan diri sendiri. Dampak emotional abuse bagi korbanya yaitu ketakutan, depresi, isolasi, penarikan diri, perasaan ditinggalkan dan tidak berdaya, perilaku yang terlalu patuh / tunduk, dan penghinaan (Tomison & Tucci, 1997). Hasil dari penelitian Safitri (2013) mengatakan dampak psikologis korbanya yaitu strees, depresi, kecemasaan, sulit berkonsentrasi menunjukan perilaku bunuh diri dan memiliki masalah tidur. Jika emotional abuse ini berlangung lama akan mengakibatkan kekerasan fisik. Hal ini karena emotional abuse merupakan langkah awal sebelum terjadinya kekerasan fisik dan kekerasan seksual (Murray, 2007).
Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan emotional abuse dalam hubungan pacaran adalah pola asuh orang tua (Engel, 2002). Hampir setiap orang yang menjadi kasar secara emosional memiliki riwayat penganiayaan di masa kecil (Murray, 2007). Hal ini juga dikatakan oleh Engel (2002) bahwa seseorang yang dibesarkan di rumah tangga atau lingkungan kasar akan menjadi orang yang memiliki emotional abuse secara tidak sadar. Dalam penelitian Cathy Spatz Wodom (1989) menyatakan “kekerasan menciptakan kekerasan”.
Menyasikan atau mengalami pelecehan dan kekerasan meningkatkan kemungkinan bahwa seseorang anak akan menjadi dewasa yang kejam. Hal ini juga di dukung dalam penelitian Kathryn (1995) pria di perguruan tinggi yang menyaksikan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga pada usia dini sering mulai menunjukkan kecenderungan kekerasan selama pacaran. Kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh orang tua kita terhadap kita. Misalnya, terkadang
kita secara sadar menyingkir mencari pasangan yang berlawanan dengan orang tua kita (Murray, 2007).
Ada 3 jenis pola asuh orang tua yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan permisif. Gaya pengasuhan ini memiliki dampak masing-masing terhadap perkembangan anakknya kelak Baumrind (dalam papalia 2008). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ogi (2013) yaitu pola asuh otoritarian dan permisif memiliki kontribusi dalam peningkatan kecenderungan melakukan kekerasan sebesar 30,8% dan 20,2%, sedangkan pola asuh otoritatif berkontribusi dalam penurunan kecenderungan kekerasan sebesar 15,1%. Selain itu, dalalm penelitian Vivi (2011) terdapat hubungan pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran, semakin besar pola asuh otoriter semakin besar pula perilaku emotional abusenya. Hal ini juga sama dinyatakan dalam penelitian Sally dan Claudio (2010) yang mengatakan bahwa anak yang melakukan emotional abuse berasal dari gaya pengasuhan otoriter dan gaya permisif. Anak-anak yang melakukan emotional abuse dapat dilihat dari bagaimana orang tua mereka memberikan asuhanya. Hal ini yang menunjukan kemungkinan adanya perbedaan emotional abuse pada dewasa awal yang berpacaran ditinjau dari pola asuh orang tua.
E. Hipotesa Penelitian
Maka hipotesa dari penelitian ini adalah ada perbedaan emotional abuse pada dewasa awal yang berpacaran ditinjau dari pola asuh orang tua.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Kuantitatif
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif dalam penelitian ini akan menggunakan teknik statistik komparasi. Penelitian komparasi adalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda (Sugiono, 2012). Fokus dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan emotional abuse pada dewasa awal yang berpacaran ditinjau dari pola asuh orang tua.
B. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006). Identifikasi penelitian perlu dilakukan untuk dapat mengenal fungsi dan peran masing-masing dari variabel penelitian.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel Bebas: Pola Asuh Orang Tua b. Variabel tergantung: emosional abuse C. Definisi Operasional Variabel 1. Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua adalah suatu bentuk interaksi yang dilakukan oleh orang tua ke anak dalam mengontrol, membimbing dan mendampingi anak-anaknya
untuk melaksanakan tugas-tugas perkembanganya menuju pada proses pendewasaan. Pola asuh akan di ukur dengan skala yang disusun berdasarkan dimensi yang ada di pola asuh yaitu responsiveness/ kehangatan dan kontrol.
Hasil skor dari skala ini adalah tinggi pada kontrol tetapi rendah pada aspek kehangatan individu memiliki pola asuh otoriter. Individu dengan skor tinggi pada kontrol dan kehangatan memiliki pola asuh demokratis. Sedangkan individu dengan skor kontrol rendah tetapi memiliki kehangatan yang tinggi memiliki pola asuh permisif.
2. Emotional abuse
Emotional abuse adalah tingkah laku non fisik atau sikap yang dilakukan pelaku untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan orang lain. Emotional abuse akan di ukur menggunakan skala yang di susun berdasarkan aspek-aspek yaitu dominasi, serangan verbal, pembunuhan karakter, gaslighthing dan pelecehan seksual. Skor yang tinggi pada skala ini menunjukan bahwa individu memiliki emotional abuse yang tinggi. sedangkan skor yang rendah pada skala ini maka individu tersebut memiliki emotional abuse yang rendah.
3. Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel Penelitian 1. Populasi dan sampel
Populasi adalah kelompok subjek yang akan dikenai generalisasi hasil penelitian (Azwar,2011). Populasi dibatasi oleh sejumlah subjek dengan
penelitian ini adalah dewasa awal yang sedang menjalani hubungan berpacaran.
Mengingat keterbatasan peneliti bahwa terdapat kemungkinan peneliti tidak bisa menjangkau seluruh populasi maka peneliti hanya meneliti sebagian dari populasi yang disebut sebagai sampel. Karakteristik populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Berusia 19-25 tahun, usia berdasarkan dari jumlah kasus yang terjadi di Indonesia
b. Sedang berpacaran/ menjalin hubungan
Menurut Roscoe (dalam Sugiyono, 2011) ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian. Oleh karena itu, sampel dalam penelitian ini adalah dewasa awal yang berpacaran sebanyak 150 orang.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunkan yaitu nonprobability sampling. Nonprobability sampling adalah accidental sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kebetulan bertemu dengan kataristik sampel yang memungkinkan bila orang yang ditemui dipandang cocok dan memenuhi kriteria sebagai sumber data.
1. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu kegiatan dalam penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan fakta mengenai variabel yang diteliti Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala.Skala
adalah teknik pengumpulan data melalui tulisan – tulisan tentang pertanyaan atau pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel tertentu (Azwar, 2012).
Dalam penelitian ini, digunakan dua buah skala yaitu skala Emotional Abusedan skala pola asuh orang tua.
1. Skala Emotional Abuse
Skala akan dikembangkan berdasarkan teori Engel (2002) yang terdiri dari sembilan aspek yaitu dominasi, serangan verbal, pengharapan yang salah, pemerasan emosi, respon tidak terduga, selalu ingin menciptakan konflik atau krisis, pembunuhan karakter, Gaslighting dan pelecehan seksual.Setiap indikator perilaku dari variabel emotional abus akan diuraikan dalam sejumlah pernyataan favorable dan unfavorable.
Pernyataan favorable adalah pernyataan positif yang mendukung objek sikap yang diungkap, sedangkan pernyataan unfavorable merupakan pernyataan negatif yang tidak mendukung objek sikap yang hendak diungkap (Azwar, 2012).Table blue print berdasarkan teori Engel (2002).
Table 1.Blue Print Skala Perilaku Emotional abuse
No Aspek Indikator Perilaku Favorable Unfavorab le
masuk akal
Emosi secara tiba-tiba tanpa ada sebab
Model skala yang digunakan menggunakan skala likert.Pada model skala likert dengan empat alternatif jawaban yaitu sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), setuju (S), dan sangat setuju (SS).Skor yang tersedia adalah 1 sampai 4 untuk setiap jawaban yang diberikan subjek.Masing – masing pilihan jawaban memiliki bobot skor yang berbeda tergantung dari jenis pernyataan favorable atau unfavorable. Jika pernyataan favorable maka bobot penilaian untuk sangat tidak
setuju (STS) = 1, tidak setuju (TS) = 2,setuju (S) = 3, sangat setuju (SS) = 4, sedangkan pernyataan unfavorable maka bobot penilaian untuk sangat tidak setuju (STS) = 4, tidak setuju (TS) = 3, setuju (S) = 2, sangat setuju (SS) = 1,
Skor total sbjek adalah jumlah dari total skor. Tingginya skor yang diperoleh oleh subjek menunjukan tingginya emotional abuse yang dimiliki subjek. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang di peroleh subjek maka tingkat emotional abuse subjek tergolong rendah. Total keseluruhan aitem emotional abuse sebelum di uji adalah 45 aitem.
2. Skala Pola Asuh
Skala akan dikembangkan berdarkan teori Baumrind (1987) yang terdiri dari 2 dimensi pola asuh yaitu kehangatan dan kontrol. Setiap indikator perilaku dari variabel pola asuh orang tua akan diuraikan dalam sejumlah pernyataan favorable.
Pernyataan favorable adalah pernyataan positif yang mendukung objek sikap yang diungkap (Azwar, 2012). Setiap dimensi akan diwakilkan oleh 15 aitem, sehingga total aitem yang ada sebanyak 30 aitem. Dari 30 aitem ini responden akan diminta untuk menetukan pilihan yang termasuk kedalam perilaku yang mereka terima dari perlakuan orang tuanya.
Table 2.Blue Print Skala Pola Asuh
No. Aspek Indicator Perilaku Favorable Jumlah
aitem
Memberikan kasih sayang dan pujian kepada anak
Sensitif dengan emosi anak
6,7,8,9,10,12
Membuat aturan yang harus dipenuhi anak
Model skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala tipe tertutup/pengskalaan subjek. Dalam kuesioner tertutup responden tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan di dalam kuesioner dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban yang spesifik.Model kuesionertertutup dengan tiga alternatif jawaban yaitu A,B,C. Skor yang tersedia adalah 1 untuk setiap jawaban yang diberikan subjek dan 0 untuk jawaban yang kosong. Masing – masing pilihan jawaban memiliki bobot yang sama. Skor total subjek adalah jumlah dari total skor yang telah dipilih subjek.
3. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Penelitian 1. Validitas Alat Ukur Penelitian
Menurut Sugiyono (2008), validitas mengacu pada sejauh mana suatu alat tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas alat ukur yang
dipakai dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity).Validitas isi merupakan validitas yang menunjukkan sejauh mana aitem dalam mencakup keseluruhan isi yang hendak diungkap oleh tes tersebut. Hal ini berarti isi alat ukur tersebut harus komprehensif dan memuat isi yang relevan serta tidak keluar dari batasan alat ukur (Azwar, 2012), Validitas isi diusahakan dengan pengujian aitem melalui professional judgement (Azwar, 2012).
2. Uji Daya Beda Aitem
Uji daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur. Prinsip kerja yang dijadikan dasar untuk melakukan seleksi aitem, dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya sebagaimana dikehendaki oleh penyusunnya (Azwar, 2009).Pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan koefisien ≥ 0.30 (Azwar, 2012).Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30daya pembedanya dianggap memuaskan. Aitem yang memiliki harga
Uji daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur. Prinsip kerja yang dijadikan dasar untuk melakukan seleksi aitem, dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya sebagaimana dikehendaki oleh penyusunnya (Azwar, 2009).Pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan koefisien ≥ 0.30 (Azwar, 2012).Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30daya pembedanya dianggap memuaskan. Aitem yang memiliki harga