SATU BERITA INJIL EMPAT INJIL
EMPAT INJIL: OTORITAS YANG DIPIKUL BERSAMA
Apakah implikasi hal ini bagi pemahaman kita atas Injil-injil pada saat ini? Ada dua hal. Pertama, kita harus menyadari bahwa ketika gereja mula-mula memilih keempat Injil tersebut dan menempatkan mereka berdampingan, gereja mula-mula sedang menyatakan bahwa di antara keempat Injil-injil tidak ada Injil yang "paling baik" atau "lebih benar" daripada tiga Injil yang lain. Tentu saja, ketika kita mengakui peran aktif dari gereja purba di dalam proses kanonisasi Injil-injil, kita tidak menganggap hal ini sebagai suatu upaya manusiawi semata. Sebaliknya, kita percaya bahwa Roh Kudus menuntun keseluruhan proses ini.
Lalu apa anti dari kesimpulan bahwa keempat Injil-injil itu memiliki status yang sama? Pada intinya, itu berarti keempat Injil-injil merupakan saksi-saksi yang sama-sama valid atas berita injil yang tunggal itu, walaupun masing-masing memang memberikan kesaksian tentang berita injil itu dalam caranya yang khas. Masing-masing harus dibiarkan untuk bertumpu pada kakinya sendiri. Karena itu, Injil Yohanes tidak boleh kita anggap sebagai kunci untuk memahami berita dari Injil Markus. Sebagai karya-karya sastra, Injil-injil tetap memiliki integritasnya masing-masing. Akan tetapi, implikasi lain yang juga muncul adalah: tidak satu pun dari keempat Injil itu yang layak untuk menjadi saksi berotoritas atas berita injil bila hadir sendirian tanpa Injil yang lain. Karena Injil-injil disampaikan dari perspektif- perspektif yang berbeda, maka keempat Injil itu saling melengkapi satu dengan yang lain; keempatnya saling menyeimbangkan; masing-masing menyajikan aspek yang berbeda dari hakikat berita injil yang tunggal itu, yaitu signifikansi dari kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kita membutuhkan keempat-empatnya dan tidak satu pun dari empat Injil itu dapat kita perlakukan sebagai saksi tunggal tentang signifikansi Yesus.
Kita dapat mengilustrasikan poin terakhir ini sambil mengacu kepada salah satu bagian dari Ucapan Berbahagia yang disampaikan dalam dua bentuk yang berbeda oleh Matius dan Lukas:
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga." (Mat. 5:3). "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah." (Luk. 6:20).
Yang menjadi pusat perhatian kita bukanlah perbedaan antara bentuk orang ketiga ("merekalah") yang digunakan Matius dan bentuk orang kedua ("kamulah") yang digunakan Lukas. Juga bukan tentang perbedaan antara istilah Kerajaan Surga yang
digunakan Matius dengan Kerajaan Allah yang digunakan Lukas (sebenarnya, "Kerajaan Surga" dan "Kerajaan Allah" merupakan sinonim). Lima masalah yang lebih mendasar dalam ayat- ayat paralel ini terpusat pada kontras antara sapaan yang dalam Injil Matius kelihatannya ditujukan kepada "orang yang miskin secara rohani" dengan sapaan kepada "orang yang miskin secara materiil" di dalam Injil Lukas. Bila kita mengakui kedua Injil ini sebagai saksi- saksi yang sama-sama berotoritas atas satu berita injil yang sama, maka kita harus melawan semua upaya yang hendak menonjolkan versi yang satu melebihi versi lainnya. Kita perlu mendengarkan kedua-duanya. Bila kita menonjolkan yang satu melawan yang lain, maka hasilnya justru akan merugikan kita.
Karena itu, sementara kita menghargai serta memberi salut atas bangkitnya kembali kesadaran di antara banyak orang Injili mengenai kebenaran alkitabiah tentang sikap Allah bagi orang yang tertindas dan juga tanggung jawab kita demi kepentingan mereka, kita harus berusaha untuk mengapresiasi keseluruhan kisah itu. Dengan alasan yang kuat, kalangan Injili yang mulai mengembangkan kesadaran sosial telah memalingkan perhatian mereka kepada Injil Lukas. Sikap ini mereka lakukan dalam upaya mendasarkan segala keprihatinan yang mereka rasakan pada inti dari berita injil.6 Dari berbagai sisi, tampak bahwa Injil Lukas memang sangat cocok untuk upaya ini. Injil ini memang memberi penekanan pada Yesus sebagai Juruselamat bagi semua orang,
Referensi 04c
bahkan (dan terutama) bagi mereka yang tertindas. Walaupun demikian, Lukas hanyalah salah satu dari empat Injil yang ada. Bila kita mengesampingkan Injil Matius, Markus, ataupun Injil Yohanes dalam upaya untuk menjangkau inti dari pemberitaan Yesus, maka kita sama saja sedang menolak fakta bahwa yang hadir di hadapan kita adalah Injil yang memiliki empat wajah! Karena itu, tidak satu pun dari keempat Injil itu yang dapat kita perlakukan sebagai saksi berita injil yang komplit, sehingga tidak perlu dilengkapi oleh tiga Injil lainnya.
Selain itu, bila kita memperhatikan signifikansi dari istilah miskin pada masa-masa sebelum dan sesudah pelayanan Yesus di bumi, kita akan melihat tidak adanya kontradiksi antara ucapan berbahagia versi Matius dengan versi Lukas tersebut. Oleh karena
kondisi-kondisi sosial dan politis yang timbul akibat pendudukan asing pada masa tersebut (yang akan kita perhatikan pada pasal berikut), kesetiaan kepada Allah dapat berdampak pada kemiskinan materiil, dan bahkan inilah yang kerap terjadi! Karena itu, kedua istilah ini, "miskin" (kemiskinan yang bersifat sosioekonomis) serta "miskin dalam roh" (kerendahan hati yang penuh kesalehan) sama-sama mencakup dimensi-dimensi kehidupan yang bersifat religius serta sosial. Ketika Matius dan Lukas
menyampaikan perkataan Yesus ini, keduanya sedang menunjuk kepada satu realitas yang sama sambil memberi penekanan pada aspek-aspeknya yang berbeda.
Referensi 04c
PELAJARAN 05: LATAR BELAKANG RASUL PAULUS DAN SURAT-SURAT RASUL PAULUS - Index - PESTA Online Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Latar Belakang Rasul Paulus Dan Surat-Surat Rasul Paulus Kode Pelajaran : PPB-P05